Taman Nasional Alas Purwo – Pesona Pantai Plengkung dan Petualangan Seruku

Stasiun Jember mendadak menjadi gempita padahal masih dini hari. Beberapa penumpang turun, termasuk saya, Septy, Primma, dan Anni mereka adalah teman sepetualangan saya kali ini. Kami masih mengantuk namun udara dingin memaksa kami untuk tetap bergerak. Saya merogoh telpon genggam yang ada di saku jaket saya dan segera menekan nomer kontak Mas Solihin, teman saya yang akan menghantar kami mengunjungi salah satu tempat ajaib ujung timur Pulau Jawa.

Suasana riuh di stasiun kembali menjadi tenang. Satu persatu penumpang beranjak meninggalkan stasiun, termasuk kereta malam Mutiara Timur yang melanjutkan perjalanannya menuju Banyuwangi, tinggal saya dan teman-teman saya yang menunggu jemputan. Udara dingin semakin menggigit, membuat duduk kami semakin rapat di atas bangku kayu di stasiun tua itu.

Tigapuluh menit berlalu, dari kejauhan terdengar suara deru mobil dan headlight yang menyala terang. Kendaraan 4WD berwarna biru tua berhenti di pelataran stasiun. Kami beranjak dari tempat duduk kami dan menyongsong Mas Solihin. Suasana kental percakapan antara sahabat lama yang jarang berjumpa mengiringi perjalanan kami ke Alas Purwo.

Tepat tengah hari, mobil yang kami kendarai memasuki desa Tegal Dlimo. Desa ini adalah pintu masuk kawasan konservasi Taman Nasional Alas Purwo. Kami disambut dengan deretan pohon jati yang mulai meranggas. Jalan utama dipenuhi oleh daun-daun kering membentang kecoklatan dan kami melintas diatasnya, seperti rombongan para raja yang disambut dengan hamparan permadani.

Di sepanjang jalan kami melihat beberapa ekor merak yang melintas. Unggas berwarna hijau metalik itu memang salah satu satwa penghuni Taman Nasional Alas Purwo selain banteng, beberapa spesies kucing besar dan ular.

Semakin masuk ke area, vegetasi mulai berubah. Hutan komoditi yang awalnya menemani kami kini berubah menjadi hutan heterogen daratan rendah. Mas Solihin menunjuk beberapa pohon beserta namanya. Di antaranya kepuh, kedondong hutan, bendo, kedaung, dan beringin. Yang terakhir disebutkan yang saya tahu, lainnya baru kali ini saya melihatnya.

Kami tiba di sebuah pantai yang sangat asri. Hamparan pasir putih yang luar biasa besarnya dan tidak ada satu sampah pun yang terlihat. Sepi, hanya deburan ombak yang saya dengar. Pantai ini bernama pantai Trianggulasi. Namanya diambil dari titik ikat pengukuran dan pemetaan yang berada pada 500 meter utara pantai. Pada bulan-bulan tertentu, pantai ini digunakan oleh beberapa spesies penyu seperti penyu belimbing, penyu sisik, penyu abu-abu dan penyu hijau, untuk bertelur.

Tak jauh dari pantai, ada pondok milik perhutani yang bisa kami sewa untuk bermalam. Kami segera mengeluarkan logistik yang kami bawa dan menyiapkan makan malam. Kebetulan penjaga pondok baru saja mendapatkan ikan segar hasil memancing, kami membeli beberapa dan membuat ikan bakar. Malam itu kami mengisi perut kami dengan nasi liwet dan sayur nangka, ditambah ikan bakar dan sambal kecap. Ah nikmat… apalagi dinner istimewa kami ditemani ribuan bintang yang menghias langit Alas Purwo.

Pagi-pagi buta kami sudah berada dalam kendaraan yang membawa kami melintasi jalanan hutan menuju ke pantai lain. Berada pada ekosistem hutan memang tidak mudah. Meskipun ada trek yang sudah disediakan namun tetap saja kondisi alam tidak bisa diprediksi. Medan yang lumayan berat harus kami lalui, dari jalanan berbatu hingga lumpur yang bekas kubangan kerbau liar. Bahkan, perjalanan kami sempat dihentikan sejenak di bibir sungai. Mobil kami harus turun menerabas aliran sungai kecil karena jembatan penghubung sedang rusak. Hal ini membuat kami sempat khawatir, bukan pada kemampuan kendaraan yang kami pakai tapi lebih pada penghuni sungai itu. Bayangkan jika ada ular yang tiba-tiba nongkrong di kap atau buaya kecil yang nyelonong masuk lewat kaca pintu samping mobil yang sudah macet. Hahahah…

Tak berapa lama, kami tiba di sebuah pantai yang penuh dengan orang kulit putih. Saya pikir kami sudah menyebarang ke Bali, tapi ternyata tidak. Kami masih berada di kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Ada sebilah papan dengan tulisan “Welcome to Plengkung”, rupanya kami berada di Pantai Plengkung, surganya para peselancar air. Wisatawan asing lebih mengenal pantai ini dengan nama G-land. Huruf G mungkin adalah inisial dari Grajagan, tempat terdekat di daerah itu. Menurut petugas yang berjaga, ombak di pantai plengkung terjadi karena arus bawah laut dari palung membentur dinding karang sehingga membentuk gelombang yang panjang dan tinggi, inilah yang menjadi incaran surfer pemburu ombak.

Hanya ada pondok-pondok kayu sebagai sarana akomodasi dan aula bertingkat untuk memantau keadaan ombak. Kami sempat berbincang-bincang dengan peselancar dari Australia yang sudah beberapa kali ke tempat ini. Buatnya, ombak di pantai ini tidak kalah dengan Hawaii. Beberapa dari mereka menamai ombak-ombak yang ada di sini dengan sebutan Speedy, Money Tree, Chicken Break dan lain lain. Mereka rata-rata lebih suka pantai ini karena Plengkung lebih asri, lebih terisolir karena dikelilingi oleh hutan dan tentu saja lebih murah karena letaknya yang tidak jauh dari benua Australia. Transportasi bisa dilakukan dengan speed boat dari Bali melalui darat via Banyuwangi. Rata-rata mereka tinggal lama, bahkan ada salah seorang peselancar yang sudah tiga minggu berada di tempat ini. Saya yang bukan peselancar saja betah berlama-lama di tempat ini, apalagi mereka.

Kami kembali menyisir hutan menuju gua-gua yang banyak terdapat di Alas Purwo. Suasana mistis begitu kental. Konon tempat ini adalah tempat meditasi. Ada banyak cerita mistis yang tersiar, salah satunya adalah perempuan tua yang tinggal di dekat gua jepang yang mampu mengangkut balok kayu ratusan kilogram. Sayangnya saya tidak menemukan sosok perempuan itu.

Kami berniat kembali ke penginapan saat matahari sudah meredup. Jalanan sudah mulai gelap dan suasana begitu sepi. Tidak ada lagi suara kicauan burung yang sepanjang hari kami dengar. Mas Solihin memang sengaja membawa kami pulang ketika sudah gelap, dia ingin memacu adrenalin kami dengan bersafari malam, tujuan kami sebelum ke beristirahat malam adalah : pos pantau Sedengan.

Sedengan adalah sebuah padang savana luas tempat para banteng berkumpul. Malam itu bersama petugas dari TN Alas Purwo kami mengamati banteng dari ketinggian menara. Dengan bermodalkan sepatu boot dan lampu senter khusus, kami berjalan menuju menara. Sepatu khusus setinggi lutut adalah keharusan, sepatu ini melindungi kita dari gigitan ular atau sengatan binatang berbisa yang banyak dijumpai ekosistem savana. Pemandangan saat sinar lampu senter beradu dengan tatapan mata banteng sangat membuat kami takjub. Kilatan cahaya hijau dari mata Bos Javanicus sangat indah, apalagi jika gerombolan besar banteng secara bersamaan beradu pandang dengan cahaya senter… Sangat indah! Sebentar sebentar kami mendengar lenguhan panjang dari banteng jantan… Begitu mendebarkan.

Perjalanan kami akhiri dengan kegiatan melepas tukik di pantai Ngagelan. Pagi itu sangat cerah. Setelah kami berkemas, kami menuju lokasi terakhir yakni Pantai Ngagelan. Di sini, beberapa jenis penyu secara berkala berkembang biak. Pada malam hari, penyu yang siap bertelur berenang menuju pantai lalu menggali pasir di dekat vegetasi dan menempatkan telurnya di sana. Hingga pada suatu masa, telur-telur ini menetaskan tukik yang akan kembali ke laut. Pantai Ngagelan memegang peranan penting dalam siklus hidup penyu, namun sayangnya penjarahan telur-telur penyu sering terjadi. Di pantai ini terdapat area konservasi untuk melindungi habitat penyu sekaligus tempat penyuluhan bagi masyarakat tentang ekosistem pantai dan pentingnya bagi habitat penyu.

Alas Purwo adalah salah satu destinasi favorit saya, jika ada kesempatan lagi, saya tidak akan berpikir dua kali untuk pergi lagi ke sana. Blog ini dibuat untuk  mengenang mas Solihin dan almarhum Pak De.

menara pantai ngagelan

Advertisements

29 Comments Add yours

  1. endah_banged says:

    Mohon informasi waktu kunjungan yang tepat ke alas purwo, surfing time dan saat melepas tukik. Waktu saya berkunjung ke sini sangat disayangkan karena tidak memungkinkan mengunjungi plengkung 😦 terima kasih..

  2. johanesjonaz says:

    Maret – Oktober waktu paling baik mengunjungi Plengkung.

  3. Badai says:

    ah, salah satu my dream destination! btw para pemula bisa belajar surfing di G-land jugakah? atau area ini khusus buat pro..

    btw koneksi inet-nya lagi jelek nih, jadi foto2mu ga muncul (atau jangan2 postingan ini tanpa foto?)

  4. johanesjonaz says:

    foto masih menyusul, karena waktu itu pake kamera film. ini travel jebot bro..

  5. Badai says:

    oh hehehe sip deh

  6. indrijuwono says:

    waktu itu destinasi impianku meru betiri.. karena kupikir paling timur. ternyata G-lands ini lebih timur yaa.. :p

  7. johanesjonaz says:

    heh.. mana tulisanmu? lu gak ikutan?

  8. Keren nama pantainya. Pantai Triangulasi. Berasa mainan sudut geometri :p

  9. johanesjonaz says:

    iye bener.. trianggulasi memang ngukur, tempat titik ukur letak geografis suatu tempat.

  10. indrijuwono says:

    lupa, belum.. dan lokasi touringnya udah on planning. hehee..

  11. marikelamun says:

    kali-kali ajakin gue kali jo heheh

  12. johanesjonaz says:

    ya kesini to kamu…

  13. chris13jkt says:

    Seru juga perjalanannya, jadi pengen lihat foto-fotonya juga nih Jo. Up load dong 🙂

  14. johanesjonaz says:

    masih di scan, ini perjalanan jadul mas.. fotonya masih pake kamera film yg 36 jepret habis itu dan banyak narsisnya heheheh

  15. chris13jkt says:

    He he he . . . memang buat scanning perlu waktu banyak sih ya Jo. Kebayang aja berapa roll yang habis waktu itu buat perjalanan yang seru begitu.

  16. johanesjonaz says:

    cuman satu roll, dan itu bukan punya saya 🙂

  17. nona says:

    Gue lagi maen2 ke microweb tetangga kok ya nemu nama Jonaz di sana.. Hahaha keduluan. Sukses, Jo! Sukses bikin aye penasaraaan pengen kesana 😥 (hiks.. iya gue anak jatim yg murtad. belom khatam semua daerahnya) 😥

  18. johanesjonaz says:

    nah kan… ayo melu Non… belum telat kok 🙂

  19. ranselhitam says:

    Banyuwangi itu salah satu daerah yang pengen saya explore, juawara banget keknya. Mulai dari pantai, taman nasional, gunung, & budayanya jugak. Betewe gutlak mas buat kontesnya. Saya malah belum nulis hihihi 🙂

  20. johanesjonaz says:

    Suwun.. Ayo eksplore banyuwangi

  21. Rahmat_98 says:

    Wah….satu lagi destinasi yang kudu masuk list nich

  22. Citra Rahman says:

    Ditungguin lho foto-fotonya… 😀

  23. johanesjonaz says:

    silahkan dikunjungi… worth it banget 🙂

  24. johanesjonaz says:

    lho belum muncul ya? sudah ada 3 biji itu..

  25. Citra Rahman says:

    Oh iya udah ada foto. Hih cuma foto diri gitu. Padahal pengen lihat foto alamnya. Bikin penasaran. 😀

  26. johanesjonaz says:

    Ini traveling jaman hebot waktu kamera dslr dan digicam masih jadi barang mewah…. Hiks

  27. Messa says:

    Dikit banget fotonya mas?

  28. dwisukmo2015 says:

    Mas solihin yg nganter itu ada nomer telp nya ga? Thanks ya

  29. waduh maaf Pak, saya sudah lost contact sama mas solihin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s