Berkunjung ke Negeri Laskar Pelangi

Kolam Kaolin, kecantikan semu

Mendarat di Bandara Udara Belitung pukul 12.00, matahari cukup terik. Saya bersama teman2 tiba dengan selamat setelah 45 menit berada di udara. Bumi Belitung sangat indah bila dilihat dari udara. Banyak sekali kolam-kolam berwarna biru, hijau tosca diselingi dengan pepohonan hijau dan beberapa deret perkebunan sawit. Dalam hati saya berkata : Saya akan berenang di kolam itu setibanya di daratan.

Kami menyewa mobil untuk mencari penginapan yang murah namun nyaman di Tanjung Pandan. Tidak sulit, kami menemukan hotel Mustika. Segera kami unpacking barang bawaan kami dan menuju Sekolah Laskar Pelangi di Manggar. Selama perjalanan saya banyak bertanya tentang kisah Laskar Pelangi pada sopir yang menghantar kami. Tentang Andrea Hirata, Bu Mus, Jimbron, Aray, dan tokoh lainnya. Entah sopir itu bohong atau tidak, yang jelas kami percaya dan suka dengan cerita dari sopir ini. Saya juga bertanya tentang kolam biru yang saya lihat di udara, dan saya sangat tidak suka dengan kenyataan bahwa kolam biru itu adalah bekas galian tambang kaolin dan timah yang terbengkalai karena tidak menghasilkan lagi. Shocking… kolam biru itu tidak indah lagi di mata saya.. sekali lagi bukti atas tindakan yang tidak bersahabat pada alam.

Tak ada pelangi di kelas ini

Saya tiba di Sekolah Laskar Pelangi di Manggar. Menurut pak Sopir, bangunan itu adalah bangunan asli SD Muhammadiyah Manggar namun lokasinya sudah dipindahkan ke tempat baru. Bangunan dari kayu dan papan dengan dua ruangan kelas yang luasnya masing-masing 4×5 meter, lengkap dengan papan tulis, lemari dan bangku-bangku… persis seperti apa yang ada dalam film Laskar Pelangi. Sejenak kami berpura-pura untuk menjadi Laskar Pelangi, duduk di bangku reot dan diajar oleh Bu Mus… trenyuh membayangkan anak-anak Belitung yang dulu belajar di tempat ini. Memang tak terlihat pelangi di dalam kelas ini, tapi kami bisa merasakan pelangi itu ada!

Kami melanjutkan perjalanan menuju pintu air Manggar, tidak banyak yang bisa diekspose disini… hanya sungai yang jernih dan pintu air yang membendung sungai berwarna biru dan kuning dengan latar belakang bukit-bukit rendah dan langit yang luas.

Tujuan kami berikutnya adalah pantai Burung Mandi dan klenteng Dewi Kuan Im. Di tengah perjalanan saya dan temnan-teman berhenti sejenak di jalan Bioskop Mega, konon tempat ini adalah tempat Jimbron, Aray, dan Ikal tinggal disaat mereka melanjutkan pendidikan setelah tamat di SD Muhamadiyah. Bioskop Mega yang diceritakan dalam novel pun masih berdiri. Kami berhenti sejenak di sebuah warung kopi untuk beristirahat dan menikmati kopi manggar yang terkenal. Kopi “O” penduduk setempat menamai kopi yang acidity-nya lumayan tinggi, mild dan beraroma nutty ini. Sebagai pelengkap, saya membeli gorengan khas Manggar; roti goreng isi kacang.. nikmat sekali. Penduduk Manggar memang punya budaya ngopi, tidak heran jika banyak warung kopi berdiri di kota Manggar ini.

Sayang sekali hari sudah petang ketika kami sampai di pantai Burung Mandi dan juga Klenteng Dewi Kwan Im juga tutup. Tetapi menikmati petang di klenteng ini cukup berkesan buat kami meskipun hanya di pelataran saja. Ditemani cahaya lilin utama, kami menyaksikan terbitnya super moon di klenteng yang letaknya di lereng bukti ini.

Kami bertolak kembali ke Tanjung Pandan… saatnya wisata kuliner! Diet kami selama berada di Belitung adalah berbagai macam hasil laut. Menu andalan Belitung adalah Gangan Ikan Ketarap, rasanya sangat segar, dimasak dengan buah nanas dan berkuah kuning rasanya manis dan asam. Tak lupa menu cumi yang dimasak ala Chinese… mantap rasanya!

Terbuai mentari di Tanjung Tinggi

Hari kedua kami mengunjungi Pantai Tanjung Tinggi yang terkenal dengan batu granitnya. Jika Anda ke Belitung, motor adalah pilihan terbaik untuk menjelajah pulau ini. Dengan membayar 50 – 60 ribu rupiah, Anda bisa menyewa motor selama 24 jam. Tapi jangan heran jika motor yang Anda sewa tidak dilengkapi dengan STNK, ini memang prosedur standar untuk penyewaan motor di Belitung untuk menghindari pencurian motor disana. Jalan di Belitung sangat bersahabat bagi penggunanya. Disamping kondisi jalan yang mulus, penunjuk arah dan rambu-rambunya sangat lengkap.

Udara pagi di Belitung sangat segar, selama dalam perjalanan kami melewati beberapa desa dan perkebunan. Tak banyak pengguna jalan lain yang Anda temui, sering saya tidak sadar memacu motor saya dengan kencang. Pom bensin di Belitung sangat jarang dan punya jam operasional tersendiri, layaknya pegawai kantoran, pon bensin di Belitung beroperasi mulai pukul 8 pagi hingga pukul 6 sore dan tutup di hari Minggu. Tapi jangan khawatir, penjual bensin eceran akan selalu siaga 24 jam dan hampir ada tiap 500 meter, tentu saja dengan harga yang lebih mahal. Kami berhenti di sebuah kiosk bensin karena salah satu motor yang kami pakai kehabisan bensin. Rupanya, di dekat kiosk ada penduduk setempat yang punya hajat. Tidak seperti di Jawa yang identik dengan dangdut jika ada hajatan di kampung, hiburan yang disuguhkan di Belitung berupa music tradisional rebana, mandolin dan sitar yang dimainkan oleh beberapa lelaki yang sudah lanjut. Saya mengambil beberapa foto dan melanjutkan perjalanan.

Pantai Tanjung Tinggi meman
g luar biasa. Air jernih sebening Kristal membuat saya ingin segera mandi. Pantai Tanjung Tinggi adalah sebuah teluk yang dipagari granit raksasa yang berjejal-jejal. Gradasi warna dari garis pantai hingga ke lautan lepas sangat menawan. Pasir berwarna gading yang ditimpa riak ombak yang berwarna putih menjadi batas antara warna hijau kebiruan di pantai landai, lalu beberapa meter kemudian menjadi hijau tosca sampai 500 meter ke arah laut lepas dimana air sudah berwarna hijau tua dan biru. Pantai Tanjung Tinggi merupakan pantai wisata yang popular, tidak heran jika banyak pengunjung dan warung-warung penjual makanan disana. Kami memilih pantai yang sepi dan bercibung disana hingga menjelang senja. Sebelum pulang kami mampir ke Pantai Tanjung Kelayang untuk mencari sewaan perahu untuk hoping island esok hari. Setelah menemukan harga yang cocok, kamipun kembali ke penginapan kami di Tanjung Pandan. Kulit berubah legam, dan kami merasa kesakitan yang sangat akibat paparan matahari seharian penuh di Tanjung Tinggi tapi itu sepadan dengan keindahan dan keceriaan yang kami dapat di Tanjung Tinggi.

Hop.. Hop… Hop… 5 pulau terlewati

Pagi berikutnya hujan mengguyur Belitung sangat lebat dan merata. Kami sms Pak Taufik, pemilik perahu, menanyakan apakah cukup aman berlayar dengan cuaca seperti ini. Pak Taufik meyakinkan jika cuaca seperti ini hanya sementara dan akan kembali baik beberapa jam kemudian. Hujan pun kami terobos, tidak peduli air hujan yang mengguyur toh nanti kami juga basah-basahan, begitu pikir kami. Sampai di Tanjung Kelayang cuaca sudah agak membaik dan kamipun mulai meninggalkan daratan dengan perahu bermotor yang dinahkodai oleh Pak Taufik.

Pulau pertama yang kami tuju adalah Pulau Burung. Cuaca memang agak mengkhawatirkan, dengan tinggi ombak mencapai 0.5 sampai 0.7 meter perahu kami bersusah payah untuk melaju. Beberapa kali ujung kapal kami bertumbukan dengan ombak, sehingga air laut menciprat dan membasahi kami berenam. Sesekali kami melihat Pak Taufik, melihat raut mukanya yang masih tenang kami sangat lega, itu artinya kondisi masih aman. Dari kejauhan sudah nampak gugusan pulau-pulau yang akan kami singgahi, yang paling menjadi pusat perhatian adalah Pulau Lengkuas dengan mercusuar yang tinggi menjulang, namun sebelum kesana kami singgah ke Pulau Burung. Seperti pantai khas Belitung, pantai di Pulau Burung juga dihiasi dengan batu granit raksasa, hanya saja susunan batu di pulau ini menyerupai burung, sangat elok. Di pantai ini juga sangat mudah menemukan bintang laut kecil berwarna putih. Saya mencoba untuk mengelilingi pulau ini dan menemukan sebuah jetty di sisi lain pulau dan ada seekor kucing yang hidup disana, satu-satunya mamalia penghuni Pulau Burung.

Perahu kami selanjutnya berjuang melawan ombak menuju Pulau Lengkuas, pulau terluar di gugusan kepulaun Belitung. Di pulau ini dibangun mercusuar buatan Inggris di tahun 1882. Ada 18 deck yang harus kami naiki untuk mencapai puncak mercusuar. Baja setebal 3 cm di sambung sehingga menyerupai bilik yang semakin mengerucut keatas dan masing-masing deck/ bilik dilengkapi dengan dua buah jendela. Dan percayalah, ada pemandangan yang berbeda di tiap-tiap jendela tersebut. Meskipun umurnya lebih dari seratus tahun, mercusuar ini masih terlihat kokoh dan berfungsi dengan baik. Energi listrik yang dipakai untuk menghidupkan lampu mercusuar diperoleh dari solar cell battery yang dipasang di puncak mercusuar. Setelah mencapai lantai 18, Anda akan menemukan balkon terbuka. Jika Anda cukup bernyali cobalah untuk melangkah keluar dan merasakan sensasi ketinggian 50 meter DPL, lihat ke bawah dan rasakan hembusan angin laut serta pemandangan yang luar biasa… jujur kaki saya rasanya lemas waktu melihat ke bawah…

Saya sempat berbincang bincang dengan Pak Misdi dan Pak Herman, 2 orang penjaga mercusuar di pulau eksotis ini. Selama paling tidak enam bulan mereka harus berada di pulau ini, kebutuhan logistic biasanya dikirim setiap bulan. Tugas utama Pak Misdi dan Pak Herman adalah memeriksa lampu mercusuar dan bertanggungjawab terhadap kebersihan pulau. Mereka sering mengeluhkan ulah pengunjung yang meninggalkan sampah disana, mereka khawatir dengan kelestarian pulau ini jika sampah terus dikirim ke pulau ini.

Koral dan Bintang Laut Garuda

Tak jauh dari Pulau Lengkuas, Pak Taufik membuang jangkarnya. Rupanya belia menemukan spot yang bagus untuk snorkeling. Kami berlomba menceburkan diri ke laut dan berenang kesana kemari dengan peralatan snorkeling yang kami bawa. Kami tak menyadari jika ombak dan arus masih besar, sehingga tanpa terasa kami sudah terbawa arus menjauhi perahu. Pak Taufik menjemput kami dan kami pindah ke perairan dekat Pulau Babi. Karang di perairan Belitung tegolong muda, tidak banyak terumbu karang yang hidup dan ikannya juga terbatas.

Sebelum melanjutkan snorkeling ke Pulau Garuda, kami makan bekal yang kami bawa di Pulau Babi dan mengunjungi Pantai Batu Berlayar. Pantai Batu berlayar sangat cantik, hampir di setiap sudutnya bisa dijadikan obyek foto yang menarik dengan ombak yang kecil dan gosong pasir yang berwarna putih berkilauan.

Menikmati koral raksasa di Pulau Garuda adalah kegiatan kami untuk mengakhiri jelajah pulau hari itu. Gerombolan bulu babi dan bintang laut seolah menjadi show pamungkas dalam petualangan seru ini. Pak Taufik dengan cekatan menyelam ke dasar laut. Tanpa kami sadari dia sudah membawa bintang laut merah sebesar kepala manusia, dan tentu saja binatang ini menjadi bintang utama foto narsis kami.

Indonesia, a small piece of hidden paradise.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. omnduut says:

    Pintu air itu namanya PICE 🙂 dan ya, sayang sekolah asli kini nggak terawat. Walaupun sudah dibangun sekolah baru yang menyerupai bangunan asli, tetap saja, sekolah yang reot inilah yang banyak didatangi orang.

    Makasih linknya mas Jo 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s