Begpackers

gap-year-sign

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca sebuah trending topic di media sosial tentang foto-foto backpackers kulit putih  yang kehabisan uang dan meminta uang pada penduduk lokal, Kejadian ini viral di Thailand. Di antara foto yang beredar terlihat dua orang turis asing yang duduk menjual kartu pos dan mengamen dengan tulisan:

“I am traveling around Asia without money. Please support my trip.”

Saya kemudian membaca-baca artikel lagi, mencari tahu lebih banyak tentang begpackers ini. Seperti biasa, terdapat dua kubu;  pro dan kontra. Tentu saja yang pro adalah kelompok yang berasal dari negera maju dan yang kontra kebanyakan dari negeri berkembang.

Kelompok pro menolak untuk menggeneralisasi para begpackers ini, mereka meminta untuk menilik satu persatu kasus mengapa para backpackers ini menjadi begpackers.

Banyak kasus horor yang menimpa backpackers hingga membuat mereka kehabisan uang dalam perjalanan. Situasi politik sebuah negeri yang mereka datangi, misalnya, dengan alasan yang tidak dimengerti bisa saja menahan para backpackers ini. Tindak kriminal pun juga tidak luput dari alasan mengapa para backpackers ini menjadi beckpackers. Berapa kali terdengar kejadian wisatawan yang dirampok? Ditipu oknum di tempat wisata, dan masih banyak lagi.

Sedangkan di kubu yang mengolok-olok para begpackers mengatakan seharusnya mereka malu. Kenyataan bahwa warga kulit putih yang makmur, meminta uang pada warga negara berkembang sangat memalukan.

Patut dimengerti. Kebanyakan turis asing yang datang ke Asia berasal dari negara maju, yang memberikan tunjangan bagi penduduknya (terutama penduduk muda) untuk vakansi setelah mereka meyelesaikan pendidikan. Dengan pertimbangan biaya, tentu saja tujuan paling masuk akal adalah Asia yang biayanya cukup murah dan sesuai (bahkan mepet) dengan uang tunjangan mereka. Lain halnya dengan penduduk Asia yang boro-boro dapat uang saku gratis untuk jalan-jalan, untuk makan selepas SMA aja mereka harus cari sendiri. Rata-rata warga negara berkembang tidak mendapatkan tunjangan dari pemerintah untuk vakansi seperti kebanyakan negara maju.

Tidak salah pula jika orang Asia menganggap orang kulit putih makmur dan tidak pantas meminta-minta; sebuah stereotipe yang berlaku untuk bangsa kulit putih di mata kulit berwarna. Apalagi jika sudah masuk ranah kebutuhan tersier alias vakansi. Mereka dianggap makmur karena sudah mampu mengeluarkan uang banyak untuk keluar dari negaranya sendiri dan jalan-jalan ke kegeri orang. Di mata orang Asia, apa yang mereka lakukan pasti butuh pengeluaran yang besar; biaya pesawat terbang, hotel, dan biaya lain selama perjalanan seama di luar negeri dipandang sangat tinggi, sudah bisa dikategorikan sebagai aktifitas mewah.

Saya punya pandangan sendiri tentang begpackers ini. Menurut saya, hal ini terjadi karena ketidakpahaman yang signifikan. Sebelum menentukan destinasi, mereka tidak memahami budaya negara yang mereka tuju. Mungkin, dalam benak traveler muda ini hanya terlintas banyaknya kilometer perjalanan dan jumlah negara di Asia yang berhasil mereka kunjungi. Seandainya saja mereka meluangkan waktu untuk belajar latar belakang negara yang akan mereka kunjungi pasti mereka tidak akan memakai istilah “I am traveling around Asia wothout money. Please support my trip” yang terdengar tabu bagi penduduk Asia. Membiayai mereka untuk kegiatan mewah bernama vakansi? Dude, do you lose your mind?

Meskipun dalam praktiknya begpackers ini tidak melulu secara terang-terangan meminta uang, (ada yang mengamen dan berjualan kartu pos atau gelang manik) namun tujuan mereka tetap dianggap salah. Semestinya mereka tahu tempat dan perkembangan zaman. Jika mereka melakukan di Inggris, atau negara maju lain mungkin masih bisa ditolelir, tetapi melakukannya di Asia? Ini bisa runyam. Mengamen adalah cara orang yang tidak punya pekerjaann untuk mencari makan, bukan untuk pelesir. Belum lagi jika dilakukan di Indonesia, mau ditangkap satpol PP?

Diluar kejadian luar biasa yang menyebabkan mereka kehabisan uang, seyogyanya para backpackers ini memperhitungkan kecukupan uang mereka vs destinasi perjalanan. Mengerti dengan baik latar budaya negara yang dituju, dan bijak dengan dunia maya. Yang terakhir saya sebutkan, efeknya sangat mengerikan jika kita ceroboh.

Sepertinya, daftar “Do and Don’t do in Asia” dalam injil traveler “The Lonely Planet” harus ditambahkan pasal: dilarang meminta uang pada penduduk Asia yang sensitif.

gap-year-sign

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. Dita says:

    hahaha ngakak baca penduduk asia yang sensitif x)))
    tapi aku pribadi gak respect sih sama yang begini, gak ada yang ngelarang kok kamu mau keliling dunia…asal jangan ngerepotin dan nyusahin orang lain aja

  2. Iwan Tantomi says:

    Karena kulit orang Asia lebih berwarna, jadi menanggapi yang tabu memang lebih banyak ragamnya. Apalagi kalau sudah diunggah disosmed, bak cireng yang sudah gurih karena digoreng, makin sedap setelah dibumbui vetsin. 😀

    Ngomong-ngomong lama juga tak nulis di blog kak Jo? Terlalu sibuk nulis novel, ya? 🙂

  3. iyoskusuma says:

    Haha.. Penduduk Asia sensitif, apalagi netizen-nya.

    Tapi jadi kepikiran, kalau di Eropa sana, begpacking gini lebih lumrah dari di Asia ya? Karena (kayanya) hitchhiking juga jauh lebih membudaya di barat daripada di timur—setidaknya Indonesia.

  4. Sepertinya yang terjadi memang seperti itu, BUng Iyokusuma. Makanya traveler dari barat asik-asik aja melakukan di Asia, dan orang Asia kaget. 🙂

  5. Wkwkwk, bener Bung Iwan Tantowi. Netizen lebih nyinyir dari ibu-ibu arisan.
    Iya, nih. Saya lagi sibuk menyelesaikan novel kedua 🙂

  6. Aku juga sih. Kalau pun ngga ada duit kan bisa ke kedutaan mereka untuk minta bantuan dipulangkan, enggak minta duit buat nerusin perjalanan. 🙂

  7. Kang Ajat!!!!! I miss u. Ranting udah gede ya

  8. Haishh! Miss you tuhh. Tsaahh! How’s Surabaya? Ranting sudah bisa melawan donk sekarang:))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s