Late Post : Backpacker Edisi Newbie

IMG_0765.JPG

Saya suka sekali bepergian, dan entah bagaimana saya berusaha menularkan kesukaan saya ini pada orang lain, entah secara kebetulan atau secara sengaja. Sudah banyak yang tertular virus ini. Ada yang tetap mengidapnya, ada juga yang sembuh dari penyakit keluyuran ini.

Sudah setengah tahun saya bergabung dengan kominutas lari, dan dari situ saya punya teman-teman baru. Mungkin kayak pepatah bilang, throw me to the wolves and I will return leading the pack – itulah saya.

Pada bulan September lalu saya berencana untuk pergi ke Semeru bersama teman-teman ITS. Saya pada akhirnya memasukkan dua nama dari komunitas lari untuk ikut serta masuk ke pendakian Mahameru, Satria dan Sena. Persiapan sudah dilakukan, mulai dari fisik hingga detailnya Namun karena satu dan lain hal satu persatu tim ITS mengundurkan diri… tinggal saya, Senna, Satria dan Zalla – teman cewek ITS. Satu minggu sebelum hari H plan itu batal, dan saya memutar otak untuk mengajak mereka mengunjungi Baluran dan Kawah Ijen. Seperti yang sudah saya bilang, saya sebenarnya enggan untuk pergi ke tempat yang sama lebih dari sekali. Tapi demi tidak mengecewakan mereka, yang sudah sangat kepengen berpetualang, saya akhirnya pergi juga.

Meeting point adalah terminal Bungurasih, dan kami berempat langsung menuju Probolinggo untuk kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke Situbondo. Sampai di pintu masuk TN Baluran, ada dilema.. antara menginap atau langsung balik hari itu juga… sekali lagi karena pertimbangan uang saku. Tenda yang kami bawa sia-sia, karena di TN Baluran kami tidak diperbolehkan mendirikan tenda tetapi harus menginap di pondokan yang sudah disediakan… hm.. entah antara modus biar mereka dapat uang tambahan atau untuk menjaga TN agar tidak rusak atau dua-duanya memang benar.

Akhirnya kami memutuskan untuk lanjut berjalan kaki dari pintu masuk TN Baluran menuju Bekol dengan jarak tempuh sekitar 13 km. Saya pikir mereka akan baik-baik saja mengingat mereka adalah pelari dan punya fisk yang cukup kuat. Alam liar ternyata membuat stamina kami oleng, saya khawatir dengan Satria mengingat ini adalah mbolang untuk pertama kalinya… Sebentar-sebentar kami berhenti untuk mengaso dan turun minum, dan ditengah hampir keputusasaan.. Satria berseloroh, ”Halo alam liar…” rupanya dia berusaha mengambil hati alam liar yang sudah menguras tenaganya… :)

Alam rupanya menaruh belas kasihan.. di kilometer 10.. ada sebuah mobil butut yang terdengar dari kejauhan. Rupanya ada rombongan dari Jogja yang bertandang ke tempat itu; Nana, Fitri, Ridho, dan satu lagi teman mereka. Mereka berhenti dan menawarkan untuk ikut serta naik mobil mereka. Gayung pun bersambut, tanpa babibu kami langsung nebeng mereka ke Bekol. Terimakasih alam liar… :)

Ada pelajaran berharga saat kami berada di Bekol. Macaca, atau monyet atau bedes di TN Baluran terkenal tidak takut dengan manusia. Mereka tidakk segan-segan mengeroyok orang yang sekiranya makanannya bisa mereka rampas. Saya punya pengalaman buruk dengan monyet ini sewaktu di teluk hijau, makanan kami dirampok oleh gerombolan monyet liar dan kami tidak bisa apa-apa. Saya sudah melakukan berbagai cara untuk mengusir monyet-monyet itu jauh dari kami. Mulai dari mengejar mereka… tapi begitu saya sendirian dan jauh dari teman-teman saya.. salah satu monyet yang paling besar berhenti dann berbalik arah, menyeringai dan mengancam saya. Sial! saya  pun lari kembali ke rombongan saya. Cara kedua adalah dengan tongkat. Saya menghalau mereka dengan tongkat… dan kejadian yang sama berulang… setelah saya sendirian mereka berbalik mengejar saya.

Saya kehabisan akal dan mulai menyerah, saya kumpulkan batu dan menghantam mereka saat ada yang terlalu dekat. Cara ini juga tidak berhasil, mereka lebih gesit menghindar. Akhirnya saya lelah, saya duduk di bawah pohon. Saya mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakan korek api saya. Bahan bakar dalam korek api saya menipis sehingga membuat saya harus beberapa kali menyalakan pemantiknya. Tiba-tiba saja monyet-monyet yang ada diatas pohon tempat saya berteduh mulai riuh dan berpindah ke pohon yang lain. Aha! Rupanya mereka takut dengan api! Saya bangkit berdiri dan mulai mencoba mengejar kawanan monyet tersebut. Begitu saya sendirian, mereka kembali melancarkan taktik yang sama; menyeringai dan menakutinakuti saya… tapi kali ini ada yang lain… saya keluarkan korek api dan mulai memainkan pemantiknya… Alhasil nyali para monyet itu pun menciut dan mereka lari tunggang langgang menuju hutan di belakang pondokan. Sejak saat itu saya diberi gelar Pawang Monyet oleh teman-teman seperjalanan saya.

Setelah babak perang monyet, kami meneruskan perjalanan menuju pantai Bama. Kebetulan si Ridho berulang tahun dan kami mengadakan pesta kecil disana, sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke Ijen.

Thanks to Nana, Ridho, Fitri, Zala, Senna, dan Satria.

Next episode : Kedinginan di Puncak Ijen.

IMG_0766IMG_0763.JPG

Negeri Atas Awan

712

Negeri Di Atas Awan, Oktober 2014

Kau mainkan untukku 

Sebuah lagu tentang negeri di awan

Dimana kedamaian

Menjadi istananya…

Ternyata negeri ini ada! Jaman saya kecil saya sering mendengarkan sandiwara radio Misteri Dari Gunung Merapi.. salah satu tokohnya adalah Wak Bayau, guru dari Farida, pacar sembara.. yang konon tinggal di negeri atas angin. Saya membayangkan tempat ini begitu indah… dengan gumpalan awan yang berada di kaki saya… Saya pengen banget pergi kesana.

Sampai suatu saat Oktober tahun 2014 saya kesampaian untuk mengunjungi negeri atas awan ini. Tersebutlah Kenchoz dan Mas Tonny, 2 orang yang saya kenal di Karimunjawa yang sekarang menjadi sahabat sekaligus teman traveling saya jika saya butuh escape sebentar dari hiruk pikuk Surabaya tanpa harus ribet. Boys outing kali ini seperti biasanya; spontan dan tanpa perencanaan.

Mas ton menjejak pedal mobil meninggalkan Surabaya tepat pukul 8 malam. Mobil dipacu santai. Pikiran saya memanglagi suntuk saat itu dan memang butuh obrolan gak penting sesama laki-laki. Kentut, merokok dalam mobil, misuh gak jelas, becanda porno, dan ngobrolin hal-hal dari a-z yang gak tau juntrungannya.

Tepat tengah malam kami tiba di Probolinggo, sepertinya tempat peristirahatan Warung Kencur cocok buat ngelurusin punggung dan tidur sebentar. Kalo yang suka memakai jalur pantura, pasti warung kencur ini sudah nggak asing lagi… Makanannya enak dan tempatnya cozzy, untuk harga yah sepadanlah dengan yang ditawarkan.

Kami tiba di gerbang negeri atas awan pukul 4 pagi, bersamaan dengan rombongan lain. Setelah pipis sebentar, kami langsung naik ojek menuju puncak B29. Jalan menuju puncak B29 dari desa terakhir gila! Bergelombang dan tengahnya ada parit berlumpur… kiri-kanan sudah jurang dan kebun-kebun penduduk desa. Saya seperti monyet bodoh yang berusaha tetap berada pada jok yang terombang-ambiing di belakang abang ojek yang nyetirnya kayak setan. Aroma sarung si abang yang lembab dan baunya minta ampun bikin saya tambah mabok…

Tapi sesampai di puncak B29, semua kesengsaraan selama 30 menit tadi terbayar sudah… hamparan awan yang luas menutupi daratan sangat indah. Benar-benar saya berada di negeri atas awan. Saya seperti terbang, dibawah saya awan seperti air yang mengalir pelan.. putih dan berarak memutar menuju hulu. Sangat mempesona!

Sebenarnya negeri atas awan ini adalah dimensi lain dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Bromo dan lautan pasir pada umumnya dinikmati dari arah timur laut, di area gunung penanjakan. Sedangkan di puncak B29, Bromo dan lautan pasirnya dinikmati dari arah barat daya. Kabut yang terperangkap di lautan pasir terlihat sangat indah dari puncak B29. Fenomena ini tidak terlihat jika kita berada di area gunung penanjakan atau bahkan jika kita berada di lautan pasir sendiri.

Benar-benar tertegun dan haru, di Indonesia ada tempat seperti ini.

592-1 569 655-1 573 564 608 700 714

Pulau Seram, Ternyata Tak Begitu Menakutkan (part 2)

Part 2

Bumi Seram, memang luar biasa tak hanya menawarkan indahnya alam bawah laut, tapi juga eloknya daratan diatasnya… Hari berikutnya saya berkesempatan untuk menjelajah hutan dan jalanan berbukit di daerah ini. Bersama pemandu lokal yang cenderung merepotkan… (Udah nggak bawa bekal minum, rokok juga minta, suka ninggal, nggak komunikatif, nggak ada inisiatif.. yang dia tau cuman rute jalan doang, hospitality dan nilai jual wisata minus banyak! Mending gw nyomot anak daerah yg suka bolang aja kalo tau bakalan dapat pemandu gak jelas gini.) Kami bertujuh menuju tengah hutan untuk melihat burung khas Maluku; kakatua jambul kuning dan burung nuri. Setelah kira-kira berjalan 1 kilometer ke tengah hutan, kami mulai mendengar suara-suara parau dari atas pohon yang tingginya rata-rata diatas 50 meter… suara parau khas ini lucu.. nggak ngeri kayak suara mak lampir…

IMG_9706

Selain mendengar suara2 aneh, kami juga hampir tertimpa durian runtuh! Buah-buah yang sudah masak dari pohon berjatuhan membuat bunyi bak buk bak buk di sepanjang perjalanan. Beberapa kali kami berpapasan dengan penduduk setempat yang pergi ke hutan untuk mengumpulkan buah durian. Saya dan teman-teman diajak treking menuju sebuah gua di tengah hutan.

Seperti kebanyakan kondisi gua, kami masuk melalui celah sempit sebagai mulut gua yang agak tinggi. Diperlukan tangga untuk bisa sampai ke mulut gua. Rupanya gua ini sudah jarang dimasuki, terlihat dari tangga yang biasa dipakai naik ke mulut gua sudah sangat rapuh… dan tentu saja kami sekalian menghancurkannya agar tidak jatuh korban dan pihak terkait segera memperbaikinya… Bodohnya, kami nggak mikir membuat tangga pengganti untuk tangga masuk yang sudah kami hancurkan. Tiba-tiba datanglah pak Tarno* dan kami disulap jadi spiderman untuk merayap naik memasuki gua.

Wih… keadaan dalam gua sangat bagus.. selain interior stalagtit dan stalagmit yang dominan, dinding gua juga tidak kalah cantiknya. Dinding gua terlihat seperti kue lapis yang terpotong rapi, endapan tiap endapan terlihat kontras dan bagus sekali. Setelah puas menikmati gua dan dijatuhi kotoran kelelawar.. kami melanjutkan perjalanan menjelalah sebagian lokasi hutan TN. Manusela menuju ke tempat penyelamatan burung nuri dan kakatua.

IMG_9834

Tak lama berselang setelah jalan setapak yang kami lalui menurun tajam, tibalah kami di tepi hutan yang berbatasan dengan jalan raya.. Finally.. civilization! Nah ini nih bagian amsyongnya dari pemandu kami… dia punya rencana untuk meninggalkan kami.. Berkali-kali dia bilang kalau lokasi penyelamatan satwa sudah dekat.. kami diminta untuk mengikuti jalan utama… awalnya kami kira itu cuman informasi saja, tapi kami sadar setelah dia beberapa kali mencoba untuk menumpang kendaraan yang lewat dan bilang : kita ketemu di lokasi! Orang gila!! Wiiiih… pengen gw parang nih orang…

Beberapa tahun lalu populasi burung nuri dan kakatua di Pulau Seram menurun tajam. Harga jual yang tinggi di pasar gelap menjadi alasan utama penduduk Pulau Seram menangkap burung unik ini. Satu ekor burung nuri bisa dihargai hingga Rp. 750ribu rupiah, ini mendorong penduduk untuk beramai-ramai menangkap burung ini. Seorang pemburu burung lihai bisa menangkap sekitar limapuluh ekor dalam sekali perburuan. Rata-rata seorang pemburu akan melakukan perburuan dua hari sekali, untuk memasang perangkap dan mengambil burung yang terjebak. Bisa dibayangkan kecepatan menurunnya populasi burung ini.

Setelah ada pelarangan penangkapan burung nuri dan kakatua, pemerintah merazia rumah-rumah penduduk dan mengambil burung tangkapan mereka untuk dikembalikan ke alam liar. Di suaka ini ada larangan unik yang melarang pengunjung berinteraksi langsung dengan burung yang ada dan dilarang mengajarkan kata-kata karena akan menghambat proses pengembalian mereka ke alam liar…. (padahal aku sudah punya rencana ngajarin mereka bilang : Jancuk)…

Track dari suaka burung menuju penginapan lumayan jauh, tapi pemandangannya luar biasa! Kayak begini nih jalannya : keren banget :)

IMG_0274

Sepulang dari treking badan udah berkeringat.. paling enak beristirahat di gedung SD negeri yang berada di puncak bukit, menikmati senja dan ketenangan desa Sawai yang damai dari atas. Di belakang desa ada sebuah sumber air bersih yang digunakan masyarakatnya untuk kegiatan sehari-hari. Uniknya, jika pagi hari air sumber ini berasa asin dan berubah menjadi tawar di sore hari. Para lelaki menempati area di hulu sumber, sedangkan para perempuan berada di hilir. Anak-anak ada di area tengah… Nah, paling enak nih kalo nyebur ngademin badan setelah seharian treking.

IMG_0026

Saat senja hampir habis suasana jadi begitu hening, sayup-sayup terdengar suara penghantar adzan (sholawat tarhim – thanks to youtube) yang sangat meneduhkan. Walau saya bukan seorang muslim, saya senang sekali mendengarkan tarhim ini. Kalau di Jawa saya harus bangun sebelum subuh untuk mendengar suara Muazin mendendangkan tarhim, tapi disini hampir setiap tiba waktunya sholat, sholawat tarhim bisa didengarkan, dan bagi saya, saat yang paling tepat untuk mendengarkannya adalah saat senja….

IMG_9616 IMG_9631

Suasana malam di penginapan begitu damai, laut lepas di depan penginapan terlihat gelap dan hanya diterangi oleh lampu dari kapal-kapal nelayan yang sedang melaut. Saya bisa berjam-jam duduk diam di beranda, menghadap laut sampai hampir tengah malam ditemani nikmatnya kopi dan semilirnya angin laut. Tidak ada yang saya pikirkan saat itu… alam bisa menghipnotis saya sedemikian rupa untuk membuat saya terduduk dan diam hingga dini hari.

IMG_9604 IMG_9961 IMG_9896

Pulau Seram, Ternyata Nggak Begitu Menakutkan (part 1)

Bisa dikatakan sepanjang bulan September 2014 sampai akhir tahun 2015 saya mager – istilah antah berantah yg entah gw denger dari mana yang artinya nggak kemana-mana. Well, sebenernya nggak mager-mager amat sih, secara saya masih ngluyur ke Jogja, Baluran, Malang Selatan, dan Kediri… Ah, nanti lah kalau saya punya enam tangan saya bakal tulis tentang perjalanan kesitu…

Baiklah, mungkin di tahun 2015 ini bakal saya canangkan sebagai tahun eksplorasi Indonesia Timur…. *brb gunting pita, pukul gong, pecah kendi, tabur bunga, gelar karpet merah…… gelar lapak… Dan… secara resmi saya mengawali exspedisi ini dengan dengan mengunjungi Ambon…

Saya ngaku… saya cemen! Ada perasaan was-was waktu berangkat kesana. Gara-garanya, beberapa hari sebelumnya maskapai yang terkenal murah itu mengalami naas di perairan selat karimata. Rasanya mau batal aja berangkat ke Ambon… tapi alhamdulilah Tuhan menganugerahkan saya kepelitan yang luar biasa.. masak ya buang duit segitu banyak dan batal pergi.. bukan saya banget… kalo tiket cuman seratus dua ratus bolehlah cancel, itung-itung buang sial… tapi ini duit lumayan banyak! Hasil saya gak dugem selama empat bulan man! Gila aja… apalagi ini tiket pesawat premium.. yang gak semua orang bisa naik….#mulaisongong.

IMG_9987

Akhirnya, dengan berbekal kata-kata bijak dari Menhub Pak Jona(n)z yang berbunyi kira-kira gini “lebih baik batal berangkat daripada tak pernah pulang… tapi paling baik itu ya berangkat… kalo mati mah mati aja… mau di rumah kek mau di pesawat kek, kalo waktunya mati ya mati deh…” akhirnya dengan penuh rasa percaya diri saya berangkat ke bandara…. (tapi tetep, nyampe bandara langsung upload foto tiket lengkap dengan nomer penerbangan ke semua akun medsos yang saya punya dan minta tolong teman-teman memantau pesawat yg saya tumpangi… *tetep parno)

Di sepanjang perjalanan saya godain teman saya dengan cerita-cerita jatuhnya pesawat terbang, maksudnya biar ada yang nemenin saya parno.. males gak sih parno sendirian? Setelah saya berhasil membuat teman saya nyebut nama Tuhan beberapa kali akhirnya dia saya tinggal tidur… Tapi anehnya, tadi ditengah kepanikan, logika saya mulai aktif.. bukankah efek hilangnya pesawat itu akan membuat semua maskapai penerbangan waspada? Semua SOP penerbangan yang (katanya) sering diabaikan mungkin bakal dilaksanakan sepenuhnya dan itu berarti… 75% keselamatan penerbangan sudah terjamin, tinggal 25% ini yang perlu dicemaskan.

IMG_9532

Mendekati pantai Ambon, saya dibuat takjub dengan ratusan lumba-lumba yang berenang memenuhi perairan Ambon dengan riak gelombang laut. Awalnya saya mengira itu hanya perahu-perahu nelayan yang mencari ikan. Namun saat pesawat semakin rendah baru terlihat buih-buih putih itu ternyata adalah riak air akibat hempasan badan ratusan lumba-lumba yang berlompatan di atas air. Amazing!

Saya dan teman-teman bertolak ke kota Ambon untuk menginap barang semalam sembari menunggu keberangkatan kapal cepat yang membawa kami dari Tulehu ke Amahai. Kesan saya selama di berada di kota Ambon adalah masakan khas Ambon itu nikmatnya minta ampun… (heran kenapa Glenn Fredly gak gendut2). Sebut saja ikan bakar colo-colo, ikan kadondong, kuah kuning asam manis, ikan masak paleo yang dimakan dengan ketupat atau papeda. Kami sih gaya-gayaan mau pesen papeda, tapi berhubung lidah Jawa saya terlalu medok dan gak bisa dibelokkan, papeda yang sudah dipesan semangkuk penuh hampir tidak tersentuh sama sekali. Aduh, sayang banget… pengen gw bawa dan dijadikan lem kertas.

IMG_9546  IMG_9938   

Bertolak dari Tulehu menuju ke Amahai, kapal cepat Cantika II membawa kami dengan tenang menuju Pulau Seram. Di sepanjang perjalanan menuju Pulau Seram, saya disuguhi pemandangan indah Pulau Haruku dan Pulau Saparua yang terlihat menawan dari kejauhan. Sesampai di pelabuhan Amahai, kami harus melintasi badan Pulau Seram yang bergunung-gunung dimana Taman Nasional Manusela berada. Sopirnya, naujubile…. rasanya saya harus berjuang keluar dari mulut buaya darat setelah lepas dari mulut harimau udara… kalo gak mati di pesawat terbang, gw mati di masuk jurang sama sopir setan ini… beuh! Akhirnya setelah berjuang dengan mual dan mabok selama 2 jam (teman-teman gw sih.. kalo gw nggak… gw mangap ketiduran – rejeki buat orang yg gampang tidur) kamai sampai di Saleman, tempat terakhir bagi moda transportasi darat untuk menuju ke Sawai, tempat Pantai Ora berada.

IMG_9616

Di Saleman sudah menunggu perahu yang sudah kami pesan sebelumnya. Kami tidak menginap di Ora Resort, karena tempat itu sudah penuh (baca : mahal). Pilihan lain adalah ke kampung Sawai, disana ada sebuah resort yang dikelola oleh penduduk asli Sawai bernama Pak Ali.

Di Sawai, ada lebih banyak keuntungan yang saya dapat daripada menginap di Ora Resort. Karena berbatasan dengan kampung, maka kegiatan di waktu luang bisa lebih bervariasi. Gampang cari rokok, bisa ngetrail ke bukit dan liat sunset dari atas bukit…. daaaaannnnnn….. pesta duriaaan! Beruntungnya saya pas datang kesana sedang musim durian. Waktu itu di kampung ada peringatan Maulid Nabi, jadi seluruh warga berkumpul di aula dan membuat makanan untuk pengajian sore harinya. Bergerobak-gerobak durian yang langsung dipetik di hutan dikumpulkan jadi satu untuk diolah menjadi kolak durian. Saat durian melimpah, durian menjadi makanan termurah. Tiga buah durian besar dihargai sebesar Rp. 10.000 dan kami hanya beli sekali saja… selanjutnya durian datang begitu saja, entah pak Ali yang kasih, entah itu tetangga sebelah… pokoknya tiada hari tanpa durian. Sarapan, makan siang, makan malam.. selalu kudapannya durian. Ah, kalo seandainya Julia Perez disini.. pasti dia suka belah duren tiap hari.

IMG_9939

Ada hal-hal yang kurang menyenangkan bila tinggal di Sawai. Karena letaknya di perkampungan pantai sekitarnya agak kotor, terutama saat musim buah.. setiap pagi selalu saja terlihat sampah durian yang terapung di dari pantai menuju ke tengah laut.. dan itu banyak banget. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah : Sawai bukan tempat yang tepat bagi traveler yang suka menyendiri. Sawai menawarkan keramahan khas Indonesia yang kadang rada berisik dan berlebihan buat orang luar Indonesia.

IMG_9631

Hari berikutnya kami pergi untuk melihat proses pembuatan sagu. Untuk menuju kesana, kami harus melewati sungai dan menuju ke hulu yang konon katanya penuh dengan buaya. What? Buaya? Saya langsung membayangkan sungai amazone yang berkelok-kelok dan tumbuhan sekitar aliran sungai yang lebat… menemukan sosok purba yang sedang berjemur lalu mengamati buaya liar itu dari dekat… cling.. jadilah Steve Irvin. Memasuki muara, kapal kami mulai melaju pelan. Saya mulai deg-degan dan mulai memasang mata dan telinga mencari sosok monster itu. 5 menit, 10 menit…. lalu terdengar suara di ujung anak sungai….. Sreeeet.. saya langsung mencari sumber suara yang ternyata adalah orang yg sedang mancing… Ah, mungkin buaya-buaya itu akan terlihat jika kita menuju sedikit jauh ke hulu… dan kami mulai melanjutkan perjalanan perahu kami.. 5 menit, 10 menit kemudian masih tidak terlihat apa-apa… hanya sesekali ada asap yang muncul dari dalam hutan.. entah itu sisa api peladang atau apa… 15 menit kemudian, saat sungai menikuk dalam…. saya melihat pemandangan yang membunuh harapan saya untuk bisa melihat buaya Seram.. sebuah jembatan besi melintang di atas kepala kami.! Cuk… baru saya sadar bahwa harapan melihat buaya sungai adalah PHP dari pak Ali.. Area sungai ini sudah terlalu civilised!

Perahu kami segera mendarat di bawah jembatan… di tepi sungai, ada seorang laki-laki yang sedang membuat tepung sagu. Hm, secara saya suka sama hal yang beginian, saya segera turun dan mulai iseng sok-sokan membantu si bapak membuat tepung sagu. Saya segera memotong pohon sagu yang kira-kira berdiameter 60 cm dengan kapak, membersihkannya daun dan dahan yang berduri kemudian menghancurkannya menjadi serbuk dengan bantuan mesin seperti mulut hiu… serbuk gergaji pohon sagu tadi saya masukkan ke sebuah wadah besar lalu mencampurkannya dengan air sungai dan mulai memeras-merasnya.. air perasan tadi dialirkan kesebuah wadah lebar di atas tanah dan ditunggu hingga mengendap… endapan inilah bahan mentah tepung sagu. Er… percaya saya melakukan semua itu? Kalo percaya berarti kalian musrik :) Yg sebenarnya terjadi adalah saya dengerin si Bapak ngomong sambil saya ngelamun… menghabiskan rokok di saung kecil milik si Bapak :)

IMG_9825 IMG_9826

Sorenya kami menghabiskan waktu untuk snorkeling di spot2 bagus dan mengunjungi resort di pantai Ora. Untuk masuk resort Ora, kita harus bayar.. ada seorang perempuan yang memungut duit ke setiap pengunjung yang datang merapat. Entah itu resmi atau pungli tapi itu sangat mengganggu banget.. Ada rombongan keluarga lokal yang datang kesana, tapi langsung berbalik arah begitu dimintai duit… keterlaluan kagak sih? Orang loka  l lho ini bukan wisatawan luar negeri.

Maluku memang tempat terbagus melihat biota laut, tentang ini jangan diragukan lagi… surga bawah lautnya memang keren.. Satu hal yang membuat tempat ini menjadi lebih istimewa adalah, gunung batu berukuran teramat besar berbatasan langsung dengan tepi laut! Pemandangan maha indah yang tidak pernah saya lihat dari perjalan yang lalu-lalu, hijau, putih, bercampur dengan warna toska dan biru gelap… It’s so beautiful and magnificent.

IMG_9656  IMG_9732 IMG_0013

IMG_9908

IMG_9989

River Boarding Workshop

Sebenarnya sudah dari beberapa tahun lalu saya gabung di komunitas Couch Surfing Surabaya, tapi berhubung tetangga-tetangga saya ribet kalo ada tamu yang menginap dan bawaannya curiga mulu (maklum kompleks baru dan saya single) saya menghentikan kegiatan hosting menghosting ini.. Terakhir yang saya host adalah Darmawati Madjid, teman ngeblog saya dari Kalimantan Tengah, dan itu cukup membuat saya repot.. bukan karena dia tapi karena tetangga-tetangga saya punya mulut lebih buat nggosipin orang lain, termasuk pak RT-nya. Sejak itu saya vakum dari dunia CS cukup lama, sampai kemaren saya diajak teman yg masih aktif di CS untuk ikut pelatihan river boarding di sungai Pekalen bawah, Probolinggo.

Ada enam mobil yang berangkat dari Surabaya, dan saya numpang di salah satu mobil itu. Dini hari kami baru sampai di basecamp Songa, para lelaki segera mendirikan tenda dan para perempuan ketawa-ketiwi :( Setelah tenda terpasang, kami tidur sebentar menunggu pagi.

Here we go! Kami membongkar gudang peralatan Songa Rafting dan mengeluarkan beberapa papan boarding berbentuk haluan kapal terbuat dari busa. Saat mengangkatnya, wih… lumayan berat juga.. dan kami harus membawanya turun ke sungai yang jaraknya kira-kira 1 km. Di tepian sungai, sudah menunggu instruktur yang siap mengajari kami cara berselancar papan. Setelah memasang perlengkapan keselamatan, dan mendapatkan teori dengan cukup.. kami segera mempraktikkan ilmu yang barusan kami dapat.

Berseluncur dengan papan ini gampang-gampang susah. Bagi yang tidak bisa mengatur koordinasi tubuh bisa jadi mereka terbalik, tidak bisa melaju, dan yang paling parah tidak bisa mengendalikan papan itu sendiri. Memang sepertinya hanya mengambang dan mengikuti arus sungai, tapi itu sebenarnya butuh skill tersendiri… ibaratnya seperti mengendarai sepeda; river boarding juga perlu skill keseimbangan, mengemudi, dan jika sudah mahir bisa berakrobat.

Riverboarding sendiri digagas oleh sekelompok pemandu white water rafting di Perancis yang merasa bosan dan butuh rekreasi pada awal tahun 1970an. Mereka mengikat life jacket mereka dan menggunakannya sebagai sarana mengarungi sungai. Sensasi yang dirasakan berbeda dengan olahraga sungai yang lain dimana tubuh berada pada level yang sama dengan permukaan air, kadang berada di bawah permukaan sungai, atau kadang terlempar ke udara. Lama kelamaan, olah raga ini berkembang ke daerah lain. Life jacket yang diikat diganti dengan busa/ plastik dan mengalami evolusi hingga menjadi bentuknya seperti sekarang ini.

Saya sendiri sangat senang bisa mencoba riverboarding, kebetulan koordinasi tubuh dan otak saya bagus sehingga tidak sulit bagi saya untuk mengendalikan papan seluncur ini.. hanya…. saya mungkin beli butuh nyali yang banyak :)

10603755_10152641536444654_1610714803168770813_n

10686737_10152641536424654_5780213882666108500_n

10690185_10152641536734654_5364659967723289059_n

10696242_10152641535959654_6966445641954883109_n

Misteri Waisai – Raja Ampat, Papua

johanesjonaz:

ini nih.. gerombolan si kaya yang ke raja ampat… taik!

Originally posted on Mosaic:

Kata-kata yang berseliweran di kepala saya belakangan adalah melulu tentang berita pemilu dan capres yang membuat saya gagal GOLPUT tahun ini, sampai-sampai gegap gempita euphoria kegiatan nyeret ransel ke Raja Ampat teredam begitu saja.

Hehehehe…

Buat yang cari berita ada apa di ujung Indonesia timur, negeri Papua, berikut kisah kami… Bersiaplah berimaji….

The Meeting Point

Reuni berperiodik dengan kawan-kawan penyeret ransel kali ini bermuara di Bandara Hasanuddin, Makassar, sebagai meeting point kami. Manggul backpack 35++ (+mijit paska trip!), nenteng fin beserta nylempang tas yang lumayan gendut (yaaa… yang ini udah di komen sbg pengungsi di media chatting..), pasrah bakal dicomelin bibir kisruh mereka, saya celingukan sambil menajamkan telinga mencari modulasi medok jowo diantara kerumunan. Dan memang gak susah nyari mereka! ;)

“Hai! Riri…”

“Hai! Syafrina…”

Saya menyalami a new addition in the group sambil takjub ngliat barang bawaannya yang spekta! (pisssss Sya!) heuheuheu. Carrier di punggung, backpack at the front 

View original 1,635 more words

Tanjung Puting – How To Get There

Nah, setelah menceritakan pengalaman seru selama di Tanjung Puting… Saya mau bagi-bagi info how to get there versi saya.

Transportasi :

Pangkalan Bun adalah pintu masuk menuju TNTP, ada 2 maskapai yang melayani penerbangan menuju Pangkalan Bun : Kaltsar dan Trigana Air. Saya barusan dapat Rp. 1.570.000 return SBY-PKN menggunakan Trigana Air.

Dari Bandara iskandar Pangkalan Bun, perjalanan diteruskan menuju Kumai. Ada Taxi Bandara yang bisa mengantarkan kesana. Kira-kira ongkosnya Rp. 160.000

Dari Kumai, kita harus melapor di kantor TNTP. Untuk memasuki kawasan TNTP kita harus menggunakan kapal kelotok. Sebenarnya petugas TNTP bisa mencarikan kapal kelotok apabila kita datang on the spot (tanpa agen perjalanan) selama low season tapi kalau datang pas peak season mending pakai agen. Biaya sewa kapal kelotok bervariasi antara Rp. 600.000 sampai Rp. 1.000.000 tergantung besarnya kapal. Kemaren saya bertemu dengan pengunjung on the spot yang dapat harga Rp. 1.500.000 untuk 2 hari. Hanya sewa kapal, tanpa makanan dan lain-lain.

Untuk short visit (hanya mengunjungi 1 pos feeding), memang lebih baik on the spot saja. Tapi jika ingin berpetualang seeprti treking di hutan, tidur di kapal, treking malam, melihat kunang-kunang di malam hari dll. Saya sarankan untuk menggandeng agen perjalanan. Ada puluhan agen perjalanan yang bisa mengantar anda menikmati pesona TNTP tentu saja dengan harga yang berbeda-beda meskipun layanan yang diberikan hampir 95% mirip. Kenapa bisa beda harga? Bisa jadi karena agen yang Anda kontak hanyalah tangan kesekian, alias cuman sebagai makelar… maka hati-hatilah. Saran saya bandingkan harga dan fasilitas dan program yang mereka tawarkan, lalu ambil yang termurah…

Berikut ini nama-nama yang bisa dihubungi :
1. Pak Majid 085248590487
2. Anas Ansori 085252732601
3. Andreas 081349173743
4. I’Im 085250526005

Ingat, telpon satu persatu dan bandingkan harganya.. pilih satu yang menurut Anda masuk akal dan Anda yakin.

Apa yang bisa dilakukan?

1. Menyusur sungai sekonyer.
Jalan masuk menuju TNTP adalah sungai Sekonyer. Saya sangat menikmati perjalanan menuju ke TNTP. Pemandangan selama naik kapal kelotok sangat memanjakan mata. Mulai dari patung orang utan kita akan melihat vegetasi nipah, elang yang terbang di atas kami, burung-burung sungai, bekantan, sarang orang utan di atas pohon. Di persimpangan sungai, dimana air sungai menjadi bening, kita bisa melihat refleksi langit dan awan yang biru.. sesekali bisa terlihat ikan yang menyembul ke permukaan air. Vegetasi pun mulai berubah, sungai mulai didominasi oleh tanaman rawa dan pohon rawa yang menjulang tinggi.. Bekantan makin sering terlihat dan jaraknya semakin dekat.

2. Makan dan Tidur di atas kapal.
Pengalaman tidur di atas kapal mungkin akan jadi pengalaman yang menarik. Saya bisa merasakan sepinya dan gelapnya malam di atas sungai. Dengan kelambu dan suara air sungai di bawah kita, sensasinya tidak pernah bisa disamakan dengan tidur di tempat mana pun.
Makan di atas kapal juga sangat menyenangkan. Suasana yang berbeda dengan pemandangan alam yang maha indah di siang hari, atau jika malam hanya diterangi bintang dan cahaya lilin menjadikan makanan yang sederhana menjadi makanan palong enak di dunia. Hm… Paling enak kalo pergi sama pasangan… tapi pergi sama teman-teman juga asik kok.

3. Melihat Feeding orang utan di pos pengamatan orangutan.
Ada tiga pos yang dibuka untuk umum di TNTP. Camp Leakey, Pondok Tangui, dan Tanjung Harapan. Camp Lakey adalah post paling jauh yang bisa dikunjungi wisatawan umum. Semua perahu kelotok berhenti disini. Bisa dibilang Camp Leakey adalah camp yang paling eksotik, jam feedingnya antara jam 14.00 hingga jam 15.00. Selanjutnya adalah Pondok Tangui. Jam feedingnya adalah jam 09.00 – 10.00. Pos terakhir adalah Tanjung Harapan. Jam feedingnya adalah jam 14.00.

4. Treking
Menyusuri hutan basah, dengan rute rawa yang becek hingga savana paku yang kering mungkin bisa menyeimbangan tubuh kita dari lemak yang tertumpuk dari makanan lezat yang kita makan di kapal. Banyak pengalaman yang bisa di dapat dari trekking ini. Saya jadi banyak tahu tentang tananaman obat dan cara bertahan di hutan, tentu saja dari sharing pengalaman polisi hutan yang mengantar saya treking. Selain siang hari, treking bisa dilakukan malam. Jika beruntung kita bisa melihat jamur yang bisa berpendar dalam cahaya atau hewan nocturnal yang fenonemal.. TARSIUS.

5. Melihat pohon Natal dari ratusan kunang-kunang.
Atraksi terakhir adalah tarian kunang-kunang yang menemani kita makan malam. Jika malam gelap (bukan malam purnama) puluhan bahkan ratusan kunang-kunang akan berkumpull di pinggir sungai mengerubungi sebuah pohon. Hanya satu jenis pohon yang disukai oleh kunang-kunag, saya tidak tahu pohon apa namanya.. tapi yang pasti pohon ini akan terlihat seperti pohon natal.

Sekali lagi saya ingatkan, jika ingin berkunjung ke TNTP bacalah dulu peraturan dan jangan sekali-sekali melanggarnya. Kita berada di alam liar yang sama sekali kita tidak tahu seperti apa.

Gelang Cinta di Tanjung Puting

Lanjuuuuutttt….. Seperti janji saya kemaren, saya mau lanjutin cerita ke Tanjung Puting edisi kedua. Kali ini tentang cinta cintaan di Tanjung Puting… kampret dah..

Masih di camp Leakey, feeding orangutan di sini dimulai jam 2 siang. Di tempat feeding sudah nongkrong beberapa orangutan menunggu pisang, timun dan susu… menu diet mereka tiap hari. Dari tadi saya ngeliat teman-teman saya : Suketi, Vine, Neni dan TIka cekikian sambil moto ke arah lain, bukan ke arah orangutan… the main attraction. Selidik punya selidik, ternyata mereka “mempaparazi-i” salah satu pengunjung. Skill stalking mereka luar biasa, dengan waktu singkat mereka bisa tau kalo namanya Jen, dia adalah hibrida silang antara manusia Lampung dan Jerman, perahunya bernama Borneo 29. Tapi sayangnya dia udah punya monyet namanya Sonja… hahahah kapok! Yah begitulah mulai dari saat itu kegagahan Tom, si Raja orangutan dikalahkan oleh muka blo’on Jen. Inilah penampakan si Jen yang diambil secara sembunyi-sembunyi.. tapi akhirnya ketahuan juga..

diambil fotonya pake modus motoin gelang

diambil fotonya pake modus motoin gelang

Selesai nonton feeding kami kembali ke kapal, menghabiskan sore di atas kapal kelotok dan menikmati candle light dinner pertama di atas kapal! Cihuy! Seperti yang sudah saya bilang, Pak Kapten yang galak dan crewnya sudah membersihkan dek kapal dan menyulapnya menjadi restoran cozzy buat kami berlima. Menu malam itu adalah ikan, sayur rebus, sambal, ikan asin, dan buah nenas… dengan diterangi 2 buah lilin dan obat nyamuk bakar… well yang terakhir ini ngeganggu banget deh.. dan kegiatan dilanjutkan dengan menggunjing sampai larut malam…

 

Saya pikir malam akan terasa gerah, mengingat tadi di hutan panasnya bikin ketek banjir… jadi sebelum tidur, saya cuman pake celana pendek dan sarung. Eh, saya mau cerita tentang tempat tidur kami. Jadi, para kru kapal yang jumlahnya cuman tiga biji itu tiap malam menggotong kasur kapuk dari dek bawah ke dek atas, lalu di pasang sprei (yg entah kapan terakhir dicuci) dan memasang kelambu pengantin malam satu suro…. sumpah baru kali ini saya tidur pake kelambu… horror banget rasanya. Malam pertama tidur di kapal, ada rasa merinding disko… selain horror.. otak gw mulai meracau… gimana nanti kalo ada ular masuk, gimana nanti kalo ada buaya nyasar, gimana nanti kalo tiba-tiba melek gw… udah ada di atas pohon dan dikelonin orangutan, gimana nanti kalo gw melek…. gw jadi ganteng…

photo 4-21

Udara dingin membuat kaki saya meringkuk lebih ngulet, pengennya sih tidur lagi… tapi suara berisik si Vine yang udah mandi dan rapi jali penuh bedak tak berminyak siap mau ke mall, membuat saya bangun. Yes! pagi itu saya memutuskan untuk tidak mandi… takut kegantengan saya luntur. Selesai sarapan kami kembali lagi ke hutan untuk treking. Kali ini kami dikawal oleh Udin, si Polisi hutan. Kali ini si Udin mengajak untuk menyisir rute patroli polisi hutan. Sambil berjalan, sesekali si Udin menunjukkan tanaman-tanaman yang ada di hutan beserta kegunaannya.

Hutan Indonesia ini kaya banget! banyak sekali tanaman obat dan tanaman pangan yang tumbuh di dalamnya… semua obat untuk penyakit ada di dalam hutan, tinggal tugas kita menemukannya… Dan… lagi kata Udin… semua penyakit ada obatnya kecuali satu; penyakit tua… dan itu jawabnya lamaaaaaaa banget. Ya semua juga tau ustaaaaadddd!! Kata si Udin juga, semua mahluk diciptakan berpasangan.. ada wanita ada laki, ada siang ada malam, ada matahari ada hujan, ada penyakit ada obatnya dalam hutan, demikian juga… ada Johannes ada Maudy Ayunda…(kalo ini bukan kata Udin).

Coba bayangkan kalo hutan sumber obat  dan makanan ini berubah jadi kebun sawit dan tambang batubara…  sayang seribu sayang kan?

Si Udin juga ngajari kami bagaimana mendapatkan air dari akar pohon… Ini amajing banget! Kami semua sampai terheran-heran dan berebutan minum dari akar pohon… rasanya agak agak sepet tapi segar luar biasa… kayak minum larutan penyegar cap kaki pengkor.

Ini videonya :

Selain itu ada banyak macam jenis paku yang bisa dimakan dan puluhan jenis jamur. Ada yang tau bagaimana ciri jamur yang bisa dimakan dan jamur yang beracun? Salah satunya adalah dengan cara mencicipinya dan tunggu reaksinya beberapa saat… hahahaha bukan! Ciri jamur yang bisa dimakan adalah apabila ada serangga yang memakannya, atau paling tidak ada bekas gigitan serangga di jamur tersebut. Ini adalah cara polisi hutan untuk mengenali jamur yg layak konsumsi dan tidak… er… kira-kira gitu sih, gw lupa-lupa ingat wejangan si Udin.

photo 1-28 photo 2-26 photo 3-20 photo 4-20

Selesai treking kami mampir sebentar di kantor Udin, barak sederhana tempat polisi hutan tinggal. Kami dikenalkan sama polisi hutan yang lain dan ngobrol kesana kemari tentang orangutan dan suka dukanya hidup di hutan. Dari cerita yang lucu sampe cerita serem… Orangutan di TNTP suka bongkar-bongkar dapur dan merampok makanan… bahkan ada juga yang bisa membuka kunci pintu! Mereka mengamati apa yang dilakukan oleh para polisi hutan dan menirukannya. Para polisi hutan ini jarang pulang, tapi nggak separah bang Toyib sih…. yang tiga kali puasa tiga kali lebaran gak pulang-pulang. Ada cerita lagi yang serem… ada turis dari Inggris yang dimakan buaya. Jadi ceritanya dulu nggak ada larangan untuk berenang di sungai Sekonyer, waktu itu ada beberapa orang yang mandi di dermaga dan salah satunya adalah turis Inggris tersebut. Dia berenang paling depan dan selang beberapa saat kemudian dia seperti klelep, dan tak lama kemudian ada buih udara dan darah… orang-orang panik dan naik ke daratan semua. Hampir 24 jam polisi, SAR dan polhut mencari si bule ini.. dan setelah sehari berlalu, sebagian potongan tubuhnya ditemukan nyangkut di akar pohon tumbang… hih… ngeri nggak sih?

Setelah puas ngobrol kami kembali ke kapal untuk makan siang dan beristirahat sebentar… Dan, pemirsa…. drama sinetron percintaan terjadi di hutan ini… ternyata dari ngoobrol-ngobrol tadi ada polisi hutan yang naksir Vine, dan dia membuatkan gelang anyaman dari batang paku bertuliskan BORNEO… Hm…… jadi kesimpulannya apa? mandilah pagi-pagi dan dandan.. biar ada yang naksir… kalo bukan polisi hutan ya bisa jadi orangutan…

photo 1-29

photo 3-21

Hal-hal (gak) Penting ke Tanjung Puting

Image

Okey, satu lagi Taman Nasional di Indonesia tertuntaskan… demi menuruti obsesi aneh versi Johanes Jonaz : mengunjungi semua Taman Nasional di Indonesia. Trip kali ini rada-rada gimanaaa gitu, secara teman-teman asik yg gila trip harus pisah jadi dua golongan… kasta bangsawan dan kasta sudra. Aku golongan mana? Tentu saja aku termsuk golongan kasta melarat, karena kasta kaya sudah minggat duluan ke Raja Ampat… iya.. Raja Ampat….  #ngumpatdalamhati #ingatbulanpuasa

Sampai di Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, saya udah dijemput sama petugas dari Agen Perjalanan yang ngatur perjalanan kami. Tunggu.. Agen Perjalanan? Serius? bukannya Jo anti sama yang namanya agen perjalanan?…. Iya kali ini saya harus pake agen perjalanan #tertunduklesu. Taman Nasional yang satu ini susah-susah gampang… Kesananya sih tergolong mudah, turun dari pesawat tinggal naik taksi ke Kumai lalu daftar di Kantor Taman Nasional Tanjung Puting, naik kelotok.. dan sampai deh di Tanjung Puting. Trus apa yang bikin susah? Pertama.. tempatnya terisolir dan perjalanannya lumayan jauh dari Kumai ke Tanjung Puting dan sewa kelotoknya mahal amaaaattt… kedua, gak ada penjual makanan di tempat terisolir seperti itu, lalu homestay juga terbatas… camp ground juga gak ada.. trus mau ngemper dimana coba?

Sebenarnya bisa sih kalo cuman pengen lihat orangutan doang, tapi tapi tapi….. Tanjung Puting bukan cuman orangutan doang man! Dan pilihan ikut agen perjalanan adalah pilihan yang cerdas, cerdas buat orang yg punya duit maksutnya… Dengan paket 3 hari 4 malam… sensasi yang ditawarkan tak sebanding dengan apa yang sudah kita bayar. Sensasi Orangutan, treking hutan, river cruise di sungai, hujan-hujan, jamur, candle light dinner di atas perahu, tidur diatas perahu yg bawahnya banyak buayanya… sound like amazon…

Baiklah… sekarang mulai nggacor tentang perjalanan saya.

Burung besi berwarna putih kumuh merek Trigana mendarat mulus di Pangkalan Bun, pintu masuk Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP). Biasalah, kalo Suketi ikut pasti deh kami jadi penumpang terakhir yang keluar bandara… narsis dulu. Di ruang tunggu ada sesuatu yang mengganggu pemandangan banget.. segumpal daging hitam bernyawa, penuh tattoo dan gigi ompong… megang HP dan ngeliatin kami… eh ternyata itu guide kami.. ya awoooh… kok serem gini ya. Namanya I’im dan…. ternyata orangnya seru gila! Yak, ini rada jayus sih : Don’t judge the book by it’s cover.. see.. jayus kan??

Image

Setelah hahahihi sebentar kami langsung naik kelotok yang lumayan besar ukurannya buat kami berlima.. Ya eweh, gw pikir kelotoknya kelotok sampan gitu, eh ternyata mirip kapal pesiar…. mirip dikit.

Inilah penamampakan Cahaya Purnama III :

Image

Kapal ini bibagi jadi dua bagian : bagian atas buat tamu dan bagian bawah buat ABK dan kapten. Kapal ini lumayan bersih, karena kaptennya galak… Dia gak bakalan membiarkan kapalnya kotor barang sedikit pun, termasuk sampah dari tamunya… heheh eh tapi dasarnya kami gak bisa rapih alias sedikit jorok, ya tetep aja bagian dek kapal banyak snack dan barang-barang pribadi yang berseliweran.. termasuk …. celdal dan sebagainya :(. Saat siang hari dek kapal berubah menjadi tempat kongkow, restaurant, dan tempat leha-leha. Jika malam, berubah menjadi…. tempat dugem… errrr… I wish..

Image

Kapal kami langsung menuju ke Camp Leakey, kalo kata orang sih ini yang paling happening dari pos-pos lain seperti Tanjung Harapan dan Pondok Tangui. Sepanjang perjalanan menyusuri Sungai Sekonyer, bang I’im gak berhenti-berhenti ngoceh tentang orangutan dan sekali-sekali nunjuk ke kanan jauh…. atau ke kiri jauh….  sambil bilang “sarang orangutan!” atau “bekantan!” trus gw dong nimpali.. “buaya!” sambil nunjuk ke bang I’im.

Image

Sungai Sekonyer ini satu-satunya akses menuju ke TNTP. Dahulu air nya seperti warna seduhan teh… tapi akibat penambangan emas, tepat di percabangan sungai, air berubah menjadi coklat lumpur. Di kiri kanan sungai banyak sekali vegetasi nipah, hingga kira-kira dua jam perjalanan lamanya hingga Sungai Sekonyer bercabang dua dan kami menuju hulu yang sebelah kanan… Nah ini dia, air sungai senonyong-konyong koder berubah… dari semula yang berwarna keruh sekarang berwarna coklat kehitaman! Air sungai yang belum terkontaminasi limbah penambangan emas. Vegetasinya juga berubah drastis… dari Nipah yang mendominasi sekarang berubah menjadi vegetasi rawa dan hutan gambut dengan selingan pohon-pohon yang entah apa namanya.. yang bisa tumbuh tinggi menjulang dan rapat. Dari sini semakin banyak bekantan dan burung-burung yang kami lihat… rasanya seperti menyuusur sungai amazon di Brazil deh… (kayak gw pernah aja)

Sebelum mendarat di Camp Leakey, saya sempatkan makan siang dulu… Dan makan siang kali ini dipersembahkan oleh Ibu Kapten, istri dari Pak Kapten yang merangkap jadi koki dan petugas kebersihan :)

Image

Di dermaga Camp Leakey kami dicegat sama Percy, salah satu orangutan penghuni TNTP. Perasaan saya gak karuan, antara takut dan penasaran.. oh man…. ketemu orangutan liar man! Ini perasaan campur aduk yang persis saya rasakan waktu ketemu sama komodo liar di pulau Rinca beberapa tahun lalu… saya sempat bikin rekamannya Percy, yang menurut bang I’im adalah keturunan dari Princess, orangutan terpintar di Camp Leakey… satu-satunya orangutan yang bisa bahasa isyarat, mencuci baju, naik sampan, dan menggergaji. Dan cerita ini dibenarkan oleh Udin, si polisi hutan yang mengantar kami treking pagi di Camp Leakey.

Image

Sedikit informasi, penamaan orangutan di TNTP ini merujuk pada induk betinanya. Misalnya Induk betinanya bernama Princes, maka anak-anaknya akan diberi nama dengan awalan yang sama dengan induknya… misalnya Percy, Pen dan seterusnya. Orangutan adalah binatang yang soliter, satu jantan dominan menguasai wilayah yang luasnya puluhan kilometer persegi dan berhak kawin dengan betina mana saja yang berada di wilayah kekuasaannya. The Alpha Male di camp leakey ini adalah Tom, orangutan berusia 30 tahun yang berhasil menggulingkan Kosasih, raja orangutan sebelumnya. Daaaaann… teman saya yang autis si Belle Neni berhasil menulis pohon keluarga dari Orang Utan di Tanjung Puting ini.. dasar kurang kerjaan!

Orangutan Camp Leakey

Raja : Tom. Para betina : Ahmad mempunyai keturunan Aldona, Antrax, Arya, Algis. Toet beranak Thor dan Therry. Gara punya anak Gina, Gerry, Getwick, dan Gethard. Unyuk adalah orangutan paling agresif di camp leaky punya anak bernama Uning. Uning mempunyai anak namanya Ukraine. Princess punya anak bernama Pita, Pan & Percy. Pita & Pan, adalah dua bersaudara yg paling nakal, suka merusak pos polhut di camp Leakey untuk cari makanan. Carlos adalah orangutan yg rakus & ga mau berbagi makanan saat feeding, dia adalah anak dr Carrie. saudaranya Carlos bernama Charles & Candy. Mario adalah orangutan kecil yg suka bergelantungan di dekat dock, dia adalah anak dari Mut. Siswi adalah orangutan cerdas yg bisa gosok gigi, menggergaji & mencangkul. Siswi adalah anak dr Siswoyo. Siswoyo mati karena sakit pencernaan. Messy adalah orangutan liar yg suka bermain petak umpet dg Getwick. Messy adalah anak dr Mucho. Yuni punya anak bernama Yolanda, Yahoo, Yuyut & Yosmit. Bingung kan kalian? Aku juga!

ImageImageImage

Orangutan Pondok Tangui

Raja : Doyok, yang menjadi raja setelah mengalahkan Masran yang setelah dilengserkan menjadi penghuni pos di pintu masuk dan akrab dengan manusia demi menjauhi Doyok. Kopral adalah orangutan sitaan dari penduduk,, sudah semi liar dan menjadi pejantan kedua setelah Doyok. Rica adalah betina utama, punya anak bernama Rubi. Siswa punya anak bernama Steven. Selian itu ada Leo, orangutan kecil yg suka mencuri makanan saat feeding. Masih bingung? Sama!

Orangutan di camp Tanjung Harapan

Yani dulunya adalah raja penguasa camp Tanjung Harapan sebelum dilengserkan oleh Gundul yang tertangkap basah memperkosa… er.. sebut saja bunga… Saya sempat memvideokan adegan anonoh yang disaksikan puluhan pasang mata… memalukan kau Gundul! Chelsea adalah orangutan muda yg suka mencuri makanan saat feeding, apalagi saat ada Gundul di tempat feeding.

Kelihatannya semua orangutan terlihat serupa, tapi percayalah.. para staff TNTP mampu membedakan satu sama lainnya. Kalo buat saya mereka itu lucu, tapi bagi polisi hutan.. mereka itu nyebelin karena suka ngerampok kalo ketemu polisi hutan yang lagi bawa makanan.. Si Gedwick suka nguntit kami dari belakang, tapi pas kami noleh dia pura-pura ngeliat yang lain… tapi waktu kami terusin jalan… dia ngikutin kami.. waktu kami noleh, dia pura-pura gak liat… drama banget!

Ah.. gw capek nulisnya… besok gw lanjutin lagi gimana kami diajar cari minum dari akar, menentukan jamur yang bisa dimakan, dan tanaman obat di hutan.

 

 

 

DROP – by David Bobee

ine

Baru-baru ini pecinta seni di beberapa kota Indonesia dimanjakan dengan Festival Musim Semi Perancis ke 10. Festival tahun ini diadakan mulai tanggal 15 Mei sampai dengan 23 Juni, dan Bandung sebagai kota seni menjadi tuan rumah pembukaan festifal tersebut. Frank Micheletti sebagai pimpinan artistik festival mempersembahkan “Constellations” sebagai pembuka pertunjukan pembuka di kota Bandung, setelah itu rangkaian pertunjukan menyusul di pentaskan di beberapa kota berikutnya.

Salah satu pertunjukan yang dipentaskan adalah  pertunjukan teater-akrobatik oleh sutradara David Bobee. IFI bekerja sama dengan Sekolah Ciputra mengundang para penikmat teater pada tanggal 11 Juni lalu. Kolaborasi yang menawan dari monolog Ine Febrianti dan akrobatik dari Anthony Weiss menghadirkan pementasan yang dramatis tentang kisah cinta yang tragis dari perempuan-perempuan jaman Yunani kuno.

 photo_2

Pemandangan dari sha Ine Febriyanti yang terbaring di atas ranjang di tengah-tengah panggung, telentang dengan nafas yang teratur menyambut para pnonton yang diminta duduk melingkari panggung.  Masing-masing penoton diberi sebuah lampu senter dan diminta untuk menyorotkan pada pementas. Sesaat kemudian, lampu redup dan sha Ine Febriyanti perlahan-lahan bangun dan memulai monolognya.

Salah satu babak menceritakan kisah tentang Penelope yang ditinggal selama bertahun-tahun oleh Oduseus untuk berperang di Troya. Efek dramatis untuk memunculkan atmosfir badai terlihat sangat nyata. Suara gemuruh dan gelegar badai dari sound system Ciputra Hall bersenyawa dengan efek air yang menyerupai hujan deras dan tata cahaya yang bagus membuat penonton solah-olah berada dalam satu perahu ditengah laut yang sedang menggelora.

Dalam babak lainnya, diceritakan tentang isi surat-surat cinta dari perempuan anonim karya penyair Ronan Chéneau. Saya paling suka adegan ini. Sebagai klimaks dari pertunjukan, Sha Ine Febriyanti menyajikan monolog tentang jeritan hati dan pedihnya pengkhianatan. Sebelum dia membuang surat-surat cinta ke udara, Sha Ine Febriyanti meludahi kedua tangan Anthony Weis yang kemudian terbang ke udara.

Pementasan di atas adalah salah satu dari beberapa pertunjukan yang ada. Selain itu, ada juga pentas gitar klasik oleh Gabriel Bianco, tari kontemporer – Investigation of Ku Bhi Lai Khan, Pockemon Crew dan A.Lter S.Essio di Jakarta dan Jogjakarta. Saya menunggu festival musim semi Perancis ke 11 tahun depan… Akan ada pementasan apa lagi kira-kira?