Hutan Bakau Wonorejo

Cukup membanggakan jika kota terpolusi seperti Surabaya masih memiliki hutan bakau. Di daerah Bosem, Wonorejo ada satu daerah yang mulai dikelola oleh pemkot sebagai ekowisata di kota Surabaya. Di sepanjang pantai timur Surabaya terhampar memanjang hutan bakau, yang mungkin jika dijelajahi, hutan bakau ini juga bersambung dengan hutan bakau di daerah Kedung Peluk, Sidoarjo, yang pernah saya kunjungi beberapa tahun lalu.

Dengan membayar Rp. 25.000/ orang, kita akan dihantar menyusuri sungai menuju muara sungai Jagir. Beberapa meter sebelum memasuki Selat Madura, akan ada semacam bangunan seperti rumah pohon yang merupakan pintu masuk Ekowisata Mangrove Wonorejo. Kita bisa masuk lebih dalam ke areal hutan bakau ini dengan mengikuti jembatan bambu yang sudah tersedia. Diujung jembatan ini ada sebuah aula yang cukup untuk memuat 25-30 orang. Biasanya aula ini digunakan untuk tempat edukasi ekosistem pantai.

Secara berkala dilakukan pelepasan hewan-hewan yang menjadi penopang ekosistem hutan bakau diantaranya beberapa ekor kera, ikan dan burung. Memang masih banyak yang perlu dibenahi, disamping pengelolaan sampah organik dan non organik yang memang banyak terdapat di daerah muara, tempat ini juga memerlukan penambahan prasarana tambahan seperti toilet dan biking track/ jogging track.

Sebenarnya selain hutan mangrove di Wonorejo, ada tempat yang bisa dikembangkan lagi sebagai tempat ekowisata bakau lainnya. Misalnya di daerah Kedung Peluk, Sidoarjo. Beberapa tahun yang lalu saya dan teman2 kuliah sempat mengunjungi daerah ini. Dengan menyewa perahu nelayan dengan tarif Rp. 300.000 kami diantar menyusuri sungai dan muara di daerah Tanggulangin Sidoarjo.

Karena kami akan menghabisakan waktu seharian disana, kami memutuskan untuk membawa logistik dari desa terdekat sebelum memulai perjalanan seperti air minum, beras,minyak dan peralatan memasak. Rute yang kami tempuh adalah Kalidawir – Penataran Sewu – Permisan – Kedung Peluk dengan total trayek sekitar 9 Km.

Sepanjang perjalanan kami melihat banyak view yang berbeda. Mulai dari tempat start sampai kira-kira 3 km pertama kami rumah penduduk dan masyarakat yang melakukan kegiatan sehari-hari dengan sampan kecil. Kemudian kilometer berikutnya air sudah meulai kelihatan hijau karena lumut dan kanan-kira kami adalah hutan perdu yang rapat. Sesekali kami melihat burung bangau dan burung liar lainnya. Menjelang memasuki muara kami mulai melihat areal tambak yang diselingi dengan hutan bakau dan disini saya mulai melihat kera ekor panjang penghuni khas ekosistem bakau.

Setelah berkeliling sebentar di muara (disini air mulai bercampur antara hijau air sungai dan coklat air laut) kami memutuskan untuk mendarat di perbatasan hutan bakau dan tambak milik salah satu kawan yang ikut dalam rombongan. Para perempuan segera sibuk di dapur darurat, dan para lelaki sibuk mencari ikan dan udang yang ada di sana.

Pukul 4 petang kami meninggalkan lokasi, kembali ke tempat semula ditemani suara air dan senja yang mulai memerah.

Back to Nature, leave Malls and buildings

This slideshow requires JavaScript.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s