Bromo Yang Lain

c322c58ff415dcd8f75dd368880ca0c5Sumber foto : http://www.djisamsoe.com fotografer : Budi Sugiharto

Tidak seperti kebanyakan orang yang menghabisakan waktu di lautan pasir dan naik tangga menuju kawah Bromo, kali ini saya menikmati Bromo dengan cara yang lain.

Kabut tebal mengiringi jeep tua berwarna biru yang berjuang merayap naik menuju tempat kami menginap. Suhu udara mungkin sudah berada pada angka sembilan derajat celcius. Cuaca lereng Tengger saat itu kurang bersahabat, kabut tebal mengurangi jarak pandang kami. Mas Arif yang mengemudikan mobil itu keliatan sangat tegang, hanya mobil kami satu-satunya yang berada di jalan sempit di tengah perkebunan wortel dan kol di sisi lereng Tengger. Ibu saya yang duduk di jok depan membuka jendela, padahal titik-titik lembut air sudah mulai turun membasahi bumi. Beliau memang suka dengan suasana pegunungan yang berkabut dan dingin seperti ini.

Jam tangan saya baru menunjukkan pukul satu siang tapi rasanya suasana seperti hampir maghrib, gelap dan dingin. Setiba di penginapan, lampu-lampu sudah mulai dinyalakan. Kami masuk ke loby penginapan yang tersambung dengan restoran, beberapa orang duduk di meja makan beberapa dari mereka sedang menyantap mie kuah yang aromanya membuat perut saya semakin keroncongan. Beberapa dari mereka sedang asyik membaca sambil ditemani kopi atau beer. Memang kami datang bukan pada hari libur, jadi tidak banyak pengunjung di penginapan ini. Sembari menunggu kamar kami siap, saya melihat-lihat menu penginapan ini yang konon sangat disukai kaum ekspatriat bila mereka bertandang ke Bromo. Hm… standar. Saya merasa ada yang memperhatikan saya sedari tadi, seorang perempuan bule yang sedang membaca di pojokan. Ketika saya melewatinya dia tersenyum.. dan saya baru sadar kalo ternyata dia memperhatikan buku milik Jodi yang saya tenteng dari tadi, ternyata dia membaca buku yang sama seperti yang saya bawa. Pantas saja dia cengengesan.

Jodi punya agenda sendiri, dia mau menyelesaikan membaca bukunya sedangkan saya dan Ibu saya berinisiatif untuk trekking di hutan terdekat. Beruntung sekali hujan sudah reda, meskipun jalanan agak basah dan licin tapi sepatu gunung kami masih mampu menapaki jalan setapak di antara hutan pinus dan perkebunan penduduk. Beberapa kali kami berpapasan dengan petani yang baru pulang dari kebun. Sambil beristirahat, kami berbincang-bincang dengan para keturunan Joko Seger dan Roro Anteng ini. Salah satu percakapan yang sangat berkesan dengan petani itu adalah kisah tentang Roro Anteng dan Joko Seger.

Masyarakat Bromo, konon adalah keturunan dari Roro Anteng dan Joko Seger. Tokoh legenda dari Bromo ini konon adalah nenek moyang penduduk Tengger. Dikisahkan, pada jaman dahulu kala ada sepasang suami istri Roro Anteng dan Joko Seger. Pasangan ini tidak dikarunia seorang putra pun sampai beberapa waktu lamany, hingga mereka memohon pada sang Dewata untuk mengaruniakan keturunan. Doa mereka bisa terkabulkan, dengan satu syarat : salah satu anaknya harus dikorbankan sebagai persembahan di Gunung Bromo. Setelah sekian waktu, Joko seger ditagih janjinya oleh Dewa, Roro Anteng dan Joko Seger harus mempersembahkan salah satu dari 25 putra yang sudah dikaruniakan kepadanya. Ketika anak-anak mereka tahu tentang perihal ini, si bungsu pun rela untuk masuk ke kawah Bromo sebagai persembahan. Inilah mengapa penduduk lereng Tengger melakukan ritual Kasada dengan mempersembahkan hasil bumi di kawah Bromo, sebagai pengingat pada anak bungsu Roro Anteng dan Joko Seger yang rela menjadi tumbal untuk kelangsungan masyarakat Tengger.

Setelah mendengar kisah itu kami pun melanjutkan trekking kami. Beberapa kali juga kami berpapasan dengan anjing peunggu kebun yang galak… untung ibu saya hebat… beliau lebih galak dari anjing itu hahahahaha… Setelah satu jam trekking dan hampir nyasar, kami kembali ke jalan utama menuju peginapan.

Di sebuah tikungan, kami berhenti karena ibu saya tertarik dengan kuda-kuda yang sedang diberi makan oleh pemiliknya. Saya iseng bertanya pada bapak itu, apakah bisa meminjam kudanya untuk kami pakai keliling desa. Dan syukurnya ada tiga ekor kuda yang bisa disewa. Kami segera menjemput Jodi di penginapan dan kami bertiga menyusuri desa dengan kuda pinjaman. Kuda lokal yang tidak begitu besar itu sangat gesit membawa kami menyusuri jalan-jalan desa. Tentu saja kami tidak sendirian, dari jauh pemilik kuda itu mengikuti kami, khawatir jika terjadi sesuatu dengan kami.

Kami menghabiskan malam itu dengan ngobrol dan main kartu di lobby penginapan. Sebungkus rokok dan beberapa botol beer menemani kami bercengkrama sebelum kami beranjak tidur dan keesokan harinya melanjutkan perjalanan kami ke daerah Proboliinggo untuk mencoba sesuatu yang baru : rafting di sungai Pekalen.

Blog ini diikutersatkan dalam lomba blog Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s