Gunung Galunggung

Selepas dari Kampung Naga, saya menuju ke Singaparna untuk bermalam dan berencana menikmati kuliner khas tempat itu.. Celingak celinguk, saya tidak menemukan sesuatu yang khas kebanyakan yang dijual adalah mie ayam dan makanan kota lainnya. Karena perut sudah tidak bisa diajak kompromi, akhirnya saya mampir ke Mie Ayam Beybey. Saya nggak tau kenapa tempat ini ramai sekali, padahal mie-nya biasa saja. Hm.. mungkin karena ada foto salah satu jebolan kontes nyanyi dangdut yang dipasang gede banget yang kemungkinan adalah pemilik warung mie ini.

Setelah beristirahat sejenak, pagi sekali saya menuju terminal Singaparna. Untuk ukuran kota kecil yang lumayan berada didataran tinggi, Singaparna tidaklah terlalu dingin, hanya di pagi hari saja sedikit sejuk tapi setelahnya biasa saja. Hari itu saya berencana untuk pergi ke Kawah Gunung Galunggung. Mengingat waktu yang sangat cekak, saya putuskan untuk naik ojek daripada menunggu angkutan umum yang sering ngetem dan tidak tentu jadwalnya.

Kira-kira setelah empat puluh lima menit melewati jalan kampung yang kadang mulus dan kadang berbatu-batu, saya tiba di pintu masuk kawasan wisata Gunung Galunggung. Hm… akhirnya saya menapakkan kaki saya ditempat yang saya kenal lewat kartu kuartet waktu saya kecil.

Hawa mulai dingin, namun tidak sedingin daerah pegunungan yang pernah saya datangi. Memasuki kawasan wisata, saya disambut dengan deretan pohon pinus di kanan dan kiri jalan yang mulai menanjak drastis, suasanya kira-kira seperti settingnya film vampire romantic itulah. Jika saya punya waktu yang sedikit longgar saya sebenarnya ingin sekali jalan kaki dari pintu masuk menuju kawah.. akan sangat lebih menikmati suasana hutan pinusnya…

Sepi, itu yang saya temukan… dan itu memang yang saya harapkan. Tidak banyak orang yang berkunjung kesini dan hanya beberapa pedagang saja yang bersiap-siap untuk menggelar dagangannya. Saya menghirup udara yang bersih… sangat menyegarkan! Ada dua jalan untuk mencapai bibir kawah; pertama lewat tangga yang kemiringannya hampir empat puluh derajat dan kedua lewat jalan setapak berada tidak jauh di kanan tangga, kira-kira seratus meter jaraknya. Saya, karena belum pernah kesana, memilih jalan kedua yaitu jalan setapak yang berliku-liku dan licin karena tanahnya yang berpasir… sedikit menguras tenaga dan membuat sepatu high heels teman saya jebol.

Sebenarnya saya mengharapkan lebih saat saya berada di bibir kawah Galunggung ini, tapi saya tidak mendapatkan itu. Tidak seperti Bromo yang notabene sama-sama dapat dicapai dengan gampang dan sama-sama komersil, saya hanya mendapati Galunggung biasa saja.. sorry to say, tapi tentu saja ini pandangan yang subyekltif. Tapi ada satu yang bikin saya girang; melihat alur sungai kecil yang menjauhi gunung yang terlihat sangat indah, dengan hutan hijau yang membuat hati nyaman…

Setelah jeprat jepret saya putuskan untuk turun dan menuju tempat selanjutnya… tidak ke sumber air panas, tetapi langsung ke Garut… karena waktu yang cekak.. hiks

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s