Khidmatnya Pemujaan Waisak di Borobudur

Image
Fotografer Satria Marsudi Nugraha
Kamera NIKON D90
Lensa 18-105mm
Focal length 220 mm
Shutter speed 10/40
Aperture f/5.6
ISO/Film 3200
Kategori Arsitektur/Lansekap
Tanggal Upload 23 April 2013

Sumber foto : http://www.djiesamsoe.com, fotografer : Satria Marsudi Nugraha

Magelang, Mei 2012.

Malam itu, Candi Borobudur berubah menjadi sebuah altar pemujaan. Kemegahan candi peninggalan wangsa Syailendra ini begitu menawan. Stupa utamanya, perlambang Arupadatu โ€“ Nirwana yang tak berwujud – disorot lampu yang sangat terang. Dengan latar belakang langit biru kelam serta bundaran purnama utuh, altar ini terlihat sangat sakral. Sebentar-sebentar kabut tipis merayap di antara puluhan stupa-stupa kecil di bawah stupa utama, menjadi pembangun suasana mistis dan kekhusyukan. Patung Buddha emas sengaja ditempatkan di atas panggung menjadi pusat altar. Panggung pemujaan dipenuhi oleh para banthe dan biksu berpakaian kuning-coklat melantunkan mantra dan doa yang menggema di udara.

Di sebuah sudut dekat kaki panggung, saya duduk bersila. Saya memejamkan mata sembari mengalunkan doa mensyahdukan Sang Kuasa dengan ucapan syukur atas anugerah ilahi seiring dengan terlepasnya doa dan permohonan yang terpanjatkan melalui lampion yang baru saja saya lepaskannya ke udara.

Cakrawala Borobudur yang biasanya pekat, malam itu berpendar indah karena ribuan cahaya kuning dari lampion-lampion yang membubung tinggi, mengangkasa yang dilepaskan bersama-sama oleh seluruh umat Buddha dan pengunjung yang hadir di pelataran candi Borobudur malam itu.

Malam itu adalah puncak perayaan Waisak tahun 2012 Masehi/ 2556 BE. Segenap umat Buddha dari penjuru nusantara berkumpul untuk merayakan hari besar ini. Utusan dari negeri lain juga terlihat hadir mengikuti kebaktian ini; Myanmar, Thailand, Veietnam, bahkan Tibet.

Perayaan Trisuci Waisak bagi umat Buddha pada hakikatnya adalah untuk memperingati tiga peristiwa penting dalam agama Buddha. Yang pertama adalah kelahiran Pangeran Sidharta Gautama, lalu pencapaian penerangan agung Sidharta Gautama sebagai Buddha di Buddha-Gaya dan yang terakhir adalah pencapaian nirwana/ wafatnya Sidharta Gautama.

Perayaan Trisuci Waisak di Indonesia sangat unik karena ada beberapa prosesi yang harus dilakukan. Prosesi pertama adalah Pindapata. Para Biksu dan Biksuni akan berjalan berkeliling sekitar rumah penduduk sambil memanjatkan doa. Dalam kesempatan ini, umat Buddha berkesempatan untuk memberikan sesuatu untuk mereka, biasannya berupa barang-barang keperluan sehari-hari. Ritual ini dimaksudkan untuk menggambarkan kehidupan sang Buddha yang selalu berkelana dan hidup dari pemberian umatnya.

Prosesi kedua adalah mengambil air suci dari mata air Umbul Jumprit dan dibawa ke Candi Mendut. Air dalam ritual ini dipercaya sebagai sarana untuk mengalirkan kebaikan. Prosesi selanjutnya dilanjutkan dengan pengambilan api abadi dari Grobogan. Api melambangkan semangat manusia untuk selalu merindukan pencerahan dalam hidupnya. Seperti air dari Umbul Jumprit, api abadi ini juga disemayamkan di Candi Mendut.

Api dan Air yang telah disemayamkan di Candi Mendut selama sehari selanjutnya diarak menuju Candi Borobudur dengan berjalan kaki. Ribuan umat berjalan bersama para biksu dan biksuni dari Candi Mendut menuju ke Candi Borobudur. Arak-arakan ini biasanya dimeriahkan dengan pawai kostum dari perwkilan umat Buddha di Indoneonesia. Beberapa umat terlihat berpakaian seperti kera sakti legendaris Sun Go Khong dan teman-temannya. Ada pula pertunjukan seni seperti tari-tarian dan musik drumband serta arak-arakan persembahan untuk Buddha berupa buah dan sayur-sayuran yang dihias sedemikian rupa.

Saat malam menjelang, semua umat berkumpul di pelataran Candi Borobudur yang menjadi pusat ibadah. Hujan sempat mengguyur sore itu, namun sepertinya semesta memberikan nikmat yang luar biasa setelah itu; udara yang sejuk dan cuaca yang cerah gara umat Budha bisa bersembahyang dengan khidmat. Setelah acara protokoler berupa sambutan dan doa, prosesi selanjutnya adalah Pradaksina. Pradaksina merupakan bentuk penghormatan tertinggi kepada Sidharta Gautama. Para Bante diikuti oleh seluruh umat Buddha, berjalan sambil memanjatkan doa mengitari Candi Borobudur sebanyak tiga kali searah jarum jam. Para umat berjalan dengan khidmat sambil membawa sebatang lilin sebagai penerangan. Di kaki candi, diletakkan ribuan dian-dian yang berjajar sebagai permohonan pada Sang Buddha. Sungguh, bagi saya bagian ini adalah ritual yang sangat mengagumkan.

Prosesi ditutup dengan pelepasan seribu lampion. Lampion ini berbentuk tabung bulat berdiameter lebih kurang 60 sampai dengan 75 centimeter, terbuat dari dari kertas yang sangat tipis dengan bambu sebagai kerangkanya. Di tengahnya ada sumbu dan minyak sebagai bahan pemanas agar lampion itu bisa terbang ke angkasa. Butuh 3-4 orang untuk mempersiapkan penerbangan lampion ini. Pada masing-masing lampion dituliskan nama pemilik lampion tersebut dan sesaat sebelum dilepaskan, si empunya lampion diperbolehkan berdoa memanjatkan satu permohonan pada semesta sebelum melepas lampion itu terbang.

Perayaan Waisak di Borobudur adalah perayaan yang sangat unik. Akulturasi budaya India, China dan Jawa berbaur menjadi satu sehingga tercipta budaya multirasial yang sangat mengagumkan, di sini, di Indonesia. Atraksi perayaan Tri Suci Waisak di Borobudur sudah menjadi agenda internasional dan menjadi incaran para pengamat budaya dan para wisatawan. Sungguh sangat membanggakan dan hukumnya sangat wajib untuk menjaganya tetap lestari.

Blog ini diikutersatkan dalam lomba blog Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia.

Image

Image

Image

Advertisements

30 Comments Add yours

  1. dhaverst says:

    wah ikot ikot rame juga… yah?

  2. kazwini13 says:

    Bagus ceritanya…
    pokonya semoga menang hahaha :p

  3. marikelamun says:

    Waisak 2012 nggak seheboh dan se-kurang-ajar Waisak 2013 kan, Jo? Hehe

  4. yusmei says:

    Belum pernah ke borobudur pas waisak, padahl dari solo paling cuma 3 jam…hehe. Cuma males desak2-an, makanya belum pernah nyoba ๐Ÿ™‚

  5. johanesjonaz says:

    gak Cha, tahun lalu tertib dan khidmat.. makanya nggak dikasih hujan.. kalo tahun ini kan banyak yg kurang ajar.. makanya diguyur ujan biar gak bisa liat lampion

  6. johanesjonaz says:

    Wajar kok, yang domisili dekat lokasi pasti belum pernah liat. Dimana-mana sama, gw aja juga belum pernah lihat Kasodo di Bromo yg notabene deket banget dari SUrabaya… hehehhe alasannya juga sama : malas desak2an

  7. dhaverst says:

    ndak ah,, ntar di buli

  8. johanesjonaz says:

    siapa yg membully? sini tak santape..

  9. fitriirma says:

    Saya berangkat pas waisak yg taun ini, berarti tergolong yg kurang ajar donk mas Jo ?? Sedih,, pdhl pengin bener2 liat prosesinya, uda dibelain jauh n capek2 pdhal ๐Ÿ˜ฆ

  10. johanesjonaz says:

    jiahahahhaha… kurang ajar itu maksudnya fotografer2 yg naik ke stupa/ mimbar saat bante sedang berdoa.. atau ngambil foto close up muka bhiksu yang hanya berjarak 10 cm dari kamera, trus cekikian sendiri pas acara ibadah…

  11. fitriirma says:

    Iya uakeh itu orang2 pake aksesoris kalung kamera SLR. Aku pdhl cm bermodalkan kamera HP dan gada poto2 biksunya. Tpi ikutan diguyur ujan jg. Pulangny dpt bonus muteri pelataran krn lupa parkir dimana *what a great Waisya’*

  12. yusmei says:

    destinasi jauh kadang dianggap lebih seksi ๐Ÿ™‚

  13. johanesjonaz says:

    apalagi perginya pake bikini ๐Ÿ˜›

  14. arip says:

    Ke candi ini pas study tour SMA. Dan saya kira ini candi cuma sebatas museum aja.

  15. johanesjonaz says:

    kalo sekarang pemahamannya lain kan?

  16. arip says:

    Tempat ibadah yg dikomersialkan.

  17. arip says:

    Eh btw mau curcol. Akhir2 ini jadi sering dpt pesan subliminal kalau saya kudu nyoba jadi treveler. Solusinya gimana nih bang?

  18. johanesjonaz says:

    pesan subluminalnya gimana? baik ato buruk?

  19. Wah keren bgt foto-fotonya.. Blm pernah si liat perayaan Waisak di borobudur langsung..

  20. johanesjonaz says:

    Bagus banget kok.. Kapan2 dicoba ๐Ÿ™‚ yg paling atas bukan doto saya lho ๐Ÿ™‚

  21. Haha iya2. Harus nunggu tahun depan dong.

  22. rommel says:

    Fascinating! Very fascinating. Such events that I want to witness. The fact that it is being observe from different countries fascinates me. Amazing how you find so much common ground such as religion and worship, and tradition amongst nations.

  23. johanesjonaz says:

    Thanks mate.. You should come and see this ceremony someday..

  24. Nafismudhofar says:

    gak suka sama kekisruhan yang terjadi! saya sangat menyesalkan ulah oknum yang kurang mengerti arti menghargai kehidupan beragama! salam kenal, saya nafis dari bandung! mampir ke blog saya ya, pake aja sandal nya, anggep aja rumah sendiri! ๐Ÿ˜›

  25. johanesjonaz says:

    makasih sudah mampir…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s