Sukamade – Bagian Kecil Dari Meru Betiri

 

 

 

 

Kami diturunkan di sebuah pertigaan oleh pemilik truk yang kami tumpangi. Pertigaan itu sangat sepi, hanya kami sembilan makhluk penuh semangat untuk menapaki bagian lain TN Meru Betiri. Setelah membayar ongkos ala kadarnya pada sopir truk dan keneknya, kami menurunkan ransel dan peralatan camping kami dari bak truk.  Penampakan kami sudah tidak karuan, maklum debu jalanan selama 2 jam di bak terbuka menjadi make up kami. Mungkin karena ini tiba-tiba si kenek, yang berasal dari Madura, memberikan dua buah semangka buat kami.

Kami beristirahat sebentar di sebuah gubuk. Semangka pemberian mas kenek segera dipecah dan diperebutkan sembilan mulut kelaparan… tapi tiba-tiba… brrreeeeeeggggg gubrak! Panggung gubuk itu roboh jatuh ke tanah, membuat kami semua terhempas. Lalu sejurus kemudian, kami semua tertawa ngakak menertawakan kejadian barusan. Antara merasa bersalah dan takut ketahuan kami mencoba mendirikan panggung kayu tadi. Tapi dasar kayunya sudah lapuk, usaha kami sia-sia saja. Akhirnya setelah menimbang, kami membiarkan panggung kayu dalam keadaan rusak.

Kata si sopir tadi, pantai sudah tidak jauh lagi.. kami disarankan mengikuti jalan satu-satunya yang akan membimbing kami menuju panta Sukamade. Udara panas khas pantai sudah begitu membius kami.. ingin segera mandi di pantai dan bermain-main di sana. Namun, seperti biasanya… konsep “dekat” bagi kaum urban dan pribumi beda jauh. Kami merasa perjalanan yang kata mereka “dekat” ini begitu lama dan menyiksa… hampir satu jam berjalan kami belum juga menemukan tanda-tanda pantai.. di sepanjang jalan hanya ada pohon-pohon randu dan kebun kakao saja. Sebagian dari kami berhenti untuk beristirahat, dan sebagian lagi melanjutkan perjalanan tapi tidak meninggalkan yang lain. Begitu yang di depan tidak melihat yang belakang, otomatis barisan depan akan berhenti, menunggu sampai barisan belakang terlihat. Itu cara kami menjaga agar tetap bersama walaupun kondisi fisik kami berbeda.

Tak berapa lama kemudian, vegetasi yang menemani kami sedikit demi sedikit mulai berganti. Dari perkebunan kakao menjadi hutan dengan selingan savana yang tidak begitu luas… dan setelah beberapa kali tikungan kami sampai di pintu gerbang pantai Sukamade. Ada beberapa wisma yang terlihat cukup bersih, kantin, kantor dan toilet.. tapi… tidak satu orang pun ada di sana.. hanya gerombolan macaca yang menyambut kami dari jauh… sepertinya bersiap melakukan perampokan.

Ada sebuah gazebo, eh lebih tepatnya pos ronda, di depan kantor perhutani. Di sana sepertinya adalah tempat yang bagus untuk menaruh logistik kami. Beberapa dari kami segera melakukan orientasi, melihat papan peta yang tertancap kokoh di depan penginapan, dan.. mencari petugas yang berjaga.

Image

 

Image

Image

Advertisements

45 Comments Add yours

  1. Saya sukagadis:)
    *kabur sambil makan sop penyu*

  2. johanesjonaz says:

    sukagadis apa sukasadis ini?

  3. sukagadis yang sadis. ehhhh. kembali ke sukamade. kayanya menarik tuh ada hutan di sisi pantai. *culik gadis ke situ*

  4. johanesjonaz says:

    nah kaaaaaan…. suka menyadisi gadis ini mah…

  5. johanesjonaz says:

    mas.. dongeng tala mana? kok lama seeeee

  6. Hiyahahahahah! Nggak apa-apa sih kalau gadisnya juga mau:))

  7. Begini nih kalau kebanyakan bahan yang mau diposting. Suka bingung mau yang mana duluan. Haaahahha! Soookkkk!

  8. johanesjonaz says:

    request dongen tala pokoknya… cerita tentang babi!

  9. winnymarch says:

    kpn2 ngetrip sama yukk

  10. Ceritaeka says:

    Eh aku gak mudeng postingan ini. Ini brosur wisatanya gitu?

  11. johanesjonaz says:

    bukan, ini aku coba-coba bikin e-book.. kira2 kayak begini tampilannya. Isinya sih ya postingan jalan2ku hheheh

  12. johanesjonaz says:

    sek.. golek modal sek.. hahahahah

  13. winnymarch says:

    yg gk ngelaurin uang gitu haha

  14. johanesjonaz says:

    oalah… ya ke hutan mangrove surabaya… heheheheh

  15. winnymarch says:

    jauh amat ke surabaya hahah

  16. johanesjonaz says:

    lha kan.. ga ngeluarin duit akunya… huehuehue

  17. marikelamun says:

    Gw penasaran ni, Jo. Teaser ini tuh konten-konten majalah kah?

  18. johanesjonaz says:

    e-book cha… :P.. proyek pribadi sih.. mau meng e-book kan perjalananku 🙂

  19. marikelamun says:

    nge-layout juga sendiri juga? ahhh keren!

  20. johanesjonaz says:

    Template lah… Huehuehueheu

  21. Ceritaeka says:

    Wooow!!! KEREEEN!
    Kalau udah jadi aku mau baca yaaaa

  22. ranselhitam says:

    Ini sambil nunggu ebooknya jadi bisa kali saya gelar tiker sambil buka lapak kacang goreng 🙂

  23. johanesjonaz says:

    bisa… nitip lapak mie instan sama teh botol boleh gak?

  24. redbike92 says:

    ini teasernya apa kak Johanes
    ebook, website, opo opoan hehehe
    eh fbnya sampeyan apa kak bro
    sini tak addnya hahaha

  25. johanesjonaz says:

    weleh… hari gini masih main facebook? kekekekkeke aku lali fbku apa 🙂

  26. redbike92 says:

    weh anak Line (apa anak BBM wkwkwk)
    yo diinget-inget dulu kak bro
    (mekso.com)

  27. johanesjonaz says:

    anak whatsap dan twiter le…. #keplak

  28. tirsnine says:

    Jon lu jalon-jalan mulu, ajak gue dong! 😀 HAHAHA..

  29. johanesjonaz says:

    Ntar aja klo lu dah jadi artis SUC 🙂

  30. arievrahman says:

    Kak, kok teaser melulu sih? 😦

  31. johanesjonaz says:

    ya kan aku laki2 penggoda… 🙂 wkwkwk

  32. arievrahman says:

    Ajarin bikin ebook dong kak 😦

  33. chris13jkt says:

    Udah jadi belum ini e-booknya, Jo? Koq perasaan masih teaser terus. Atau aku yang kurang info nih? 😛

  34. johanesjonaz says:

    belum, masih males 🙂

  35. windapontoh says:

    “Namun, seperti biasanya… konsep “dekat” bagi kaum urban dan pribumi beda jauh.”

    Aku juga sering banget tuh ngalamin. Terakhir yang pas di Bira kemaren, mau nyari pantai Bara, katanya palingan 30 menitan nyampe, aku jalan 1 jam 15 menit, pantainya nggak ketemu-ketemu juga. Duuuuhh… *cerita lengkapnya sih baru akan diposting di blogku* 😀 😀

  36. rommel says:

    Merry Christmas, Jonaz!

  37. anislotus says:

    Wah ini nih… masuk list perjalanan selanjutnya kalo ke banyuwangi lagi (meski gatau kapan :mrgreen: )

  38. johanesjonaz says:

    Jangan musim hujan pokoknya… Beceknya parah 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s