Pulau Seram, Ternyata Nggak Begitu Menakutkan (part 1)

Bisa dikatakan sepanjang bulan September 2014 sampai akhir tahun 2015 saya mager – istilah antah berantah yg entah gw denger dari mana yang artinya nggak kemana-mana. Well, sebenernya nggak mager-mager amat sih, secara saya masih ngluyur ke Jogja, Baluran, Malang Selatan, dan Kediri… Ah, nanti lah kalau saya punya enam tangan saya bakal tulis tentang perjalanan kesitu…

Baiklah, mungkin di tahun 2015 ini bakal saya canangkan sebagai tahun eksplorasi Indonesia Timur…. *brb gunting pita, pukul gong, pecah kendi, tabur bunga, gelar karpet merah…… gelar lapak… Dan… secara resmi saya mengawali exspedisi ini dengan dengan mengunjungi Ambon…

Saya ngaku… saya cemen! Ada perasaan was-was waktu berangkat kesana. Gara-garanya, beberapa hari sebelumnya maskapai yang terkenal murah itu mengalami naas di perairan selat karimata. Rasanya mau batal aja berangkat ke Ambon… tapi alhamdulilah Tuhan menganugerahkan saya kepelitan yang luar biasa.. masak ya buang duit segitu banyak dan batal pergi.. bukan saya banget… kalo tiket cuman seratus dua ratus bolehlah cancel, itung-itung buang sial… tapi ini duit lumayan banyak! Hasil saya gak dugem selama empat bulan man! Gila aja… apalagi ini tiket pesawat premium.. yang gak semua orang bisa naik….#mulaisongong.

IMG_9987

Akhirnya, dengan berbekal kata-kata bijak dari Menhub Pak Jona(n)z yang berbunyi kira-kira gini “lebih baik batal berangkat daripada tak pernah pulang… tapi paling baik itu ya berangkat… kalo mati mah mati aja… mau di rumah kek mau di pesawat kek, kalo waktunya mati ya mati deh…” akhirnya dengan penuh rasa percaya diri saya berangkat ke bandara…. (tapi tetep, nyampe bandara langsung upload foto tiket lengkap dengan nomer penerbangan ke semua akun medsos yang saya punya dan minta tolong teman-teman memantau pesawat yg saya tumpangi… *tetep parno)

Di sepanjang perjalanan saya godain teman saya dengan cerita-cerita jatuhnya pesawat terbang, maksudnya biar ada yang nemenin saya parno.. males gak sih parno sendirian? Setelah saya berhasil membuat teman saya nyebut nama Tuhan beberapa kali akhirnya dia saya tinggal tidur… Tapi anehnya, tadi ditengah kepanikan, logika saya mulai aktif.. bukankah efek hilangnya pesawat itu akan membuat semua maskapai penerbangan waspada? Semua SOP penerbangan yang (katanya) sering diabaikan mungkin bakal dilaksanakan sepenuhnya dan itu berarti… 75% keselamatan penerbangan sudah terjamin, tinggal 25% ini yang perlu dicemaskan.

IMG_9532

Mendekati pantai Ambon, saya dibuat takjub dengan ratusan lumba-lumba yang berenang memenuhi perairan Ambon dengan riak gelombang laut. Awalnya saya mengira itu hanya perahu-perahu nelayan yang mencari ikan. Namun saat pesawat semakin rendah baru terlihat buih-buih putih itu ternyata adalah riak air akibat hempasan badan ratusan lumba-lumba yang berlompatan di atas air. Amazing!

Saya dan teman-teman bertolak ke kota Ambon untuk menginap barang semalam sembari menunggu keberangkatan kapal cepat yang membawa kami dari Tulehu ke Amahai. Kesan saya selama di berada di kota Ambon adalah masakan khas Ambon itu nikmatnya minta ampun… (heran kenapa Glenn Fredly gak gendut2). Sebut saja ikan bakar colo-colo, ikan kadondong, kuah kuning asam manis, ikan masak paleo yang dimakan dengan ketupat atau papeda. Kami sih gaya-gayaan mau pesen papeda, tapi berhubung lidah Jawa saya terlalu medok dan gak bisa dibelokkan, papeda yang sudah dipesan semangkuk penuh hampir tidak tersentuh sama sekali. Aduh, sayang banget… pengen gw bawa dan dijadikan lem kertas.

IMG_9546  IMG_9938   

Bertolak dari Tulehu menuju ke Amahai, kapal cepat Cantika II membawa kami dengan tenang menuju Pulau Seram. Di sepanjang perjalanan menuju Pulau Seram, saya disuguhi pemandangan indah Pulau Haruku dan Pulau Saparua yang terlihat menawan dari kejauhan. Sesampai di pelabuhan Amahai, kami harus melintasi badan Pulau Seram yang bergunung-gunung dimana Taman Nasional Manusela berada. Sopirnya, naujubile…. rasanya saya harus berjuang keluar dari mulut buaya darat setelah lepas dari mulut harimau udara… kalo gak mati di pesawat terbang, gw mati di masuk jurang sama sopir setan ini… beuh! Akhirnya setelah berjuang dengan mual dan mabok selama 2 jam (teman-teman gw sih.. kalo gw nggak… gw mangap ketiduran – rejeki buat orang yg gampang tidur) kamai sampai di Saleman, tempat terakhir bagi moda transportasi darat untuk menuju ke Sawai, tempat Pantai Ora berada.

IMG_9616

Di Saleman sudah menunggu perahu yang sudah kami pesan sebelumnya. Kami tidak menginap di Ora Resort, karena tempat itu sudah penuh (baca : mahal). Pilihan lain adalah ke kampung Sawai, disana ada sebuah resort yang dikelola oleh penduduk asli Sawai bernama Pak Ali.

Di Sawai, ada lebih banyak keuntungan yang saya dapat daripada menginap di Ora Resort. Karena berbatasan dengan kampung, maka kegiatan di waktu luang bisa lebih bervariasi. Gampang cari rokok, bisa ngetrail ke bukit dan liat sunset dari atas bukit…. daaaaannnnnn….. pesta duriaaan! Beruntungnya saya pas datang kesana sedang musim durian. Waktu itu di kampung ada peringatan Maulid Nabi, jadi seluruh warga berkumpul di aula dan membuat makanan untuk pengajian sore harinya. Bergerobak-gerobak durian yang langsung dipetik di hutan dikumpulkan jadi satu untuk diolah menjadi kolak durian. Saat durian melimpah, durian menjadi makanan termurah. Tiga buah durian besar dihargai sebesar Rp. 10.000 dan kami hanya beli sekali saja… selanjutnya durian datang begitu saja, entah pak Ali yang kasih, entah itu tetangga sebelah… pokoknya tiada hari tanpa durian. Sarapan, makan siang, makan malam.. selalu kudapannya durian. Ah, kalo seandainya Julia Perez disini.. pasti dia suka belah duren tiap hari.

IMG_9939

Ada hal-hal yang kurang menyenangkan bila tinggal di Sawai. Karena letaknya di perkampungan pantai sekitarnya agak kotor, terutama saat musim buah.. setiap pagi selalu saja terlihat sampah durian yang terapung di dari pantai menuju ke tengah laut.. dan itu banyak banget. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah : Sawai bukan tempat yang tepat bagi traveler yang suka menyendiri. Sawai menawarkan keramahan khas Indonesia yang kadang rada berisik dan berlebihan buat orang luar Indonesia.

IMG_9631

Hari berikutnya kami pergi untuk melihat proses pembuatan sagu. Untuk menuju kesana, kami harus melewati sungai dan menuju ke hulu yang konon katanya penuh dengan buaya. What? Buaya? Saya langsung membayangkan sungai amazone yang berkelok-kelok dan tumbuhan sekitar aliran sungai yang lebat… menemukan sosok purba yang sedang berjemur lalu mengamati buaya liar itu dari dekat… cling.. jadilah Steve Irvin. Memasuki muara, kapal kami mulai melaju pelan. Saya mulai deg-degan dan mulai memasang mata dan telinga mencari sosok monster itu. 5 menit, 10 menit…. lalu terdengar suara di ujung anak sungai….. Sreeeet.. saya langsung mencari sumber suara yang ternyata adalah orang yg sedang mancing… Ah, mungkin buaya-buaya itu akan terlihat jika kita menuju sedikit jauh ke hulu… dan kami mulai melanjutkan perjalanan perahu kami.. 5 menit, 10 menit kemudian masih tidak terlihat apa-apa… hanya sesekali ada asap yang muncul dari dalam hutan.. entah itu sisa api peladang atau apa… 15 menit kemudian, saat sungai menikuk dalam…. saya melihat pemandangan yang membunuh harapan saya untuk bisa melihat buaya Seram.. sebuah jembatan besi melintang di atas kepala kami.! Cuk… baru saya sadar bahwa harapan melihat buaya sungai adalah PHP dari pak Ali.. Area sungai ini sudah terlalu civilised!

Perahu kami segera mendarat di bawah jembatan… di tepi sungai, ada seorang laki-laki yang sedang membuat tepung sagu. Hm, secara saya suka sama hal yang beginian, saya segera turun dan mulai iseng sok-sokan membantu si bapak membuat tepung sagu. Saya segera memotong pohon sagu yang kira-kira berdiameter 60 cm dengan kapak, membersihkannya daun dan dahan yang berduri kemudian menghancurkannya menjadi serbuk dengan bantuan mesin seperti mulut hiu… serbuk gergaji pohon sagu tadi saya masukkan ke sebuah wadah besar lalu mencampurkannya dengan air sungai dan mulai memeras-merasnya.. air perasan tadi dialirkan kesebuah wadah lebar di atas tanah dan ditunggu hingga mengendap… endapan inilah bahan mentah tepung sagu. Er… percaya saya melakukan semua itu? Kalo percaya berarti kalian musrik 🙂 Yg sebenarnya terjadi adalah saya dengerin si Bapak ngomong sambil saya ngelamun… menghabiskan rokok di saung kecil milik si Bapak 🙂

IMG_9825 IMG_9826

Sorenya kami menghabiskan waktu untuk snorkeling di spot2 bagus dan mengunjungi resort di pantai Ora. Untuk masuk resort Ora, kita harus bayar.. ada seorang perempuan yang memungut duit ke setiap pengunjung yang datang merapat. Entah itu resmi atau pungli tapi itu sangat mengganggu banget.. Ada rombongan keluarga lokal yang datang kesana, tapi langsung berbalik arah begitu dimintai duit… keterlaluan kagak sih? Orang loka  l lho ini bukan wisatawan luar negeri.

Maluku memang tempat terbagus melihat biota laut, tentang ini jangan diragukan lagi… surga bawah lautnya memang keren.. Satu hal yang membuat tempat ini menjadi lebih istimewa adalah, gunung batu berukuran teramat besar berbatasan langsung dengan tepi laut! Pemandangan maha indah yang tidak pernah saya lihat dari perjalan yang lalu-lalu, hijau, putih, bercampur dengan warna toska dan biru gelap… It’s so beautiful and magnificent.

IMG_9656  IMG_9732 IMG_0013

IMG_9908

IMG_9989

Advertisements

35 Comments Add yours

  1. Ryan says:

    Ini hasil jalan2 yang kemarin itu ya? Yang foto2nya bikin saya mupeng di Path (lihat dari path temen yang ternyata temenmu juga). Ditunggu lanjutannya.

    Eh… kalau misalnya ketemu buaya beneran mang beneran mau seperti Irvin itu?

  2. iya.. baru sempat nulis sekarang 🙂
    Ketemu buaya? buaya apa dulu… kalo buaya darat mah saya ladenin 🙂

  3. Ryan says:

    Oooo jadi sebenernya mau ketemu buaya darat toh…. kirain buaya putih 😀

  4. HM says:

    ini tempatnya oke banget keliatannya. *gasps*

  5. Akhirnya nulis lagi… Kangennn karo tulisanmu, Jo. Aslinya pingin nanya itu tatoo bikinnya dimana tapi ntar pencitraanku gagal, jadi pertanyaan diganti aja, itu ke Ora Beachnya ada penginapan bayar berapa? ada linknya nggak , Jo? 😀

  6. kazwini says:

    Ketemu si andien kan hahaha

  7. memang bagus kok, Indonesia timur is the finest place ever 🙂

  8. Kalo di Ora mah mahal 1 kepala kena 750 ribu, aku nginap di sawai di Lisar Bahari perkepala cuman kena 250 ribu. bentar aku cari nomer telpnya.

  9. andien makannya buanyak euy…

  10. winnymarch says:

    Cuma namanya aja yg seram ya

  11. kazwini says:

    Sama cowoknya ya dia?

  12. Winny : perjalanannya juga seram 🙂

  13. iya.. dia sama aku KAz…

  14. kazwini says:

    Okeee aku percaya 😀😀

  15. nyakakakakakakakakakakakkaka

  16. indrijuwono says:

    Jo, asyik banget perjalanannya ke Seram. Jadi pengen ke sana juga. Keren euy!
    Itu penduduknya Sawai tinggalnya di tengah laut?

  17. Mereka tinggal di pantai tapi jumlah penduduknay nggak lebih dari 300 jiwa, belakang pantai sudah hutan dan tebing tinggi. keren deh pokoknya

  18. indrijuwono says:

    Sedikit dong, ya. Asyik banget bisa ikutan ngikutin kebiasaan mereka sehari-hari.
    Eh, kl sandar di Ora bayar berapa jadi?

  19. kalo orang nggak tau sih per kepala Rp. 25.000 tapi kalo berangkat dari penginapan di Sawai waktu itu kami bayar 100.000 untuk seluruh rombongan

  20. indrijuwono says:

    Okay, thanks infonya… 😉

  21. Okti D. says:

    Wuaw… majestic sekali. Sampai sekarang belum beruntung untuk bisa berkunjung ke Ambon, semoga besok-besok bisa menyusul 🙂

  22. Citra Rahman says:

    Masuk ke pantai Ora harus bayar berapa? Eh itu sama kayak di Bangka juga dong dan pantai-pantai lainnya yang dikelola resort kayaknya. Karena pantainya dikuasai resort, jadi masuknya harus bayar mahal, meski orang lokal sekalipun.

  23. Iya, kalo dipikir-pikir fair juga mereka memungut biaya bagi pengunjung yang masuk resort kan mereka juga butuh dana untuk pemeliharaan resort…

  24. Sadam says:

    enake rek.. gak ajak-ajak

  25. yo kapan2 tak ajak.. kenalan sek…

  26. Dita says:

    jadi kamu ketemu andien sama jupe disana?
    *ora nyambung* *disawat kulit duren* 😛

  27. Dita : sawat pelok duren…

  28. Ronny Fauzi says:

    hahaha postingan ini tengil sekali. a really nice one tho. haaah, saya jadi semakin pengin ng-Indonesia Timur.

  29. Halo Ronny… hihihihiihiii salam kenal 🙂 silahkan datang ke Ambon dan Maluku.. dijamin bakalan ketularan tengil juga 🙂

  30. Sadam says:

    haha.. namaste..

  31. Fffaaakk! That’s fucking amazing! *biar dibilang komennya keren!*

  32. Iwan Tantomi says:

    Basamu metropop banget, kongil alias kocak dan tengil, tapi so much fun! Oya, berarti ini backpacking atau paketan murmer?

  33. Backpaking Wan. Mumpung masih bisa arrange sendiri, nanti kalo udah males baru ikut paketan trip. hehheheh

  34. Iwan Tantomi says:

    Suip, kapan-kapan bisa bareng nih 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s