Tangis Tidung

Image

Satu kata untuk penduduk Jakarta : prihatin.

Jakarta yang begitu sumpek di hari biasa bahkan tidak bisa berleha leha pula saat liburan. Ini yang terjadi di Tidung; saya yang terlena dengan foto-foto cantiknya Tidung yang saya lihat melalui internet dibuat kecewa dengan kenyataan sumpek dan kotornya Tidung. Seolah saya pindah ke kampung kumuh pecinan, itu yang saya rasakan. Jelas ekspektasi saya berlebihan, dan yang patut disalahkan adalah para blogger yang mengulas Tidung tanpa mempertimbangkan realita.

Tidung sudah sedemikian dieksploitasi dan dikomersilkan. Ada ratusan travel agent yang menawarkan paket liburan ke Tidung dengan varian harga, mulai harga kelas kambing sampai VVIP. Yang membuat beda antara paket tersebut hanyalah transportasi, akomodasi, dan logistik. Kalo kelas kambing, cukuplah dengan kapal kayu overload penumpang, tidur dengan fan/ AC chang hong, dan makan ikan teri. Kalau memilih kelas VVIP tentu saja bisa naik speedboad ber AC, tidur dengan AC panasonic, dan ikan tongkol. Namun ada kesamaan yang didapat oleh pengunjung baik kelas kambing maupun VVIP; sama-sama melihat sampah stereofoam, naik sepeda butut, ย ketemu penduduk Jakarta lainnya yang memenuhi pantai dan jalan, serta melihat air laut yang mulai keruh.

Saya sempat stress, perjalanan laut yang harus saya tempuh selama dua jam lebih tanpa bisa menyelonjorkan kaki karena penumpang yang egois tidak mau berbagi space kapal yang sudah overload, tidak sebanding dengan apa yang saya lihat. Biasanya saya yang berapi-api dan selalu berkata : wow! kali ini hanya tertunduk lesu, kecewa melihat Tidung yang hanya indah di internet. ย Saya berpikir Tidung tidak begitu padat, penduduk lokal hanya beberapa orang saja dengan rumah kayu yang rindang dengan pepohonan, namun kenyataannya rumah rumah permanen berjejal persis seperti kawasan kumuh Jakarta, bahkan sampai di bibir pantai yang berjarak satu meter saja! Saya juga berpikir Tidung ini bersih, hanya sampah organik dari vegetasi pantai yang hanyut di laut; namun kenyataannya banyak sampah plastik dan non organik yang tercecar di jalan dan pantai. Saya sedih!

Jembatan cinta yang termasyhur berjejal penuh manusia narsis, sampai ke ujung Tidung kecil di timur. Banyak kayu yang sudah lapuk dan membahayakan pengunjung, jembatan cinta sangat tidak terurus. Saya hanya menghela napas. Untuk urusan snorkeling, saya memang tidak berharap banyak.. dan saya tidak begitu kecewa. Saya memang tidak bermimpi untuk melihat ikan pujaan pengemis moore, dan benar saya hanya melihat spesies ikan pelabuhan saja yang cukup terbiasa dengan roti yang memang disarankan untuk diberikan pada mereka oleh para pemandu Tidung. #tepokjidat.

Namun Tuhan memang baik! Di saat saya penat dan kecewa berat dengan Tidung, saya dibawa oleh sepeda butut saya ke sisi barat Tidung. Untung saja saya terpisah dengan teman-teman saya yang banci foto. Hanya saya dan Juli yang melanjutkan kayuhan sepeda kami meewati kampung yang semakin lama semakin sepi. Di penghabisan jalan berpaving, saya buru buru mengayuh sededa saya melewati jalan setapak dan ilalang…. Dan… saya menemukan surga! Sisi barat Tidung sangat menawan, kebun kelapa yang menjulang tinggi dan tertata rapi membuat udara menjadi sedikit teduh. Saya tetap mengayuh sepeda menyisir pantai selatan… hanya saya dan Juli tanpa hiruk pikuk manusia lain. Saya menghabiskan waktu lebih lama di barat Tidung. This is what I thought about Tidung, itu yang ada dalam benak saya.. dan saya girang sekali.

End.

Advertisements

20 Comments Add yours

  1. kayrena says:

    Kayak pak beye ajah jo. PRIHATIN *pukpuk :)))

  2. johanesjonaz says:

    huahahahah, pak beye lagi… busuk tuh orang..

  3. mas Gaptek says:

    Setahun y.l. saya pernah mau ke Tidung via pulau Pari, tapi karena ombak besar maka rencana ke Tidung batal, cuma sampai Pari saja. Kecewa pastinya, membayangkan jembatan cinta dan indahnya pulau Tidung yg batal didatangi. Tapi dari tulisan ini saya jadi dapat info yg lebih berimbang tentang Tidung dan realitanya..

  4. johanesjonaz says:

    Iya mas, semoga Tidung bisa berbenah diri jadi tujuan wisata warga Jakarta , makasih lho sudah mampir, it’s an honour… saya dapat ilmu banyak dari Dunia Digital

  5. fajar says:

    salut dgn raden joe yang makin canggih dgn gadgetnya, beautiful writing with much information inside, beautiful talent.

  6. johanesjonaz says:

    matur nuwun kangmas raden…

  7. nona says:

    Kali pertama saya main di Tidung, penduduk lokal justru bilang “mau ngapain main di Tidung, Mbak?” karena tidak pernah ada orang yg berkunjung ke sana untuk liburan. Pengunjung masih bisa dihitung dengan jari. Bahkan saya buka tenda untuk tidur karena ngga ada penginapan dan dapet sumbangan nasi plus sayur lodeh dari penduduk lokal. Bukan ikan bakar. hehehe.. Urbanlegend nya juga masih sangat kental. Semua pemandangan memang cantik. Jauh berbeda dengan skrg yang terlalu kotor dan kumuh. Mungkin gerakan Mulung di Tidung perlu dilakukan lebih sering ya ๐Ÿ˜‰

    fyi, saat itu jembatan cinta belum ada. ๐Ÿ˜€

  8. johanesjonaz says:

    wih, tahun berapa itu mbak? pasti masih cantik si Tidung #mulaiberkhayal

  9. nona says:

    kalau nggak salah ingat 2008

  10. johanesjonaz says:

    ya ampun.. itu kan barusan.. skrg masyaampun kondisinya memprihatinkan

  11. nona says:

    Iya, kata temen-temen yang baru-baru ini ke sana juga begitu. Sedih liatnya.. ๐Ÿ˜ฅ

    travelling menggeliat tp sayangnya gak dibarengin sama etika bepergian yang baik.. *lho, inikok jadi curcol* ๐Ÿ˜€

  12. johanesjonaz says:

    hahahahha… iya.. bikin edutraveling yok

  13. nona says:

    Beuh.. lha wong saya ini masih awam lho mas.. Jalan-jalan juga masih sekitaran rumah ajah :p kok ya bikin edutraveling.. hehe

    Tapi sejujurnya saya akan dukung dan bantu sebisa mungkin! ๐Ÿ˜‰

  14. johanesjonaz says:

    hehehe just an idea kok mbak.. ๐Ÿ™‚

  15. nona says:

    ide seru.. mungkin bisa diwujudkan ๐Ÿ˜‰

  16. chiemayindah says:

    wah ni tulisan kayaknya bisa deh diikutin ke Love Journey 2 nih… sebagai informasi bahwa wisata alam itu tetap harus dipelihara keindahannya, bukan hanya dieksploitasi… oh ya linknya Love Journey 2 di blognya Lalu Abdul Fatah : http://lafatah.wordpress.com/2013/02/28/audisi-buku-love-journey2-mengeja-seribu-wajah-indonesia/

  17. johanesjonaz says:

    makasih udah diinfokan.. ๐Ÿ™‚

  18. johanesjonaz says:

    udah gw baca, syaratnya ribet dan harus promosi segala, mungkin lain kali.. but thanks anyway buat infonya.. ๐Ÿ™‚ #baliknulis

  19. chiemayindah says:

    hehehe .. iya sih… you’re most welcome ๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s