Weekend di Dieng

Dieng, dataran tinggi tertinggi setelah Nepal

Kalender sudah terpaku di bulan Maret, normalnya ini adalah akhir musim penghujan. Saya tidak yakin apakah melakukan perjalanan ke Dieng pada bulan ini adalah pilihan baik, namun dengan optimism yang tinggi saya menjejakkan kaki ke tanah leluhur masyarakat Bali ini. Konon,

leluhur penganut agama Hindu di Bali yang ada saat ini berasal dari dataran tinggi Dieng. Sebelum masuknya agama Islam ke tanah Jawa, daerah Dieng merupakan pusat keagamaan Hindu, ini bisa dilihat dari banyaknya candi Hindu yang tersebar di daerah Dieng. Seiring dengan berkembangnya agama Islam di Jawa, masyarakat Dieng yang masih berpegang pada keyakinannya pindah ke daerah Majapahit dan Bali.

Saya tiba di Wonosobo pukul 13.00, mendung sudah menggantung di barat.

Beberapa menit kemudian bus yang membawa kami ke Dieng Batur datang, berbarengan dengan hujan yang turun lebat. Selama perjalanan menuju Dieng, saya tidak bisa melihat apa-apa karena kabut tebal yang menghalangi jarak pandang saya. Suasana di dalam bus membuat saya mengantuk, dingin walaupun tanpa AC dan goncangan bus sepertinya juga meninabobokan saya.

Samar-samar saya mulai melihat hamparan perkebunan kentang dan kol, itu artinya sudah dekat ke penginapan yang saya tuju ; Penginapan Bu Jono. Limabelas keudian saya turun tepat di depan penginapan. Pak Didik, pegawai di penginapan segera mengatur perjalanan saya selama di Dieng. Sore itu saya habiskan untuk minum kopi khas Dieng; Purwaceng. Saya tidak tau kalau minuman ini adalah minuman khusus dewasa sampai saya menghabisakannya dan membaca khasiat dan kegunaan di bungkus plastiknya… heheheh.

Hujan sedikit reda dan saya tidak mau membuang waktu lagi untuk mengunjungi kompleks Candi yang ada di Dieng. Kompleks Candi Arjuna adalah peninggalan masyarakat Hindu dari abad 7-8, ada 4 candi yang masih utuh yang berada satu lokasi, yakni Candi Semar, Srikandi dan Sembadra sedangkan Candi Dwarawati berada di sebelah Timur Laut dan Candi Bima dan Candi Gatutkaca berada di Selatan Candi Arjuna. Relief yang terukir di candi adalah Dewa-Dewa Hindu dan kisah Mahabharata.

Saya menutup malam itu dengan sup jamur dan segelas the hangat, lumayan untuk bekal tidur.

Menikmati Sunrise di Gunung Sikunir

Pagi-pagi buta saya dibangunkan oleh mas Dwi, guide kami. Hari itu saya akan menikmati sunrise di gunung Sikunir. Cuaca cukup dingin namun kami tetap melaju menerobos halimun yang berarak tipis. Cuaca lumayan cerah, meskipun semalam hujan lebat. Sesampai di pelataran parkir, kami segera naik ke summit point, spot terbaik untuk menangkap matahari terbit.

Tidak berapa lama, langit jingga mulai menggeser gelapnya malam. Mulai terlihat puncak gunung Sindoro yang megah, lalu kemudian siluet gunung Sumbing, dan di susul puncak Merapi yang masih mengeluarkan asap… sungguh pemandangan yang luar biasa. Kilauan emas di ufuk timur menghantar halimun yang turun dari selatan perlahan-lahan, menutupi kaki gunung sindoro dan terus bergerak ke pelatarang Dieng. Desa-desa dan petak perkebunan kentang yang kami lihat perlahan-lahan tertutup oleh awan… pemandangan yang sungguh menakjubkan, benar-benar berada di Negeri Atas Awan.

Setelah matahari agak meninggi kami turun untuk melanjutkan perjalanan kami, melewati telaga cebong yang masih dikelilingi oleh perkebunan kentang. Kami bergerak menuju telaga Warna. Kami berhenti sebentar untuk mengisi perut kami dengan bubur khas Dieng, Jadah, dan Serabi. Selanjutnya kami naik melewati jalan setapak untukmenikmati telaga Warna dan telaga Pengilon dari atas. Terlihat beberapa belibis yang berenang di danau penuh sulfur berwarna kehijauan ini. Disisi Selatan, ada danau Pengilon yang konon jika kita melihat kedalamnya, bisa merefleksikan siapa jodoh kita kelak. Setelah mengambil beberapa foto, kami turun dan melihat Telaga Warna dari dekat. Saya melihat ada beberapa orang yang berapa di area goa Semar, menurut mas Dwi mereka adalah orang-orang yang sedang bersemedi mengharap sesuatu dari alam ghaib.

Cuaca sudah kembali mendung, kabut mulai menebal dan masih banyak tempat yang harus kami lihat. Mas Dwi memacu motornya menuju Kawah Sikidang. Kawah ini adalah kawah paling aktif di Dieng, berupa danau sulfur yang mendidih, berdiameter sekitar 15 meter dan dikelilingi oleh pagar pengaman dari bamboo dan kayu. Bau belerang cukup menyengat dan kabut sudah menebal, kami tidak bisa melihat apa-apa namun masih ingin tinggal beberapa saat, karena memang udara di sekitar kawah sangat hangat.

Tujuan kami selanjutnya adalah Kawah Candradimuka dan Kawah Sileri. Kawah Candradimuka letaknya berdekatan dengan Sumur Jolotundo. Butuh stamina yang cukup untuk mencapai kawah ini, memang jalannya lebar, namun masih berbatu-batu dan lumayan jauh. Butuh tigapulun menit untuk mencapai lokasi. Selama perjalanan kami berpapasan dengan beberapa petani dan pencari rumput, saya tidak bisa memotretnya, sepertinya masyarakat Dieng alergi kamera.. beberapa kali saya mencoba dan meminta ijin namun mereka menyembunyikan wajah dan menolak untuk difoto.

Ada beberapa tempat lagi yang saya kunjungi namun sepertinya alam masih enggan untuk bersolek, kabut tebal tiba-tiba saja datang dan hujan mengguyur. Kami terpaksa berteduh dan merelakan waktu untuk menikmati udara dingin di sisa hari di Dieng.

Klenik dan Mistis Dieng

Mendengar kata Dieng, memang tak bisa lepas dari mitos dan mistis. Salah satunya adalah legenda bocah rambut gimbal. Selama saya di Dieng, saya pun juga terobsesi untuk melihat bocah rambut gimbal ini. Sayangnya saya tidak menemukan satupun, padahal saya sudah blusukan ke desa-desa tapi tidak juga saya temui. Menurut cerita, bocah rambut gimbal ini adalah titipan dari Penguasa Laut Selatan, Nyi Roro Kidul pada Kyai Selomanik, penyebar agama Islam di Dieng. Tidak semua bocah di Dieng berambut gimbal, hany anak-anak terpilihlah yang “dianugerahi” rambut gimbal. Konon, anak-anak yang terpilih ini menderita penyakit aneh, panas tinggi selama berhari-hari dan setelah sembuh rambutnya berubah jadi gimbal. Biasanya berumur dua sampai empat tahun ketika fenomena perubahan rambut ini terjadi.

Saya sempat beranya pada mas Izin, guide kami yang istrinya sedang hamil tujuh bulan, apakah punya keinginan anaknya nanti berambut gimbal? Menurutnya punya anak gimbal adalah anugrah sekaligus musibah,musibah jika nanti si anak transformasi-panas tinggi dan sakit- mas Izin tidak tega melihat anaknya sakit. Sebaliknya, jika transformasi itu selesai, dia akan punya hajat besar yakni jika anaknya kelak ingin rambut gimbalnya dipotong yang memerlukan ritual-ritual khusus dan akan mendatangkan rejeki besar.

Pada masanya, rambut gimbal ini akan dipotong. Pemotongan ini tergantung dari permintaan si anak. Jika masanya sudah tiba, si anak akan meminta rambutnya dipotong. Uniknya, sebelum acara pemotongan rambut gimbal, si anak mempunyai permintaan khusus yang harus dipenuhi. Menurut masyarakat setempat, permintaan ini bukan dari si anak, melainkan dari pemilik rambut gimbal sendiri –Nyi Roro Kidul-.Segera, pemuka adat menyelenggarakan upacara pemotongan rambut gimbal, seluruh desa berpesta dan member sumbangan pada si empunya hajat. Potongan rambut gimbal ini selanjutnya akan dikembalikan ke pemiliknya dengan cara dilarung di hulu Sungai Serayu atau di Telaga Warna. Saya sendiri belum sempat menyaksikan secara langsung, biasanya acara ini dilakukan pada bulan Agustus hari ke delapanbelas.

Selain cerita tentang rambut gimbal, klenik di daerah Dieng sangat banyak. Sebut saja Sumur Jolotundo, yang konon meminta korban setiap beberapa tahun. Di sumur ini sering terdengar suara gamelan, menandakan Penguasa Laut Selatan sedang mengadakan hajatan dan biasanya akan meminta korban. Saat saya disana, saya tidak mengunjungi sumur ini karena sedang ada musibah. Ada juga goa-goa tempat bersemedi yang berada di Telaga Pengilon dan Telaga Warna. Goa Semar adalah tempat paling popular, konon tempat ini adalah tempat penguasa orba melakukan semedi.

Ada pula Kawah Candradimuka, tempat ini dipercayai sebagai tempat dimana Gatutkaca dibuang beserta beribu-ribu senjata yang menjadi satu dengan raganya. Jika dilihat memang tidak meyakinkan, karena hanya beberapa lubang yang mengeluarkan asap belerang dengan tekanan yang cukup tinggi sampai-sampai mengeluarkan bunyi bergemuruh.

Alam Indonesia memang tak pernah habis untuk dijelajah, semoga saya bisa menyelesaikannya sebelum akhir hidup saya.

Indonesia, another side of paradise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s