Late Post : Backpacker Edisi Newbie

IMG_0765.JPG

Saya suka sekali bepergian, dan entah bagaimana saya berusaha menularkan kesukaan saya ini pada orang lain, entah secara kebetulan atau secara sengaja. Sudah banyak yang tertular virus ini. Ada yang tetap mengidapnya, ada juga yang sembuh dari penyakit keluyuran ini.

Sudah setengah tahun saya bergabung dengan kominutas lari, dan dari situ saya punya teman-teman baru. Mungkin kayak pepatah bilang, throw me to the wolves and I will return leading the pack – itulah saya.

Pada bulan September lalu saya berencana untuk pergi ke Semeru bersama teman-teman ITS. Saya pada akhirnya memasukkan dua nama dari komunitas lari untuk ikut serta masuk ke pendakian Mahameru, Satria dan Sena. Persiapan sudah dilakukan, mulai dari fisik hingga detailnya Namun karena satu dan lain hal satu persatu tim ITS mengundurkan diri… tinggal saya, Senna, Satria dan Zalla – teman cewek ITS. Satu minggu sebelum hari H plan itu batal, dan saya memutar otak untuk mengajak mereka mengunjungi Baluran dan Kawah Ijen. Seperti yang sudah saya bilang, saya sebenarnya enggan untuk pergi ke tempat yang sama lebih dari sekali. Tapi demi tidak mengecewakan mereka, yang sudah sangat kepengen berpetualang, saya akhirnya pergi juga.

Meeting point adalah terminal Bungurasih, dan kami berempat langsung menuju Probolinggo untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Situbondo. Sampai di pintu masuk TN Baluran, ada dilema.. antara menginap atau langsung balik hari itu juga… sekali lagi karena pertimbangan uang saku. Tenda yang kami bawa sia-sia, karena di TN Baluran kami tidak diperbolehkan mendirikan tenda tetapi harus menginap di pondokan yang sudah disediakan… hm.. entah antara modus biar mereka dapat uang tambahan atau untuk menjaga TN agar tidak rusak atau dua-duanya memang benar.

Akhirnya kami memutuskan untuk lanjut berjalan kaki dari pintu masuk TN Baluran menuju Bekol dengan jarak tempuh sekitar 13 km. Saya pikir mereka akan baik-baik saja mengingat mereka adalah pelari dan punya fisk yang cukup kuat. Alam liar ternyata membuat stamina kami oleng, saya khawatir dengan Satria mengingat ini adalah mbolang untuk pertama kalinya… Sebentar-sebentar kami berhenti untuk mengaso dan turun minum, dan ditengah hampir keputusasaan.. Satria berseloroh, ”Halo alam liar…” rupanya dia berusaha mengambil hati alam liar yang sudah menguras tenaganya… 🙂

Alam rupanya menaruh belas kasihan.. di kilometer 10.. ada sebuah mobil butut yang terdengar dari kejauhan. Rupanya ada rombongan dari Jogja yang bertandang ke tempat itu; Nana, Fitri, Ridho, dan satu lagi teman mereka. Mereka berhenti dan menawarkan untuk ikut serta naik mobil mereka. Gayung pun bersambut, tanpa babibu kami langsung nebeng mereka ke Bekol. Terimakasih alam liar… 🙂

Ada pelajaran berharga saat kami berada di Bekol. Macaca, atau monyet atau bedes di TN Baluran terkenal tidak takut dengan manusia. Mereka tidakk segan-segan mengeroyok orang yang sekiranya makanannya bisa mereka rampas. Saya punya pengalaman buruk dengan monyet ini sewaktu di teluk hijau, makanan kami dirampok oleh gerombolan monyet liar dan kami tidak bisa apa-apa. Saya sudah melakukan berbagai cara untuk mengusir monyet-monyet itu jauh dari kami. Mulai dari mengejar mereka… tapi begitu saya sendirian dan jauh dari teman-teman saya.. salah satu monyet yang paling besar berhenti dann berbalik arah, menyeringai dan mengancam saya. Sial! saya  pun lari kembali ke rombongan saya. Cara kedua adalah dengan tongkat. Saya menghalau mereka dengan tongkat… dan kejadian yang sama berulang… setelah saya sendirian mereka berbalik mengejar saya.

Saya kehabisan akal dan mulai menyerah, saya kumpulkan batu dan menghantam mereka saat ada yang terlalu dekat. Cara ini juga tidak berhasil, mereka lebih gesit menghindar. Akhirnya saya lelah, saya duduk di bawah pohon. Saya mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakan korek api saya. Bahan bakar dalam korek api saya menipis sehingga membuat saya harus beberapa kali menyalakan pemantiknya. Tiba-tiba saja monyet-monyet yang ada diatas pohon tempat saya berteduh mulai riuh dan berpindah ke pohon yang lain. Aha! Rupanya mereka takut dengan api! Saya bangkit berdiri dan mulai mencoba mengejar kawanan monyet tersebut. Begitu saya sendirian, mereka kembali melancarkan taktik yang sama; menyeringai dan menakutinakuti saya… tapi kali ini ada yang lain… saya keluarkan korek api dan mulai memainkan pemantiknya… Alhasil nyali para monyet itu pun menciut dan mereka lari tunggang langgang menuju hutan di belakang pondokan. Sejak saat itu saya diberi gelar Pawang Monyet oleh teman-teman seperjalanan saya.

Setelah babak perang monyet, kami meneruskan perjalanan menuju pantai Bama. Kebetulan si Ridho berulang tahun dan kami mengadakan pesta kecil disana, sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Ijen.

Thanks to Nana, Ridho, Fitri, Zala, Senna, dan Satria.

Next episode : Kedinginan di Puncak Ijen.

IMG_0766IMG_0763.JPG

Advertisements

28 Comments Add yours

  1. dani says:

    Wih, di alam liar yang biasa lari juga takluk ya. Btw Zala yang tengah bukan? Mirip sama orang yang kukenal dan namanya mengandung unsur Zala tapi gak yakin. Haha. Gak penting sih. “D

  2. rdhmkt says:

    fix kaos biru namanya Ridho. dan aku adalah “satu lagi teman mereka” :)))

  3. kazwini says:

    omg beb, akuuuuu ingin liburaaaaaaaan. bosen cuma bandung doang

  4. Ronny Fauzi says:

    temen saya waktu di Sempu malah begitu ketemu monyet, monyetnya langsung menghaturkan sembah sujud. tampilannya memang serupa king kong, mungkin dia dikira raja diraja monyet. hahaha

  5. Gara says:

    Saya juga pernah punya pengalaman buruk dengan kera! Tapi yang diambil bukan makanan, melainkan barang bawaan… guess the monkeys are notorious, then. :haha

  6. Citra Rahman says:

    13 km, kenapa ga lari aja, Jon? :p

  7. lha iki sing mbaurekso teko… hahahahah

  8. sini beb… kita nostalgia.. kapan kamu ada liburan?

  9. temenmu pasti item… kalo putih jadi anoman pasti… bukan kingkong

  10. hm… mungkin yg ambil barang bawaanmu monyet dari abad 24 bro…

  11. maunya sih lari… apa daya ranset segede gaban juga dibawa :0

  12. kazwini says:

    paling deket sih april ada longweekend gitu, tapi nanggung, abis lebaran baru bisa cuti tuh.. huhuhuhuuuu galauuu

  13. Gara says:

    Boleh jadi :haha

  14. ayo Beb mbolang bareng kuade… 🙂

  15. kazwini says:

    kemana dong beb, bete jauh sih aku nya huhuhu

  16. Karimunjawa bijimane? 🙂

  17. kazwini says:

    bisaaaa tuh, ada bis yg dari Mjl ke Jepara ahahaha oks oksss semoga ga ada acara aku

  18. sip! Abis lebaran yes kita atur…

  19. Ronny Fauzi says:

    hahaha iya betul tapi ada kemungkinan king kong albino juga kan.

  20. Waktu aku ke bama, monyet merajalela mendekat dan teriak2. Bikin gw ama temen2 rada2 panik dan kabur ninggalin mangga dan kue2 #MonyetSial ihik ihik

  21. kenapa nggak dibales teriak? pasti seru

  22. aaaakkkkkkkkh… aku emang amazing kak #seplak

  23. Ahaayyy! Jalan jalan yuk!

  24. males kalo jalannya sama bapak-bapak…. wkwkwkwk

  25. Ryan says:

    Pengalaman seru tuh sama monyet. Jadi tahu kalau takut api.

  26. Ardyan Satya says:

    Wakakakak.. Gebleeeg bang Jo, backpacker sejuta skill 😆

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s