Siapa Bilang Nyepi Di Bali Gak Dapat Apa-Apa?

Perjalanan tanpa arah dan penuh kebodohan.

Kebodohan pertama : Booking pesawat murah tanpa melihat kalender.

Liburan tengah semester kali ini sebenarnya saya berencana pergi ke Pulau Kangean, namun teman saya, si Dian yang pintar, kasih kabar kalo lagi ada tiket promo murah ke Bali. Namanya juga banci murahan, pasti tergoda dengan yang murah-murah. Segera saya kontak teman-teman pengangguran saya dan merencakan eksplor Bali Timur. Akhirnya, tiket murah AirAsia sudah di tangan bahkan ada salah satu teman kami yang rencananya mau ke Penang membatalkan tiketnya kesana dan mengganti destinasinya ke Bali, ikut dengan rombongan begundal tak berguna ini.. :). Tapi begitu kami lihat kalender, Jumat 23 Maret 2012 ternyata hari libur nasional dan itu adalah Nyepi sodara-sodara! #kaget. Konon kabarnya jika berkunjung ke Bali sewaktu hari raya Nyepi sama juga dengan melakukan kebodohan, di Bali nggak akan bisa ngapa-ngapain dan gak bisa kemana-mana. #PanikLevelAtas !

Kebodohan kedua : Janjian dengan rental mobil yang geje.

Sebenarnya bukan salah kami, karena kami sudah kontak dengan pemilik rental (atas rekomendasi teman) seminggu sebelumnya. Sudah deal jam 8.45 mobil diantar di bandara. Tapi begitu kami sampai di bandara, mobil belum nongol dan kami harus nunggu berjam-jam untuk konfirmasi ulang dengan pemilik mobil. Belum lagi serah terima kunci yang bikin senewen. Untung aja yang pergi gerombolan sanguine, jadi keadaan seburuk apapun ditanggapi dengan cengengesan.

Kebodohan ketiga : Itinerary kacau! Gak tau mau kemana.

Karena mobil datang udah siang, otomatis eksplore Bali Timur diagendakan besoknya. Jadi hari itu kami cuman makan siang (errrr…. di rumah makan sunda… #pingsan) dan menengok om Kresna di GWK sambil nonton pagelaran tari dan foto alay (sumpah ini  moment coming back saya ke foto alay setelah absen sejak 2008). Malamnya kami ke Kuta Square dan kongkow di HardRock café (depan cafe, nggak masuk kok).

Bali Timur keesokan harinya? Cuman bualan doang, yang ada kami kejebak macet di Denpasar dan berakhir kembali ke Kuta. Apalagi sopir kita, si Dori jago banget nyasar… jadi pas sudah waktu kita dihabiskan dengan menyusuri jalanan Bali. Bahkan, acara dadakan ke Joger dan toko oleh-oleh Kresna pun batal karena tutup menyambut Nyepi. Untung saya masih bisa makan sate lilit di seputaran Kartika Plaza sembari nunggu pawai ogoh-ogoh.

Kebodohan keempat : Kamera DSLR saya ketinggalan.

Kamera saya ketinggalan! Padahal pas packing saya udah taruh tas kamera saya disamping ranjang.. Mungkin karena buru-buru, jadi saya o’on cuman bawa ransel saya doang. Saya cuman mringis aja waktu lihat pawai ogoh-ogoh, nangis sesenggukan begitu melihat banyaknya kamera dan flash bergantian mengambil gambar. Apalagi waktu liat instagramnya Kennoy yang upload foto ogoh-ogoh, hati saya teriris perih… Di sini saya cuman bisa foto alay sama para sanguine. Rasanya malu banget sama ogoh-ogoh begitu tau Kenoy ada di Denpasar lagi hunting foto… sedangkan saya di sini cuman bisa manyun mirip ogoh-ogoh.. Hanya sekong berhotpants orange menyala yang bisa gw bikn ketawa. 

Tulisan serius

Hari Raya Nyepi, yang diperingati umat Hindu di Bali sebagai pergantian kalender caka mempunyai nilai religious yang tinggi. Sehari atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu mengadakan upacara penyucian diri di laut dan danau yang disebut Melasti. Malam sebelum Nyepi diadakan pawai ogoh-ogoh sebagai symbol kejahatan yang nantinya akan dibakar. Namun seiring dengan perkembangan jaman, ogoh-ogoh yang dibuat tidak dibakar seluruhnya, bahkan pawai ini dijadikan sebagai festival tahunan di Bali. Banjar-banjar berlomba untuk membuat ogoh-ogoh yang luar biasa megah dan indah. Kebanyakan ogoh-ogoh yang dibuat melukiskan sebagian cerita dari Ramayana dan Mahabharata. Sebagai pelengkap, pemuda-pemudi Bali membuat sendratari singkat yang bercerita tentang ogoh-ogoh yang mereka buat. Kadang ada juga yang membuat musik kontemporer dengan alat music tradisional lengkap, semacam ensemble music tradisional.

Saya terkagum-kagum melihat kecintaan yang dalam para pemuda-pemudi Bali pada budaya mereka. Bagaimana tidak? Mereka meluangkan waktu untuk berlatih tari dan music untuk pawai ini. Mereka terlihat sangat bangga memainkan music tradisional dan menari dengan penuh semangat di depan ogoh-ogoh yang mewakili banjar mereka dan ini terjadi di seluruh Bali! Bayangkan! Mereka sama sekali tidak terusik dengan budaya asing yang merambah bumi mereka. Kebetulan saya berada di seputaran area Kartika Plaza dimana banyak tempat makan yang memutar music dari negeri asing. Mereka tidak terusik dengan hingar bingarnya tetapi mereka malah asik menari dan memainkan music tradisional Bali kecintaan mereka.

Sesampai di Surabaya saya baca komentar artis di koran (gak perlu saya sebut lah namanya, nanti takut membongkar kebodohan artis itu) : kalo saya sih ngapain ke Bali pas Nyepi.. gak bisa ngapa-ngapain, gak bisa belanja, gak bisa jalan-jalan… begitu kira-kira komen dia. Dan saya hanya bisa mentertawakan cara pandangnya yang cekak tentang Nyepi di Bali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s