Semalam di Blambangan

Yas! Post pertama di tahun 2019.

Trip kali ini hanya kunjungan biasa. Ke tempat yang tidak terlalu jauh, tempat yang sering dikunjungi dan mudah di jangkau, tetapi masih menyimpan keeksotisan yang khas.

Baluran masih gersang, meskipun hujan sudah mengguyur beberapa bulan lamanya. Memang, dedaunan tampak hijau dan rumput di bawahnya mulai bersemi. Namun, savana tetap kerontang. Beberapa macaca terlihat mondar-mandir dekat genangan air, beberapa merebut makanan dari pengunjung yang lengah. Mereka terlihat gemuk dan sehat. Permukaan laut Pantai Bama sedang surut saat kami berkunjung, tentu saja si penguasa pohon masih berkeliaran di sana, keturunan Hanuman.

Baluran tidak banyak berubah, tetapi jalan masuk dari pintu utama menuju Bekol sudah teraspal mulus. Saya sudah di sana sejak loket belum dibuka. Hawa mendung pagi membuat saya berlambat-lambat berkendara, menikmati jalanan yang lengang dan lelarian ayam hutan yang menyeberang. Sayangnya, aspal yang mulus juga mempermudah akses bagi pengunjung yang kurang sadar diri untuk mengotori Taman Nasional ini dengan sampah. Sedih sekali sewaktu saya membaringkan diri di pasir Bama, punggung saya terganjal tutup botol air mineral dan puntung rokok.

Lima tahun lalu, saya pernah menulis wisata kereta lori di Kalibaru. Waktu itu, saya kepincut dengan penginapan yang ada di belakang Stasiun Kalibaru. Namanya  Margo Utomo. Kali ini saya menginap barang semalam di tempat ini. Dahulu saya hanya bisa masuk ke restorannya, tetapi kali ini saya bisa mengeksplorasi Margo Utomo dan berhasil dibuat semakin takjub.

Tempat ini dibuat dibangun dengan konsep eko resort. Selain penginapan dan fasilitas yang nyaman, tamu juga bisa menikmati perkebunan kopi yang hijau dan peternakan sapi perah. Jika berjalan agak jauh ke dalam kebun kopi, kita akan menemukan sungaii kecil yang jernih. Saya tidak akan sadar jika perkebunan ini berada di area kota, dekat dengan stasiun jika saya tidak melihat TPA sampah di selatan sungai, penanda populasi manusia.

Kereta api yang akan membawa kami pulang terjadwal pukul 22.30, jadi kami habiskan waktu tunggu di Gunung Gumitir. Saya pangling dengan tempat ini, dahulu penuh dengan taman bermain dan agak lecek. Namun, sekarang sepertinya dikelola oleh PTPN. Ada banyak pilihan kopi di cafenya. Saya pilih kopi arabica Gumitir untuk menemani sore yang berair. Saya pernah mendengar ada pabrik kopi yang bisa dikunjungi untuk melihat proses pengolahan kopi, tetapi sayangnya loket transportasi yang mengantar kami ke sana sudah tutup (kereta/ jeep wisata kebun kopi). Tentu saja kami nekat–karena kereta masih enam jam lagi– kami memutuskan berjalan kaki naik turun jalan berliku menuju pabrik kopi. Beberapa kali kami berhenti dan berteduh di bawah pohon karena hujan tiba-tiba mengguyur. Cerobong pabrik sudah terlihat saat azan Maghrib terdengar, dan … tentu saja sudah tutup.

Jember-banyuwangi, Dessember akhir 2018.

 

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. Selamat berselancar kembali di tahun 2019, nice post!

  2. YantiNurhida says:

    Tulisan ini bikin saya kaya diajak menikmati suasana tempat ini…

  3. terima kasih sudah membaca, Yanti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s