Kampung Naga

Tidak sulit untuk menemukan Kampung Naga, di pinggir jalan raya sudah ada gapura besar dan papan penunjuk lokasi kampung ini. Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore dan saya bergegas menyusuri kampong ini ditemani oleh seorang pemandu.

Kampung Naga, terletak di desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Sepertinya bukan rahasia jika, kampung ini tersohor karena masyarakatnya yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan adat istiadatnya. Pemandangan kampung naga sudah terlihat begitu kita menuruni anak tangga di gapura pintu masuk. Dari jauh terlihat rumah-rumah kayu berjajar rapi, membujur mengikuti pola terbit dan terbenamnya matahari. Di sebelah kanan desa mengalir sungai berbatu yang jernih, di sebelah kiri dibatasi tanah tinggi dan persawahan. Mendekati lokasi perumahan saya melihat kolam-kolam ikan dan beberapa bilik kamar mandi apung, rupanya ini semacam MCK umum milik warga. Selain bilik-bilik kamar mandi saya juga melihat kandang ternak yang juga terapung diatas kolam. Ada juga tempat menumbuk padi yang letaknya agak ke tengah kolam.

Rumah kayu dengan atap ijuk ini terbilang unik, dari luar terlihat sama semuanya. Memang penduduk disini mempunya aturan untuk membangun rumah, artsitek tunggal kampong ini membuat model rumah panggung khas dari kayu sebagai rangkanya dan papan sebagai dindingnya. Ijuk dipilih sebagai atap rumahnya. Sebagian besar rumah berwarna netral, atau beberapa dicat putih menggunakan kapur (masyarakat kampong naga menolak kebudayaan luar, termasuk cat sintetis). Tak hanya tampilan luar saja yang sama, namun interiornya juga sama. Saya berkesempatan untuk masuk ke rumah salah seorang penduduk. Ada empat ruangan utama, yakni ruang tamu, kamar tidur, ruang keluarga, dan dapur. Ada dua pintu yang bersisian; satu pintu untuk masuk ke ruang tamu dan satu pintu lagi di dapur. Hampir tidak ada furniture yang saya temukan di rumah ini, selain tikar di ruang tamu dan beberapa foto yang dipajang. Yang unik adalah dapurnya. Ada tungku besar terbuat dari tanah liat dan lantainya terbuat dari bambu yang ditata tidak terlalu rapat untuk memudahkan membuang sisa makanan sebagai pakan ayam yang ada dibawah dapur.

Ada satu rumah tua yang dikeramatkan yang letaknya di atas, tidak sembarang orang boleh masuk. Menurut masyarakat sekitar, rumah ini adalah rumah pertama yang dibangun. Masyarakat kampong naga beragama Islam, terdapat sarana ibadah utama berupa masjid yang juga dibangun dari kayu dan papan dilengkapi dengan bedug tua. Di depan masjid ada lapangan luas, tempat upacara adat dilaksanakan. Sayang sekali waktu saya berkunjung kesana tidak ada upacara, dan lapangan itu dipakai beberapa anak laki-laki yang bermain laying-layang.

Matahari hamper terbenam ketika saya menyudahi kunjungan disini, saya diajak segera pergi oleh pemandu kami karena jalanan akan sangat gelap jika malam, maklum masyarakat juga menolak adanya penerangan yang masuk ke kampong ini.

 

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. nyonyasepatu says:

    Be pikir lu pergi dengan ellen taon lalu. Btw kermana cara link wp ke twitt n fb ??

  2. nyonyasepatu says:

    Kermana cara link ke twitt n fb untuk wp say??

  3. johanesjonaz says:

    Ada di settingan manage blog, trus share. coba diutek2

  4. johanesjonaz says:

    di settngan, pilih yg share

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s