There’s something about Murhum… Melobi Wakatobi

Satu lagi taman nasional terpetakan dalam catatan perjalan saya.Ketika menerima ajakan teman saya untuk berjibaku ke Wakatobi… saya langsung mengiyakan, meskipun saya sebenarnya bukan pecinta lautan. Tapi demi mewujudkan cita-cita menginjakkan kaki di limabelas taman nasional di Indonesia, saya segera meyisipkan dana secukupnya.

Pioner! Hanya berbekal internet dan bacot, kami bersembilan berangkat; saya, Vine, Didik, Tj, Dori, Dean, Riri, Septy, dan Ike, tanpa ada satupun yang tahu medan yang akan ditempuh. Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya sempatkan untuk baca-baca artikel tentang wakatobi. Errr.. rada merinding sih, karena kebanyakan mbah google menyajikan info tentang kondisi cuaca di perairan yang akan kami datangi. Lebih lebih, siaran langsung dari blognya VYARA yang menulis kegagalannya menuju Wakatobi karena kapalnya harus balik ke dermaga karena ganasnya ombak, padahal Wakatobi tinggal sedayung-dua dayung lagi. Meski demikian, saya tetap membulatkan hati untuk berangkat. Pasrah saja dengan apa yang nanti terjadi, sambil tak lupa komat-kamit berdoa.

DAY 1 : Adventure Begin

Tanggal 20 Juni 2012 subuh saya sudah tiba di Juanda untuk terbang ke Makasar. Sebenarya rute terdekat untuk mencapai Wakatobi adalah melalui Kendari lalu ke Baubau, tapi dengan alasan pengiritan, kami terbang via Makasar dengan program promo Citilink dan dilanjutkan dengan Lion menuju Baubau (yang sejujurnya saya nggak tau dimana letak iritnya karena bedanya gak jauh-jauh amat hahahah).

Kami sampai di Makasar pukul 10.00 pagi. Ada kejadian yang mendebarkan saat saya check in pesawat Lion menuju Baubau dari Makasar. Saya sebenarnya sudah lama dongkol dengan maskapai penerbangan satu ini, tapi karena saya termasuk masyarakat kelas menengah dan butuh penerbangan banget, mau tidak mau saya harus berurusanlagi dengan maskapai ini. Ceritanya begini, Satu jam sebelum keberangkatan Riri dan salah satu teman sudah ngantri check in. Antrian lumayan panjang karena satu booth dipakai untuk banyak rute. Si Riri beberapa kali diserobot sama orang yang gak mau ngantri, Riri diam saja karena udah maklum dengan tabiat orang Indonesia yang gak suka ngantri. Dia pikir toh penerbangannya masih lama, asal dapat tempat duduk aja that’s fine. Nah, konyolnya begitu sampai di depan mbak tukang check in, tiba-tiba saja mesinnya nggak bisa nerima check-in tiket kami dengan alasan pesawat udah penuh karena ada beberapa teknisi yang ikut… Helooooo, bisa ya Lion menelantarkan penumpang demi teknisi?Kepala si Riri mulai berasap dan keluar tanduknya, dan yang lain mulai bereaksi. Ada yang memfoto, ada yang memvideo, ada yang mau ngacak-ngacak meja.. hahahha sangar! Dan somehow, kami akhirnya bisa terangkut dalam pesawat dengan diantar mobil khusus! Super deh teman2 saya ini… hahahah

Sampai di Airport Batoeambari, Baubau pukul 5 sore waktu setempat. Perjalanan kami teruskan menuju pelabuhan kapal Murhum untuk berlayar ke Pulau Wanci, pintu gerbang Taman Nasional Wakatobi. Entah kenapa saya suka dengan nama Murhum, sounds so dangdut dan lucu! Sejak saat itu saya selalu melafalkan kata-kata itu dan membuatnya populer diantara kami.

Perjalanan menuju Pulau Wanci seharusnya ditempuh dalam waktu 8 jam dengan menggunakan kapal motor, namun karena ombak yang agak besar perjalanan jadi lebih lambat.Kami meninggalkan dermaga Murhum pada pukul 9 malam dan merapat di pelabuhan Pulau Wanci pukul 6.30 pagi. Buat saya, ini adalah kali pertama saya naik kapal penumpang dengan waktu tempuh perjalanan paling lama. Kapal kayu dengan panjang 30 meter dan lebar 10 meter ini dibagi menjadi 2 dek. Dek bawah yang berada dalam badan kapal digunakan untuk mengangkut barang-barang dan kendaraan, sedangkan dek atas digunakan untuk mengangkut penumpang. Di dalam dek penumpang, tempat tidur dibagi menjadi dua sap, masing-masing sap dilengkapi dengan matras kumal seukuran manusia dewasa, disinilah anggota trip laki-laki berada. Di sisi depan, anggota trip perempuan kami tempatkan di kamar-kamar ABK yang disewakan untuk penumpang. Kamar ini sangat kecil, tetapi lumayan untuk berlindung dari terpaan angin laut malam hari. Sebenarnya KM Aksar yang kamitumpangi akan melanjutkan perjalanan ke Pulau Hoga (Pulau Kecil dekat Pulau Tomia) karena ada lusinan bule yang akan ke Pulau Hoga dalam beberapa jam ke depan, namun karena fisik kami yang sudah lelah karena terombang-ambing ombak semalaman, kami memilih untuk beristirahat sehari di Pulau Wanci.

Di Pulau Wanci, kami menginap di hotel Wakatobi, penginapan yang sudah terkenal di dunia backpacker bila berkunjung di Pulau Wanci. Setelah beristirahat, kami menyewa petepete (angkot) untuk mengantar kami ke daerah Waha (tempar restorasi terumbu karang). Konon kabarnya, perairan Waha dulunya adalah surga terumbu koral namun penduduk setempat melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan peledak yang merusak ekosistem ini. Benar yang kami dengar, meskipun saat ini sudah dilakukan restorasi namun tempat ini belum seutuhnya pulih, kami masih melihat sisa-sisa kerusakan terumbu karang di daerah ini. Sepanjang hari kami snorkeling dengan menggunakan sampan yang gampang oleng, banyak korban berjatuhan ke laut karena tidak bisa menjaga keseimbangan badan.

Penduduk di Wanci sangat ramah, kami dijamu teh hangat dan diijinkan untuk masuk ke ruang tamu mereka yang kursi tamunya laksana pelaminan. Kami menikmati makanan khas Wanci yang terbuat dari ubi singkong yang ditanak/ dikukus, namanya Kasuami dan dimakan dengan kuah ikan.

Tidak banyak yang bisa dilakukan di Wanci pada malam hari. Namun buat kami, selalu saja ada yang dilakukan! Kami membantu seorang ibu untuk berjualan gorengan sembari menunggu mie goreng pesanan kami. Disini terlihat keahlian tersembunyi kami; menggoreng pisang dan jadi pramuniaga.

DAY 2 : Pulau Hoga, the Little Hawaii

Selepas sarapan, kami melanjutkan perjalanan menuju Pulau Hoga. Dari penginapan kami naik angkot menuju dermaga Mola, tempat pemberangkatan ke Pulau Kaledupa, pulau kedua dari kepulauan Wakatobi. Waktu tempuh hanya 3 jam dengan ombak yang tidak begitu besar, bisa dibilang saya menikmati perjalanan kapal kali ini. Tak berapa lama, kami sampai di pelabuhan suku Bajo. Kami langsung menuju Pulau Hoga untuk menikmati kesunyian alam!

Jika ingin menghilang dari hiruk pikuk dan penatnya kota, Hoga tempatnya! Ada dua tempat untuk menginap di P. Hoga. Satu di Walacea dan satu lagi penginapan yang di kelola oleh Haji Kasim. Saya dan rombongan menginap di penginapan milik Haji Kasim. Untung saja waktu itu sedang sepi, jadi kami dapat tempat. Penginapan ini sangat asri, begitu turun dari kapal, saya disambut oleh hamparan pasir putih dan pantai yang tidak ada ombaknya sama sekali.Ada beberapa kursi pantai dan meja panjang. Disisi kanan ada gazebo kecil lengkap dengan hammock, lalu di sebelah kiri ada gazebo yang letaknya diatas karang, sedikit lebih tinggi dari bibir pantai. Identitas pulau ini tertulis pada beberapa buah guci yang tersusun rapi, membentuk kata “Hoga Resort”. Surga kecil yang romantic…

Hari itu juga kami menyewa sebuah perahu dan menuju ke perairan dekat dermaga Walacea, rupanya di sana ada sekelompok penyelam yang sedang menikmati keindahan bawah laut Pulau Hoga. Di sini saya dan teman-teman tidak menyelam, tapi kami menggunakan alat snorkel untuk melihat ribuan ikan yang hilir mudik melewati koral yang rapat. Nice!

Menjelang senja, saya kembali ke darat dan meikmati sunset yang kurang begitu “dapat” karena terhalang mendung. Memang cuaca sangat tidak bersahabat selama dua hari disana. Saya tidak mendapat foto yang bagus selain foto narsis bin alay. Setelah menyantap makan malam, kami main kartu dan menyalakan api unggun di pantai, kami bersembilan sangat gaduh tapi nggak ada yang peduli karena Pulau Hoga saat itu adalah milik kami! Andai saja ada beer dingin pasti lebih seru J #surga!

DAY 3 : Jackpot!

Kami bertolak menuju Pulau Tomia menjelang siang. Dengan diantar oleh pick up, kami seperti para tukang/ pekerja kasar yang berangkat bekerja dengan kulit legam dan muka kusam. Menyusuri jalanan desa yang masih asri dan kadang lubang disana sini, perjalanan kami menjadi sangat menyenangkan dengan joke joke dan bullying khas kami. Beberapa burung berwarna kuning dan biru cerah melintas, that’s really rare! Disini masih ada burung cantik bebas berkeliaran.

Kami harus menunggu satu jam lamanya di dermaga kecil di ujung pulau Kaledupa, pelabuhan Latiha namanya. Kapal tidak bisa berhenti di dermaga ini karena pantainya terlalu landai dan untuk menuju kapal besar kami diantar oleh taksi air (perahu kayu yang cuman muat lima orang) dengan ongkos 10.000/ kepala.Perjalanan ke Tomia adalah perjalanan laut paling berat buat saya. Ombak tak henti-hentinya menghantam kapal dan setiap kali ombak menghantam, air laut pasti masuk lewat celah-celah jendela. Saya sudah kliyengan mabuk laut dan ternyata bukan hanya saya seorang yang mabuk… semua anggota trip juga merasakan perut mereka diaduk-aduk. Ada beberapa orang yang memilih duduk bersandar untuk mengurangi efek ombak, ada pula yang sudah oles-oles miyak angin. Saya dan teman-teman bertahan…. Dan begitu kami sampai dermaga Tomia… voilaaaa tiga dari kami jackpot!

Sore itu kami tidak kemana-mana untuk memulihkan kondisi, beberapa cari kita ke warung untuk cari rokok dan mencari informasi tentang diving. Kami menginap di penginapan Abi Jaya yang cukup bersih dan homy. Setelah sepakat dengan pemilik kapal dan Dive Master yang mau ngantar kita menyelam besok, kami semua tidur… memimpikan surga bawah laut Tomia yang akan kami kunjungi besok

DAY 4 : Tomia Diving!

Pagi-pagi buta orang-orang udah pada ribut! Saya dong nggak bisa tidur! Excited karena mau diving, katakan saya katrok… tapi ternyata ada juga yang seperti saya yg gak bisa tidur, tapi bukan karena excited tapi lebih ke takut menyelam hahahahah…tapi biar demikian muka penipu mereka meyakinkan banget! Sok-sokan banget padahal snorkeling aja masih klelep dan panik..Okey Didik, Vine? Peace bro and sis! Kami sewa kapal yang kayaknya memang khusus buat diving… Nyaman banget! lengkap dengan geladak kapal yang dilengkapi shower air tawar.. biarpun sepertinya cuman hiasan doang karena pada kenyataannya shower cuman nyala selama 10 menit! L

Kami dibawa ke spot diving Magnifica dan Fan Garden, di sini Ike dan Dean yang turun sedangkan yang lain snorkeling.It was beautiful! Koralnya rapat dan penuh dengan ikan. Saya melihat beberapa bintang laut biru sebesar piring makan, ikan karang yang jenisnya ratusan dan koral lunak yang berwarna cerah.Perbedaan suhu air disini sangat drastis.. suhu air diperairan dangkal sangat dingin.. sedangkan jika saya berenang kearah perairan yang lebih dalam suhunya relative hangat. Saya sempat menggigil ketika air di perairan dangkal menyentuh badan saya. Di tempat pertemuan air hangat dan dingin ini saya melihat ribuan ikan kecil dan renik yang mengapung beberapa cm dibawah permukaan air.. bahasa kerennya plankton kali ya…Saya betah berjam-jam hilir mudik
dari ujung ke ujung menikmati ribuan ikan yang berwarna cerah, dan karena alasan temperature, saya berenang di perairan yang agak dalam… anehnya saya tidak takut! Biasanya saya langung panic dan berenang ke tempat landai begitu saya lihat gelapnya laut dalam dan dinding laut yang tiba-tiba curam.. bayangan monster atau predator laut langsung hinggap di kepala saya begitu saya lihat gelapnya laut dalam…

Keindahan bawah laut Maginifica dan Fan Garden tidak hanya di perairan dangkal saja, di tempat yang lebih dalam saya bisa melihat ratusan ikan yang berbaris hilir mudik membentuk tornado berwarna perak yang mengkilap jika terkena cahaya matahari. Belum lagi gerombolan ikan tuna yang berenang ketakutan dan menghindari kontak langsung dengan kami. Ini yang tidak saya dapatkan di perairan Flores.

Kapal kami bertolak ke spot diving yang lain, nah giliran para unyu untuk diving. Dive Master kami memilihkan lokasi yang tak jauh dari spot diving Mari Mabuk. Di sini arusnya tidak terlalu kuat dan tidak begitu dalam namun pemandangannya tidak kalah indah dengan spot diving yang lain. Saat itu baru keliatan siapa yang sok berani hahahaha, gak perlu sebut nama yaaa… tapi sadar diri, siapa yang nunjuk-nunjuk saya buat jadi korban pertama heheh…Sejujurnya saya juga keder… semakin kami dijelaskan prosedur dan teknis diving untuk pemula, semakin kami pucat. Setelah tiba saatnya turun ke laut, kami saling lempar siapa yang duluan jadi korban… hahahahaha dan tentu saja saya yang jadi korbannya! Kampret kalian!

Setelah dipasang peralatan dan sebagainya.. saya langsung panic… tapi mau gimana lagi udah kepalang tanggung akhirnya nyebur juga. Hampir 15 menit saya beradaptasi dengan peralatan diving. Saya gak mau sok-sokan, I took time as needed, saya gak peduli di olok-olok karena terlalu lama belajar napas pake tabung, yang penting saya merasa nyaman dulu… bête kali Dive Masternya sama saya heheh… bernapas dengan tabung selam rasanya sangat aneh, kayak robot ato orang cacat yang musti bernapas pake alat bantu… gak bebas banget dan tenggorokan jadi kering. Meskipun saya sering snorkeling tapi ini susah banget.. suara-suara udara di dalam tabung sewaktu kita bernapas sangat horror! Belum lagi kalo vestnya dikembangkempiskan dan buih udara yang kita keluarkan saat bernapas sangat mengintimidasi. Teori yang diajarkan seketika menguap dari otak, yang ingat cuman saya harus tenang dan bernapas dalam-dalam dan tidak panic… itu saja yang ada di kepala saya, selanjutnya… blank! Jadi kalo saya boleh kasih tips: untuk diver pemula resepnya cuman satu, selalu bernapas dalam-dalam… ini membantu banget menenangkan diri. Begitu diri tenang semuanya akan baik-baik saja dan pasti bisa menikmati diving kalian.

Begitu saya sudah bisa tenang dan mengendalikan diri, saya mulai dituntun ke tempat yang lebih dalam. Dive Master masih memegang tangan saya… Saya berenang sangat pelan dan menikmati satu persatu keindahan yang disajikan alam bawah laut Wakatobi… tidak berbeda dengan spot diving sebelumnya, di tempat ini saya juga melihat keindahan yang sama… hanya saja saya melihatnya tidak dari atas, tapi dari samping dan bisa berinteraksi dengan maklhuk laut yang malu-malu. Di kedalaman 7 meter, saya melakukan aqualise yang pertama kali, kuping cukup sakit… tapi saya bisa mengatasinya. Di kedalaman 10 meter tidak begitu banyak koral yang hidup, namun ikan yang saya temui ukurannya semakin besar dan tidak berwarna… Saya kembali lagi ke kedalaman tujuh meter dan kali ini Dive Master saya udah berani melepas saya sendiri. Saya berhenti di sebuah karang yang ditumbuhi koral cantik, namun bersembunyi ketika saya mendekat. Saya tunggu beberapa saat sampai makhluk itu keluar lagi.. dan rupanya saat itu saya difoto oleh Dive Master saya… ehm, langsung dong saya pasang gaya heheh…

Tigapuluh menit berlalu dan saya merasa berada di dunia Raja Neptunus, mermaid, Nemo.. sampai saya melihat bayangan di atas saya yang membuyarkan imajinasi saya.. ternyata teman saya lagi snorkeling di atas saya.. menyebalkan! Alhirnya Dive Master saya minta saya ke kapal… dan kami naik ke permukaan….

Di atas kapal saya kasih tips-tips ke anggota lain agar bisa diving (sesekali saya bohong dan menakuti mereka) dan berhasil! Didik masih belum berani nyebur hahahahah cemen! Dia masih pucat dan nyuruh yang lain masuk duluan. Akhirnya Riri yang tubuhnya paling kecil masuk juga…yang lain masih pucat… hehehe. Setelah menunggu 15 menit akhirnya Riri balik ke kapal… nah nyali yang lain mulai timbul, kali ini Didik dan Septy mau turun… FYI yaaaa.. si Riri nyebur biar bisa poto doang hahahaha cuman di kedalaman 2 meter bok… hihihihi (maaf dia protes.. kedalaman 3 meter ding…)

Setelah semua selesai diving kami dibawa ke spot Mari Mabuk… sayang banget matahari udah sembunyi di balik awan dan air sangat dingin jadi kami hanya sebentar snorkeling di sana lalu kembali ke penginapan… It was fun!

DAY 5 : Back to Wanci

Keesokan harinya kami bertolak menuju Wanci. Dari pengalaman sebelumnya saya sudah minum antimo untuk jaga-jaga biar nggak jackpot, dan it worked! Saya telelap dan rbangun setelah kapal berlabuh di Wanci. Setibanya di Wanci, sebagian dari kami memilih tinggal di penginapan dan yang lain kluyuran di perkampungan suku Bajo. Sayang sekali saya sudah terlalu lelah, dan saya memilih tinggal di penginapan dan melewatkan momen bagus bersosialisasi dengan masyarakat bajo…

Pukul sembilan malam, kami bertolak menuju Bau-Bau

Day 6 : Explore Baubau

Tepat pukul enam pagi, tanpa mabuk laut, kami semua mendarat di Baubau setelah menempuh perjalanan laut selama 9 jam. Dengan backpack segede gambreng, kami menyewa pete-pete untuk mengantar kami keliling Baubau. Masih bau jigong, kami mampir ke sebuah rumah makan untuk mengisi perut kami, baru kali ini kami makan enak! Selama di Wakatobi diet kami hanyalah telur dan nasi serta kuah baso, lebih lebih di Tomia… hanya satu warung nasi yang ada dan tiga kali sehari -mau tak mau-
kami menyantap hidangan yang sama selama dua hari penuh.. we Love you Ayu Lestari!! Gak mau lagi deh!

Para perempuan ingin tampil cantik, segera saya mengontak teman yang saya kenal di Baubau untuk menumpang mandi. Setelah tampil cantik (perempuan) dan tetap kumal (laki-laki) kami melanjutkan penjelajahan kami di kota Baubau. Kota Baubau sangat cantik, perpaduan antara teluk yang biru dan dan bukit menghijau. Ini baru saya sadari ketika saya berada di puncak bukit dan melihat ke arah kota Baubau.. so damned beautiful! Saya juga berkesempatan mengunjungi benteng terpanjang di Asia dan sisa sisa kerajaan Goa.. Di tempat ini saya baru sadar ternyata Murhum adalah nama salah seorang Sultan yang pernah menjadi Raja di kerajaan ini. Hormat buat Sultan Murhum! Dan dengan ini kami sah menjadi Klan Murhum! Hahahha

Sopir pete-pete yang kami sewa membawa kami ke subuah air terjun di bukit. Setipe dengan air terjun Bantimurung, disini banyak endapan kapur. Agak jauh dasi sana, ada sebuah resort yang sangat cantik di tepi pantai. Kami menyempatkan makan siang di tempat ini… wih senangnya kembali ke peradaban…

Day 7 : Makasar, End of the journey

Kami sampai di Makasar pada sore hari, masih dengan energi yang tersisa, malam itu kami sempatkan untuk menikmati kehidupan malam di kota Makasar, tak lupa wisata kuliner dan belanja oleh-oleh sebelum pulang balik ke tempat asal… cape deeee.

How to get there and budget cost

Saya naik citilink dari Surabaya ke Makassar, dengan tiket return Rp. 418.000. Sampai di Makasar lanjut lagi ke Baubau dengan Lion, harga tiket Rp. 589.000. Sampai di airport baubau kami menyewa angkot untuk ke pelabuhan Murhum dengan ongos Rp. 175.000. Selanjutnya kami menuju ke Pulau Wanci dengan KM Aksar, dengan biaya Rp. 103.000/orang dan bila sewa kamar bisa nambah ongkos Rp. 40.000/orang.

Sesampai di Wanci kami menginap di Hotel Wakatobi dengan ongkos Rp. 185.000/malam. Sewa angkot untuk snorkeling ke Waha Rp. 10.000/orang, bisa janjian dijemput dengan sopir angkotnya. Keesokan harinya menjuju ke pelabuhan Mola, naik angkot Rp. 3.000. Kapal Motor menuju P. Kaledupa dengan ongkos Rp. 50.000/orang. Selanjutnya menyeberang ke P. Hoga, sewa perahu Rp. 75.000 nego.

Menginap di H. Kasim Rp. 200.000/orang nego dulu yaaa. Lalu sewa perahu untuk snorkel Rp. 100.000. Balik ke P. kaledupa dengan sewa perahu Rp. 150.000 (lebih mahal, dan kita nggak bisa janjian sama tukang perahu awal karena gak berani sama H. Kasim). Sesampai di kaledupa menuju ke pelabuhan Latiha sewa pick up Rp. 150.000. Lalu naik taksi air untuk naik ke kapal besar Rp. 10.000/orang. Ongkos Kapal motor menuju Tomia Rp. 40.000, jangan dikasih duit 50.000, bakal nggak dikembaliin yg Rp. 10.000 hehehe.

Harga peninapan di Tomia (Abi Jaya) Rp. 110.000/malam. Sewa kapal untuk diving (jangan lupa nego) Rp. 1.300.000. Untuk diving bagi pemula Rp. 450.000, bagi yang sudah pernah dan punya license Rp. 350.000.

Ada kapal yang langsung ke Wanci dari Tomia ongkosnya Rp. 80.000. Dari Wanci ke Baubau ongkosnya tetap sama yaitu Rp. 103.000 (KM Aksar). Untuk keliling kota Baubau bisa sewa angkot Rp. 175.000.

Bau-Bau Makasar naik Merpati Rp. 462.000

Kontak person :

Pak Ahmad (Dive Master : 085340853831) selanjutnya beliau bisa aturkan perahu dll

Tulisan/ referensi lain : Dean dan Ririe

Advertisements

26 Comments Add yours

  1. kazwini13 says:

    wowwwwww
    Wakatobi
    catatan tripnya lengkap, sangat membantu nih, mau ke wakatobi akhir bulan…

  2. johanesjonaz says:

    deketkan dari buton,, selamat menjelajah…

  3. kazwini13 says:

    iyaa..
    bakalan sering2 deh ke wakatobi, tiap weekend, hadooh jebol dompet deh kalau tiap weekend :p

  4. johanesjonaz says:

    waduuuh… bakal ngiri seumur hidup saya… hehehhehe

  5. kazwini13 says:

    semoga bisa explore wakatobi sering2 😀

  6. johanesjonaz says:

    raja ampat donggg #nyengir

  7. kazwini13 says:

    aduh :mewek
    kayanya pas di Buton harus jd penambang aspal dulu biar bisa caw ke raja ampat
    huahahaaa

  8. johanesjonaz says:

    kan dari buton ke raja ampat tinggal sedayung dua dayung doang neng xxixixixiixxi..

  9. kazwini13 says:

    iya kak.. sedayung dua dayung dalam waktu sebulan atau setaun. keburu tenggelem di laut banda :p

  10. johanesjonaz says:

    hehehehe… yg penting nyampe kan dek…

  11. kazwini13 says:

    nyampe dengan selamatnya kan dipertanyakan kalau gitu caranya hahahaaa

  12. mruhulessin says:

    weh,, jadi pengen ke snaa

  13. johanesjonaz says:

    HAyuuu kesitu.. worth it banget buat dicoba

  14. mruhulessin says:

    oke.. nabung dari sek deh

  15. kazwini13 says:

    hahahaaa
    baca komen2 di postingan ini…
    akhirnya kesampean juga ke wakatobi.

  16. johanesjonaz says:

    iya walaupun sama ibu-ibu hahahhahha

  17. kazwini13 says:

    gpp… tunggu saja, cetarnya mau sampe Binongko :p

  18. johanesjonaz says:

    mau tarohan ice cream lagi?

  19. kazwini13 says:

    yang jelas aku udah menang pas climmbing :p
    oke Binongko juga ice cream sik sik

  20. Nih anak kerjaannya apa yak?!! Jajalanannya banyak amat. Beh!

  21. johanesjonaz says:

    cuman punya kaki seribu pasang mas… hahahahah

  22. Hahahahaha! Enak donk. Gempor satu masih ada banyak buat disiksa.

  23. johanesjonaz says:

    iya tinggal bongkar pasang 🙂 macam ban

  24. nopan says:

    informasinya lengkap. perlu nyontek nih kalo ke sana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s