Menaklukkan ego di Ranu Kumbolo

Untuk para pendaki gunung dan Pecinta Alam… hormat saya pada kalian…

Saya benar-benar merasa menjadi kecil, rendah dan bukan apa-apa dalam perjalanan ini. Menghabiskan sembilan jam perjalanan yang setengahnya dalam keadaan gelap, melalui jalan setapak yang naik turun dan licin menuju danau yang berada di ketinggian 2400 meter di atas permukaan laut. Serangan suhu esktrim dan perjuangan berat agar oksigen tetap mengalir dalam tubuh sungguh sangat menguras emosi dan tenaga.

Pemberkatan pernikahan mas Demon yang akan dilaksanakan di Mahameru membuat saya ingin naik gunung, apalagi cerita Tantri membuat saya yakin ingin muncak ke Mahameru. Rencananya kami akan pergi bersama-sama pada Sabtu pagi 18 Juni, tapi karena beberapa di antara kami belum punya surat keterangan sehat dari dokter maka kami terlambat berangkat. Jadilah saya, Ike, Ellen, dan Dini mengurus surat kesehatan di Puskesmas Dinoyo, Malang. Setelah semuanya beres, kami bersembilan (Mas Putu, Tantri, Irvan, Lutfi, Intan, Ellen, Dini, Ike dan saya) berangkat ke Tumpang, menuju rumah mas Noe juragan jeep. Di sana kami menunggu rombongan lain (rombongannya Nabhan) yang masih mengurus surat-surat untuk pendakian. Setalah satu jam menunggu akhirnya kami memutuskan untuk berangkat tanpa rombongan mereka.

Sampai di Ranu Pani waktu sudah jam satu lewat dan kami segera berangkat setelah bertemu dan bercakap-cakap dengan Pak Tomari (semacam mbah Marijan-nya Semeru) dan kami memutuskan untuk menempuh rute ini melalui Watu Rejeng.

Perjalanan terasa sangat lambat, kabut sudah mulai turun dan terkondesnsai menjadi rintik2 embun yang tidak terasa sudah memuat kami basah. Diantara kami ada beberapa orang yang belum pernah naik gunung, termasuk saya. Saya mulai kelelahan karena fisik saya yang tidak terkondisikan untuk pendakian. Pendakian ini terasa sangat berat buat saya, saya sudah mulai putus asa dan lelah karena beban ransel dan jalan yang terus-terusan menanjak, namun mas Putu dengan carrier di punggung dan ransel di dada tetap menyemangati kami..”Ayo sebentar lagi pos 1, kita istirahat disana”…. Semangat kami kembali menyala, tapi setelah setengah jam perjalanan (dengan banyak istirahat) sebagian dari kami mulai putus asa dan menganggap mas Putu berbohong demi menyemangati kami. Sepanjang perjalanan kami berusaha untuk saling menghibur dan memompa emosi positif kami dengan bernyanyi-nyanyi kecil. Dan ketika kami melihat pos 1, kami senang sekali.. lega bahwa pos itu ternyata ada dan bukan fatamorgana.

Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan kembali menuju pos 2.. Perjalanan semakin terasa berat dan sebentar-sebentar kami berhenti, lebih sering dari sebelumnya. Untung saja pos 2 jaraknya tidak sejauh antara start awal dengan pos 1. Tak terhitung berapa kali kami terpeleset dan hampir menyerah… dan tak terhitung juga berapa kali kami didahului oleh pendaki lain. Sampai di Watu Rejeng hari sudah mulai gelap. Kondisi gelap membuat perjalan kami bertambah lambat, Ike yang berada di posisi paling depan membantu kami membaca medan, membuat kami lolos dari lubang dan turunan licin yang berbahaya. Jari-jari tangan saya sudah mati rasa karena suhu yang sudah turun belasan derajat dari suhu normal, saya mulai merasa ada yang tidak beres dengan lutut saya.. mulai terasa sakit jika naik atau turun di jalan yang ekstrim. Si Lutfi sudah mulai oleng, berkunang-kunang.. Irvan sudah mulai diam, hanya Ike yang masih semangat memimpin rombongan. Mas Putu memutuskan untuk mendahului kami dan menunggu di pos 3, kami maklum karena akan sangat berat buatnya mengikuti irama perjalanan kami yang merayap, sedangkan dia harus membawa logistik dalam carrier yang beratnya minta ampun.

Akhirnya kami sampai di pos 3 dan kami memutuskan untuk makan malam. Napas kami tinggal satu-satu.. udara sangat dingin dan kami semua tidak bisa bergerak. Hanya mas Putu yang sibuk memasak. Kami melahap mie instan dan nasi yang sudah dipanasi. Sulit sekali memegang sendok dan menyuapkan makanan ke mulut. Tapi kami berusaha agar mendapat energi untuk sisa perjalanan nanti.

Lagi-lagi saya merasa ada sesuatu dengan tubuh saya, saya mulai kesulitan bernapas dan tersengal-sengal.. saya kira saya terlalu lelah, tapi saya sadar ini mungkin gejala awal hypotermia. Beberapa dari kami mengusulkan untuk mendirikan tenda di pos 3, menyerah untuk tidak melanjutkan ke Ranu Kumbolo… Lutfi, yang dari awal berapi-api untuk muncak sudah hilang semangat. Dalam hati saya juga setuju untuk bermalam di sini saja. Tapi untungnya Mas Putu membujuk kami.. “Sudah nanggung, kalian nggak akan bisa melihat indahnya pagi di Ranu Kumbolo kalo menyerah… lagi pula jaraknya tinggal satu jam lagi (tentu saja jika dengan kecepatan jalan normal)” Rasanya mau nangis kalo harus melanjutkan perjalanan lagi.. tapi kami harus! Tantri dan Intan sudah berangkat lebih dulu… tinggal kami bertujuh yang merayap dalam kegelapan malam menuju Ranu Kumbolo…

Di kejauhan, setelah melewati pos 4 yang tinggal atapnya saja kami melihat cahaya. Wah… sudah dekat pikir kami, lebih lebih ketika kami melihat sign “Ranu Kumbolo 500 M” yang ternyata adalah ulah orang iseng.. karena nyatanya perjalanan kami masih sekitar 2 kilometer lagi. Mas Putu dan Irvan kembali berinisiatif untuk mendahului kami untuk mempersiapkan tenda, kini tinggal kami berlima tertatih tatih menyusuri pinggir danau menuju arah cahaya. Tak disangka, teryata mas Putu mengambil jalan yang salah dan tersesat… kami harus menunggu dia dan Irvan untuk beberapa saat.. dan kami tiba di Ranu Kumbolo tepat jam sebelas malam.

Perjuangan kami belum selesai, ternyata tenda yang dibawa mas Putu hanya muat 5 orang, sedangkan Tantri dan Intan tak tau tidur di mana karena ada puluhan tenda di sana dan tidak mungkin untuk menemukan Intan dan Tantri. Saya, Dini dan Ellen memutuskan untuk tidur di bangunan semi permanen (yang ternyata di dalamnya sudah penuh tenda).. Kami dengan tubuh basah kuyup dan mati rasa mulai menggelar sleeping bed.. asal tidak kena embun saja kami sudah bersyukur. Saya mulai menyalakan api unggun yang sudah tinggal bara dengan kertas dan plastik sampah yang ada… lumayan menghangatkan tangan kami. Tidak berapa lama, saya didatangi oleh seseorang dari grup pendaki lain dan orang baik ini menawarkan tendanya untuk kami tiduri.. Malaikat penolong! Lalu datang lagi beberapa orang membawa kayu bakar dan api unggun dinyalakan lagi… Kami berbincang sebentar sambil meminum susu hangat yang dibuatkan oleh mereka.. Saya sangat terharu dengan kebaikan orang-orang ini.. Mungkin ini adalah kode etik para pendaki dan pecinta alam. Akhirnya kami terselamatkan dari suhu yang dingin (minus 2 derajat) dengan tenda dan segelas susu hangat.

Saya sangat beersyukur bisa menyelesaikan pendakian ini, walaupun hanya sampai Ranu Kumbolo.. tapi saya diberi kesempatan untuk bertemu dengan manusia-manusia baik hati yang mau menolong tanpa pamrih…

Advertisements

11 Comments Add yours

  1. rie02s says:

    Sweet experience… That is one thing we will find in traveling… Orang-orang baik yang tulus… (gw kok jadi melow yaa)

  2. johanesjonaz says:

    can’t wait for baduy and thousand island trip!

  3. coretanlepas says:

    wah eman mas cuma sampek ranu kumbolo. padahal abis tanjakan cinta kita bakal disuguhi pemandangan keren oro2 ombo. trus yg paling gak bisa dilupakan itu sensasi pas di atas. pas muncak.

    semeru dan babak akhir mahabharata 😀

  4. johanesjonaz says:

    saya juga naik ke tanjakan cinta dan lihat oro2 ombo dari kejauhan… tapi nggak sampai muncak.. saya ada masalah sama lutut.. hehhe

  5. potrehkoneng says:

    ayo mas jo ke sini lagi, insyaallah 24 jan aku mau ke sini =D

  6. johanesjonaz says:

    Ya awoh sop… Januari? aku ra prei.. tanggal kecepit yo? aduh pengen..

  7. potrehkoneng says:

    iya yang tanggal 24 itu. kan libur hari kamis tuh mas. trus jumat cuti aja. sabtu minggu libur kan ya? ini insyaallah si samhoed juga gabung. tapi belum pasti juga sih. ayo kapan lagi. kita kopdar di ranu kumbolo. dulu aku kopdaran pertama sama anak mp juga di sini ^^

  8. johanesjonaz says:

    sek yo Sof, tak latihan fisik dulu hahahah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s