Rahasia Kecil di Hotel Tugu

Seorang perempuan berkebaya encim menyeduh kopi. Empat sendok bubuk untuk enam cangkir mungil yang berbaris di atas nampan, berwarna seragam. Takaran itu tidak berubah, sudah seperti itu sejak Tuan Van Leukhen memanen biji kopi pertama dari perkebunan Kawisari.

Aroma kopi menguar, merembet bersama kabut dan tembok batu di beranda loji, hinggap pada rongga hidung. Nyai Menur, Sang Pewaris perkebunan kopi, menghampiriku bersama enam cangkir mungil seduhannya.

“Sebuah kehormatan, kamu mau mengunjungiku dan menulis kisahku, Anak Muda.”

“Ah, apalah artinya tulisan saya, dibandingkan dengan kemasyhuran nama Nyai.”

Sebuah cangkir berpindah tangan, masih hangat. Uapnya menari-nari di permukaan pekat, seperti sumur dalam tanpa cahaya. Aku tak kuasa menghidu candu yang ditawarkan Nyai Menur dalam sebentuk cangkir.

Perempuan itu berlalu setelah yakin aku menenggak seluruh isi cangkir.

“Mampus kau, Parman.” bisiknya lirih.

 

Kira-kira seperti itu imajinasi saya saat menikmati seteko penuh kopi jawa di pelataran Hotel Tugu, Malang. Saya tidak menyangka akan menemukan kopi yang melatari novel yang sedang saya tulis, saat berada di Malang: Kopi Jawa dari Kebun Kawisari.

Sudah enam bulan ini saya menulis novel, tentang perempuan-perempuan dan penghuni Kebun Kawisari. Saya sepertinya jenuh dan butuh jalan-jalan, maka tahun baru kemarin saya habiskan di kota apel.

Saya tidak tahu, apa hubungan antara Anhar Setjadibrata (owner tugu group) dengan pemilik kebun Kawisari, tetapi yang jelas saya menemukan mitos Joko Gondel dan Sri Gondel di Hotel Tugu.

Joko Gondel dan Sri Gondel dipercaya sebagai pohon pertama yang tumbuh di Kebun Kawisari, cikal bakal perkebunan seluas 350 Ha ini. Setiap tahun diadakan upacara ‘perkawinan’ Sri Gondel dan Joko Gondel, pembacaan kembali ikrar pernikahan dari biji-biji kopi kedua pohon tersebut.

Saya mengangkat budaya ini menjadi salah satu bab penting dalam novel saya. Klenik? Iya, ada sedikit kelnik yang saya ceritakan, dengan bumbu roman percintaan di tahun 1970 akhir.

Kopi dari Perkebunan Kawisari menjadi minuman khas kopi di Hotel Tugu. Orang-orang menyebutnya kopi ose. Buat saya pribadi, nikmat kopi ini bukan main. Mungkin aromanya mengingatkan saya pada masa kecil, saat nenek saya masih hidup dan bekerja di perkebunan itu. Aroma asam dari ceri kopi yang ada di pengolahan benar-benar masih melekat. Kata almarhuman nenek saya, kopi yang diolah secara tradisional di perkebunan ini membuat lendir yang berasa manis masih menempel di biji kopi, membuat hasil akhirnya terasa istimewa karena lendir buah tidak terbuang.

Selain menemukan sejarah Kebun Kawisari, saya juga menemukan sejarah lain di nusantara. Hotel Tugu menyimpan artifak kuno seperti  salah satunya adalah lukisan putri konglomerat terkaya abad 19 di Indonesia, Oei Hui Lan – bahan tulisan saya selanjutnya.

Pertanyaannya : apakah saya menginap di sana? Tentu tidak. Mahal cuy!

 

hwsintgg

 

 

 

Advertisements

14 Comments Add yours

  1. Ceritaeka says:

    Penasaran sama novelmu nantiiii. Jadi pengen ngopi pagi nih 🙂

  2. kinky ninja says:

    Eh, selama ini agak jarang update ternyata nulis novel. Cakep.

  3. Hai… Iya nih. Blog traveling rada mampet 🙂 tapi blog satunya masih jalan kok :).
    Nice to be back and see you again 🙂

  4. Ditunggu ya, Eka. 70% progress nih. Nanti aku kirim satu untukmu, kalau dipinang major sih hehehehehe

  5. winnymarlina says:

    gado-gado jalanan satu!! 😀

  6. Iwan Tantomi says:

    Wah tahu gitu, kamu ngomong-ngomong mas tak traktir sempol, hahaha

  7. wah, itu bisa diatur lagi, Mas. Malang-Surabaya hanya selemparan kolor. 🙂

  8. Iwan Tantomi says:

    Buset kolormu kamu lempar pakek ketapel doraemon a mas kok mental segitu jauhnya 😅

  9. wkwkwkwkwk, semacam itu 🙂

  10. yusmei says:

    Wah ternyata lagi nulis novel. Semoga buruan kelar 🙂
    Walaupun sama sekali gak menggemari kopi, tapi cerita tentang kopi entah kenapa selalu menarik, jadi penasaran sama Perkebunan Kawisari

  11. Makasih suntikan semangatnya, Yusmei.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s