Loksado, bumi Dayak Meratus.

This slideshow requires JavaScript.

Pernah bermimpi untuk bertemu dengan suku Dayak? Sejak kecil saya sudah akrab dengan kata “dayak” ini. Di tempat saya tumbuh di Jawa Timur, perumpamaan atau kiasan yang menggunakan kata ini sangat populer. Mbah-mbah dan bulek/ budhe saya (mungkin mbah dan budhe teman2 juga) mengasosiakan kata dayak ini dengan suatu kumpulan/ jumlah yang banyak. Seringkali masyarakat Jawa (Timur) apabila melihat sesuatu yang sangat banyak; misalkan saja buah rambutan satu mobil pick up yang barusan dipetik, akan berujar, “wih rambutane sak ndayak” atau jika jumlahnya lebih banyak lagi, misalkan satu truk rambutan… mereka akan lebih lebay dengan bilang “wih rambutane sak taek (feces) ndayak“.. Maaf bukan maksud saya menyinggung suku tertentu, tapi saya hanya bercerita tentang anekdot masyarakat Jawa.

Pengertian mbah dan bulek saya tentang Dayak ini ternyata masih ambigu. Semakin besar, saya jadi mengerti jika mereka menganggap bahwa suku Dayak dengan suku Indian (suku asli Amerika) adalah sama. Ini bisa saya lihat jika mereka sedang menonton film koboy yang berperang dengan suku Indian, mbah dan bulik saya masih teriak “nDayake menang”. Saya secara pribadi minta maaf pada suku Dayak karena disamakan dengan suku Indian oleh Mbah-mbah saya.. (nyengir…)

Dan tentu saja, setelah dewasa pandangan saya tentang suku asli Kalimantan ini berubah 180 derajat. Mereka tidak sama dengan suku Indian seperti kata mbah dan bulek saya. Bahkan pada bulan Oktober 2011 lalu saya berkesempatan untuk bertatap muka langsung dengan suku Dayak Meratus yang tinggal di Loksado, Kalimantan Selatan.

Perjalanan saya berjalan kaki merambah perbukitan di pegunungan Meratus menuju ke air terjun Haratai menyisakan kenangan tersendiri. Beberapa kali saya melewati perkampungan suku Dayak yang masih berupa rumah panggung. Perkampungan ini sangat sepi dikarenakan penduduknya sedang bercocoktanam di ladang mereka yang jaraknya bisa berkilo-kilometer dari rumah mereka. Sesekali terlihat manula dan anak kecil yang beristirahat di rumah panggung mereka. Kolong di bawah rumah dipakai untuk memelihara hewan ternak, kebanyakan mereka memelihara babi dan ayam. Tidak ada teriakan “wu wu wu wu wu” seperti yang saya lihat di TV sewaktu kecil. Mereka hidup bersahaja dengan alam, dama, tanpa perang.

Beberapa kilometer dari perkampungan, saya melihat di sebuah lereng bukit ada asap yang mengepul.. Rupanya masayarakat suku Meratus sedang membuka lahan baru. Memang secara umum, masyarakat di pegunungan Meratus ini mengandalkan cara bercocok tanam yang berpindah-pindah. Mereka belum mengolah tanah secara tetap, setelah masa tanam selesai mereka akan membuka lahan baru untuk bercocok tanam sembari menunggu tanah yang yelah mereka olah sebelumnya kembali bernutrisi seperti sediakala.

Selain Air Terjun Haratai, kawasan Loksado juga terkenal dengan sungai Amandit dan Bamboo Raftingnya. Dengan rakit yang terbuat dari kumpulan bambu kuning, kita bisa menyusuri sungai Amandit yang bersiih dan jauh dari polusi. Perjalanan selama lebih dari 2 jam akan membuat kita mensyukuri anugerah Yang Maha Esa bagi bumi pertiwi ini. Dalam perjalanan menyusuri sungai Amandit, sesekali kita akan bertemu dengan suku Dayak yang sedang membuka lahan baru, atau anak-anak yang sedang bermain air di sungai dan mencari ikan.

Jika sudah lelah berpetualang, sempatkan untuk mencicipi makanan khas daerah ini, namanya ketupat Kandangan. Ikan gabus yang dimasak bersama santan kental dan dinikmati dengan ketupat bisa mengembalikan level energi seperti semula. Ada banyak warung yang menjual makanan ini di sepanjang jalan menuju Loksado.

Blog ini diikutersatkan dalam lomba blog Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia.

0024adbc135561dfd3eee9707c340694Sumber foto : http://www.djiesamsoe.com, fotografer : Dammer Saragih

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. nyonyasepatu says:

    Gak teriak wohoooooo

  2. johanesjonaz says:

    sonde… nanti ada kejadian yg diinginkan terjadi kalo teriak itu

  3. Woohhh! Gile! Banyak juga jalan-jalannya molo.

  4. johanesjonaz says:

    enggak mas, kebetulan aja .. 🙂

  5. riddick says:

    Para penulis terdahulu tentang Borneo, banyak melihat persamaan antara suku Dayak di Pulau Borneo dengan suku Indian-Amerika di Benua Amerika. Persamaan yang tampak di antara kedua suku bangsa tersebut berkaitan dengan keyakinan dan cara berperang. Franks S. Marryat yang tiba di Sarawak pada tanggal 8 Juli 1843 (lihat. King 1992:88) menulis bahwa, “The Dyaks are all very brave, and fight desperately, yelling during the combat like the American Indians”. Selanjutnya Gould (1909:5) menulis, “The Dayaks custom of head-hunting is founded on the same principal as that of scalp-hunting among the North-American Indians.” Persamaan dalam hal kenyakinan antara suku Dayak di Borneo dengan Indian Amerika juga dikemukakan oleh Marryat dalam King (1992:84) “The religious ideas of the Dyaks resemble those of the North American Indians; they acknowledge a Supreme Being, or “Great Spirit”. Di samping itu, cara hidup orang-orang Indian-Amerika dengan orang Dayak di Kalimantan juga mempunyai banyak kesamaan, mulai dari cara berpakaian, makanan, sampai pola pemukiman di wilayah terpencil yang tenang.
    Dengan melihat sepintas lalu mengenai tradisi dan budaya yang dimiliki oleh kedua suku bangsa ini, perlu mempertimbangkan anggapan Marryat tersebut di atas, apakah mungkin kedua suku bangsa ini berasal dari nenek moyang yang sama? Hal senada juga dikatakan Daldjoeni (1991:165) yang menulis “Bangsa Indian pun berasal dari Benua Asia. Cara boyong mereka lewat Selat Bering yang pada masa itu masih mudah dilewati pulau-pulaunya tanpa bangsa yang bersangkutan ahli dalam pelayaran.” Selanjutnya Daldjoeni (1991:176) menegaskan bahwa kelompok-kelompok yang paling dulu menyeberang Selat Bering adalah yang kemudian menurunkan bangsa Eskimo. Baru kemudian berbagai gelombang Mongoloid yang menurunkan berbagai suku Indian di Amerika. Pada masa yang sama, di daratan Asia, telah terjadi juga percampuran antara suku bangsa Kaukasus (Europaeide) dengan suku bangsa Mongol yang menurunkan suku bangsa Austronesia (lihat Soekmono, 1990). Dari kedua pendapat di atas semakin menguatkan anggapan bahwa asal usul suku bangsa Austronesia yang menurunkan suku Dayak di Pulau Kalimantan, bangsa Indian Amerika juga berasal dari Asia.
    Benua Asia yang dipisahkan oleh jajaran gunung-gunung, di sepanjang Gunung Himalaya ke arah selatan menuju Asia Tenggara dan ke arah Timur menuju Negeri Cina, telah memisahkan kedua suku bangsa ini. Selanjutnya, terjadilah proses migrasi dalam arah yang berlawanan. Suku bangsa Indian menuju ke timur dan selanjutnya menyeberangi Selat Bering untuk mencapai Benua Amerika, sedangkan suku bangsa Austronesia menuju ke selatan dan kemudian lewat empat buah sungai besar yang mengalir di Asia Tenggara menuju kawasan Nusantara.

  6. Rusly Cullen says:

    @riddick,, wooowwwwww,, keren banget karangannya,, yg semua orang tau tentang suku dayak mungkin cuman 10%nya saja,, masih banyak yang kami tutupi,,

  7. al says:

    Kalo menurut saya, karena kebetulan suka dengan hal yang demikian. Semua bangsa itu asalnya dari tanah nusantara barulah mereka menyebar ke berbagai daratan karena kondisi alam seperti bencana dan peperangan di masa itu. Kemudian di tanah yang baru mereka mengalami asimilasi budaya menyesuaikan kondisi setempat dan terus berkembang. Ada yang mengkreasikan alat musik yang dibawanya dari nusantara mungkin dengan penambahan beberapa aksen dan nota lagu yang khas, atau mungkin menikah dengan suku lain disana sehingga terjadi perubahan dalam bentuk wajah, tutur bahasa, hingga baju khasnya. Selian itu kulit mereka pun juga ikut menyesuaikan iklim disana, semisal kalo daratan yang bersalju kulit mereka lebih kemerahan, dsb. Begitupun orang papua, yang sangat mengherankan beberapa peneliti karena adanya suku berkulit hitam dengan bentuk wajah yang berbeda yang tumbuh di benua asia. Dengan kata lain migrasi orang-orang nusantara bisa terjadi karena adanya suatu pencarian baru akan kehidupan yang lebih baik dan ditunjang prasarana yang cukup baik di masa itu. Namun bagaimanpun bentuk asimilasinya, pasti akan ada suatu budaya leluhur yang tetap sama yang bisa dijadikan petunjuk akan keberadaan sebuah suku atau bahkan bagsa dimasa itu yang besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s