Jawa Tengah – Kopeng

This slideshow requires JavaScript.

Selama saya menginap di rumah Tata di Kopeng, ada beberapa tempat yang saya kunjungi selain Puncak Telomoyo dan penjual rondenya.

Kopeng di pagi hari sangat dingin. Sebenarnya saya mau diajak untuk melihat sunrise di balik bukit, tapi mata saya nggak bisa melek subuh. Baru saat matahari meninggi, saya bisa melek. Tanpa mandi saya minta Tata ngantar ke Umbul Songo. Kali ini jalan kaki, sekalian olahraga pagi :P . Tapi sebelum ke Umbul Songo, Tata mengajak saya ke gardu pandang gunung Merbabu melalui Jalur Pendakian Cuntel.

Memasuki gerbang pendakian Cuntel, saya seperti menemukan rumah, a home. Saya berhenti lumayan lama menikmati jajaran pinus yang diselimuti kabut sambil meniti jalan yang lengang… Seandainya saja ada gerimis, kopi, dan dia…Ahik! This is what I called romantic place. I wish you were here… begitu berulang-ulang kata-kata yang keluar dari mulut saya…

Dari Gardu Pandang, kami seharusnya bisa melihat punggung gunung Merbabu, Rawa Pening, dan kota Salatiga.. Namun kabut begitu tebal waktu itu dan matahari tidak bisa menembus tebalnya kabut… jadi saya dan teman-teman hanya bisa menikmati udara gunung yang dingin… dan beberapa hasil vandalisme di gardu pandang… oh yeah! Klasik.

Kata Tata, menurut Nabi Muhammad SAW jalan pulang tidak boleh sama dengan jalan berangkat, jadi kami pilih jalur lain untuk turun menuju Umbul Songo, melalui sentra tanaman hias dan pembibitan.

Ada cerita lucu disini. Dian, yang sangat penasaran dengan Walang Sangit (sejenis serangga yang berbau busuk) saya kerjai. Waktu itu saya kentut waktu jalan naik.. nah sifat jahil saya muncul..

“Dian! Kamu pengen tau walang sangit kan? Sini deh.. coba cium sini.. ada walang sangit”..

Dian segera berlari dan memekarkan hidungnya sambil mengendus-endus daerah tempat saya kentut tadi… Untung dia waktu itu nggak nganga-nganga banget, jadi dalam sepersekian detik dia langsung sadar kalo itu adalah bau kentut saya… hahahahaha saya ngakak gak habis-habis…

Sebelum masuk pintu gerbang Umbul Songo, kami disuguhi pemandangan langka… Anak-anak SD bermain kasti! Ya.. kasti, bukan play station seperti anak-anak kota yg pathetic itu. Ada sekitar limapuluh anak dengan satu guru pendamping main kasti. Saya dan teman-teman larut dalam suasana ceria anak-anak itu, sorak-sorak memberikan semangat dan lonjak-lonjak.. Oh, they’re sooooooo lucky!

Umbul Songo sendiri bukan tempat yang “wow” hanya air terjun yang debitnya sangat minim. Ini adalah bagian dari taman wisata Kopeng, selain wisma perhutani dan lain-lainnya.

Kuliner khas Kopeng adalah sate kelinci, bahkan di beberapa tempat ada yang bisa memilih kelinci mana yang akan disembelih… yak, cocok buat pecinta sado masokis!

Bila malam tiba, banyak tempat nongkrong dan kalo malas bisa turun ke Salatiga untuk menikmati ronde Mak Pari, seperti yang saya lakukan bersama keluarga Tata

photo-20

Jawa Tengah – Telomoyo

Semesta rupanya bekerja dengan baik. Status-status twitter yang saya post ternyata dibaca oleh teman blog saya Tata yang lagi pulang kampung, jadi saya putuskan untuk mampir ke Kopeng, Getasan rumah keluarganya. Setelah puas menikmati pagi di Kompleks Candi Gedong Songo, saya turun untuk melanjutkan perjalanan. Ada banyak ojeg yang menawarkan jasa untuk mengantar turun, tapi saya tidak mau melewatkan cuaca pagi di lereng Ungaran begitu saja. Saya putuskan untuk jalan kaki sejauh 3 km dari kompleks candi menuju jalan raya dan menikmati kegiatan sehari-hari penduduk desa yang merawat tanaman hias.

Tak berapa lama colt yang mengangkut kami ke Ambarawa datang. Setelah sampai di terminal, saya melanjutkan perjalanan ke Salatiga dengan menggunakan bus. Kami sudah janjian untuk turun di Patung Ganesha, tapi karena saya dasarnya tukang tidur.. saya kebablasan sampai ke Pasar Sapi.

Setelah ketemuan sama Tata -peluk cium, foto bareng, minta tanda tangan- selesai, kami pergi ke cafeole Jl. Tentara Pelajar, tempat nongkrong anak muda Salatiga, cie… Tempatnya sangat bagus, adem, dan banyak pepohonan. Sambil menunggu gerimis yang mengundang, kami ngopi ganteng disitu.

Tepat jam 3 sore, masih diiringi gerimis yang sepertinya cinta banget sama kami, kami tiba di rumah ungu, kediaman keluarga Tata di lembah Telomoyo. Setelah bertemu dengan orangtuanya, saya menikmati udara dingin Kopeng ditemani obrolan hangat dan segelas coklat panas.

Menjelang maghrib, adiknya Tata, Dek Dika datang… menawari kami untuk menikmati senja di Telomoyo. Yap… judulnya adalah menikmati senja di Telomoyo…. Saya pikir hanya akan duduk-duduk di cafe di lereng gunung Telomoyo, kayak di Puncak atau di Lembang atau Dago begitu, tapi apa yang terjadi? Menikmati Senja kali ini menjadi kegiatan menikmati senja paling memacu adrenalin dan menegangkan seumur hidup saya!

Dimulai dengan ditukarnya motor matik unyu dengan motor modifikasi yang garang sebagai tunggangan. Saya sudah agak curiga… tanpa bekal apapun kami berempat melaju menuju arah gunung Telomoyo. Jalanan desa masih cukup mulus beraspal dan lebar… saya masih ketawa-ketawa dan menikmati indahnya desa di kaki gunung ini… Sampai pada suatu saat jalan beraspal berganti dengan jalan berbatu, mulai menanjak dan lumayan berlubang besar dan dalam. Oke, mungkin cafe tempat menikmati senja ada di balik tikungan ini…. Tapi setelah beberapa menit lamanya dan melewati banyak tikungan, saya mulai sadar bahwa sebenarnya saya di bawa ke puncak Telomoyo… off road!

Gleg.. saya menelan ludah… antara konsentrasi nyetir motor dan berusaha tenang membuat saya tambah tegang… fnck! Ini pertama kali saya off road naik gunung, di jalan yang berbatu dan licin, naik dan membonceng perempuan yang tegangnya juga luar biasa – saya tau dari cara duduknya yang kaku dan memberi saya ekstra beban – Bener-bener sangat memacu adrenalin…

Saya beberapa kali berhenti dan hampir jatuh, tapi untungnya keseimbangan badan saya oke.. dan kaki saya lumayan kuat menyangga beban -baru terasa manfaat joging selama ini, thank to myself. Ketegangan baru berakhir saat mendekati puncak di sisi utara Telomoyo. Kami berhenti sebentar dan menikmati senja disana.

Terlihat pucuk Sindoro dan Sumbing diantara lautan awan… segala ketegangan hilang sudah… tinggal beberapa tikungan memutar dan kami akan segera tiba di puncak Telomoyo, 1880 mdpl.

Sayup-sayup terdengar adzan maghrib nun jauh disana, di surau-surau desa di kaki gunung Telomoyo… saat itulah kami berempat mencapai puncak Telomoyo. Er, sebenernya bukan puncak tertinggi sih, soalnya ada BTS sialan yang menancap di pucuk Telomoyo. Gengges banjet, kalo kata bencong. Surprisingly, ada beberapa orang yang tinggal disana, rupanya penunggu BTS.

Nah… sekarang timbul masalah baru… Bagaimana saya turun? Keadaan sudah mulai menggelap perlahan-lahan… motor juga lampunya tidak teralu terang dan… mata saya juga tidak terlalu awas jika malam hari. Ya sudahlah bismilah saja… Akhirnya kami pelan-pelan turun.

Ternyata perjalanan turun tidak sesulit yang saya bayangkan, mungkin karena dek Dika jalan duluan, jadi saya tinggal ngikutin dari belakang heheheheh… tapi beberapa kali saya sempat masuk lubang.. saya sih nggak papa, tapi kasian motornya :P .

Di tengah kegelapan, di tempat asing, mulai deh muncul perasaan-perasaan aneh… tidak terdengar satupun kata dari mulut kami. Bolak-balik dek Dika membunyikan klakson, somehow saya tahu artinya.. gak mungkin ada orang lain selain kami… klakson itu cuman sapaan Halo pada siapa saja atau apa saja yang berbagi jalan dengan kami. 30 menit dalam kesunyian, hanya suara motor kami saja yang menderu-deru. Tiba-tiba dek Dika berhenti, saya kaget.. eits… ada apa ini.

“Mas mau ronde gak?” tanya dia.

“Kamu mau ronde?” saya tanya Dian yang saya bonceng.

“Hm… boleh..” kata Dian.

Lalu dek Dika ketawa ngakak… “Kalian pikir siapa yang mau jualan ronde di tempat seperti ini” lalu kembali memacu motornya…

Asem! saya dikerjai! Hahahahah tapi lumayanlah saya tidak lagi merasa tegang, dan kali ini saya isengin Dian… dengan cerita-cerita horor!

Sesampai di rumah, di meja makan, kami kembali membahas ronde Telomoyo dan mulai mereka-reka cerita misterius tentang penjual ronde di Telomoyo. Kami bayangkan saat turun gunung maghrib tadi, ada penjual ronde yang mangkal di tiap tikungan. Hanya ada lampu minyak/ sentir yang dipakai untuk menerangi dagangannya. Wajahnya penjualnya samar-samar, tidak jelas terlihat. Tapi…. mereka semua tidak punya wajah.. hiy…

It was good! Pengalaman yang menegangkan sekaligus menyenangkan :)

This slideshow requires JavaScript.

Jawa Tengah – Ungaran

#menghela nafas panjang….

Saya kembali mencicil PR hidup saya liburan akhir pekan panjang kemarin. Sudah lama saya nggak beranjak dari kota saya sejak memasuki 2013, perjalanan terakhir adalah ke Bromo bulan February lalu.

Edisi kali ini adalah jelajah Jawa Tengah bagian tengah tengah (Semarang – Salatiga – Solo – Jogja).. well kelihatan maruk? bener! itu saja kurang.. kalo bisa itinerary ditambah ke Wonosobo dan Tegal dll.. hahahah

Travel mate kali ini adalah Dian Anggraini, miss ngowoh sedunia. Dia pernah seperjalanan sama saya waktu ke Green Canyon dan seputar Pangandaran. Orangnya nggak ribet, tapi rada o’on.. ya sud lah.. toh hanya Jawa Tengah :P heheheh peace yo mbak!!

Tiba di terminal Terboyo, Semarang pukul enam pagi… tujuan hari itu adalah Candi Gedong Songo dan tempat-tempat sekitar Bandungan. Seperti perjalanan gembel sebelumnya, kondisi di lapangan bisa jadi sangat berbeda meskipun sudah berbekal itinerary yang oke. Disini, skill komunikasi lebih berguna daripada skill baca peta.

Dengan bekal dua ribu perak, saya nongkrong di angkringan depan terminal sambil “nyepik” si penjual, gimana cara ke sana via angkutan umum. Setelah cukup info, saya melanjutkan perjalanan. Menurut mas2 yang di angkringan, saya harus naik bus jurusan Solo, lalu turun di Watu Gede dekat pom bensin (Ungaran arah ke Bandungan). Lalu oper angkot naik, turun di sebuah pasar.

Jam biologis saya sudah mengingatkan perut untuk berbunyi. Setelah diisi, kembali saya nyepik tukang ojek untuk mengantar saya ke Curug Bidadari dan kompleks Candi Gedong Songo. Cukup dengan membayar 50.000/ motor saya diantar dari pasar ke curug 7 bidadari, ditungguin sampai selesai main disana dan diantar ke Kompleks candi Gedong Songo.

Curug Tujuh Bidadari

Jangan bayangkan air terjun yang cantik seperti bidadari jika mendengar nama ini, karena anda akan kecewa tingkat dewa. Wait.. jangan pikir saya jelek2in ya.. saya cuman kasih pandangan obyektif pada sebuah tempat. Biar seimbang.. hehehe

Air terjun ini tingginya hanya 3 meter dan lebarnya kira-kira 10 meter. Debit airnya tidak begitu besar dan ada tujuh pecahan air terjun yang membagi sungai di atasnya, kemungkinan nama Tujuh Bidadari diambil dari pecahan air terjun ini. Airnya pun tidak terlalu jernih sehingga tidak menggoda saya untuk nyebur. Sungai yang menyambung air terjun ini typikal sungai di dataran rendah, berbatu dan landai.

Jalan menuju lokasi sudah sangat baik, aspal mulus sudah bisa dinikmati sampai ke tempat parkir. Ada beberapa saung yang bisa digunakan untuk beristirahat dari udara panas di tempat itu. Pemandangan petak-petak sawah lumayan baik, mirip seperti ubud. Patut diacungi jempol, tempat wisata ini menjual banget meskipun tidak begitu bagus.

Yang menarik perhatian saya adalah adanya gerombolan kupu-kupu yang menghisap mineral di batu-batuan sungai. Mirip di Banti Murung, Makasar. Kata teman saya, semakin besar kupu-kupu yang dijumpai semaik baiklah ekosistim tempat itu.

Kompleks Candi Gedong Songo

Saya tidak menghabiskan terlalu banyak waktu di Curug Tujuh Bidadari. Saya segera lari ke kompleks candi Gedong Songo.

Udara sejuk menyambut kami di pelataran candi Gedong Songo. Sejenak saya mengistirahatkan pantat dari boncengan ojek… Waktu itu pengunjung sangat banyak. Mobil berjajar dari pintu masuk sampai kira-kira lima puluh meter di bawahnya. Ada beberapa penginapan di komples ini, mulai dari Villa Perhutani yang rate-nya 900 ribu, Guest House yang seharga 300 ribu sampai penginapan kelas raflesia armoldi yang semalam cuman 50 ribu.

Saya memutuskan untuk beristirahat sejenak di penginapan (jangan tanya nginap dimana – yang jelas bukan di villa) dan menunggu sampai pengunjung sepi. Ehm.. dan… karena terbuai sejuknya udara dan bau bantal, akhirnya saya terlelap sampai sore. Panik!

Kompleks Candi Gedong Songo sangat cantik di sore hari. Tak salah keputusan saya untuk masuk saat matahari sudah mulai condong ke Barat. Dengan latar belakang Gunung Ungaran, kompleks candi ini seperti Taman Sari yang dibangun Rahwana untuk Dewi Shinta. Ada kabut tipis yang muncul di lereng Ungaran, membuat suasana sangat syahdu. Saya duduk berlama-lama dan menikmati sore yang sangat cantik di lereng Gunung Ungaran.

Ada banyak pilihan untuk mengelilingi komples candi yang luasnya ratusan hektar ini. Salah satunya adalah berkuda. Tapi saya tidak memilih metode ini, mengingat kantong saya yang tidak seberapa tebal. Hey, tapi ada untungnya saya tidak berkuda! Saya menemukan cuilan Argasoka di sisi barat laut gunung ini. Pinus yang berwarna emas berjajar rapi memagari jalan setapak di sisi paling luar kompleks ini.. menuju lembah dimana saya bisa meihat Bandungan di bawah sana yang mulai kelap-kelip memancarkan cahaya lampunya. Subhahanalah!

Sore itu saya mentahbiskan diri menjadi punggawa Surya yang menghantarkannya ke peraduan diantara Sindoro-Sumbing dan Merbabu.

Tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan disini jika menginap di sini… kehidupan kampung hanya aktif sampai jam delapan malam. Di pagi hari, saya menyempatkan diri untuk menyusuri perkampungan yanga da di lereng Ungaran. Rata-rata penduduk di sini memelihara kuda, kegiatan rutin mereka adalah memandikan kuda di pagi hari… tentu saja saya ikut2an :P

This slideshow requires JavaScript.

Selanjutnya – Petualangang seru memacu adrenalin di Puncak Telomoyo

Negara Bebas Visa dan Visa On Arival Bagi Pemegang Passport Indonesia

Image

Ceritanya nih, saya nggak mau pergi keluar negeri dengan tujuan Asean. Semua teman-teman saya sudah tau itu. Alasannya? Biarlah mencjadi rahasia antara saya dan semesta… #soksecret.

Nah, pada suatu wacana… teman saya nyeletuk mengajak pergi ke Nepal. Otomatis mata saya berbinar-binar.. datarang tinggi, dingin, dan biksu yang lalulalang dijalan. Setelah sekian lama, semalam ada kesempatan berburu tiket promo AA kesana. Namuuuuunnnn, karena kurang doa dan saingannya banyak.. tanggalnya juga gak cocok (tapi gw tahu alasan sebenarnya MAHAL..) mimpi ke Nepal pun lenyap.

Setelah teman saya gagal mendapat promo tiket ke Nepal, mereka ganti haluan ke Yangon (yang dahulu gw kenal dengan nama Rangon) which is di Myanmar, which is juga Asean. Otomatis saya menggugurkan diri. Dan gw denger2 mereka dapat KL-Yangon return MYR 690 untuk 5 orang… hebat! Gw sih nyerah kalo hunting tengah malam gini.. :(

Semalam mereka juga ribut ke Yangoon pake visa apa nggak, nah iseng2 gw cari info dan berhasil mengumpulkan negara2 mana saja yang bebas visa ato visa on arrival.

ASIA

  1. Brunei                    : 14 hari
  2. Kamboja                : 30 hari (VoA)
  3. Hong Kong            : 30 hari
  4. Iran                        : 7-15 hari (VoA dgn dokumen sponsor)
  5. Yordania                : 30 hari (VoA)
  6. Laos                       : 15-30 hari (VoA)
  7. Macau                    : 30 hari
  8. Malaysia                : 30 hari
  9. Maldives                : 30 hari (VoA)
  10. Nepal                     : 30-60 hari (VoA)
  11. Oman                     : 30 hari (VoA)
  12. Filipina                   : 21 hari
  13. Singapura              : 30 hari
  14. Sri Lanka               : 30 hari (VoA)
  15. Thailand                : 30 hari via udara, 15 hari via darat
  16. Timor Leste           : 30 hari (VoA)
  17. Vietnam                 : 30 hari

AFRIKA

  1. Maroko                : 90 hari
  2. Mozambique        : 30 hari (VoA)
  3. Seychelles           : 30 hari
  4. Tanzania              : 3 bulan (VoA)
  5. Tazmania             : 3 bulan (VoA)
  6. Zimbabwe            : 3 bulan (VoA)
OCEANIAN
  1. Kepulauan Cook    : 31 hari
  2. Fiji                          : 120 hari
  3. Mikronesia              : 30 hari
  4. Niue                        : 30 hari (VoA)
  5. Palau                     : 30 hari (VoA)
  6. Samoa                   : 60 hari

AMERIKA TENGAH

  1. Bermuda              : 6 bulan
  2. Cuba                        : harus membeli kartu turis sebelum kedatangan
  3. Costa rika            : 30 hari (Harus memiliki visa cap USA, Kanada, atau Uni Eropa minimal 3 bulan lebih) –> Nyebelin
  4. Saint vincent dan Grenadines: 1 bulan
AMERIKA SELATAN
  1. Chile                     : 90 hari
  2. Colombia              : 90 hari
  3. Equador                : 90 hari
  4. Haiti                      : 3 bulan
  5. Peru                      : 90 hari

EROPA

  1. Armenia               : 120 hari (VoA)
  2. Georgia                : 90 hari (VoA)
  3. Kosovo                 : 90 hari
  4. Turki                     : 30 hari

Updated : April 2013

Agenda Budaya dan Seni Jawa Timur 2013

Image

Halo halo… mau share Kalender Budaya dan Seni selama setahun di Jawa Timur… Please have a look, kali aja ada yang cocok dan mau dilihat.

JANUARI

Sabtu, 12 Januari 2013

Wayang Kulit dengan dalang Ki Tantut Sutanto dari Malang. Lakon “Duryudono Gugur”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Genteng Kali 85 Surabaya.

 

FEBRUARI

Sabtu, 9 Februari 2013

Ludruk. Grup Ludruk Warna Enggal (Sidoarjo). Lakon “Tetesan Air Mata Ibu”. Tempat : Taman Krida Budaya Jatim, Jl. Soekarno Hatta 7, Malang.

Sabtu, 16 Februari 2013

Wayang Kulit dengan dalang Ki Witoadi Sucipto dari Bojonegoro. Lakon “Banjaran Karno”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya.

Sabtu, 23 Februari 2013

Ketoprak. Grup Satrio Budoyo dari Bojonegoro. Lakon “Wahyu Sepako Mulyo”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya.

MARET

Sabtu, 9 Maret 2013

Wayang Kulit dengan dalang Ki Endro Tri Murdoyo dari Magetan. Lakon “Kalimatajaya”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya.

Jumat s/d Minggu, 15-17 Maret 2013

Gelar Seni dan Budaya Daerah. Tema “Kalokaning Bumi Orek-Orek” dari Kab. Ngawi. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya.

Sabtu, 23 Maret 2013

Wayang Orang. Grup Wayang Orang Patria Loka dari Blitar. Lakon “Guntarayana”. Tempat di Taman Krida Budaya Jatim, Jl. Soekarno Hatta 7, Malang.

APRIL

Sabtu, 13 April 2013

Wayang Kulit dengan dalang Ki Ikal Dwi Endro dari Blitar. Lakon “Brubuh Ngalengko”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Genteng Kali 85, Surabaya.

Jumat s/d Minggu, 19-21 April 2013

Gelar Seni dan Budaya Daerah. Tema “Banyuwangi Sunrise of Java” dari kab. Banyuwangi. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. gentengkali 85, Surabaya.

Sabtu, 27 April 2013

Ludruk. Grup Ludruk Armada dari Malang. Lakon “Kampak Banyu Pahit”. Tempat di Taman Krida Budaya Jatim, Jl. Soekarno Hatta 7, Malang.

MEI

Sabtu, 4 Mei 2013

Wayang Kulit dengan dalang Ki Tri Bayu Santoso dari Tuban. Lakon “Banjaran Bima”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, SUrabaya.

Jumat s/d Minggu, 10-12 Mei 2013

Gelar Seni dan Budaya Daerah. Tema “Sabda Rama Bumi Wali” dari Tuban. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya.

Sabtu, 18 Mei 2013

Ludruk. Grup Ludruk Bangun Tresno dari Lumajang. Lakon “Tragedi Sungai Bondo Yudo”. tempat di Taman Krida Budaya Jatim, Jl. Soekarno Hatta 7, Malang.

JUNI

Sabtu, 8 Juni 2013

Janger. Grup Janger Karisma Dewata dari Banyuwangi. Lakon “Kurbaning Asmoro”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya.

Jumat s/d Minggu, 14-16 Juni 2013

Gelar Seni dan Budaya Daerah. Tema “Mustika Budaya, BUmi Anjuk Ladang” dari Nganjuk. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya.

Sabtu, 22 Juni 2013

Ludruk. Grup Ludruk Lerok Anyar dari Malang. Lakon “Sarip Tambak Oso”. Tempat di Taman Krida Budaya Jatim, Jl. Soekarno Hatta 7, Malang.

Sabtu, 29 Juni 2013

Wayang Kulit dengan dalang Ki Paryono dari Pacitan. Lakon “Jarasanda”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. gentengkali 85, Surabaya.

AGUSTUS

Sabtu, 17 Agustus 2013

Wayang Kulit dengan dalang Ki Yoyok Risdianto dari Lumajang. Lakon “Babat Wonomarto”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85 Surabaya

Sabtu, 24 Agustus 2013

Wayang Orang. Grup Wayang Orang Mustika Yuastina dari Surabaya. Lakon “Ngawruh”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. gentengkali 85, Surabaya.

Sabtu, 31 Agustus 2013

Janger. Grup Janger Langgeng Eko Budoyo dari Banyuwangi. Lakon “Mendung Langit Kedawung”. Tempat di Taman Krida Budaya Jatim, Jl. Soekarno Hatta 7, Malang.

SEPTEMBER

Sabtu, 7 September 2013

Wayang Kulit dengan dalang Ki Dwi Priyanggono dari Pasuruan. Lakon “Romoyekti”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. gentengkali 85, Surabaya.

Jumat s/d Minggu, 13-15 September 2013

Gelar Seni dan Budaya Daerah. Tema “Mentari Budaya Bumi Wegker” dari Ponorogo. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya.

Sabtu, 21 September 2013

Ludruk. Grup Ludruk Brawijaya dari Mojokerto. Lakon “Sidang Salah Kaprah”. Tempat di Taman Krida Budaya Jatim, Jl. Soekarno hatta 7, Malang.

OKTOBER

Jumat s/d Minggu, 18-20 Oktober 2013

Gelar Seni dan Budaya Daerah. Tema “Kawentaring Budaya Bumi Penataran” dari Blitar. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya.

Sabtu, 26 Oktober 2013

Ludruk. Grup Ludruk Dika Indra Mandiri dari Lamongan. Lakon “Tumurune Wahyu Purbo Sejati. Tempat di Taman Krida Budaya Jatim, Jl. Soekarno Hatta 7, Malang.

NOVEMBER

Sabtu, 2 November 2013

Wayang Kulit dengan dalang Ki Anom Surono dari Sidoarjo. Lakon “Brubuh Ngalengka”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya.

Jumat s/d Minggu, 8-10 November 2013

Gelar Seni dan Budaya Daerah. Tema “Pesona Kedir Bumi Panji” dari Kediri. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya

Sabtu, 16 November 2013

Ketoprak. Grup Ketoprak Kirun CS dari Madiun. Lakon “Gembong SIngo Yudho”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya.

Sabtu, 23 November 2013

Ludruk. Grup Ludruk Waras CS dari Jombang. Lakon “Eleng Pepeleng”. Tempat di Taman Krida Budaya Jatim, Jl. Soekarno Hatta 7, Malang.

DESEMBER

Sabtu, 7 Desember 2013

Wayang Kulit dengan dalang Ki Agus Prayitno dari Ponorogo. Lakon “Wisanggeni Krido”. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya.

Jumat s/d Minggu, 13-15 Desember 2013

Gelar Seni dan Budaya Daerah. Tema “Gumebyar Bumi Lawadan” dari Tulungagung. Tempat di Taman Budaya Jatim, Jl. Gentengkali 85, Surabaya.

Sabtu, 21 Desember 2013

Ludruk. Grup Ludruk Bharada Unesa dari Surabaya. Lakon “Pilkades”. Tempat di Taman Krida Budaya Jatim, Jl. Soekarno hatta 7, Malang.

 

 

Untuk keterangan lebih lanjut, teman-teman bisa mencari informasi langsung di kantor pusat.

Taman Budaya Jawa Timur

Jl. Gentengkali 85, Surabaya

Telp. 031.5342128

atau

Pemprov Jatim Dinas Kebudayaan dan Pariwisata

Jl. Wisata Menanggal, Surabaya

Telp. 031.8539154. Fax. 031.8531822

 

Selamat Menikmati… Let’s preserve our culture.

Kuliner Nusantara – Lontong Romo, Gresik

Liburan Nyepi 2013.

Sebelumnya saya ucapkan “Selamat Hari Raya Nyepi 2013″ bagi teman-teman yang menjalankan dan merayakannya.

Kemaren saya dan Dian pergi ke Gresik untuk wisata kuliner daerah Gresik yang belum pernah kami coba. Sebenarnya ini cuman alasan saja biar bisa ketemu sama teman artis daerah kami, Kenchoz Semlekom. Kangen pol!

Saya sebenarnya tidak begitu tertarik dengan Gresik karena saya pikir akan banyak miripnya dengan Surabaya. Tapi setiap kali ketemuan dengan Kenchoz, dia selalu promosi tentang daerahnya. Entah itu cerita tentang tetangga atau makanan-makanan aneh yang belum pernah saya dengar. Misalnya saja cerita tentang Yuk Rudho, Yuk Ma’in, Fatimatuz Zahro, Wak Anjar, Ndok Bader, Lontong Romo, Godo Tahu, Martabak Mbak Ti, dll.

Kemaren saya dibawa ke daerah Romokalisari. Kali ini kami akan memuaskan rasa penasaran kami pada makanan Gresik yang bernama Lontong Romo. Setelah pencarian yang cukup dramatis dengan guyuran air hujan dan kesasar-sasar. Akhirnya kami menemukan seorang penjual Lontong Romo. Ada cerita menarik dari ibu penjual lontong Romo ini, tapi sebelumnya baiklah saya cerita tentang makanan ini.

Lontong Romo.. kenapa namanya Lontong Romo? Tidak ada referensi pasti tentang asal usul makanan ini. Yang jelas makanan ini berasal dari desa Romo, Manyar. Namun menurut cerita dari mulut ke mulut, dahulu kala ada seorang perempuan yang kesusahan memenuhi kebutuhan hidupnya. Lalu atas saran seorang yang sakti, dia disuruh berjualan. Dia mengambil bahan-bahan yang ada di dapurnya pada saat, lalu mengolahnya dan menjualnya dengan berkeliling kampung sambil berteriak… “Ingat-ingatlah.. ini yang asli.. Chik Yen, Chik Yen.. bak pao yang asli…”. Oh maaf, teriakannya bukan itu.. tapi “Lontong Romo..!!” Sejak itulah makanan ini terkenal.

Bentuk fisik makanan ini berupa nasi/ lontong yang ditaruh di atas pincuk daun pisang, lalu di atasnya ditaruh sayur kucuk (sejenis kangkung yang tumbuh di sawah) dan disiram dengan bubur berwarna coklat kemerahan. Sebagai pelengkap di atasnya ditaburi kelapa sangrai dan kerupuk rambak yang sudah diremas.

Kekhasan makanan ini adalah bubur penyiram lontong/ nasi. Bubur ini dibuat dari tepung beras, santan kelapa, tumbukan udang, cabai merah, bawang dan rempah-rempah lainnya. Warna merah bisa jadi karena daging udang yang dan cabai merah yang menjadi bumbu utama. Saat ini sangat sulit untuk menemukan sayur kucuk, sehingga banyak penjual Lontong Romo menggantinya dengan daun singkong.

Menemukan makanan ini gampang-gampang susah karena sistem penjualannya yang nomaden dan dijual hanya pada pagi dan sore hari. Kebanyakan penjual Lontong Romo ini biasanya berkeliling ke kampung-kampung, dan sedikit sekali yang menetap di satu tempat. Beruntung kemaren kami menemukan satu yang berjualan menetap di daerah Romo.

Image

Curhatan Penjual Lontong Romo

Sambil menikmati Lontong Romo, saya iseng ngobrol dengan penjualnya. Sebenarnya saya hanya ingin tahu tentang makanan yang dia jual… tapi jadinya saya malah dijadikan tempat curhat.

Namanya Yuk B.A., berusia 55 tahun tanggal 5 Maret yang lalu. Yuk B.A. sudah berjualan makanan ini selama 30 tahun lebih. Sosoknya tanggung, berkulit gelap, memakai baju kebaya merah menyala. Raut mukanya terlihat sangat tegar dengan tulang pipi yang menonjol. Banyak bicara namun sangat melo, ini terbukti ketika saya membuka percakapan dengan pertanyaan “Buk, sudah lama jualan Lontong Romo?” dan jawaban yang keluar dari mulutnya adalah ketenaran masakannya yang sudah diakui pemda Gresik dan Sidoarjo lalu disusul dengan cerita masuknya dia di TV sebagai pemenang lomba Lontong Romo dan cerita-cerita kesuksesan masakannya dengan berapi-api. Namun dengan berkaca-kaca dia menceritakan awal mula berjualan saat suaminya yang sudah sakit-sakitan dan tidak bekerja lagi semenjak kelahiran anak pertama. Lalu kembali bersemangat menceritakan harga Lontong Romo yang fluktuatif (macam dagang emas kata teman saya). Harga Lontong Romo ini naik seribu rupiah, dari Rp. 5.000 perpincuk menjadi Rp. 6.000 perpincuk, dan bisa turun lagi saat harga bahan berubah. Mendengar curhatan yang panjaaaaannng, tentu saja saya langsung pasang pose psikolog- meskipun ada beberapa cerita yang missed karena saya nggak paham maksudnya apa.. tapi untuk melegakannya, saya tetep pasang pose psikolog. :)

Yang lucuuuuuuu… Yuk B.A. ini sadar kamera bangetttt… Pada awalnya dia memakai plastik bening sebagai jas hujan dan penutup lapaknya. Tapi waktu saya mau foto dirinya, dia dengan serta merta melepas semua plastik yang melindungi dirinya dan merapikan diri! Saya ngakak… yah ini mungkin pelajaran yang diambil saat dia masuk TV dulu… must look perfect on camera.

Saya dapat sesuatu yang berharga dari Yuk B.A. kemaren. Kesahajaannya, kerendahan hati, kepolosannya selalu membuat saya tersenyum sumringah. Sudah lama saya tidak menikmati obrolan sederhana, polos dan jujur seperti ini.. antara saya dan Yuk B.A.

ImageImage

Sehari di Surabaya – Apa Yang Bisa Dilakukan?

Tulisan ini terinspirasi saat teman baik saya yang berdomisili di luar Jawa menelpon saya, mengabarkan bahwa dia akan transit satu hari di Surabaya sebelum melanjutkan penerbangan ke Bali. Saya kelabakan membuatkan agenda jalan-jalan untuk dia. Jujur, meskipun saya lama tinggal di kota buaya ini, saya kelimpungan begitu ditodong tempat-tempat yang asyik untuk menghabiskan satu hari di kota bisnis ini.

Image

Saya mulai menawarkan penginapan dan hotel yang affordable untuk ukuran kantong dan allowance dari kantor untuknya. Mulai dari penginapan kelas backpacker di daerah kayoon sampai hotel-hotel sekelas Artotel yang kian menjamur di Surabaya.

Pagi Hari.

Sarapan pilihan adalah sate kelapa di daerah Ondomohen. Sate ayam atau daging ini begitu khas dengan balutan kelapa yang sudah disangrai, lalu dibakar dengan arang dari batok kelapa yang membuat citarasa sate ini semakin nikmat. Sate ini bisa dinikmati dengan lontong ataupun nasi.

Image

Tujuan pertama di pagi hari adalah hutan mangrove di daerah Bosem, Wonorejo. Pagi hari adalah saat yang tepat untuk melihat ekosistem mangrove di pantai timur Surabaya. Di tempat ini kita bisa jalan-jalan menikmati segarnya pagi diatas joging track kayu yang membelah hutan mangrove sambil menikmati ulah burung pantai yang memulai geliatnya. Jika sudah lelah berjalan kita bisa kembali ke tempat semula untun naik perahu menyusuri sungai Jagir yang bermuara di ujung selatan selat Madura. Di ujung muara kita bisa melihat laut yang terhampar luas, tidak berwarna biru tapi lumayanlah untuk menikmati hangatnya sinar matahari pagi.

Setelah menikmati hutan mangrove, perjalanan dilanjutkan menyusuri pinggir timur kota Surabaya, menuju ke pantai Kenjeran. Ada kuil Budha di areal Pantai Ria Kenjeran (Kenpark) yang terkenal dengan patung Budha empat muka yang menjulang tinggi dengan gajah putih di sekitarnya. Di seberangnya ada kuil Dewi Kwan Im yang diapit oleh dua naga raksasa menandai batas daratan dan lautan. Jika suka, kita bisa menikmati sajian khas Surabaya berupa lontong kupang dan es kelapa muda yang banyak dijual di area Kenpark.

Image

Menjelang siang, perjalanan dilanjutkan menuju kompleks jembatan Suramadu. Ada sebuah lokasi pengamatan jembatan terpanjang di Indonesia. Namanya daerah gudang peluru. Entah kenapa namanya seperti itu yang jelas di sini kita bisa melihat jembatan yang menghubungkan Surabaya dan Madura ini secara utuh. Mau melewati Suramadu? Ayo… !Di ujung jembatan ini ada sebuah warung nasi bebek yang termasyhur, Warung Bebek Sinjay namanya. Namanya agak keindia-indiaan, padahal lokasinya ada di Madura.. hm…Kenapa bisa begini? Bisa ditanyakan pada pemilik warung nasi bebek ini nanti.

Siang Hari.

Panas kota Surabaya di siang hari bisa membuat pusing. Untuk melewatkan siang yang panas, pilihan destinasi berikutnya bisa ke Museum House of Sampoerna yang terletak di Jl. Taman Sampoerna no 6. Ada museum yang menyimpan benda-benda bersejarah seputar rokok dan PT. Sampoerna yang memproduksi rorok berlambang huruf A ini. Jika sedang beroperasi, dari lantai dua kita bisa melihat para pekerja yang sedang membuat lintingan rokok Dji Sam Soe, ya.. tempat ini juga masih produktif sebagai salah satu pabrik rokok. Di sisi bangunan lain ada cafe yang cukup cozy, di sini kita bisa makan siang. Sebenarnya pihak House of Samoerna juga menyediakan fasilitas city tour Surabaya, namun harus reservasi dahulu. Untuk acara dadakan tentu saja tidak bisa. Lokasi city tour diantaranya Tugu Pahlawan, Hotel Majapahit, dan tempat-tempat bersejarah lainnya.

Image

Setelah matahari agak condong ke barat, perjalanan bisa dilanjutkan ke Gereja Kepanjen. Nama sebenarnya adalah Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria, namun lebih dikelan dengan nama Gereja Kepanjen karena letaknya di jalan Kepanjen. Arsitektur gedung ini masih klasik, layaknya gereja-gereja katolik tua, dengan kubah yang tinggi dan lonceng yang masih aktif dibunyikan.

Pilihan berikutnya bisa ke kompleks Masjid Ampel yang termasyur itu. Tiang penyangga dari kayu yang masih terawat dengan ukiran kaligrafi serta jajaran karpet hijau sebagai sajadah. Tempat ini adalah destinasi wajib untuk dikunjungi. Di tempat ini berdiam komunitas WNI keturunan Arab dan India, tak salah jika kita sejenak mencicipi makanan khas timur tengah berupa kambing oven dan nasi kebuli. Jika beruntung kita bisa blusukan di kampung Arab dan membuat rajah tangan khas timur tengah, tentunya ini khusus untuk para wanita.

Sore dan Malam Hari.

Setelah istirahat sejenak dan mandi, mall bisa menjadi pilihan kunjungan selagi tampilan masih segar dan baju masih belum kucel. Tunjungan Plaza, salah satu icon mall di Surabaya bisa menjadi rujukan. Atau bila suka dengan mall yang tidak terlalu kecil, Delta Plaza bisa menjadi alternatif pilihan. Disini kita bisa mencicipi makanann khas Surabaya seperti rujak manis, lontong balap, lontong mie, dan rujak cingur, sembari menikamti dinginnya AC mall.

Image

Bila matahari sudah berada dalam peraduan, geliat malam kota Surabaya menjadi atraksi tersendiri. Ada banyak tempat nongkrong yang asik sambil menikmati makan malam. Ada G-walk, D’loop, D’capital, atau di Surabaya Town Square yang menawarkan beragam tempat ngobrol dan ngopi ala anak muda Surabaya. Bila kurang suka dengan tempat-tempat sekelas itu, angkringan kaki lima dan warung STMJ bisa menjadi pilihan lain yang bersahabat dengan kantong.

Sebagian orang yang belum pernah menginjakkan kaki Surabaya pasti penasaran dengan Dolly. Hahaha… bisa saja kesana kalo hanya sekedar lewat dan tau. Naik motor lebih baik karena bisa pelan-pelan dan lebih santai. Berhenti beli rokok sambil melihat “aquarium” dan “ikan-ikannya” tapi untuk urusan yang lain saya nggak tau.. saya masih hijau. Hahahah…

Bila masih punya cukup energi niteclub dan tempat party sudah menanti? Ada banyak! Silahkan saja pilih.

Sebenarnya masih banyak destinasi yang menarik lainnya, tapi untuk sehari.. sepertinya itinerari diatas cukuplah… Silahkan mencoba.

Geliat Imlek di Surabaya

Meskipun saya tidak ikut merayakannya, namun hari besar ini sudah menjadi agenda tahunan yang saya tunggu-tunggu. Sebelum saya bercerita pengalaman perayaan Imlek (baca imlik) yang saya ikuti, ada baiknya kita tahu apa yang dimaksud Imlek tersebut.

Image

Imlek atau Sin Tjiaadalah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina. Perayaan ini dimulai pada akhir tahun Cina sampai tanggal 15 bulan pertama.

Prosesi yang dilakukan adalah sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh sebagai wujud syukur dan harapan agar di tahun depan mendapat rezeki yang lebih banyak.

 

Karena perayaan Imlek berasal dari kebudayaan petani, maka persembahan untuk dewa berupa berbagai olahan hasil bumi. Idealnya, pada setiap acara sembahyang Imlek disajikan minimal 12 macam masakan dan 12 macam kue mewakili shio yang berjumlah 12. 

Di Cina, hidangan yang wajib adalah mie panjang umur (siu mi) dan arak. Di Indonesia, hidangan yang dipilih biasanya hidangan yang mempunyai arti “kemakmuran,” “panjang umur,” “keselamatan,” atau “kebahagiaan,” dan merupakan hidangan kesukaan para leluhur. Misalnya kue lapis sebagai perlambang rezeki yang berlapis-lapis dan kue mangkok/ kue keranjang sebagai simbol kehidupan manis yang kian menanjak dan mekar seperti kue mangkok. Dalam perayaan imlek, bubur adalah makanan haram. Bubur tidak dihidangkan karena makanan ini melambangkan kemiskinan.

Di malam tahun baru orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di restoran lalu membagikan angpau pada sodara dan anak yang lebih muda. Setelah selesai makan malam mereka bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rezeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa.

Perayaan Imlek di Surabaya sangat meriah. Saya mengunjungi salah satu klenteng tertua di Surabaya, namanya klenteng Hok An Kiong yang terletak di Jl. Coklat. Perayaan di klenteng ini dimeriahkan dengan perhelatan barongsay dan arak-arakan patung dewa yang ada di kuil tersebut yaitu Dewa Makco Poo yang konon menguasai tujuh samudra. Patung dewa ini kabarnya didatangkan langsung dari negeri tirai bambu.

Selanjutnya, saya mengunjungi Yayasan Lima Bakti. Di tempat ini saya melihat manula-manula yang aktif melukis kaligrafi Cina, bermain catur Cina, dan alat musik tradisional. Yayasan Lima Bakti ini terletak di Jl. Bunguran. Tujuan utamanya adalah untuk tempat silaturahmi marga Lim yang ada di Indonesia.

Image

Perjalanan berikutnya adalah mengunjungi Klenteng Boen Bio yang ada di Jl. Kapasan. Kami disambut oleh pengurus kuil untuk diajak berkeliling di sekitar klenteng. Yang menarik adalah legenda kampung kung fu dan foto mantan presiden RI, KH. Abdurahman Wahid yang di pajang di altar pemujaan. Memang sangat bisa diterima akal jika sosok Gusdur sangat dihormati disini karena beliau adalah reformis yang menggagas agar Kong Hu Cu diterima sebagai agama yang diakui pemerintah. Disini saya dan beberapa teman saya diajari menari Barongsay dan memukul tetabuhan khas Imlek.

Kebudayaan Cina di Indonesia semakin lama semakin ditinggalkan, entah karena modernisasi atau berkurangnya pemeluk agama Tri Dharma (Buddha, Kong Hu Chu dan Confusianisme). Perayaan-perayaan semacam Imlek dan Cap Go Meh perlu dilestarikan untuk mendukung budaya nasional yang katanya terkenal sangat beragam.

Image

 

 

 

Aceh, Bukan Hanya Serambi Mekah

Blog ini saya buat untuk lomba menulis “I Love Aceh”

Klik gambar ini untuk melihat tautan lebih lanjut tentang Aceh.

Image

Aceh merupakan propinsi paling barat di Nusantara yang memangku Pulau We, pagar barat republik ini. Aceh menyimpan ratusan pesona yang tidak habis digali.

Saat saya duduk di sekolah dasar, saya mengenal Aceh hanya sebatas lagu Bungong Jeumpa, pahlawan perempuan Tjut Nya Dhien, dan Tari Saman. Saya tidak pernah mengenal asam sunti, desa Maulinge, gunung Leuser, dan Mie Aceh sampai saya dewasa.

Saya semakin penasaran dengan Aceh saat mengetahui bahwa di Pulau Weh tidak melulu berhubungan dengan kota Sabang. ternyata, disana ada mercusuar Willems Torens yang masih beroperasi sampai sekarang. Meskipun laut mengirimkan kedukaan pada Aceh dengan menyapu sebagian daerahnya dengan trsunami di penghujung tahun 2004 namun laut juga masih menyisakan kepingan surga di daerah ini untuk dinikmati. Keindahan taman bawah laut Pulau Simeuleu tak kalah dengan taman laut di daerah lain. Meskipun saya hanya melihat gambar dari blog teman saya, saya yakin gugusan karang dan koral yang berjejal memenuhi perairan Aceh sungguh sebuah obat mujarab bagi luka masyarakat Aceh akibat tsunami beberapa tahun lalu.

Jika boleh saya berbagi, cita-cita pribadi saya adalah mengunjungi seluruh taman nasional yang ada di Indonesia dan salah satunya adalah Taman Nasional Gunung Leuser ada disini. Saya sudah mengunjungi sisi lain gunung ini di Tangkahan, bermain dengan gajah dan berkeliling hutan hujan tropis di kaki gunung Leuser. Dan, saya punya keyakinan bahwa sisi lain Gunung Leuser di wilayah Aceh juga punya keunikan dan keindahan tersendiri. Saya masih penasaran dengan sisi yang ini.. mungkin bukan gajah yang saya temui, mungkin orangutan, atau vegetasi unik khas Gunung Leuser. Saya masih menunggu kejutan itu.

Satu-satunya kulinari khas Aceh yang pernah saya coba adalah Mie Aceh. Bukan perkara rasa, namun karena kelangkaan kuliner Aceh di kota saya. Tidak seperti restoran masakan Padang yang dengan mudah ditemukan di mana saja, restoran masakan Aceh jarang sekali ditemui di Surabaya. Lagi-lagi karena pernah membaca blog salah satu teman yang mengulas tentang asam sunti, saya makin tertarik untuk melihat Aceh dari dekat. Dari percakapan dengan si empunya blog, pengetahuan saya tentang kuliner Aceh bertambah. Makanan khas daerah Aceh ternyata tidak melulu Mie Aceh, namun ada juga Ayam Tangkap, Nasi Guri, Martabak Aceh, Sate Matang yang semuanya itu sudah saya masukkan dalam agenda wisata kuliner saya ke Aceh, suatu saat.

Berbicara tentang budaya, Tari Saman memang sudah mendunia. Tarian dinamis ini sunnguh sangat menghipnotis siapa saja yang menontonnya. Gerakan tangan dan lagu yang kompak merupakan ciri khas yang sangat memikat hati. Belakangan, saya juga dicelikkan oleh kisah Putroe Phang dan Sultan Iskandar Muda (juga dari blog yang saya baca). Kisah Sultan Aceh, Iskandar mudah yang meminang putri dari Pahang Malaysia dan memboyongnya ke Aceh. Gunongan adalah bukti bahwa legenda ini ada, bukti cinta yang besar penguasa Aceh pada permaisurinya yang masih tegak berdiri sampai sekarang.

Saya yakin, dalam waktu ke depan saya akan berhadapan dengan kejutan-kejutan tentang segala sesuatu yang saya ingin ketahui tentang Aceh.. dan itu adalah kejutan yang menyenangkan!

Bila mempunyai rencana untuk berkunjung ke Aceh, ada baiknya mencari-cari tahu apa yang terjadi di Aceh. Salah satu media yang aktif adalah akun twitter @iloveaceh yang secara berkala menginformasikan apapun yang terjadi di Aceh. Salam!

Bromo versi santai

Entah ini yang keberapa kalinya saya mengunjungi kediaman penerus keturunan Roro Anteng dan Joko Seger. Meskipun demikian saya tidak pernah jemu bila diberi kesempatan untuk merasakan dinginnya udara dan kabut yang turun di tempat ini.

Image

Weekend imlek kemaren saya mengantar teman dari daerah yang pengen melihat Bromo. Saya udah bikin itinerary untuk dia, sebenarnya agak maksa sih secara itinerary yang saya buat ini yang biasa saya pakai kalo ke Bromo.

Itinerarynya kira-kira seperti ini. Sesampai di Bromo, saya akan check in di Yoschi, penginapan sederhana di lereng Bromo; bukan tempat yang mewah tapi sangat nyaman untuk menikmati suasana Bromo dengan segelas kopi dan novel. Sore harinya berkuda menyusuri kebun kentang dan menyusuri jalan kecil pedesaan. Saat malam tiba, saya berencana ngopi di Java Banana. Untuk sunrise dan jeep touring saya mau skip hehehhehe.

Dan, kenyataannya… saya berangkat Sabtu pagi dari Surabaya, saya dan teman saya janjian bertemu di terminal Purabaya. Dalam perjalanan, semesta ternyata mempertemukan kami dengan dua mahasiswa dari Jogja dan seorang backpacker Jepang yang menunggu angkutan ke Cemoro Lawang, pintu gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Mereka semua baru pertama kali pergi ke Bromo dan mengajak kami pergi barengan, tentu saja dengan prinsip ekonomi ala mahasiswa.

Itinerary yang saya buat tentu saja berubah! Nginep tidak jadi di Yoschi, tapi di rumah penduduk ala kadarnya. Jeep touring yang semula saya mau skip terpaksa diadakan. Dan…. ngopi di JavaBanana juga lewat, karena saya ketiduran. Satu-satunya itinerary yang terealisasi adalah berkuda keliling Kebun Kol dan it’s fun!

Image

Saya paling sebel kalo ikut jeep touring. Dibangunkan jam 3 pagi ditengah udara yang dingin menusuk tulang dan harus berkendara naik menuju tempat melihat matahari terbit yang sudah dipenuhi ratusan manusia. Mau lihat sunrise? mustahil.. yang ada juga lihat kepala-kepala manusia yang sedang rebutan spot menonton matahari terbit di Bromo. inilah alasan kenapa saya malas kalo jeep touring lihat sunrise.

Saya mengambil selimut tebal dan menyisipkannya dalam jeep. Benar dugaan saya, di dalam dinginnya udara Pananjakan (tempat melihat sunrise), ribuan orang sudah berdiri mencari spot terbaik untuk melihat sunrise. Saya tidak ikut dalam prosesi itu, malah saya duduk berselimut dan merokok untuk menghangatkan badan.

Prosesi naik ke kawah pun saya lewatkan. Saya lebih memilih hunting foto kuda yang ada di Bromo sambil ngopi dan ngobrol dengan orang-orang yang ada disitu. Saya lepaskan mereka untuk naik sendiri. Hanya di bukit teletubies saya turun lagi menikmati hijaunya lembah dan bukit-bukit yang menyejukkan mata.

Image

How to get there :

Dari terminal Purabaya/ Bungurasih menuju Probolinggo dengan bus umum : Patas Rp. 23.000, economic Rp. 12.000

Dari terminal Pobolinggo menuju Cemoro lawang naik minibus/ bison antara Rp. 25.000-35.000 (tergantung banyak sedikitnya penumpang)

Sewa rumah penduduk Rp. 250.000/ rumah atau Rp. 150.000/ kamar

Sewa jeep untuk lihat Sunrise (pastikan 4 lokasi : Penanjakan, Kawah Bromo, Bukit Teletubies, dan Pasir Berbisik) Rp. 550.000

Sewa Kuda keliling desa – jarak pendek Rp. 50.000 jarak jauh Rp. 150.000, biasanya sih saya mencegat orang yang bawa kuda lalu nego (bisa lebih murah) tapi kemaren karena saya berdua akhirnya ya pake calo :)