Kangaroo Island

Perjalanan ke Pulau Kanguru (Kangaroo Island) di Australia ini saya lakukan di tahun 2004, waktu saya masih kuliah. Waktu itu mama angkat saya menikah lagi dengan laki-laki dari Jerman dan saya didaulat untuk menjadi pembaca doanya.

Seminggu sebelum hari H, kami sekeluarga pergi melancong ke Kangaroo Island. Karena mama gak mau repot-repot, akhirnya kami berenam ikut tur. Saya nggak tau gimana prosesnya tau-tau kami harus ada di tempat penjemputan di dekat Marion Hypermart. Dari situ kami menuju ke Cape Jervis untuk menyeberang ke Penneshaw, tempat start touring.

Tujuan pertama adalah ke Seal Bay. Pantai ini adalah habitat singa laut yang masih alami. Hewan ini tampak jinak, seperti gumpalan lemak cair yang diisikan ke balon beludru berwarna coklat. Meskipun tampak lucu, namun pemandu kami menyarankan untuk tidak berinteraksi secara langsung dengan hewan liar ini. Singa laut dewasa bisa sangat agresif dan mengejar manusia jika merasaterganggu. Jarak aman untuk mengamati hewan ini adalah 20 meter. Pantai Seal Bay ini tidak ada vegetasinya sama sekali, jadi sangat panas… bahkan angin lautpun tidak bisa mengurangi rasa gerah kami.

Selanjutnya kami menuju ke Flinders Chase National Park. Di sepanjang perjalanan saya melihat banyak wallaby (kanguru kecil) yang tergeletak di jalan, mati terlanggar kendaraan . mengenaskan. Kami singgah sebentar di tempat makan di dekat Flinders Chase, pihak travel mengatur menu prasmanan di sebuah rumah kayu. Ada salad buah zaitun dan wine.. tapi tentu saja saya memilih sosis domba panggang yang jadi favorit saya selama di Australia. Setelah puas makan, kami dipersilakan untuk melihat National Parknya. Tak banyak yang bisa dijumpai hanya museum dan foto2 juga binatang awetan seperti wallaby dan hewan2 asli Australia lain,tapi di toko souvenir saya sempat kepincut dengan mantel bulu domba seharga AUD $ 600 berwarna abu-abu muda…. Dan sebagai mahasiswa saya hanya bisa ngiler… hiks.

Hari menjelang sore ketika kami melanjutkan perjalanan menuju Cape du Couedic, sebuah mercusuar kuno yang yang menjulang di pantai berbatu. Mercusuar ini berdiri sejak 1906… hm masih kalah tua kalau dibandingkan dengan mercusuar di P. Lengkuas kalau begitu… Di dekat sini ada tempat bernama Admiral Arch, tempat koloni anjing laut muda dari New Zealand. Tidak seperti di Seal Bay yang berpasir halus dan panas, Admiral Arch pantainya berbatu dan cenderung lebih berangin. Dari atas, kami bisa melihat gerombolan anjing laut berwarna hitam yang meraung-raung, mencicit dan melenguh riuh sekali. Kami dilarang memberi makan hewan liar ini. Kami hanya boleh melihatnya saja, dan inilah hebatnya warga negara lain; mereka patuh karena sadar konsekuensi berbahaya bagi anjing laut (dan binatang lain) jika mengkosnsumsi makanan asing, mereka sangat menghormati alam liar.

Pemberhentian terakhir adalah the Remarkable Rock, tak jauh dari sana. Sununan batu alami yang membentuk struktur artistik raksasa dengan bantuan angin laut dan air hujan serta sejenis lumut (ganggang) yang berwarna merah bata keemasan. It is remarkable! Sore itu kami menutup dengan makan malam di sebuah restoran di American River, sebelum naik Sealink Ferry yang mengantar kami balik ke benua Australia.

Photos : courtesy of Jodi Fulwood

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s