Tradisi Menanam Beras Merah di Bali, Perjalanan Kontemplasi Hari Kedua

Sebenarnya saya masih enggan membuka mata, udara pagi di Munduk terasa seperti lagu nina bobok seorang inang pada anak asuhnya. Udara yang sejuk segera mengganti udara malam yang terhatan dalam kamar saya. Jendela kamar saya menghadap ke Barat dan dari jauh terlihat pantai Lovina dalam balutan kabut tipis, bayangannya persis seperti gadis bali yang bertelanjang dada pada masa era sebelum kemerdekaan.

Pagi itu Ayos masih meringkuk di balik selimut, setelah semalaman beradu keras suara dengkuran dengan saya. Saya segera menyambar jaket saya, lalu bergegas menuju sawah yang berada di dekat puri. Erlin, yang sedianya akan meliput ritual upacara penanaman padi ikut serta dengan saya. Pak Lengkong tidak ada di gubug tempat kami berjanji bertemu, rupanya beliau sudah ada di bagian lain petak sawah bersama tiga temannya; mereka sudah memulai menanam padi!Β Saya berlari kecil ke arah mereka, menanggalkan alas kaki saya dan meloncat ke kubangan lumpur membantu mereka menanam padi.

Lumpur di sawah terasa sangat lembut, baru kali ini saya merasakan lumpur sawah dengan kaki telanjang saya. Gelembung udara yang terperangkap saat sawah dibajak beberapa hari yang lalu terlepas saat saya masukkan kaki ke dasar sawah, membuat bunyi-bunyian yang lucu. Pak Lengkong menempatkan benih padi yang sudah dipangkas pucuknya ke dalam tampah. Pemotongan ini dimaksudkan untuk merangsang pertumbuhannya. Pak Lengkong mengajari saya bagaimana memegang bibit padi yang benar, jarak tanam antar benih dan kedalaman tanam. Segera setelah saya mendapat cukup pengetahuan, saya ikuti mereka menanam padi.

Kecepatan Pak Lengkong dan anak buahnya sangat luar biasa, bisa dibilang 10 kali lebih cepat dari saya. Jelas saya tidak bisa mengikuti mereka, jika dipaksakan saya bisa mati patah tulang belakang. Setelah kira-kira menjelang jam 10 pagi, istri Pak Lengkong datang ke sawah membawa makanan. Kami semua beristirahat sejenak di gubug, menikmati makan siang berupa nasi merah, ikan peda, sayur buncis, kerupuk, dan telur ayam. Ini persis seperti cerita-cerita yang saya baca jaman SD dulu, tentang pak tani dan keluarganya.. dan sekarang saya menjadi salah satu tokoh dalam cerita itu. Amazing!

Padi merah munduk, adalah jenis padi kualitas atas. Menurut Pak Lengkong, padi jenis cendana ini sangat gurih dan manis. Bila dimasak, aromanya sudah tercium dalam radius sepuluh meter. Sayang sekali, saya belum sempat mencicipinya. Di samping itu, padi ini juga bisa mengobati kencing manis. (mungkin karena padi ini mengandung karbohidrat kompleks yang penguraiannya sangat lamban). Padi merah ditanam sebagai tanaman rotasi, menurut ilmu pertanian, tanah yang sudah dua atau tiga kali ditanami tanaman sejenis harus diremajakan kembali agar unsur hara yang terkandung dalam tanah bisa pulih, salah satunya adalah dengan cara merotasi tanaman.

Sambil menyantap makan siang dan jajanan kecil berupa sumping (nagasari) dan bantal (lepet) yang dibawa istrinya, Pak Lengkong menceritakan asal muasal padi yang ditanam di Munduk. Alkisah, dahulu kala ada kelaparan yang melanda di desa. Di tepian danau Tamblingan ada seorang pendeta hindu yang tidak terkena musibah karena menanam padi merah. Karena tergerak oleh belas kasihan, sang pendeta ini memberikan benih padi pada penduduk setempat agar bisa lepas dari bencana kelaparan. Sampai sekarang, masyarakat Munduk masih melestarikan menanam padi merah ini untuk menghormati kejadian masa lalu.

photo 1-10 photo 2-10

Saya, Pak Lengkong dan dua orang lagi kembali menanam padi. Hari semakin terik! Meskipun udara pegunungan sejuk, tapi sinar matahari yang sedikit-sedikit menyembul dari awan membuat saya kepayahan. Putaran kedua, saya memilih bekerja sendiri di sebuah petak sawah berukuran 4×12 meter. Alasannya? Agar saya tidak merasa terintimidasi dengan kecepatan tanam mereka.. selain itu, saya ingin melihat pekerjaan saya.. Rapi atau tidak, atau bahkan… benih yang saya tanam bisa bertahan hidup atau tidak sampai masa panen 6 bulan mendatang? Pak Lengkong sebentar-sebentar mendatangi saya dan menyuruh saya beristirahat dan tidak memaksakan diri, tapi saya bersikeras untuk tetap bekerja.

Saat matahari berada tepat di ubun-ubun, kami kembali beristirahat. Nasi merah dan lauk pauknya masih menemani santap siang kami… Kalau dihitung, ini sudah kali ketiga saya makan berat, semoga sekembalinya nanti, berat badan saya tidak naik drastis. Selama istirahat ke dua, kami mengobrol santai tentang kisah tragis yang menimpa 3 orang yang meninggal karena keracunan arak, kira-kira begitu karena saya tak paham bahasa Bali saya hanya menerka-nerka apa yang sedang kami bicarakan. Tak berselang lama, Mbak Ari datang menjenguk saya. Entah bagaimana ceritanya akhirnya mbak Ari bisa membujuk Pak Lengkong untuk membawa saya melayat sore harinya! Saya kegirangan dan berteriak-teriak dalam hati… mimpi saya untuk menjadi satu dengan masyarakat Bali pelan-pelan terwujud!

cuman saya yang turun ke sawah, tumpukan gabah padi merah

Sesi ketiga penanaman padi di mulai, saya kembali ke petak saya dan kali ini ditemani oleh putra Pak Lengkong. Sesaat lamanya setelah bekerja, tiba-tiba ada bule yang mendatangi saya. Sawah yang kami garap letaknya memang dekat dengan vila puri tempat dia menginap. Rupanya, sedari tadi dia memperhatikan kami yang bekerja di sawah.

Bule : What are you doing?

Saya : I’m planting rice

Bule : I’m pretty sure you are not one of those farmer (sambil nunjuk Pak Lengkong yang jauh disana)

Saya : (sambil nyengir) I’m not, is that obvious?

Bule : Yeah, I can see that.. they work 10 times faster than you. I’ve been watching for a whole day and you only got a piece of the field. Do you get paid?

Saya : (diam sejenak) Yes, they pay me with a valuable experience. Well, to be honest I’m voluntering myself. I live in a big city and never have this kind of experience. Having this experience is priceless.

Bule : You are a persistant young man! In my country, nobody will do things like what you do now. Maybe our pride is to high.

Memang sejak awal saya sudah bertekad untuk melakukan perjalanan ini secara berbeda. Saya ingin menjadi sebagian dari masyarakat Bali dalam kunjungan saya yang singkat kali ini. Saya melakukan semuanya dengan sungguh-sungguh.

Matahari sudah condong ke Barat, saya sudah menyelesaikan sepetak kecil sawah sore itu. Pekerjaan sore itu kami tutup dengan sembahyang dan mempersembahkan sesajen di tempat sembahyang dekat puri. Saya diwanti-wanti agar enam bulan lagi kembali ke tempat ini, untuk memanen padi yang saya tanam.

Saya kembali ke rumah dan beristirahat. Langit Munduk sore itu sangat cantik… Dari jauh masih terlihat kecantikan pantai Lovina dan bukit-bukitnya. Sebatang rokok tanpa merek menemani saya menikmat senja hari itu. Pak Lengkong sudah memperingatkan saya, bahwasanya nanti pinggang, paha, dan pantat saya akan sakit setelah ini. Ah, tak apalah… tak sebanding dengan pengalaman yang saya dapat dan pemandangan senja maha indah yang saya nikmati saat itu.

Karena amat lelahnya hampir saja saya ketiduran, tapi untung mbak Ari sms Β saya.. mengingatkan janji saya dengan Pak Lengkong untuk melayat Mang Alam, salah seorang yang meninggal karena keracunan arak. Segera saya bergegas, mengenakan baju adat yang saya punya. Udeng berwarna coklat senada dengan saputnya, juga kemeja putih dan sarung berwarna gelap. Ada kebanggan tersendiri memakai baju ini, kali ini saya bukan memakainya untuk karnaval atau pawai.. tapi saya memakainya untuk aktifitas sehari-hari, sama seperti masyarakat Bali pada umumnya.

Di rumah duka sudah berkumpul beberapa pemuda dan bapak-bapak, semuanya berbaju adat. Saya diperkenalkan dengan keluarga almarhum dan diijinkan untuk melihat jenazahnya. Saya berdoa sebentar di depan jenazah, lalu undur diri dan berbaur dengan pelayat lainnya. Kematian bagi masyarakat Bali adalah kejadian yang sangat menyibukkan, bukan hanya bagi keluarga yang berduka tetapi masyarakat setempat juga ikut sibuk. Biasanya mereka datang ke rumah duka untuk membantu; ada yang memasak, ada yang menyiapkan sesajen atau mendirikan infrastruktur, dengan begitu otomatis mereka meninggalkan kehidupannya sehari-hari.

photo 3-10

Saat saya melayat mang Alam, ada sebuah dapur yang selalu menyala, entah itu untuk memasak air untuk seduhan kopi atau makanan ringan untuk hidangan pelayat yang akan selalu datang sampai “hari baik” saat jenazah dikebumikan atau diaben/ dibakar. Ada panitia kecil (yang biasanya adalah remaja putri atau ibu-ibu) yang selalu siaga menghidangkan makanan apabila ada pelayat yang datang. Mirip seperti di Jawa, setiap pelayat yang datang memberikan sumbangan berupa sembako pada keluarga korban, dan kali ini saya ikut Pak Lengkong untuk masalah yang ini.

Saya kembali ke Don Biyu setelah satu jam berada di rumah duka. Dalam balutan baju adat Bali, tidak ada satu orang pun yang tahu kalau saya bukan orang Bali.. bahkan anak Bli Putu sempat memanggil ayahnya karena dikira saya tamu yang hendak bertamu. Teman-teman juga kaget, waktu melihat penampakan saya sebagai orang Bali.

BliJonaz-1

Photo credit : AA, EG, T dan saya

Next : Menikmati dinginnya air terjun Melanting

Advertisements

69 Comments Add yours

  1. ranselhitam says:

    Terus malamnya boyokmu pegel-pegel gak mas? hehehe.
    Aku lho, sebelah rumahku sawah, tapi seumur-umur belum pernah ikutan nanam padi. Meski orang desa simbok bapakku gak punya sawah sih 😦
    Main ke sawah mentok cuma setelah panen buat guling-gulin di atas tumpukan jerami sama mandi lumpur sebelum sawah ditanami.

  2. rintadita says:

    ikut donk kalo panen, pengen ngerasain beras merah Munduk πŸ˜€

  3. johanesjonaz says:

    Boyok rasane ceklek El, tapi yang paling parah itu paha bagian dalam dan pantat.. rasanya sakit banget. “:)

  4. johanesjonaz says:

    6 bulan dari sekarang.. jadi siapkan cuti bulan Juli πŸ™‚

  5. Kalau uda panen, kirimin 1 kg beras merah ke Jember yak Jon! πŸ˜€

  6. johanesjonaz says:

    satu ton aja sekalian, biar truknya penuh πŸ™‚

  7. kazwini13 says:

    Seruuuuu pengalamannya πŸ‘πŸ‘πŸ‘
    Pake baju adat bali lebih cakep deh huhahaha

  8. johanesjonaz says:

    huehueheehueh.. ke Bali yuk… kamu sih ga mau ikut

  9. kazwini13 says:

    Yuuuuk bali yuk Ubud… Mueheheheee
    Kmren aku ngapain ya ga ikut?

  10. johanesjonaz says:

    ubud udah terlalu komersil, lagian bakal membuka luka lama, hahahahaha…
    kemaren lu bilang lagi nggak mau kemana2.

  11. kazwini13 says:

    Jadi kemana dong beb untuk memulai cerita baru? πŸ˜ͺ
    Oia.. Hujan.. Malas kemana2 gini coba

  12. johanesjonaz says:

    ke Cirebon gimana? πŸ˜›

  13. Seru sekali ya. Jadi pengen nyoba.

  14. kazwini13 says:

    Duh… Cukup sudah cukup sudah

  15. johanesjonaz says:

    cukup sudaaaah kukatakaaan untuk sekian kali… aku sayang kamu..

  16. chris13jkt says:

    Seru banget pengalamannya, Jo. Pasti nikmat banget ya makan di sawah sehabis bekerja begitu.

  17. danirachmat says:

    Salam kenal! Seru perjalanan semacam withlocals ini (seharian ini baca banyak yang update soal website ini). πŸ™‚
    jadi beneran pengen kasih surat resign trus jalan-jalan dengan pengalaman kayak gini deh.

  18. kazwini13 says:

    sudikah dirimu… untuk jadi… pacarku… uwooooo

  19. johanesjonaz says:

    sangat mas Chris… suasananya, obrolannya, kehangatan keluarganya… pokoknya nggak ada duanya dah..

  20. johanesjonaz says:

    mumpung masih muda bung Dani… ayo segera wujudkan!

  21. danirachmat says:

    Segera setelah anak saya sudah agak besar! πŸ™‚

  22. johanesjonaz says:

    sip! turut mendoakan..

  23. Andre says:

    Keren, sekali-kali kekampung saya ya, padang, nti main kabau kita πŸ™‚

  24. johanesjonaz says:

    Siyap! Ditunggu undangannya heheheh

  25. Monggo monggo. Ide bagus. :))

  26. kazwini13 says:

    Jadi kita jadian nih beb? 😁😁😁

  27. kazwini13 says:

    πŸ‘―πŸ‘―πŸ‘―

  28. Andre says:

    Udh diundang nih πŸ˜€

  29. Ah pasti seru sekali bisa ikut menanam padi di Bali. Dan aku masih penasaran dengan upacara kematian di sana.

  30. chandra says:

    mantaaaaaap, appreciate bgt sama kesungguhannya, sukses bang πŸ™‚

  31. Halim Santoso says:

    Bli…mo balik ke Munduk enam bulan lagi ya? Kabari ya bli πŸ˜€

  32. buzzerbeezz says:

    Pasti rasa capeknya jadi gak terasa ya mas Jo. Sepadan dg kepuasan hati. Hehe

  33. Messa says:

    Jo, cakep kamu dalam baju Bali πŸ˜€ jadi apakah kamu akan kembali 6 bulan lagi utk panen? πŸ™‚

  34. johanesjonaz says:

    Kapan waktu yg tepat Ndre?

  35. johanesjonaz says:

    Bulan Februari ada ngaben massal di munduk.. Silahkan kesana πŸ™‚

  36. johanesjonaz says:

    Betul.. Memang capeknya nggak bisa ngalahin pengalaman yg luar biasa ini

  37. johanesjonaz says:

    Hahahah… Makasih, nanti edisi berikutnya ada cerita aku dikasih bama Bali sama teman2 disana πŸ™‚

  38. omnduut says:

    Pake baju adat Balinya keren mas Jo. Dan… aku ketawa baca bagian ini “Yeah, I can see that.. they work 10 times faster than you” hehehe

  39. johanesjonaz says:

    Heheheh makasih om ndut

  40. winnymarch says:

    di Kupang makannanya jg gitu

  41. winnymarch says:

    lupa namanya hahaa

  42. samsul hudha says:

    hahahaha… keren, Jo! Blending with local gitu.

  43. johanesjonaz says:

    Hehehe… Kesempatan emas..

  44. johanesjonaz says:

    Ada temen disana Engku… Aku diajak kesitu.. Pertamanya sih mau liputan ngaben, tapi berhubung desa munduk lagi ada musibah jadi acara ngaben diundur. Jadilah saya menjadi penduduk lokal

  45. samsul hudha says:

    Ooooh.. jadi begitu ceritanya.

  46. coretanlepas says:

    Sing moco serasa nang Bali pisan mas hahahaha

  47. coretanlepas says:

    Reblogged this on Coretanlepas and commented:
    Rasa personal dalam tulisan itu penting. Nih tulisan mas Jo contohnya. πŸ™‚

  48. johanesjonaz says:

    πŸ™‚ mosok seee?

  49. coretanlepas says:

    gak se, keroso kyok nang semboro. Jujur, ragu aku sing sameyan tandur 6 ulan engkas iso dadi beras. hahaha

  50. johanesjonaz says:

    Jangankan kamu, aku dewe yo gak percoyo kok hahahahaha

  51. Andre says:

    Tergantung akang saja.. Hehe..saya mah sllu,siap sedia
    085658438540

  52. rommel says:

    I LOVE YOUR BLOG! I love reading your stories. Feels so real. And pastoral feel, it really gets to me, and sure to your other readers as well. Loving the characters you bring in, and how you go deeper on knowing them, and describing them, just by those mere conversations. I really love your stories. You bring the little details to the stories that still count. It really is like reading a book.

  53. johanesjonaz says:

    :), you’re very sweet one Rommel! Thank you…
    You know what? Whatever comes from a heart, it will come up to a genuine and vivid result. I see this also in the pictures you posted in your blog. I can feel it πŸ™‚

  54. ary amhir says:

    hehehe.. gemblung, modal klambi 125ewu dadi wong mbali. kengken?

  55. johanesjonaz says:

    hahahahah… sakti to mbak? kengken…

  56. ary amhir says:

    aku lagi nemoni pak lengkong, menehke browniese hahaha

  57. johanesjonaz says:

    heheheh suwun lho mbak πŸ™‚

  58. johanesjonaz says:

    It is amazing when we end up a journey to a place that completely new to us.. The culture, the history, the food, the way of life. Those things are strange but yet not impossible to understand.
    Now it’s time to say goodbye to Okinawa, next.. Welcoming Costarica perhaps?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s