Bara Bara Bira Bira

Saat saya melakukan perjalanan ke Tanjung Bira dan sekitarnya, kebetulan lagu Bara Bere by Michel Telo lagi ngehits… Jadilah lagu ini backsound perjalanan kami.

Ah… rasanya sudah seabad saya nggak traveling… bukan karena sibuk sih, tapi lebih karena lagi miskin :) Traveling terakhir saya bulan Januari 2014 kemaren ke Munduk, Bali. Ini pun saya traveling solo, bukan dengan gank gila saya, Tj, Didik, Vine, Agustin, Riri dan ketambahan seekor dugong, si Kristin. Dori kali ini absen dengan alasan lawas : miskin juga.

photo 1-20

Orang Bego di Terminal 2

Biasanya kalo naik pesawat promo berangkatnya pagi-pagi buta, tapi untung kemaren itu Air Asia berangkat agak siangan, jadi barang-barang bawaan saya nggak ada yang tertinggal. Tapi meskipun begitu.. adaaaaa aja kejadian yang bikin keki… Pertama, sopir bus damri yang nodong ongkos “borongan” karena saya satu-satunya penumpang yang ada di bus itu. Ya lu kira bus ini punya nenek buyut lu? bisa lu omprengin macam ojek seenak hati? Dasarnya gw pelit dan jahat, gw bilang ke sopirnya, “Pak, kalo saya nggak ada… bus ini juga tetep jalan kan? saya lihat jadwalnya lho disitu tadi”… Dan sopir itu pun diam saja waktu saya kasih ongkos normal Rp. 20.000. Kedua,  ini adalah kali pertama saya berangkat dari terminal 2 bandara Juanda, saya kebingungan kayak korang bego nyari tempat check in. Lain sekali dengan terminal 1, kalo di terminal 1 begitu tiba di lobby keberangkatan, barang-barang udah pada heboh masuk scanner, nah…  di terminal 2 ini turun di loby langsung nyelonong aja tanpa pemeriksaan.. gw antara takut salah dan sok-sokan mulai celingak celinguk nyari sign check in.. di belakang gw ternyata ada si Riri yang sama bingungnya dengan gw… Hahahaha akhirnya kita berdua ikut orang2 bergerombol yang entah ngantri apa… dan ternyata… tempat check in ada di lantai 2 sodara… Sampai di lantai 2 udah pada nunggu teman-teman, dan mereka juga punya cerita yang sama. Malah ada juga yang parah, si Suketi malah check in di terminal 1.

Nenek Moyangku Orang Pelaut, Welcome to Celebes

Apa kareba? Sampailah kami di Makassar. Sebenarnya dalam penerbangan kali ini saya agak takut… perkaranya baru-baru ini saya barusan nonton film berjudul Non-Stop yang berkisah tentang pembajakan pesawat udara dan diperparah lagi dengan hilangnya  pesawat Malaysia Airlines MH370 yang baru saja terjadi. Menjelang lepas landas, saya deg-degan setengah mati… tapi setelah beberapa lamanya mengudara… saya tertidur… dasar tukang molor!

Sesampai di bandara Sultan Hasanudin, setelah makan coto kami langsung tancap gas menuju Tanjung Bira. Sepanjang perjalanan kami diiming-imingi pemandangan kuliner seperti ikan bakar, duku, srikaya, kue putu… duren.. dan sewaktu kami merengek minta berhenti.. kepala suku hanya bilang : pulangnya saja. :(

Tanjung Bira sih biasa, seperti pantai Kuta di Bali. Rupanya pantai Bira ini seperti tujuan wisata yang populer di Sulawesi Selatan, sudah terlalu banyak orang dan bangunan yang lumayan mengganggu. Yang ditonjolkan disini cuman wisata air seperti banana boat, dan sebagainya selain itu juga rumah makan “The Perahu” yang bentuknya menyerupai perahu phinisi.

photo 4-14

photo 3-14

Seperti kebiasaan gank, kami mulai melipir mejauhi keramaian dengan menyewa perahu untuk pergi ke pulau-pulau sekitar Tanjung Bira.  
Here we go, let’s get the party started!


photo 3-13

 

Tujuan pertama adalah snorkeling di Pulau Kambing. Sebenarnya pulau ini punya nama sendiri, tapi lebih populer dengan sebutan Pulau Kambing. Pulau ini bibir pantainya berupa karang terjal dan arusnya lumayan kencang. Ada 3 spot yang menarik, yang konon bisa melihat hiu di sisi bagian selatan, hiu paus di sisi utara, dan ikan mola di sisi Barat. Kalau kami sih snorkeling unyu aja nggak tau sisi yang mana.. dudududu….

photo 5-10

photo 2-19

photo 2-18

photo 1-21

 

Terumbu karang di bawah laut pulau kambing terbilang cukup bagus, kami melihat 2 ekor penyu di perbatasan tubir laut. Beberapa ikan buntal, ikan kakatua, dan anemon banyak kami jumpai, tapi satu yang tidak kami jumpai adalah bintang laut. Lama sekali kami berenang-renang di perairan pulau kambing. Sebenarnya saya ingin masuk ke gua yang ada di tebing-tebing bibir pantai pulau kaming… tapi mengingat bahaya arus yang kuat (ditengarai ada air terjun bawah laut yang sering memakan korban-tapi entah dimana letak pastinya saya tidak tahu) akhirnya saya melipir… safety nomer satu!

Setelah puas menikmati pemandangan bawah laut Pulau Kambing, kami menuju perairan pulau Liukang. Di bandingkan dengan Pulau Kambing, Pulau Liukang masih kalah bagus. Karang yang ada disini sudah rusak, tapi airnya yang jernih dan pasir-pasir calon gosong terlihat indah dari permukaan laut.

Akhirnya kami menepi ke Pantai di sisi lain Tanjung Bira, masih sederet dengan Pantai Bira, namun agak jauh. Pantai di sini sangat laindai dengan pasir putih yang sangat halus. Lain dengan Pantai Bira, pantai tak bernama ini sangat sepi pengunjung. Hanya rombongan saya dan beberapa turis internasional yang sibuk berendam.

Perjalanan hari itu kami akhiri dengan makan siang dengan menu ikan bakar dan kelapa muda!

 

photo 4-13

photo 4-15

photo 2-20

photo 3-15

photo 1-23

Kenaikan Airport Tax

Airport Tax efektif 01 April 2014 :
1. I Gusti Ngurah Rai (DPS) :
Domestik ===> IDR 75.000 *
International ===> IDR 200.000

2. Juanda (SUB)
Domestik : ===> IDR 75.000
International ===> IDR 200.000

3. Sepinggan (BPN) :
Domestik ===> IDR 75.000
International ===> IDR 200.000

4. Sultan Hasanudin (UPG) :
Domestik ===> IDR 75.000
International ===> IDR 150.000

5. Lombok (LOP) :
Domestik ===> IDR 45.000
International ===> IDR 150.000

* Khusus Domestik DPS berlaku Effektif 01 AUG 14.

Tiket Garuda dan Citilink yang sudah issued masih menggunakan Apt Tax lama, Akan ditagih selisihnya di Airport.

Semoga berguna

Perjalanan Kontemplasi Hari Keempat – Identitas Personal Warga Munduk

Jumat, 17 Januari 2014 bisa dibilang jadi hari bersejarah buat saya. Saya mendapat “identitas pribadi” sebagai warga Munduk.

Sewaktu saya bekerja di sawah, saya bertemu dengan pemuda setempat bernama Bli Betet. Entah siapa nama aslinya, namun julukannya adalah Betet. Penggunaan julukan di Munduk sudah jamak, mungkin untuk menghindari salah identifikasi karena saking banyaknya nama yang sama. Di Munduk, nama Nyoman bisa mencapai ratusan… bisa dibayangkan betapa ribetnya.

Sama seperti Lengkong, Betet juga adalah nama julukan. Bli Betet terlihat seperti kebanyakan pemuda di Munduk: bertato. Memang, sejak awal kedatangan saya ke Munduk, saya banyak mendapati pemuda-pemuda bertato. Tato, bagi masyarakat Munduk adalah sebuah identitas. Bagi pemuda yang sudah dewasa tato adalah sebuah kebanggan tersendiri. Tidak hanya lelaki, para perempuan juga bertato. Salah satu teman di Don Biyu, mendapat hadiah ulang tahun berupa tato di tubuhnya. Budaya tato sendiri bukan berasal dari Bali, tapi patern/ pola yang dipakai di Munduk sudah diakulturasi. Kebanyakan adalah yang dipakai di Munduk adalah patern Bali, seperti Rangda, pola ukiran Bali dll. Saya iseng tanya ke Bli Betet tempat biasa para pemuda mentato tubuhnya. Entah kenapa, hasrat untuk mendapatkan torehan tinta abadi di tubuh saya begitu kuat. Dengan senang hati Bli Betet memperkenalkan saya ke Pak Putu Panca, seorang artis tato di desa Munduk.

Sore itu saya datang bersama Mbak Ari dan Erlin, seorang teman pembuat film dokumenter. Setelah sempat ditolak sehari sebelumnya, karena Pak Panca sedang mempersiapkan ukiran untuk peti mati jenasah kerabatnya, kali ini Pak Panca menerima kedatangan kami dengan hangat. Kami dijamu di lantai tiga rumahnya. Meskipun saya sangat takut, tapi tekad saya sudah bulat… saya akan membuat tato di tubuh saya.

photo 1-16

Pak Panca tahu saya sangat gugup, dia tidak segera memulai pekerjaannya. Saya malah diajak ngobrol ngalur ngidul. Bagaimana dia bisa jadi artist tato, tentang pelanggannya yang cerewet, tentang rejeki tak terduga, dan tidak lupa tentang musibah arak yang baru saja terjadi di Munduk. Setelah saya terlihat agak rileks, barulah dia mengajak untuk membuat desain tato.

Pak Panca memang lebih suka mendesain tato bersama-sama dengan pelangannya, menurutnya hasil tato akan lebih bagus dan ada kepuasan tersendiri baik pada pelanggan maupun Pak Panca sendiri. Ide pertama keluar dari saya, saya ingin membuat gambar salib bernuansa Bali yang akan saya letakkan di punggung saya dan bagian Pak Panca adalah mendesainnya.

Dia membuat desain di atas kertas lalu ditunjukkan ditunjukkan pada saya. Sebuah salib dengan ukiran bali. Namun ada yang kurang menurut saya.. terlalu tegas dan kaku… lalu Pak Panca menghapus dan menggambar lagi. Kali ini saya suka. Sebuah salib dengan patre (patern) khas Bali. Patre mas dipakai sebagai ornamen di bagian atas, lalu di bagian persilangan antara bagian vertikal dan horizontal diisi dengan patre sari dan dilanjutkan dengan patre timun sampai ke bagian bawah.

Pak Panca segera mempersiapkan peralatannya. Jarum sepanjang 15 cm yang masih tersegel, tempat tinta yang juga masih tersegel, tinta, antiseptik, tawas, dan alat tato yang bentuknya seperti pistol. Pak Panca menyalin desain akhir menggunakan kertas karbon, lalu mengolesi bagian tubuh saya yang akan ditato dengan antiseptik dan tawas sebagai perekat. Dan pekerjaan pun dimulai…

mg_1635-2

Saya kembali tegang, suara mesin tato sangat mengintimidasi saya. Saya kembali panas dingin. Pak Panca rupanya tahu, dan menenangkan saya. Saya disuruh merokok sebentar sambil ngobrol. Dia berkelakar tentang tradisi tato di Munduk, dia bilang tato di Munduk itu sebagai persyaratan mendapat KTP. Seorang pemuda tidak akan memperoleh KTP Munduk jika belum bertato.

Proses pentatoan pun segera dimulai. Pak Panca mengenakan sarung tangan karet dan mulai bekerja. Sakit yang saya bayangkan ternyata tidak terbukti. Rasa nyeri dan perih itu tidak ada, rasanya mirip seperti dikerokin pake uang benggol… itu yang saya rasakan. Saya semakin rileks dan menikmati proses ini… Seperti yang Pak Panca bilang, masa kritis pentatoan adalah lima menit pertama. Jika si petato mengeluarkan keringat dingin, pentato pun menghentikan pekerjaannya… dan saya deg-degan menunggu lima menit pertama.

Empat puluh lima menit berlalu, masa kritis saya sudah lewat, dan saya kuat menyelesaikan proses penorehan tinta di tubuh saya. Udara dingin Munduk mulai merayapi sore itu. Saya mohon diri pada Pak Panca untuk kembali ke Don Biyu. Sebelum pulang, Pak Panca berpesan agar berhati-hati… dia bilang tingkat kecanduan tato lebih tinggi daripada narkoba.

photo 2-16

Ada perasaan bangga bercampur heran sepulang dari rumah Pak Panca.  Sifat saya yang impulsif dan kenekatan yang luar biasa membuahkan hasil; sebuah tanda yang akan saya pakai selama saya hidup, sebuah tanda salib bernuansa Bali menempel di punggung saya.

Kisah Perjalanan Kontemplasi Edisi Ketiga, Munduk Bali

photo 4-12

Hari ketiga di Munduk, saya kembali ke sawah untuk melihat padi yang kemaren saya tanam. Tiba-tiba ada rasa was-was kalau nanti padi satu persatu saya tancapkan pada tanah berlumpur tidak akan tumbuh dengan baik. Sambil bercengkrama dengan Pak Lengkong, saya menitipkan “padi-padi” saya.

Hari itu saya diajak mbak Ari untuk ke rumah salah satu temannya. Rencananya kami akan belajar cara mengokulasi tanaman kopi. Kopi Munduk memang sangat nikmat. Tiap sore selama saya di Munduk, saya selalu menyeduh kopi ini bersama teman-teman di Don Biyu. Aromanya begitu kuat, ada sedikit aroma air hujan awal (petrichor) dan asamnya juga pas. Sore yang dingin, senja, angin semilir, jaket tebal, dan secangkir kopi dengan pemandangan maha indah adalah paduan yang sempurna!

Saya mulai berjalan turun menuju rumah teman mbak Ari yang kebetulan sejalan dengan arah Air Terjun Melanting. Embun masih menempel erat di pucuk-pucuk daun, karena memang hari masih pagi, dan mungkin juga karena rimbunnya hutan dan belukar membuat kelembaban sangat tinggi. Beberapa kali kami berpapasan dengan anjing penjaga rumah penduduk, meskipun saya suka anjing tapi jika harus berhadapan dengan yang belum saya kenal, saya takut juga.

Rupanya jodoh masih belum berpihak pada kami. Teman mbak Ari yang akan kami datangi tidak berada di rumah. Lagi, kami disambut gonggongan anjing-anjing penjaga rumah. Kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan menuju air terjun. Bali, seperti pada kenyataannya, sangat indah. Ini beberapa foto yang sempat saya ambil dengan HP saya.

photo 2-15 photo 1-15 photo 5-9 photo 3-12

 

Next : 17 Januari, KTP hari bersejarah buat saya

Tradisi Menanam Beras Merah di Bali, Perjalanan Kontemplasi Hari Kedua

Sebenarnya saya masih enggan membuka mata, udara pagi di Munduk terasa seperti lagu nina bobok seorang inang pada anak asuhnya. Udara yang sejuk segera mengganti udara malam yang terhatan dalam kamar saya. Jendela kamar saya menghadap ke Barat dan dari jauh terlihat pantai Lovina dalam balutan kabut tipis, bayangannya persis seperti gadis bali yang bertelanjang dada pada masa era sebelum kemerdekaan.

Pagi itu Ayos masih meringkuk di balik selimut, setelah semalaman beradu keras suara dengkuran dengan saya. Saya segera menyambar jaket saya, lalu bergegas menuju sawah yang berada di dekat puri. Erlin, yang sedianya akan meliput ritual upacara penanaman padi ikut serta dengan saya. Pak Lengkong tidak ada di gubug tempat kami berjanji bertemu, rupanya beliau sudah ada di bagian lain petak sawah bersama tiga temannya; mereka sudah memulai menanam padi! Saya berlari kecil ke arah mereka, menanggalkan alas kaki saya dan meloncat ke kubangan lumpur membantu mereka menanam padi.

Lumpur di sawah terasa sangat lembut, baru kali ini saya merasakan lumpur sawah dengan kaki telanjang saya. Gelembung udara yang terperangkap saat sawah dibajak beberapa hari yang lalu terlepas saat saya masukkan kaki ke dasar sawah, membuat bunyi-bunyian yang lucu. Pak Lengkong menempatkan benih padi yang sudah dipangkas pucuknya ke dalam tampah. Pemotongan ini dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhannya. Pak Lengkong mengajari saya bagaimana memegang bibit padi yang benar, jarak tanam antar benih dan kedalaman tanam. Segera setelah saya mendapat cukup pengetahuan, saya ikuti mereka menanam padi.

Kecepatan Pak Lengkong dan anak buahnya sangat luar biasa, bisa dibilang 10 kali lebih cepat dari saya. Jelas saya tidak bisa mengikuti mereka, jika dipaksakan saya bisa mati patah tulang belakang. Setelah kira-kira menjelang jam 10 pagi, istri Pak Lengkong datang ke sawah membawa makanan. Kami semua beristirahat sejenak di gubug, menikmati makan siang berupa nasi merah, ikan peda, sayur buncis, kerupuk, dan telur ayam. Ini persis seperti cerita-cerita yang saya baca jaman SD dulu, tentang pak tani dan keluarganya.. dan sekarang saya menjadi salah satu tokoh dalam cerita itu. Amazing!

Padi merah munduk, adalah jenis padi kualitas atas. Menurut Pak Lengkong, padi jenis cendana ini sangat gurih dan manis. Bila dimasak, aromanya sudah tercium dalam radius sepuluh meter. Sayang sekali, saya belum sempat mencicipinya. Di samping itu, padi ini juga bisa mengobati kencing manis. (mungkin karena padi ini mengandung karbohidrat kompleks yang penguraiannya sangat lamban). Padi merah ditanam sebagai tanaman rotasi, menurut ilmu pertanian, tanah yang sudah dua atau tiga kali ditanami tanaman sejenis harus diremajakan kembali agar unsur hara yang terkandung dalam tanah bisa pulih, salah satunya adalah dengan cara merotasi tanaman.

Sambil menyantap makan siang dan jajanan kecil berupa sumping (nagasari) dan bantal (lepet) yang dibawa istrinya, Pak Lengkong menceritakan asal muasal padi yang ditanam di Munduk. Alkisah, dahulu kala ada kelaparan yang melanda di desa. Di tepian danau Tamblingan ada seorang pendeta hindu yang tidak terkena musibah karena menanam padi merah. Karena tergerak oleh belas kasihan, sang pendeta ini memberikan benih padi pada penduduk setempat agar bisa lepas dari bencana kelaparan. Sampai sekarang, masyarakat Munduk masih melestarikan menanam padi merah ini untuk menghormati kejadian masa lalu.

photo 1-10 photo 2-10

Saya, Pak Lengkong dan dua orang lagi kembali menanam padi. Hari semakin terik! Meskipun udara pegunungan sejuk, tapi sinar matahari yang sedikit-sedikit menyembul dari awan membuat saya kepayahan. Putaran kedua, saya memilih bekerja sendiri di sebuah petak sawah berukuran 4×12 meter. Alasannya? Agar saya tidak merasa terintimidasi dengan kecepatan tanam mereka.. selain itu, saya ingin melihat pekerjaan saya.. Rapi atau tidak, atau bahkan… benih yang saya tanam bisa bertahan hidup atau tidak sampai masa panen 6 bulan mendatang? Pak Lengkong sebentar-sebentar mendatangi saya dan menyuruh saya beristirahat dan tidak memaksakan diri, tapi saya bersikeras untuk tetap bekerja.

Saat matahari berada tepat di ubun-ubun, kami kembali beristirahat. Nasi merah dan lauk pauknya masih menemani santap siang kami… Kalau dihitung, ini sudah kali ketiga saya makan berat, semoga sekembalinya nanti, berat badan saya tidak naik drastis. Selama istirahat ke dua, kami mengobrol santai tentang kisah tragis yang menimpa 3 orang yang meninggal karena keracunan arak, kira-kira begitu karena saya tak paham bahasa Bali saya hanya menerka-nerka apa yang sedang kami bicarakan. Tak berselang lama, Mbak Ari datang menjenguk saya. Entah bagaimana ceritanya akhirnya mbak Ari bisa membujuk Pak Lengkong untuk membawa saya melayat sore harinya! Saya kegirangan dan berteriak-teriak dalam hati… mimpi saya untuk menjadi satu dengan masyarakat Bali pelan-pelan terwujud!

cuman saya yang turun ke sawah, tumpukan gabah padi merah

Sesi ketiga penanaman padi di mulai, saya kembali ke petak saya dan kali ini ditemani oleh putra Pak Lengkong. Sesaat lamanya setelah bekerja, tiba-tiba ada bule yang mendatangi saya. Sawah yang kami garap letaknya memang dekat dengan vila puri tempat dia menginap. Rupanya, sedari tadi dia memperhatikan kami yang bekerja di sawah.

Bule : What are you doing?

Saya : I’m planting rice

Bule : I’m pretty sure you are not one of those farmer (sambil nunjuk Pak Lengkong yang jauh disana)

Saya : (sambil nyengir) I’m not, is that obvious?

Bule : Yeah, I can see that.. they work 10 times faster than you. I’ve been watching for a whole day and you only got a piece of the field. Do you get paid?

Saya : (diam sejenak) Yes, they pay me with a valuable experience. Well, to be honest I’m voluntering myself. I live in a big city and never have this kind of experience. Having this experience is priceless.

Bule : You are a persistant young man! In my country, nobody will do things like what you do now. Maybe our pride is to high.

Memang sejak awal saya sudah bertekad untuk melakukan perjalanan ini secara berbeda. Saya ingin menjadi sebagian dari masyarakat Bali dalam kunjungan saya yang singkat kali ini. Saya melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh.

Matahari sudah condong ke Barat, saya sudah menyelesaikan sepetak kecil sawah sore itu. Pekerjaan sore itu kami tutup dengan sembahyang dan mempersembahkan sesajen di tempat sembahyang dekat puri. Saya diwanti-wanti agar enam bulan lagi kembali ke tempat ini, untuk memanen padi yang saya tanam.

Saya kembali ke rumah dan beristirahat. Langit Munduk sore itu sangat cantik… Dari jauh masih terlihat kecantikan pantai Lovina dan bukit-bukitnya. Sebatang rokok tanpa merek menemani saya menikmat senja hari itu. Pak Lengkong sudah memperingatkan saya, bahwasanya nanti pinggang, paha, dan pantat saya akan sakit setelah ini. Ah, tak apalah… tak sebanding dengan pengalaman yang saya dapat dan pemandangan senja maha indah yang saya nikmati saat itu.

Karena amat lelahnya hampir saja saya ketiduran, tapi untung mbak Ari sms  saya.. mengingatkan janji saya dengan Pak Lengkong untuk melayat Mang Alam, salah seorang yang meninggal karena keracunan arak. Segera saya bergegas, mengenakan baju adat yang saya punya. Udeng berwarna coklat senada dengan saputnya, juga kemeja putih dan sarung berwarna gelap. Ada kebanggan tersendiri memakai baju ini, kali ini saya bukan memakainya untuk karnaval atau pawai.. tapi saya memakainya untuk aktifitas sehari-hari, sama seperti masyarakat Bali pada umumnya.

Di rumah duka sudah berkumpul beberapa pemuda dan bapak-bapak, semuanya berbaju adat. Saya diperkenalkan dengan keluarga almarhum dan diijinkan untuk melihat jenazahnya. Saya berdoa sebentar di depan jenazah, lalu undur diri dan berbaur dengan pelayat lainnya. Kematian bagi masyarakat Bali adalah kejadian yang sangat menyibukkan, bukan hanya bagi keluarga yang berduka tetapi masyarakat setempat juga ikut sibuk. Biasanya mereka datang ke rumah duka untuk membantu; ada yang memasak, ada yang menyiapkan sesajen atau mendirikan infrastruktur, dengan begitu otomatis mereka meninggalkan kehidupannya sehari-hari.

photo 3-10

Saat saya melayat mang Alam, ada sebuah dapur yang selalu menyala, entah itu untuk memasak air untuk seduhan kopi atau makanan ringan untuk hidangan pelayat yang akan selalu datang sampai “hari baik” saat jenazah dikebumikan atau diaben/ dibakar. Ada panitia kecil (yang biasanya adalah remaja putri atau ibu-ibu) yang selalu siaga menghidangkan makanan apabila ada pelayat yang datang. Mirip seperti di Jawa, setiap pelayat yang datang memberikan sumbangan berupa sembako pada keluarga korban, dan kali ini saya ikut Pak Lengkong untuk masalah yang ini.

Saya kembali ke Don Biyu setelah satu jam berada di rumah duka. Dalam balutan baju adat Bali, tidak ada satu orang pun yang tahu kalau saya bukan orang Bali.. bahkan anak Bli Putu sempat memanggil ayahnya karena dikira saya tamu yang hendak bertamu. Teman-teman juga kaget, waktu melihat penampakan saya sebagai orang Bali.

BliJonaz-1

Photo credit : AA, EG, T dan saya

Next : Menikmati dinginnya air terjun Melanting

Munduk.. Edisi Kisah Perjalanan Kontemplasi

Saya terbangun dari tidur lelap karena hawa dingin yang menyeruak masuk melalui celah jendela mobil. Sopir angkutan umum yang melayani rute Denpasar – Seririt berhenti sebentar untuk beristirahat. Sepanjang perjalanan dari Denpasar saya tertidur lelap di balik jaket nyaman pinjaman dari teman saya, si Kenchoz. Saya memang type traveler yang gampang sekali tidur, apalagi saya harus bangun subuh untuk mengejar peberbangan pertama ditambah lagi cuaca Denpasar yang sedari tadi hujan terus.

Beberapa saat kemudian sms dari mbak Ari, sang tuan rumah yang mendundang saya, masuk. “sudah sampai mana?” begitu tanyanya. Dunia maya ini memang aneh. Saya dan mbak Ari tidak sekali pun pernah bertemu, namun dari percakapan melalui kolom komen di blognya, saya dan beliau menjadi akrab. Mbak Ari adalah traveler dan penulis dengan pengalaman segudang. Dia pernah menjelajahi Sumatra dan menjadi tamu khusus Kick Andy. Ada beberapa buku yang sudah dituliskan. Jujur, saya sebenarnya tidak percaya diri waktu mbak Ari mengundang saya untuk mengunjungi desa Munduk. Saya sering bertanya-tanya, kenapa saya yang dipilih untuk datang ke kediamannya? Saya memang pernah menunjukkan keinginan saya pada mbak Ari, sebuah mimpi yang saya tulis di jurnal bulan Februari lalu. Apakah karena ini beliau mengundang saya? Ah, entahlah… tapi kesempatan ini sangatlah berharga untuk dilewatkan.

Restoran Don Biyu… saya berhenti tepat di depannya. Namanya terdengar keren, seperti nama orang Spanyol tapi baru belakangan saya tahu kalau arti dari Don Biyu adalah daun pisang, dan itu adalah bahasa Bali. Pemilik dari tempat ini adalah Bapak Putu Ardana, teman baik mbak Ari. Saya agak sedikit rikuh, karena sang pemilik rumah baru saja berduka. Suasana duka masih menyelimuti tempat ini. Istri dari pemilik pondok, yang sedianya kami tinggali, baru saja meninggal, dan yang menyedihkan lagi.. 3 pemuda yang melayat juga meninggal karena keracunan arak. (Tradisi masyarakat Bali adalah menyuguhkan arak sebagai jamuan pada upacara adat). Tanggal kunjungan saya sudah tidak bisa diubah, saya terlanjur mengajukan cuti dan membeli tiket kesana. Dalam hati saya berjani tidak menuntut akan melakukan semua rencana yang sudah saya tulis, saya akan mengikuti alur, toh dari awal saya memang tidak berniat datang sebagai turis.

Rupanya saya tidak sendirian di sana, sudah ada beberapa teman dari C2O; Ayos, Tinta, Ruli, dan Koplo dan juga Erlin dari AyoRek. Hari pertama saya diajak ke banjar bernama Dayang, mengunjungi salah satu teman mbak Ari yang punya sepetak sawah kaki gunung. Hawa yang dingin khas pegunungan, jalan sempit naik turun bukit, langit yang sedikit tertutup awan, hutan heterogen yang diselingi kebun cengkeh dan kopi… saya berada di surga! Ada dua hal yang masih mengingatkan saya, bahwa saya ada di belahan Bali yakni anjing dan tugu tempat bersembahyang umat Hindu yang ada di tiap tikungan jalan.

Sepulang dari Dayang, saya diperkenalkan dengan Pak Nengah Ardika, atau yang lebih dikenal dengan Pak Lengkong. Pak Lengkong adalah seorang penyakap atau penggarap sawah milik keluarga Bli Nyoman Armada, adik dari Pak Putu Ardana.  Saat itu Pak Lengkong sedang mempersiapkan sawah agar siap tanam. Hari sudah sangat sore, Pak Lengkong ditemani anak lelakinya berputar-putar membajak sawah. Esok hari, sehari penuh saya akan menjadi murid dari Pak Lengkong, belajar menanam padi merah di sawahnya..

view di depan rumah, Dayang view di depan rumah, Dayang - Refleksi air dan pohon lumut kerak, menunjukkan betapa darah ini bebas polusimemancing the only door

Stasiun dan Kereta

Kereta Api begitu mengobsesi saya sejak saya masih kanak-kanak. Cerita tentang serunya naik kereta api selalu membuat saya terpana. Seringkali saya dibuat iri oleh cerita teman saya ketika dia baru saja pulang dari kampung halamannya dengan moda transportasi ini. Suara bising dari lokomotif, suara roda baja yang bergesekan dengan rel, suara rengekan sambungan gerbong sesaat sebelum berangkat, dan tentu saja bunyi sambungan rel yang beradu dengan roda kereta. Semuanya membuat imajinasa saya kemana-mana. Orangtua saya jarang sekali bepergian dengan kereta, mereka lebih memilih menggunakan mobil atau pun bus umum. Otomatis saya tidak pernah merasakan sensasi berada dalam gerbong kereta api, sampai saya menginjak remaja.

Pada saat saya kelas 6 SD, saya mendapat ijin untuk bepergian seorang diri. Tentu saja saya memilih kereta api sebagai transportasinya. Waktu itu tujuan saya adalah Wlingi, sebuah kota kecamatan di Kabupaten Blitar, tempat bulek (tante) saya bermukim. Bapak saya mengantar saya sampai berada di tempat duduk, menunggu saya sebentar sampai kereta api hampir berangkat. Di sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya saya mengagumi pemandangan dari jendela kaca gerbong. Pemandangan silih berganti dari deretan rumah kumuh di perkotaan, lalu jalan raya yang bersisian dengan jalan kereta api, dan sesaat kemudian berubah menjadi hamparan sawah yang hijau-kuning yang indah. Saya juga sangat menikmati musik yang mengalun dari kereta api, mulai dari jeritan lokomotif, gesekan rel dan roda kereta, juga peluit sang masinis.

Sampai di stasiun Wlingi, saya belum dijemput. Waktu menunggu saya pakai untuk mengeksplorasi stasiun Wlingi. Hal pertama yang saya lihat adalah warna dominan biru-abu dan putih sebagai cat dominan bangunan stasiun. Bangunan semi permanen terbuat dari batu dan kayu, terlihat sangat kokoh dengan hiasan bangku-bangku panjang dari kayu. Saya taruh tas ransel saya dan mulai meniti rel kereta api sambil waspada.. kalau-kalau ada kereta yang datang. Saya suka dengan jalan kereta api… jika saya melihat lurus, saya tidak menemukan ujungnya… membuat pikiran kemana-mana.. kira-kira sampai dimanakah rel kereta ini? Bunga kertas, atau bougenvil adalah tanaman dominan yang hampir di tiap stasiun ada. Mungkin karena tanaman ini tahan terhadap suhu yang relatif tinggi di sekitar stasiun..

Beberapa waktu lalu saya kembali melakukan perjalanan dengan kereta api, tapi tidak le stasiun Wlingi, tapi ke stasiun Jember yang lebih modern.. tentu saya sempatkan untuk bermesraan dengan rumah kereta api ini.

Sang Masiniskode rahasia spoor 2 rada modern where's the end? patokan kereta tua roda baja plat nomer stasiun kember

End of Year Trip 2013

Saya boleh berencana, tapi Riri yang menggagalkan.. kampret!

Rencana awal liburan Natal ini akan saya habiskan menjelajah Jawa Tengah.. rencana! Sekali lagi rencana! Berhubung si kampret datang dari Jakarta, akhirnya kami memutuskan untuk ganti rute ke  tempat yang lebih bisa dijangkau dengan waktu yang terbatas… karena si kampret ini musti ke Bali segera. Setelah berembug, sepakat diputuskan untuk pergi ke Kediri dan Blitar. Saya sih setuju saja, karena belum pernah eksplore Kediri.. hahahah

Tujuan Pertama : Gunung Kelud

Gunung ini masih aktif, dengan siklus letusan 15 tahunan. Tanda-tanda keaktifan terakhir dicatat pada tahun 2007, syukur nggak jadi meletus. Gunung Kelud adalah tempat wisata yang populer. Seperti gunung Bromo, kita tidak perlu menjadi pendaki gunung handal untuk sampai ke puncak tertinggi. Ada sekitar 400 anak tangga yang menghantar kita untuk sampai di menara pandang gunung Kelud. Karena musim hujan, kabut turun dengan begitu tebalnya. Jarak pandang hanya 10-15 meter sewaktu saya kesana. Memang sih, agak mengganggu karena kami nggak bisa melihat kota Kediri dari bawah.. tapi justru dengan turunnya kabut.. pemandangan sekitar jadi lebih dramatis. Mirip sama lokasi syuting film Lord of the Ring di NZ sana.. :)

ImageImageImage

Lokasi kedua : Gereja Tua Poh Sarang

Perjalanan kami lanjutkan ke Gerej Tua Poh Sarang. Bangunannya sebagian besar terbuat dari batu kali yang tersusun rapi. Yang menarik perhatian saya, di setiap atap bangunan ada genting transparan yang tersusun seperti salib dan jika matahari sedang bersinar, ada bayangan salib yang terpapar di lantai. Gereja ini juga menggunakan alat musik tradisional sebagai pengiringnya. Satu set gamelan jawa lengkap ada di sayap kanan ruang ibadah. Ah, seandainya ada waktu saya ingin ikut misa di sana. Saya juga mengitari 14 stasi jalan salib yang ada di sana, waktu itu matahari sudah tenggelam dan sayangnya… listrik padam!

ImageImageImage

photo 2-1

Tujuan ketiga : Pantai Poh Pulo di Blitar

Saya rada mangkel kalo cerita tentang tempat satu ini. Tapi biarlah, saya cerita juga. Dari referensi orang yang gak jelas, akhirnya kami sepakat pergi ke Pantai Pooh Pulo di kabupaten Blitar. Medannya nggak karuan susahnya.. beberapa kali mobil yang kami tumpangi stuck di lumpur. Akhrnya, kami memutuskan untuk berjalan kaki menuju lokasi setelah ada penduduk lokal yang memberitahu jika badan jalan menuju kesana tergenang air luapan rawa. Jalan menuju pantai indahnya luar biasa, naik turun bukit dan melewati ladang penduduk… capek banget… dan yang membuat sakit hati adalah.. pantai itu nggak se-wow dugaan saya. Di internet siih lumayan bagus, tapi kenyataannya.. hiks..

photo 1-3 photo 2-3 photo 3-2 photo 4-3

No photos for this beach.. gw keburu nggondok. Photos taken by Ririe

Lokasi ke empat : Dam Lohor, antara Blitar-Malang.

Sebenarnya ini bukan tujuan utama, tapi berhubung sudah salah belok.. akhirnya kami mampir juga.

photo 3 photo 4-1 photo 5-1

 

The crew : Didik, Tj, Jo, Ririe, Dian

Sukamade – Bagian Kecil Dari Meru Betiri

 

 

 

 

Kami diturunkan di sebuah pertigaan oleh pemilik truk yang kami tumpangi. Pertigaan itu sangat sepi, hanya kami sembilan makhluk penuh semangat untuk menapaki bagian lain TN Meru Betiri. Setelah membayar ongkos ala kadarnya pada sopir truk dan keneknya, kami menurunkan ransel dan peralatan camping kami dari bak truk.  Penampakan kami sudah tidak karuan, maklum debu jalanan selama 2 jam di bak terbuka menjadi make up kami. Mungkin karena ini tiba-tiba si kenek, yang berasal dari Madura, memberikan dua buah semangka buat kami.

Kami beristirahat sebentar di sebuah gubuk. Semangka pemberian mas kenek segera dipecah dan diperebutkan sembilan mulut kelaparan… tapi tiba-tiba… brrreeeeeeggggg gubrak! Panggung gubuk itu roboh jatuh ke tanah, membuat kami semua terhempas. Lalu sejurus kemudian, kami semua tertawa ngakak menertawakan kejadian barusan. Antara merasa bersalah dan takut ketahuan kami mencoba mendirikan panggung kayu tadi. Tapi dasar kayunya sudah lapuk, usaha kami sia-sia saja. Akhirnya setelah menimbang, kami membiarkan panggung kayu dalam keadaan rusak.

Kata si sopir tadi, pantai sudah tidak jauh lagi.. kami disarankan mengikuti jalan satu-satunya yang akan membimbing kami menuju panta Sukamade. Udara panas khas pantai sudah begitu membius kami.. ingin segera mandi di pantai dan bermain-main di sana. Namun, seperti biasanya… konsep “dekat” bagi kaum urban dan pribumi beda jauh. Kami merasa perjalanan yang kata mereka “dekat” ini begitu lama dan menyiksa… hampir satu jam berjalan kami belum juga menemukan tanda-tanda pantai.. di sepanjang jalan hanya ada pohon-pohon randu dan kebun kakao saja. Sebagian dari kami berhenti untuk beristirahat, dan sebagian lagi melanjutkan perjalanan tapi tidak meninggalkan yang lain. Begitu yang di depan tidak melihat yang belakang, otomatis barisan depan akan berhenti, menunggu sampai barisan belakang terlihat. Itu cara kami menjaga agar tetap bersama walaupun kondisi fisik kami berbeda.

Tak berapa lama kemudian, vegetasi yang menemani kami sedikit demi sedikit mulai berganti. Dari perkebunan kakao menjadi hutan dengan selingan savana yang tidak begitu luas… dan setelah beberapa kali tikungan kami sampai di pintu gerbang pantai Sukamade. Ada beberapa wisma yang terlihat cukup bersih, kantin, kantor dan toilet.. tapi… tidak satu orang pun ada di sana.. hanya gerombolan macaca yang menyambut kami dari jauh… sepertinya bersiap melakukan perampokan.

Ada sebuah gazebo, eh lebih tepatnya pos ronda, di depan kantor perhutani. Di sana sepertinya adalah tempat yang bagus untuk menaruh logistik kami. Beberapa dari kami segera melakukan orientasi, melihat papan peta yang tertancap kokoh di depan penginapan, dan.. mencari petugas yang berjaga.

Image

 

Image

Image