River Boarding Workshop

Uncategorized

Sebenarnya sudah dari beberapa tahun lalu saya gabung di komunitas Couch Surfing Surabaya, tapi berhubung tetangga-tetangga saya ribet kalo ada tamu yang menginap dan bawaannya curiga mulu (maklum kompleks baru dan saya single) saya menghentikan kegiatan hosting menghosting ini.. Terakhir yang saya host adalah Darmawati Madjid, teman ngeblog saya dari Kalimantan Tengah, dan itu cukup membuat saya repot.. bukan karena dia tapi karena tetangga-tetangga saya punya mulut lebih buat nggosipin orang lain, termasuk pak RT-nya. Sejak itu saya vakum dari dunia CS cukup lama, sampai kemaren saya diajak teman yg masih aktif di CS untuk ikut pelatihan river boarding di sungai Pekalen bawah, Probolinggo.

Ada enam mobil yang berangkat dari Surabaya, dan saya numpang di salah satu mobil itu. Dini hari kami baru sampai di basecamp Songa, para lelaki segera mendirikan tenda dan para perempuan ketawa-ketiwi :( Setelah tenda terpasang, kami tidur sebentar menunggu pagi.

Here we go! Kami membongkar gudang peralatan Songa Rafting dan mengeluarkan beberapa papan boarding berbentuk haluan kapal terbuat dari busa. Saat mengangkatnya, wih… lumayan berat juga.. dan kami harus membawanya turun ke sungai yang jaraknya kira-kira 1 km. Di tepian sungai, sudah menunggu instruktur yang siap mengajari kami cara berselancar papan. Setelah memasang perlengkapan keselamatan, dan mendapatkan teori dengan cukup.. kami segera mempraktikkan ilmu yang barusan kami dapat.

Berseluncur dengan papan ini gampang-gampang susah. Bagi yang tidak bisa mengatur koordinasi tubuh bisa jadi mereka terbalik, tidak bisa melaju, dan yang paling parah tidak bisa mengendalikan papan itu sendiri. Memang sepertinya hanya mengambang dan mengikuti arus sungai, tapi itu sebenarnya butuh skill tersendiri… ibaratnya seperti mengendarai sepeda; river boarding juga perlu skill keseimbangan, mengemudi, dan jika sudah mahir bisa berakrobat.

Riverboarding sendiri digagas oleh sekelompok pemandu white water rafting di Perancis yang merasa bosan dan butuh rekreasi pada awal tahun 1970an. Mereka mengikat life jacket mereka dan menggunakannya sebagai sarana mengarungi sungai. Sensasi yang dirasakan berbeda dengan olahraga sungai yang lain dimana tubuh berada pada level yang sama dengan permukaan air, kadang berada di bawah permukaan sungai, atau kadang terlempar ke udara. Lama kelamaan, olah raga ini berkembang ke daerah lain. Life jacket yang diikat diganti dengan busa/ plastik dan mengalami evolusi hingga menjadi bentuknya seperti sekarang ini.

Saya sendiri sangat senang bisa mencoba riverboarding, kebetulan koordinasi tubuh dan otak saya bagus sehingga tidak sulit bagi saya untuk mengendalikan papan seluncur ini.. hanya…. saya mungkin beli butuh nyali yang banyak :)

10603755_10152641536444654_1610714803168770813_n

10686737_10152641536424654_5780213882666108500_n

10690185_10152641536734654_5364659967723289059_n

10696242_10152641535959654_6966445641954883109_n

Misteri Waisai – Raja Ampat, Papua

Uncategorized

johanesjonaz:

ini nih.. gerombolan si kaya yang ke raja ampat… taik!

Originally posted on Mosaic:

Kata-kata yang berseliweran di kepala saya belakangan adalah melulu tentang berita pemilu dan capres yang membuat saya gagal GOLPUT tahun ini, sampai-sampai gegap gempita euphoria kegiatan nyeret ransel ke Raja Ampat teredam begitu saja.

Hehehehe…

Buat yang cari berita ada apa di ujung Indonesia timur, negeri Papua, berikut kisah kami… Bersiaplah berimaji….

The Meeting Point

Reuni berperiodik dengan kawan-kawan penyeret ransel kali ini bermuara di Bandara Hasanuddin, Makassar, sebagai meeting point kami. Manggul backpack 35++ (+mijit paska trip!), nenteng fin beserta nylempang tas yang lumayan gendut (yaaa… yang ini udah di komen sbg pengungsi di media chatting..), pasrah bakal dicomelin bibir kisruh mereka, saya celingukan sambil menajamkan telinga mencari modulasi medok jowo diantara kerumunan. Dan memang gak susah nyari mereka! ;)

“Hai! Riri…”

“Hai! Syafrina…”

Saya menyalami a new addition in the group sambil takjub ngliat barang bawaannya yang spekta! (pisssss Sya!) heuheuheu. Carrier di punggung, backpack at the front 

View original 1,635 more words

Tanjung Puting – How To Get There

Uncategorized

Nah, setelah menceritakan pengalaman seru selama di Tanjung Puting… Saya mau bagi-bagi info how to get there versi saya.

Transportasi :

Pangkalan Bun adalah pintu masuk menuju TNTP, ada 2 maskapai yang melayani penerbangan menuju Pangkalan Bun : Kaltsar dan Trigana Air. Saya barusan dapat Rp. 1.570.000 return SBY-PKN menggunakan Trigana Air.

Dari Bandara iskandar Pangkalan Bun, perjalanan diteruskan menuju Kumai. Ada Taxi Bandara yang bisa mengantarkan kesana. Kira-kira ongkosnya Rp. 160.000

Dari Kumai, kita harus melapor di kantor TNTP. Untuk memasuki kawasan TNTP kita harus menggunakan kapal kelotok. Sebenarnya petugas TNTP bisa mencarikan kapal kelotok apabila kita datang on the spot (tanpa agen perjalanan) selama low season tapi kalau datang pas peak season mending pakai agen. Biaya sewa kapal kelotok bervariasi antara Rp. 600.000 sampai Rp. 1.000.000 tergantung besarnya kapal. Kemaren saya bertemu dengan pengunjung on the spot yang dapat harga Rp. 1.500.000 untuk 2 hari. Hanya sewa kapal, tanpa makanan dan lain-lain.

Untuk short visit (hanya mengunjungi 1 pos feeding), memang lebih baik on the spot saja. Tapi jika ingin berpetualang seeprti treking di hutan, tidur di kapal, treking malam, melihat kunang-kunang di malam hari dll. Saya sarankan untuk menggandeng agen perjalanan. Ada puluhan agen perjalanan yang bisa mengantar anda menikmati pesona TNTP tentu saja dengan harga yang berbeda-beda meskipun layanan yang diberikan hampir 95% mirip. Kenapa bisa beda harga? Bisa jadi karena agen yang Anda kontak hanyalah tangan kesekian, alias cuman sebagai makelar… maka hati-hatilah. Saran saya bandingkan harga dan fasilitas dan program yang mereka tawarkan, lalu ambil yang termurah…

Berikut ini nama-nama yang bisa dihubungi :
1. Pak Majid 085248590487
2. Anas Ansori 085252732601
3. Andreas 081349173743
4. I’Im 085250526005

Ingat, telpon satu persatu dan bandingkan harganya.. pilih satu yang menurut Anda masuk akal dan Anda yakin.

Apa yang bisa dilakukan?

1. Menyusur sungai sekonyer.
Jalan masuk menuju TNTP adalah sungai Sekonyer. Saya sangat menikmati perjalanan menuju ke TNTP. Pemandangan selama naik kapal kelotok sangat memanjakan mata. Mulai dari patung orang utan kita akan melihat vegetasi nipah, elang yang terbang di atas kami, burung-burung sungai, bekantan, sarang orang utan di atas pohon. Di persimpangan sungai, dimana air sungai menjadi bening, kita bisa melihat refleksi langit dan awan yang biru.. sesekali bisa terlihat ikan yang menyembul ke permukaan air. Vegetasi pun mulai berubah, sungai mulai didominasi oleh tanaman rawa dan pohon rawa yang menjulang tinggi.. Bekantan makin sering terlihat dan jaraknya semakin dekat.

2. Makan dan Tidur di atas kapal.
Pengalaman tidur di atas kapal mungkin akan jadi pengalaman yang menarik. Saya bisa merasakan sepinya dan gelapnya malam di atas sungai. Dengan kelambu dan suara air sungai di bawah kita, sensasinya tidak pernah bisa disamakan dengan tidur di tempat mana pun.
Makan di atas kapal juga sangat menyenangkan. Suasana yang berbeda dengan pemandangan alam yang maha indah di siang hari, atau jika malam hanya diterangi bintang dan cahaya lilin menjadikan makanan yang sederhana menjadi makanan palong enak di dunia. Hm… Paling enak kalo pergi sama pasangan… tapi pergi sama teman-teman juga asik kok.

3. Melihat Feeding orang utan di pos pengamatan orangutan.
Ada tiga pos yang dibuka untuk umum di TNTP. Camp Leakey, Pondok Tangui, dan Tanjung Harapan. Camp Lakey adalah post paling jauh yang bisa dikunjungi wisatawan umum. Semua perahu kelotok berhenti disini. Bisa dibilang Camp Leakey adalah camp yang paling eksotik, jam feedingnya antara jam 14.00 hingga jam 15.00. Selanjutnya adalah Pondok Tangui. Jam feedingnya adalah jam 09.00 – 10.00. Pos terakhir adalah Tanjung Harapan. Jam feedingnya adalah jam 14.00.

4. Treking
Menyusuri hutan basah, dengan rute rawa yang becek hingga savana paku yang kering mungkin bisa menyeimbangan tubuh kita dari lemak yang tertumpuk dari makanan lezat yang kita makan di kapal. Banyak pengalaman yang bisa di dapat dari trekking ini. Saya jadi banyak tahu tentang tananaman obat dan cara bertahan di hutan, tentu saja dari sharing pengalaman polisi hutan yang mengantar saya treking. Selain siang hari, treking bisa dilakukan malam. Jika beruntung kita bisa melihat jamur yang bisa berpendar dalam cahaya atau hewan nocturnal yang fenonemal.. TARSIUS.

5. Melihat pohon Natal dari ratusan kunang-kunang.
Atraksi terakhir adalah tarian kunang-kunang yang menemani kita makan malam. Jika malam gelap (bukan malam purnama) puluhan bahkan ratusan kunang-kunang akan berkumpull di pinggir sungai mengerubungi sebuah pohon. Hanya satu jenis pohon yang disukai oleh kunang-kunag, saya tidak tahu pohon apa namanya.. tapi yang pasti pohon ini akan terlihat seperti pohon natal.

Sekali lagi saya ingatkan, jika ingin berkunjung ke TNTP bacalah dulu peraturan dan jangan sekali-sekali melanggarnya. Kita berada di alam liar yang sama sekali kita tidak tahu seperti apa.

Gelang Cinta di Tanjung Puting

Uncategorized

Lanjuuuuutttt….. Seperti janji saya kemaren, saya mau lanjutin cerita ke Tanjung Puting edisi kedua. Kali ini tentang cinta cintaan di Tanjung Puting… kampret dah..

Masih di camp Leakey, feeding orangutan di sini dimulai jam 2 siang. Di tempat feeding sudah nongkrong beberapa orangutan menunggu pisang, timun dan susu… menu diet mereka tiap hari. Dari tadi saya ngeliat teman-teman saya : Suketi, Vine, Neni dan TIka cekikian sambil moto ke arah lain, bukan ke arah orangutan… the main attraction. Selidik punya selidik, ternyata mereka “mempaparazi-i” salah satu pengunjung. Skill stalking mereka luar biasa, dengan waktu singkat mereka bisa tau kalo namanya Jen, dia adalah hibrida silang antara manusia Lampung dan Jerman, perahunya bernama Borneo 29. Tapi sayangnya dia udah punya monyet namanya Sonja… hahahah kapok! Yah begitulah mulai dari saat itu kegagahan Tom, si Raja orangutan dikalahkan oleh muka blo’on Jen. Inilah penampakan si Jen yang diambil secara sembunyi-sembunyi.. tapi akhirnya ketahuan juga..

diambil fotonya pake modus motoin gelang

diambil fotonya pake modus motoin gelang

Selesai nonton feeding kami kembali ke kapal, menghabiskan sore di atas kapal kelotok dan menikmati candle light dinner pertama di atas kapal! Cihuy! Seperti yang sudah saya bilang, Pak Kapten yang galak dan crewnya sudah membersihkan dek kapal dan menyulapnya menjadi restoran cozzy buat kami berlima. Menu malam itu adalah ikan, sayur rebus, sambal, ikan asin, dan buah nenas… dengan diterangi 2 buah lilin dan obat nyamuk bakar… well yang terakhir ini ngeganggu banget deh.. dan kegiatan dilanjutkan dengan menggunjing sampai larut malam…

 

Saya pikir malam akan terasa gerah, mengingat tadi di hutan panasnya bikin ketek banjir… jadi sebelum tidur, saya cuman pake celana pendek dan sarung. Eh, saya mau cerita tentang tempat tidur kami. Jadi, para kru kapal yang jumlahnya cuman tiga biji itu tiap malam menggotong kasur kapuk dari dek bawah ke dek atas, lalu di pasang sprei (yg entah kapan terakhir dicuci) dan memasang kelambu pengantin malam satu suro…. sumpah baru kali ini saya tidur pake kelambu… horror banget rasanya. Malam pertama tidur di kapal, ada rasa merinding disko… selain horror.. otak gw mulai meracau… gimana nanti kalo ada ular masuk, gimana nanti kalo ada buaya nyasar, gimana nanti kalo tiba-tiba melek gw… udah ada di atas pohon dan dikelonin orangutan, gimana nanti kalo gw melek…. gw jadi ganteng…

photo 4-21

Udara dingin membuat kaki saya meringkuk lebih ngulet, pengennya sih tidur lagi… tapi suara berisik si Vine yang udah mandi dan rapi jali penuh bedak tak berminyak siap mau ke mall, membuat saya bangun. Yes! pagi itu saya memutuskan untuk tidak mandi… takut kegantengan saya luntur. Selesai sarapan kami kembali lagi ke hutan untuk treking. Kali ini kami dikawal oleh Udin, si Polisi hutan. Kali ini si Udin mengajak untuk menyisir rute patroli polisi hutan. Sambil berjalan, sesekali si Udin menunjukkan tanaman-tanaman yang ada di hutan beserta kegunaannya.

Hutan Indonesia ini kaya banget! banyak sekali tanaman obat dan tanaman pangan yang tumbuh di dalamnya… semua obat untuk penyakit ada di dalam hutan, tinggal tugas kita menemukannya… Dan… lagi kata Udin… semua penyakit ada obatnya kecuali satu; penyakit tua… dan itu jawabnya lamaaaaaaa banget. Ya semua juga tau ustaaaaadddd!! Kata si Udin juga, semua mahluk diciptakan berpasangan.. ada wanita ada laki, ada siang ada malam, ada matahari ada hujan, ada penyakit ada obatnya dalam hutan, demikian juga… ada Johannes ada Maudy Ayunda…(kalo ini bukan kata Udin).

Coba bayangkan kalo hutan sumber obat  dan makanan ini berubah jadi kebun sawit dan tambang batubara…  sayang seribu sayang kan?

Si Udin juga ngajari kami bagaimana mendapatkan air dari akar pohon… Ini amajing banget! Kami semua sampai terheran-heran dan berebutan minum dari akar pohon… rasanya agak agak sepet tapi segar luar biasa… kayak minum larutan penyegar cap kaki pengkor.

Ini videonya :

Selain itu ada banyak macam jenis paku yang bisa dimakan dan puluhan jenis jamur. Ada yang tau bagaimana ciri jamur yang bisa dimakan dan jamur yang beracun? Salah satunya adalah dengan cara mencicipinya dan tunggu reaksinya beberapa saat… hahahaha bukan! Ciri jamur yang bisa dimakan adalah apabila ada serangga yang memakannya, atau paling tidak ada bekas gigitan serangga di jamur tersebut. Ini adalah cara polisi hutan untuk mengenali jamur yg layak konsumsi dan tidak… er… kira-kira gitu sih, gw lupa-lupa ingat wejangan si Udin.

photo 1-28 photo 2-26 photo 3-20 photo 4-20

Selesai treking kami mampir sebentar di kantor Udin, barak sederhana tempat polisi hutan tinggal. Kami dikenalkan sama polisi hutan yang lain dan ngobrol kesana kemari tentang orangutan dan suka dukanya hidup di hutan. Dari cerita yang lucu sampe cerita serem… Orangutan di TNTP suka bongkar-bongkar dapur dan merampok makanan… bahkan ada juga yang bisa membuka kunci pintu! Mereka mengamati apa yang dilakukan oleh para polisi hutan dan menirukannya. Para polisi hutan ini jarang pulang, tapi nggak separah bang Toyib sih…. yang tiga kali puasa tiga kali lebaran gak pulang-pulang. Ada cerita lagi yang serem… ada turis dari Inggris yang dimakan buaya. Jadi ceritanya dulu nggak ada larangan untuk berenang di sungai Sekonyer, waktu itu ada beberapa orang yang mandi di dermaga dan salah satunya adalah turis Inggris tersebut. Dia berenang paling depan dan selang beberapa saat kemudian dia seperti klelep, dan tak lama kemudian ada buih udara dan darah… orang-orang panik dan naik ke daratan semua. Hampir 24 jam polisi, SAR dan polhut mencari si bule ini.. dan setelah sehari berlalu, sebagian potongan tubuhnya ditemukan nyangkut di akar pohon tumbang… hih… ngeri nggak sih?

Setelah puas ngobrol kami kembali ke kapal untuk makan siang dan beristirahat sebentar… Dan, pemirsa…. drama sinetron percintaan terjadi di hutan ini… ternyata dari ngoobrol-ngobrol tadi ada polisi hutan yang naksir Vine, dan dia membuatkan gelang anyaman dari batang paku bertuliskan BORNEO… Hm…… jadi kesimpulannya apa? mandilah pagi-pagi dan dandan.. biar ada yang naksir… kalo bukan polisi hutan ya bisa jadi orangutan…

photo 1-29

photo 3-21

Hal-hal (gak) Penting ke Tanjung Puting

Uncategorized

Image

Okey, satu lagi Taman Nasional di Indonesia tertuntaskan… demi menuruti obsesi aneh versi Johanes Jonaz : mengunjungi semua Taman Nasional di Indonesia. Trip kali ini rada-rada gimanaaa gitu, secara teman-teman asik yg gila trip harus pisah jadi dua golongan… kasta bangsawan dan kasta sudra. Aku golongan mana? Tentu saja aku termsuk golongan kasta melarat, karena kasta kaya sudah minggat duluan ke Raja Ampat… iya.. Raja Ampat….  #ngumpatdalamhati #ingatbulanpuasa

Sampai di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, saya udah dijemput sama petugas dari Agen Perjalanan yang ngatur perjalanan kami. Tunggu.. Agen Perjalanan? Serius? bukannya Jo anti sama yang namanya agen perjalanan?…. Iya kali ini saya harus pake agen perjalanan #tertunduklesu. Taman Nasional yang satu ini susah-susah gampang… Kesananya sih tergolong mudah, turun dari pesawat tinggal naik taksi ke Kumai lalu daftar di Kantor Taman Nasional Tanjung Puting, naik kelotok.. dan sampai deh di Tanjung Puting. Trus apa yang bikin susah? Pertama.. tempatnya terisolir dan perjalanannya lumayan jauh dari Kumai ke Tanjung Puting dan sewa kelotoknya mahal amaaaattt… kedua, gak ada penjual makanan di tempat terisolir seperti itu, lalu homestay juga terbatas… camp ground juga gak ada.. trus mau ngemper dimana coba?

Sebenarnya bisa sih kalo cuman pengen lihat orangutan doang, tapi tapi tapi….. Tanjung Puting bukan cuman orangutan doang man! Dan pilihan ikut agen perjalanan adalah pilihan yang cerdas, cerdas buat orang yg punya duit maksutnya… Dengan paket 3 hari 4 malam… sensasi yang ditawarkan tak sebanding dengan apa yang sudah kita bayar. Sensasi Orangutan, treking hutan, river cruise di sungai, hujan-hujan, jamur, candle light dinner di atas perahu, tidur diatas perahu yg bawahnya banyak buayanya… sound like amazon…

Baiklah… sekarang mulai nggacor tentang perjalanan saya.

Burung besi berwarna putih kumuh merek Trigana mendarat mulus di Pangkalan Bun, pintu masuk Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Biasalah, kalo Suketi ikut pasti deh kami jadi penumpang terakhir yang keluar bandara… narsis dulu. Di ruang tunggu ada sesuatu yang mengganggu pemandangan banget.. segumpal daging hitam bernyawa, penuh tattoo dan gigi ompong… megang HP dan ngeliatin kami… eh ternyata itu guide kami.. ya awoooh… kok serem gini ya. Namanya I’im dan…. ternyata orangnya seru gila! Yak, ini rada jayus sih : Don’t judge the book by it’s cover.. see.. jayus kan??

Image

Setelah hahahihi sebentar kami langsung naik kelotok yang lumayan besar ukurannya buat kami berlima.. Ya eweh, gw pikir kelotoknya kelotok sampan gitu, eh ternyata mirip kapal pesiar…. mirip dikit.

Inilah penamampakan Cahaya Purnama III :

Image

Kapal ini bibagi jadi dua bagian : bagian atas buat tamu dan bagian bawah buat ABK dan kapten. Kapal ini lumayan bersih, karena kaptennya galak… Dia gak bakalan membiarkan kapalnya kotor barang sedikit pun, termasuk sampah dari tamunya… heheh eh tapi dasarnya kami gak bisa rapih alias sedikit jorok, ya tetep aja bagian dek kapal banyak snack dan barang-barang pribadi yang berseliweran.. termasuk …. celdal dan sebagainya :(. Saat siang hari dek kapal berubah menjadi tempat kongkow, restaurant, dan tempat leha-leha. Jika malam, berubah menjadi…. tempat dugem… errrr… I wish..

Image

Kapal kami langsung menuju ke Camp Leakey, kalo kata orang sih ini yang paling happening dari pos-pos lain seperti Tanjung Harapan dan Pondok Tangui. Sepanjang perjalanan menyusuri Sungai Sekonyer, bang I’im gak berhenti-berhenti ngoceh tentang orangutan dan sekali-sekali nunjuk ke kanan jauh…. atau ke kiri jauh….  sambil bilang “sarang orangutan!” atau “bekantan!” trus gw dong nimpali.. “buaya!” sambil nunjuk ke bang I’im.

Image

Sungai Sekonyer ini satu-satunya akses menuju ke TNTP. Dahulu air nya seperti warna seduhan teh… tapi akibat penambangan emas, tepat di percabangan sungai, air berubah menjadi coklat lumpur. Di kiri kanan sungai banyak sekali vegetasi nipah, hingga kira-kira dua jam perjalanan lamanya hingga Sungai Sekonyer bercabang dua dan kami menuju hulu yang sebelah kanan… Nah ini dia, air sungai senonyong-konyong koder berubah… dari semula yang berwarna keruh sekarang berwarna coklat kehitaman! Air sungai yang belum terkontaminasi limbah penambangan emas. Vegetasinya juga berubah drastis… dari Nipah yang mendominasi sekarang berubah menjadi vegetasi rawa dan hutan gambut dengan selingan pohon-pohon yang entah apa namanya.. yang bisa tumbuh tinggi menjulang dan rapat. Dari sini semakin banyak bekantan dan burung-burung yang kami lihat… rasanya seperti menyuusur sungai amazon di Brazil deh… (kayak gw pernah aja)

Sebelum mendarat di Camp Leakey, saya sempatkan makan siang dulu… Dan makan siang kali ini dipersembahkan oleh Ibu Kapten, istri dari Pak Kapten yang merangkap jadi koki dan petugas kebersihan :)

Image

Di dermaga Camp Leakey kami dicegat sama Percy, salah satu orangutan penghuni TNTP. Perasaan saya gak karuan, antara takut dan penasaran.. oh man…. ketemu orangutan liar man! Ini perasaan campur aduk yang persis saya rasakan waktu ketemu sama komodo liar di pulau Rinca beberapa tahun lalu… saya sempat bikin rekamannya Percy, yang menurut bang I’im adalah keturunan dari Princess, orangutan terpintar di Camp Leakey… satu-satunya orangutan yang bisa bahasa isyarat, mencuci baju, naik sampan, dan menggergaji. Dan cerita ini dibenarkan oleh Udin, si polisi hutan yang mengantar kami treking pagi di Camp Leakey.

Image

Sedikit informasi, penamaan orangutan di TNTP ini merujuk pada induk betinanya. Misalnya Induk betinanya bernama Princes, maka anak-anaknya akan diberi nama dengan awalan yang sama dengan induknya… misalnya Percy, Pen dan seterusnya. Orangutan adalah binatang yang soliter, satu jantan dominan menguasai wilayah yang luasnya puluhan kilometer persegi dan berhak kawin dengan betina mana saja yang berada di wilayah kekuasaannya. The Alpha Male di camp leakey ini adalah Tom, orangutan berusia 30 tahun yang berhasil menggulingkan Kosasih, raja orangutan sebelumnya. Daaaaann… teman saya yang autis si Belle Neni berhasil menulis pohon keluarga dari Orang Utan di Tanjung Puting ini.. dasar kurang kerjaan!

Orangutan Camp Leakey

Raja : Tom. Para betina : Ahmad mempunyai keturunan Aldona, Antrax, Arya, Algis. Toet beranak Thor dan Therry. Gara punya anak Gina, Gerry, Getwick, dan Gethard. Unyuk adalah orangutan paling agresif di camp leaky punya anak bernama Uning. Uning mempunyai anak namanya Ukraine. Princess punya anak bernama Pita, Pan & Percy. Pita & Pan, adalah dua bersaudara yg paling nakal, suka merusak pos polhut di camp Leakey untuk cari makanan. Carlos adalah orangutan yg rakus & ga mau berbagi makanan saat feeding, dia adalah anak dr Carrie. saudaranya Carlos bernama Charles & Candy. Mario adalah orangutan kecil yg suka bergelantungan di dekat dock, dia adalah anak dari Mut. Siswi adalah orangutan cerdas yg bisa gosok gigi, menggergaji & mencangkul. Siswi adalah anak dr Siswoyo. Siswoyo mati karena sakit pencernaan. Messy adalah orangutan liar yg suka bermain petak umpet dg Getwick. Messy adalah anak dr Mucho. Yuni punya anak bernama Yolanda, Yahoo, Yuyut & Yosmit. Bingung kan kalian? Aku juga!

ImageImageImage

Orangutan Pondok Tangui

Raja : Doyok, yang menjadi raja setelah mengalahkan Masran yang setelah dilengserkan menjadi penghuni pos di pintu masuk dan akrab dengan manusia demi menjauhi Doyok. Kopral adalah orangutan sitaan dari penduduk,, sudah semi liar dan menjadi pejantan kedua setelah Doyok. Rica adalah betina utama, punya anak bernama Rubi. Siswa punya anak bernama Steven. Selian itu ada Leo, orangutan kecil yg suka mencuri makanan saat feeding. Masih bingung? Sama!

Orangutan di camp Tanjung Harapan

Yani dulunya adalah raja penguasa camp Tanjung Harapan sebelum dilengserkan oleh Gundul yang tertangkap basah memperkosa… er.. sebut saja bunga… Saya sempat memvideokan adegan anonoh yang disaksikan puluhan pasang mata… memalukan kau Gundul! Chelsea adalah orangutan muda yg suka mencuri makanan saat feeding, apalagi saat ada Gundul di tempat feeding.

Kelihatannya semua orangutan terlihat serupa, tapi percayalah.. para staff TNTP mampu membedakan satu sama lainnya. Kalo buat saya mereka itu lucu, tapi bagi polisi hutan.. mereka itu nyebelin karena suka ngerampok kalo ketemu polisi hutan yang lagi bawa makanan.. Si Gedwick suka nguntit kami dari belakang, tapi pas kami noleh dia pura-pura ngeliat yang lain… tapi waktu kami terusin jalan… dia ngikutin kami.. waktu kami noleh, dia pura-pura gak liat… drama banget!

Ah.. gw capek nulisnya… besok gw lanjutin lagi gimana kami diajar cari minum dari akar, menentukan jamur yang bisa dimakan, dan tanaman obat di hutan.

 

 

 

DROP – by David Bobee

Uncategorized

ine

Baru-baru ini pecinta seni di beberapa kota Indonesia dimanjakan dengan Festival Musim Semi Perancis ke 10. Festival tahun ini diadakan mulai tanggal 15 Mei sampai dengan 23 Juni, dan Bandung sebagai kota seni menjadi tuan rumah pembukaan festifal tersebut. Frank Micheletti sebagai pimpinan artistik festival mempersembahkan “Constellations” sebagai pembuka pertunjukan pembuka di kota Bandung, setelah itu rangkaian pertunjukan menyusul di pentaskan di beberapa kota berikutnya.

Salah satu pertunjukan yang dipentaskan adalah  pertunjukan teater-akrobatik oleh sutradara David Bobee. IFI bekerja sama dengan Sekolah Ciputra mengundang para penikmat teater pada tanggal 11 Juni lalu. Kolaborasi yang menawan dari monolog Ine Febrianti dan akrobatik dari Anthony Weiss menghadirkan pementasan yang dramatis tentang kisah cinta yang tragis dari perempuan-perempuan jaman Yunani kuno.

 photo_2

Pemandangan dari sha Ine Febriyanti yang terbaring di atas ranjang di tengah-tengah panggung, telentang dengan nafas yang teratur menyambut para pnonton yang diminta duduk melingkari panggung.  Masing-masing penoton diberi sebuah lampu senter dan diminta untuk menyorotkan pada pementas. Sesaat kemudian, lampu redup dan sha Ine Febriyanti perlahan-lahan bangun dan memulai monolognya.

Salah satu babak menceritakan kisah tentang Penelope yang ditinggal selama bertahun-tahun oleh Oduseus untuk berperang di Troya. Efek dramatis untuk memunculkan atmosfir badai terlihat sangat nyata. Suara gemuruh dan gelegar badai dari sound system Ciputra Hall bersenyawa dengan efek air yang menyerupai hujan deras dan tata cahaya yang bagus membuat penonton solah-olah berada dalam satu perahu ditengah laut yang sedang menggelora.

Dalam babak lainnya, diceritakan tentang isi surat-surat cinta dari perempuan anonim karya penyair Ronan Chéneau. Saya paling suka adegan ini. Sebagai klimaks dari pertunjukan, Sha Ine Febriyanti menyajikan monolog tentang jeritan hati dan pedihnya pengkhianatan. Sebelum dia membuang surat-surat cinta ke udara, Sha Ine Febriyanti meludahi kedua tangan Anthony Weis yang kemudian terbang ke udara.

Pementasan di atas adalah salah satu dari beberapa pertunjukan yang ada. Selain itu, ada juga pentas gitar klasik oleh Gabriel Bianco, tari kontemporer – Investigation of Ku Bhi Lai Khan, Pockemon Crew dan A.Lter S.Essio di Jakarta dan Jogjakarta. Saya menunggu festival musim semi Perancis ke 11 tahun depan… Akan ada pementasan apa lagi kira-kira?

 

Travel Mates

Uncategorized

Image

Bukan kemana tujuannya, tapi dengan siapa perginya… 

Pernah nggak pergi traveling dengan beberapa orang dalam satu rombongan yang tidak kita kenal sama sekali? Saya pernah. Pertama kali adalah saat ikut paket tour ke Pulau Seribu dan kedua adalah ke Pulau Menjangan di Bali Barat. Rasanya? Yang pertama sih lumayan karena saya dan teman-teman saya ditempatkan dalam satu pondokan. Kali yang kedua, membuat saya mikir seribu kali lagi kalo ngetrip bareng dengan orang yang nggak saya kenal. 

Bicara tentang teman traveling dan traveling itu sendiri bagi saya adalah keharusan. Sebelum memutuskan pergi ke suatu tempat, saya harus mencermati siapa saja yang akan ikut serta. Traveling, esensinya adalah menjadi diri sendiri. Banyak orang yang bilang jika ingin tahu bagaimana karakter asli orang tersebut, ajaklah bepergian bersama selama 2 sampai 3 hari. Dan teori ini 90% terbukti benar.

 

Saya punya gank traveling sendiri, dan buat saya, mereka adalah kombinasi yang cocok dan punya banyak kesamaan… sama-sama pelit sih maksutnya.. hahahhaha. Sebagai kepala suku, Tj punya inquirynya besar dan punya keahlian adaptasi yang luar biasa, Didik yang super sabar, VIne yang cermat sebagai bendahara, Riri si tukang marah-marah kalo ada yang gak beres (entah ke maskapai penerbangan, ke penyedia layanan – yg pasti bukan ke temannya sendiri), dan beberapa anggota lain sebagai penggembira (kebanyakan bacotnya nggak bisa direm dan bikin suasana makin seru)… trus… kegunaan saya apa dong? Ehm.. sebagai ganteng-gantengan di gank sih… :)

Dengan mereka saya bisa jadi diri sendiri, bisa membully mereka tanpa ada yang sakit hati, saya bisa kentut sembarangan, ngutang duit pas kehabisan sangu, dan jemur sempak basah tanpa malu. Begitu pula sebaliknya, mulut pedas mereka bisa dengan enteng membully saya, tangan-tangan jahil mereka mengobok-obok muka saya dan saya nggak merasa terganggu :).

Teman-teman traveling yang sudah cocok, sangat berguna saat perjalanan yang memakan waktu cukup lama dan moda transportasi yang tidak nyaman. Saya pernah mengalaminya saat perjalanan ke Flores dan NTT rata-rata perjalanan yang kami tempuh adalah 6-12 jam sebelum berhenti istirahat, belum lagi waktu untuk menunggu. Perjalanan selama itu tidak membuat kami lelah, ada saja hal-hal bodoh yang kami lakukan. Mulai dari ngobrol bodoh sampai ketawa yang bikin perut kaku dan mata basah. Pernah kami gaya-gayaan bawa buku untuk dibaca saat perjalanan, biar kayak bule (yang biasa biasa kehabisan ide dan mati gaya)… tapi yang ada malah buku itu nggak pernah keluar dari ransel. Bisa saya bayangkan jika saya pergi dengan orang lain.. bisa mati bosan…

Kami bukan anti anggota baru, ada kalanya orang-orang baru masuk.. ada yang betah ada yang enggak.. semuanya masuk seleksi alam. Ada juga yang sengaja kami black list.. ada juga yang memblacklist kami.. hahahahhah… Tapi pada intinya traveling itu nggak sekedar memuaskan panca indera, namun juga menikmati kebersamaan dengan sahabat-sahabat “seiman” dalam traveling. Lalu pertanyaan yang muncul… kapan saya traveling sama pasangan? #tibatibagalau

Ulang Taun Surabaya Yang Ke 721

Uncategorized

Berikut ini acara yang diadakan untuk memperingati hari ulangtahun kota Surabaya di bulan Mei. 

1-31 Mei :

Surabaya Shopping Festival – Diskon di tempat-tempat belanja modern, juga ada late nite shopping yg biasanya juga banyak discount. Seperti TP, Galaxy Mall, Pakuwon dl

2 Mei – 1 Juni : Pasar Malam Tjap Toendjoengan – Festival makanan Surabaya, juga ada panggung terbuka perunjukan kesenian Surabaya. Tahun 2014 ini tempatnya di East Coast, Pakuwon City (Surabaya Timur)

4 Mei : Parade Bunga dan Budaya – Tugu Pahlawan dan Balai Kota

18 Mei : Festival rujak uleg, di Kembang Jepun dan Surabaya Urban Culture Festival di Jl. Tunjungan

25 Mei : Sparkling Tunjungan – festival kuliner di sepanjang Jl. Tunjungan

31 Mei : Upacara Hut Surabaya dan Pesta Rakyat – Makan gratis untuk umum setelah upacara di Taman Surya

Juni : Konser HUT Surabaya – Taman Surya

 

Let’s go to Surabaya

Bara Bara Bira Bira

Uncategorized

Saat saya melakukan perjalanan ke Tanjung Bira dan sekitarnya, kebetulan lagu Bara Bere by Michel Telo lagi ngehits… Jadilah lagu ini backsound perjalanan kami.

Ah… rasanya sudah seabad saya nggak traveling… bukan karena sibuk sih, tapi lebih karena lagi miskin :) Traveling terakhir saya bulan Januari 2014 kemaren ke Munduk, Bali. Ini pun saya traveling solo, bukan dengan gank gila saya, Tj, Didik, Vine, Agustin, Riri dan ketambahan seekor dugong, si Kristin. Dori kali ini absen dengan alasan lawas : miskin juga.

photo 1-20

Orang Bego di Terminal 2

Biasanya kalo naik pesawat promo berangkatnya pagi-pagi buta, tapi untung kemaren itu Air Asia berangkat agak siangan, jadi barang-barang bawaan saya nggak ada yang tertinggal. Tapi meskipun begitu.. adaaaaa aja kejadian yang bikin keki… Pertama, sopir bus damri yang nodong ongkos “borongan” karena saya satu-satunya penumpang yang ada di bus itu. Ya lu kira bus ini punya nenek buyut lu? bisa lu omprengin macam ojek seenak hati? Dasarnya gw pelit dan jahat, gw bilang ke sopirnya, “Pak, kalo saya nggak ada… bus ini juga tetep jalan kan? saya lihat jadwalnya lho disitu tadi”… Dan sopir itu pun diam saja waktu saya kasih ongkos normal Rp. 20.000. Kedua,  ini adalah kali pertama saya berangkat dari terminal 2 bandara Juanda, saya kebingungan kayak korang bego nyari tempat check in. Lain sekali dengan terminal 1, kalo di terminal 1 begitu tiba di lobby keberangkatan, barang-barang udah pada heboh masuk scanner, nah…  di terminal 2 ini turun di loby langsung nyelonong aja tanpa pemeriksaan.. gw antara takut salah dan sok-sokan mulai celingak celinguk nyari sign check in.. di belakang gw ternyata ada si Riri yang sama bingungnya dengan gw… Hahahaha akhirnya kita berdua ikut orang2 bergerombol yang entah ngantri apa… dan ternyata… tempat check in ada di lantai 2 sodara… Sampai di lantai 2 udah pada nunggu teman-teman, dan mereka juga punya cerita yang sama. Malah ada juga yang parah, si Suketi malah check in di terminal 1.

Nenek Moyangku Orang Pelaut, Welcome to Celebes

Apa kareba? Sampailah kami di Makassar. Sebenarnya dalam penerbangan kali ini saya agak takut… perkaranya baru-baru ini saya barusan nonton film berjudul Non-Stop yang berkisah tentang pembajakan pesawat udara dan diperparah lagi dengan hilangnya  pesawat Malaysia Airlines MH370 yang baru saja terjadi. Menjelang lepas landas, saya deg-degan setengah mati… tapi setelah beberapa lamanya mengudara… saya tertidur… dasar tukang molor!

Sesampai di bandara Sultan Hasanudin, setelah makan coto kami langsung tancap gas menuju Tanjung Bira. Sepanjang perjalanan kami diiming-imingi pemandangan kuliner seperti ikan bakar, duku, srikaya, kue putu… duren.. dan sewaktu kami merengek minta berhenti.. kepala suku hanya bilang : pulangnya saja. :(

Tanjung Bira sih biasa, seperti pantai Kuta di Bali. Rupanya pantai Bira ini seperti tujuan wisata yang populer di Sulawesi Selatan, sudah terlalu banyak orang dan bangunan yang lumayan mengganggu. Yang ditonjolkan disini cuman wisata air seperti banana boat, dan sebagainya selain itu juga rumah makan “The Perahu” yang bentuknya menyerupai perahu phinisi.

photo 4-14

photo 3-14

Seperti kebiasaan gank, kami mulai melipir mejauhi keramaian dengan menyewa perahu untuk pergi ke pulau-pulau sekitar Tanjung Bira.  
Here we go, let’s get the party started!


photo 3-13

 

Tujuan pertama adalah snorkeling di Pulau Kambing. Sebenarnya pulau ini punya nama sendiri, tapi lebih populer dengan sebutan Pulau Kambing. Pulau ini bibir pantainya berupa karang terjal dan arusnya lumayan kencang. Ada 3 spot yang menarik, yang konon bisa melihat hiu di sisi bagian selatan, hiu paus di sisi utara, dan ikan mola di sisi Barat. Kalau kami sih snorkeling unyu aja nggak tau sisi yang mana.. dudududu….

photo 5-10

photo 2-19

photo 2-18

photo 1-21

 

Terumbu karang di bawah laut pulau kambing terbilang cukup bagus, kami melihat 2 ekor penyu di perbatasan tubir laut. Beberapa ikan buntal, ikan kakatua, dan anemon banyak kami jumpai, tapi satu yang tidak kami jumpai adalah bintang laut. Lama sekali kami berenang-renang di perairan pulau kambing. Sebenarnya saya ingin masuk ke gua yang ada di tebing-tebing bibir pantai pulau kaming… tapi mengingat bahaya arus yang kuat (ditengarai ada air terjun bawah laut yang sering memakan korban-tapi entah dimana letak pastinya saya tidak tahu) akhirnya saya melipir… safety nomer satu!

Setelah puas menikmati pemandangan bawah laut Pulau Kambing, kami menuju perairan pulau Liukang. Di bandingkan dengan Pulau Kambing, Pulau Liukang masih kalah bagus. Karang yang ada disini sudah rusak, tapi airnya yang jernih dan pasir-pasir calon gosong terlihat indah dari permukaan laut.

Akhirnya kami menepi ke Pantai di sisi lain Tanjung Bira, masih sederet dengan Pantai Bira, namun agak jauh. Pantai di sini sangat laindai dengan pasir putih yang sangat halus. Lain dengan Pantai Bira, pantai tak bernama ini sangat sepi pengunjung. Hanya rombongan saya dan beberapa turis internasional yang sibuk berendam.

Perjalanan hari itu kami akhiri dengan makan siang dengan menu ikan bakar dan kelapa muda!

 

photo 4-13

photo 4-15

photo 2-20

photo 3-15

photo 1-23

Kenaikan Airport Tax

general traveling

Airport Tax efektif 01 April 2014 :
1. I Gusti Ngurah Rai (DPS) :
Domestik ===> IDR 75.000 *
International ===> IDR 200.000

2. Juanda (SUB)
Domestik : ===> IDR 75.000
International ===> IDR 200.000

3. Sepinggan (BPN) :
Domestik ===> IDR 75.000
International ===> IDR 200.000

4. Sultan Hasanudin (UPG) :
Domestik ===> IDR 75.000
International ===> IDR 150.000

5. Lombok (LOP) :
Domestik ===> IDR 45.000
International ===> IDR 150.000

* Khusus Domestik DPS berlaku Effektif 01 AUG 14.

Tiket Garuda dan Citilink yang sudah issued masih menggunakan Apt Tax lama, Akan ditagih selisihnya di Airport.

Semoga berguna