Sambang Semarang…

Long Weekend Imlek 2012

Perjalanan kali ini dilakukan berenam. Saya, Meng-meng, Jarjit, Mangkok, Suketi, dan Jupe. Dengan sopir yang ngebutnya minta ampun membuat saya sukses mabok darat. Biasanya saya oke-oke saja dan paling anti mabok.. tapi kemaren si titisan Ayrton Sena membuat saya (kata meng-meng) bermuka setan karena mabok darat.

Berangkat dari Surabaya hampir tengah malam, seharusnya berangkat jam tujuh jadi molor karena harus ganti mobil dan menjemput para ratu ayu di rumahnya masing-masing. Sampai di Semarang matahari sudah muncul. Seharusnya kami bisa booking penginapan jauh-jauh hari sebelumnya, tapi karena pelit kami memutuskan untuk mencari penginapan yang lebih murah, dan inilah jadinya.. pagi-pagi di kota orang, luntang-luntung dengan mobil yang super kotor mencari penginapan. Akhirnya kami dapat di Eben Hezer di jalan veteran. Checkin harus jam 12.00 jadi kami melanjutkan mbambung kami dengan keliling kota Semarang.

Selanjutnya kami menikmati Soto Bangkong yang hau jek sen cing ping dan beberapa butir kemenyan untuk mengganjal perut sebelum kami masuk ke “kediaman” kami di Lawang Sewu.

Kami kaget karena sekarang “rumah” kami dikomersilkan; masing-masing manusia yang bertandang ke rumah kami diwajibkan membayar upeti sebesar Rp. 10.000 dan Rp. 30.000/ rombongan untuk membayar pawang.Kami juga diwajibkan membayar upeti itu, karena waktu itu kami mengambil ujud sebagai manusia… horror banget sih..

Bangunan Lawang Sewu, awalnya pemerintah Belanda membangun gedung ini sebagai gedung administrasi perkeretaapian. Namun saat penjajah Jepang berkuasa, gedung ini dirubah menjadi gedung penjara dan eksekusi. Ruang bawah tanah yang digunakan sebagai pendingin ruangan pada masa Belanda digunakan sebagai penjara bawah tanah oleh penjajah Jepang. Ada puluhan penjara jongkok yang berukuran 1×1.5×1 meter dan penjara berdiri yang berukuran 1×1.5×2 meter. Penjara kecil ini diisi minimal 10 orang tahanan. Bisa dibayangkan ruang sekecil itu diisi orang sebanyak itu, belum lagi rendaman air yang sampai 50 centimeter menggenangi tubuh mereka. Menurut cerita, tidak ada orang yang bebas jika masuk penjara ini. Jika masih bertahan hidup selama beberapa itu, maka kepala mereka dipenggal di ruangan eksekusi. Ngeri…

Setelah usai uji nyali di Lawang Sewu kami melanjutkan perjalanan ke Vihara Watu Gong. Ada sebuah pagoda yang di tengahnya terdapat patung budha besar dan beberapa patung dewi Kwan Im. Yang menarik adalah pohon bodi yang tumbuh di halaman vihara, baru pertama kali saya lihat. Memang pohon ini membuat sejuk hari yang panas waktu itu.

Sebenarnya kami mau mampir di museum MURI di daerah Banyumanik, tapi tutup. Museum ini hanya buka di hari Senin sampai Jumat saja dan kami putuskan untuk kembali ke penginapan. Setelah merasa bugar, kami bergegas ke Klenteng Sam Poo Kong, mengunjungi leluhur kamu, Laksamana Cheng Hoo. Klenteng ini tidak sebesar klenteng Kwan Sing Bio yang ada di Tuban, hanya saja di sini ada patung Laksamana Cheng Hoo setinggi kira-kira 13 meter yang berdiri gagah di antara pintu utama dan bangunan utama. Pengunjung bisa bergaya ala tokoh legenda China dengan menyewa kostum dengan harga Rp. 75.000/ kostum, lengkap dengan foto tentunya.

Menjelang malam, kami beringsut menuju ke Semarang bawah. Tujuan kami adalah Gereja Blenduk (GPIB Imanuel). Sekali lagi keberuntungan tidak menghinggapi kami, lokasi gereja di tutup karena sudah lewat jam berkunjung. Kemalangan juga menimpa Meng-meng, soft-lensnya melengse entah kemana, jadi dia nyetir pake mata satu yang membuat kami was-was hahahah. malam itu kami tutup dengan wisata kuliner.. nyam!!!

Pagi-pagi buta, kira-kira jam 9 (jangan melongo.. ini pagi buta versi kami..) kami beranjak keluar kota Semarang. Tujuan kami selanjutnya adalah Ambarawa, mengunjungi museum kereta api. Tapi sebelum kesana kami mampir ke Masjid Raya Jawa Tengah. Masjid ini luar biasa besar dan mengadopsi teknologi Arab yang bisa mengubah enam menara menjadi payung raksasa bila ada kegiatan keagamaan (sholat jumat, dll) yang jemaatnya membludak dan ruang utama tidak cukup untuk menampung jemaat yang ada. Top!

Mimpi untuk naik kereta uap dari Stasiun Ambarawa ke Stasiun Tuntang pupus sudah, Museum di renovasi dan trayek menuju Stasiun Tuntang tidak dioperasikan. Tentu saja kami misuh… (misuhi diri kami sendiri karena kurang info), tapi untung saja museum masih buka. Bagi Suketi, Jupe, Mangkok, dan Jarjit yang banci foto ini adalah surga.. ya udah saya dan Meng-meng hanya duduk di bawah pohon dan makan bakso. Untung saja kami dianjurkan untuk terus melaju ke arah selatan, menuju Rawa Pening. Cihuy!! Rawa Pening cukup mengobati pening kami siang itu. Di sini kami naik perahu motor dengan ongkos Rp. 30.000/ perahu. Pintu masuknya sedang di renovasi, jadi pada mulanya kami agak kesulitan menemukan lokasi ini, tapi untung saja Mangkok punya mulut, jadi dia tanya kesana kemari dan ketemu juga akhirnya pintu masuk lokasi Rawa Pening itu : Bukit Cinta namanya!

Hari masih siang, dan mobil kami melaju menuju Salatiga untuk makan siang. Ada satu tempat makan yang enak, sate suruh di dekat pasar. Harganya cukup murah; Rp.17.500-20.000/ porsi, very recomended! Setelah kenyang, kami meluncur menuju Surakarta. Meskipun masih sore, tapi gerimis tak hentinya mengguyur kota Solo, membuat suasanya jadi lebih dingin. Kebetulan di alun-alun utara kraton Solo sedang ada pasar malam, jadi kami menikmati sore itu di angkringan terdekat; menikmati serabi solo dan menyeruput teh hangat untuk menyegarkan badan lami yang sudah kumal sebelum kembali ke Surabaya

Eben Hezer (Tarif:Single room: Rp. 165.000 | Standard room: Rp. 190.000 | Superior: Rp 220.000 | Deluxe room: Rp. 230.000 | Family room: Rp. 330.000. Alamat: Jalan Veteran No. 48 Semarang | Reservasi: (024) 8455215)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s