Curug Malela

Setelah dari Garut, saya kembali ke Bandung dan menunggu kedatangan dua orang teman dari Surabaya yang rencananya mau ikut bergabung dalam liburan ini.

Setelah puas bermain-main di Trans Studio, perjalanan kami lanjutkan ke Curug Malela yang terletak di desa Cicadas, Kecamatan Rongga – Gununghalu Kabupaten Bandung Barat.

Pagi-pagi benar, saat sebagian orang melakukan Sholat Ied, saya berangkat menuju terminal Ciroyom. Di terminal sudah menunggu bus tua satu-satunya yang beroperasi hari itu, yang menghantarkan kami ke Gunung Halu. Di dalam bis sudah terdapat beberapa penumpang namun seperti biasanya, bus tidak akan berangkat sebelum terisi penuh. Kami menunggu beberapa waktu lamanya, saya tidak tahu berapa lama karena saya sudah tertidur lelap.

Bangun-bangun, bus yang membawa kami ini sudah merayap naik ke perbukitan, saya tidak tau sudah berada di daerah mana. Sejauh mata memandang hanya ada pohon dan ladang penduduk di lereng bukit. Kondisi bus sudah penuh sesak membuat saya tetap terjaga, betapa tidak? Suasana panas dan gerah membuat penumpang balita meraung-raung seperti sirine ambulans..

Hampir tiga jam bus ini merayap naik turun bukit, dan sampailah kami di sebuah desa di daerah Bunijaya. Disitu kami sudah ditunggu dengan abang ojek yang memang sudah janjian untuk mengantar kami ke lokasi. Saya agak terkejut dengan motor yang dipakai untuk mengantar kami : sebuah motor matic dan beberapa trail. Well, saya pikir agak nekad juga, dengan kondisi jalan berbatu dan naik turun membawa penumpang dengan motor matic yang notabene didesain khusus untuk jalan landai dan mulus.

Kami melewati perumahan penduduk yang berselang-seling dengan kolam ikan dan ladang, lalu pemandangan berubah menjadi perkebunan teh sejurus kami memasuki daerah Cicadas. Udara panas yang kami rasa sebelumnya berangsur-angsur menjadi sejuk dan kami terus melaju di jalan berbatu menuju lokasi air terjun.

Pintu masuk menuju air terjun dipasang portal, rupanya ini adalah isyarat bagi kami untuk mengistirahatkan pantat kami setelah digoncang trayek off road Buni Jaya – Rongga. Setelah bersiap, saya segera turun mengikuti jalan setapak menuju air terjun. Setelah berjalan santai sekitar 20 menit, saya sampai disebuah gardu pandang. Dari tempat ini sudah terlihat air terjun Malela terbilang cukup lebar.. Rupanya saya tidak sendirian, disitu banyak terdapat pasangan-pasangan muda yang sedang bercinta, bikin iri saja

Perjalanan ke air terjun masih cukup jauh, harus melewati semak dan hutan.. juga terkadang sawah terpencil di tepi hutan. Suara gemuruh air mulai terdengar, membuat saya segera bergegas untuk mencapai lokasi.

Saya berdecak kagum ketika sampai di lokasi air terjun Malela, mengagumi mahakarya Yang Maha Kuasa. Lima air terjun besar berjejer, putih beriak menunjukkan kegagahannya meskipun pada musim kemarau. Ribuan batu dibawahnya seolah mengimbangi dan meredam kerasnya hempasan air yang jatuh dari ketinggian limabelas meter. Saya berhenti sangat lama, memotret dan mengagumi keindahan curug ini. Dinding batu mengapit kanan dan kiri curug ini, ada semacam garis putih tak beraturan di kanan dinding batu, sepertinya ini adalah jejak air terjun lain.. yang mungkin hanya mengalir pada musim penghujan saja. Di atas bukit batu terdapat vegetasi heterogen khas hutan tropis. Batu-batu dari ukuran raksasa hingga pasir yang berada di tepi sungai menghiasi sepanjang aliran sungai.. Pengen mandiiiiiiii

Rasanya tidak ingin saya meninggalkan surga kecil ini, tapi hari hampir gelap dan kami harus bergegas untuk kembali.

Ada sedikit kejadian yang membuat spot jantung sewaktu dalam perjalanan pulang. Bis yang menuju ke Bandung dan kota terdekat lain sudah tidak ada, mungkin karena pas hari raya sehingga para sopir bus tidak mengoperasikan kendaraan seperti layaknya hari biasa. Setelah tawar menawar dengan abang ojek yang mengantar kami, disepakati harga yang cocok untuk mengantar kami ke jalan raya terdekat, tempat biasa penumpang naik dan turun menuju Cianjur maupun Bandung.

Empat motor, dua diantaranya tanpa lampu menembus kegelapan hutan dan jalan naik turun di Gunung Halu. Perjalanan awal saya merasa baik-baik saja karena matahari masih kelihatan, namun setelah satu jam berboncengan, hari sudah mulai gelap sedangkan kata abang ojek kami masih harus menempuh tigapuluh menit perjalanan lagi untuk sampai di jalan kabupaten terdekat. Pucuk-pucuk pinus hanya nampak sebagai bayangan hitam, keadaan sunyi sekali, hanya deru motor yang melaju kencang yang terdengar. Ya ampun saya tidak menyangka perjalanan akan jadi seseram ini. Tidak ada penerangan sama sekali, bahkan bulan pun tidak ada karena sedang awal bulan baru. Di kejauhan ada sedikit cahaya yang berasal dari rumah penduduk, saya bisa bernapas sedikit lega.. masih ada manusia, saya pikir.. Namun begitu melewati rumah-rumah penduduk yang hanya berjumpah puluhan saya kembali dicekam rasa ketakutan. Beberapa kali saya berpapasan dengan pengendara motor yang juga tidak mempunyai lampu depan dan nyaris berserempetan.. satu-satunya penanda keberadaan kami hanyalah raungan mesin motor dan sesekali bunyi klakson…

Akhirnya saya dan rombongan sampai di tikungan jalan, dan untungnya masih ada bus kecil yang membawa kami ke terminal Cianjur… Ini benar-benar sebuah petualangan, takut tapi senang.. Puji Tuhan

This slideshow requires JavaScript.







Advertisements

3 Comments Add yours

  1. kazwini13 says:

    masa aku belum pernah ke curug malela dong..
    mau 😦

  2. johanesjonaz says:

    hayuuuuk kapan dijadwal…

  3. kazwini13 says:

    seperti biasa.. jawabannya februari. hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s