Pulau Seram, Ternyata Tak Begitu Menakutkan (part 2)

Part 2

Bumi Seram, memang luar biasa tak hanya menawarkan indahnya alam bawah laut, tapi juga eloknya daratan diatasnya… Hari berikutnya saya berkesempatan untuk menjelajah hutan dan jalanan berbukit di daerah ini. Bersama pemandu lokal yang cenderung merepotkan… (Udah nggak bawa bekal minum, rokok juga minta, suka ninggal, nggak komunikatif, nggak ada inisiatif.. yang dia tau cuman rute jalan doang, hospitality dan nilai jual wisata minus banyak! Mending gw nyomot anak daerah yg suka bolang aja kalo tau bakalan dapat pemandu gak jelas gini.) Kami bertujuh menuju tengah hutan untuk melihat burung khas Maluku; kakatua jambul kuning dan burung nuri. Setelah kira-kira berjalan 1 kilometer ke tengah hutan, kami mulai mendengar suara-suara parau dari atas pohon yang tingginya rata-rata diatas 50 meter… suara parau khas ini lucu.. nggak ngeri kayak suara mak lampir…

IMG_9706

Selain mendengar suara2 aneh, kami juga hampir tertimpa durian runtuh! Buah-buah yang sudah masak dari pohon berjatuhan membuat bunyi bak buk bak buk di sepanjang perjalanan. Beberapa kali kami berpapasan dengan penduduk setempat yang pergi ke hutan untuk mengumpulkan buah durian. Saya dan teman-teman diajak treking menuju sebuah gua di tengah hutan.

Seperti kebanyakan kondisi gua, kami masuk melalui celah sempit sebagai mulut gua yang agak tinggi. Diperlukan tangga untuk bisa sampai ke mulut gua. Rupanya gua ini sudah jarang dimasuki, terlihat dari tangga yang biasa dipakai naik ke mulut gua sudah sangat rapuh… dan tentu saja kami sekalian menghancurkannya agar tidak jatuh korban dan pihak terkait segera memperbaikinya… Bodohnya, kami nggak mikir membuat tangga pengganti untuk tangga masuk yang sudah kami hancurkan. Tiba-tiba datanglah pak Tarno* dan kami disulap jadi spiderman untuk merayap naik memasuki gua.

Wih… keadaan dalam gua sangat bagus.. selain interior stalagtit dan stalagmit yang dominan, dinding gua juga tidak kalah cantiknya. Dinding gua terlihat seperti kue lapis yang terpotong rapi, endapan tiap endapan terlihat kontras dan bagus sekali. Setelah puas menikmati gua dan dijatuhi kotoran kelelawar.. kami melanjutkan perjalanan menjelalah sebagian lokasi hutan TN. Manusela menuju ke tempat penyelamatan burung nuri dan kakatua.

IMG_9834

Tak lama berselang setelah jalan setapak yang kami lalui menurun tajam, tibalah kami di tepi hutan yang berbatasan dengan jalan raya.. Finally.. civilization! Nah ini nih bagian amsyongnya dari pemandu kami… dia punya rencana untuk meninggalkan kami.. Berkali-kali dia bilang kalau lokasi penyelamatan satwa sudah dekat.. kami diminta untuk mengikuti jalan utama… awalnya kami kira itu cuman informasi saja, tapi kami sadar setelah dia beberapa kali mencoba untuk menumpang kendaraan yang lewat dan bilang : kita ketemu di lokasi! Orang gila!! Wiiiih… pengen gw parang nih orang…

Beberapa tahun lalu populasi burung nuri dan kakatua di Pulau Seram menurun tajam. Harga jual yang tinggi di pasar gelap menjadi alasan utama penduduk Pulau Seram menangkap burung unik ini. Satu ekor burung nuri bisa dihargai hingga Rp. 750ribu rupiah, ini mendorong penduduk untuk beramai-ramai menangkap burung ini. Seorang pemburu burung lihai bisa menangkap sekitar limapuluh ekor dalam sekali perburuan. Rata-rata seorang pemburu akan melakukan perburuan dua hari sekali, untuk memasang perangkap dan mengambil burung yang terjebak. Bisa dibayangkan kecepatan menurunnya populasi burung ini.

Setelah ada pelarangan penangkapan burung nuri dan kakatua, pemerintah merazia rumah-rumah penduduk dan mengambil burung tangkapan mereka untuk dikembalikan ke alam liar. Di suaka ini ada larangan unik yang melarang pengunjung berinteraksi langsung dengan burung yang ada dan dilarang mengajarkan kata-kata karena akan menghambat proses pengembalian mereka ke alam liar…. (padahal aku sudah punya rencana ngajarin mereka bilang : Jancuk)…

Track dari suaka burung menuju penginapan lumayan jauh, tapi pemandangannya luar biasa! Kayak begini nih jalannya : keren banget 🙂

IMG_0274

Sepulang dari treking badan udah berkeringat.. paling enak beristirahat di gedung SD negeri yang berada di puncak bukit, menikmati senja dan ketenangan desa Sawai yang damai dari atas. Di belakang desa ada sebuah sumber air bersih yang digunakan masyarakatnya untuk kegiatan sehari-hari. Uniknya, jika pagi hari air sumber ini berasa asin dan berubah menjadi tawar di sore hari. Para lelaki menempati area di hulu sumber, sedangkan para perempuan berada di hilir. Anak-anak ada di area tengah… Nah, paling enak nih kalo nyebur ngademin badan setelah seharian treking.

IMG_0026

Saat senja hampir habis suasana jadi begitu hening, sayup-sayup terdengar suara penghantar adzan (sholawat tarhim – thanks to youtube) yang sangat meneduhkan. Walau saya bukan seorang muslim, saya senang sekali mendengarkan tarhim ini. Kalau di Jawa saya harus bangun sebelum subuh untuk mendengar suara Muazin mendendangkan tarhim, tapi disini hampir setiap tiba waktunya sholat, sholawat tarhim bisa didengarkan, dan bagi saya, saat yang paling tepat untuk mendengarkannya adalah saat senja….

IMG_9616 IMG_9631

Suasana malam di penginapan begitu damai, laut lepas di depan penginapan terlihat gelap dan hanya diterangi oleh lampu dari kapal-kapal nelayan yang sedang melaut. Saya bisa berjam-jam duduk diam di beranda, menghadap laut sampai hampir tengah malam ditemani nikmatnya kopi dan semilirnya angin laut. Tidak ada yang saya pikirkan saat itu… alam bisa menghipnotis saya sedemikian rupa untuk membuat saya terduduk dan diam hingga dini hari.

IMG_9604 IMG_9961 IMG_9896

Advertisements

18 Comments Add yours

  1. indrijuwono says:

    ceritanya asyik, Jo. tapi fotonya kok kecil-kecil…. 🙂

  2. pake handphone Ndri.. kameraku rusak 🙂

  3. Ronny Fauzi says:

    wah itu jalanan dari tempat suaka burungnya emang nggak ada kendaraan yang lewat ya? ada jalanan (keliatannya) gede tapi (keliatannya) sepi, kalau ada psikopat nyasar kayak di Modus Anomali pegimane? wkwkwk

  4. sepi banget bro.. hanya kendaraan roda 2 milik penduduk setempat yang keliatan. eh, ada juga pickup milik tengkulak yg beli duren dari pengepul di hutan sih :).
    Kalo ada yang modus anomali, gw modusin balik… kalo perlu gw PHP sekalian

  5. indrijuwono says:

    sayangnyaa… brarti harus ke sana lagi dunk..

  6. mungkin itu tanda kali Ya Ndri… semoga bisa kesana lagi 🙂

  7. Ryan says:

    Kok ga da foto burungnya mas?

  8. burungnya lagi sembunyi

  9. omnduut says:

    Haha, kalo ada pocong atau bikKunti, baru dibilang seram ya :p

  10. kalo Om Ndut ikut juga bisa dibilang seram kok 🙂 wkwkwkwkwkwk

  11. omnduut says:

    Hahaha kena deh aku. Gakpapa, yang penting bisa temenan sama “penunggu’ di sana :v

  12. senengutami says:

    mas tulisan km keyeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen

  13. makasih Mbak Utami 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s