Make friends and have some adventures in the hidden paradise.


Saya kembali lagi dengan cerita saya selama liburan… Untuk liburan akhir tahun ini, saya memilih Sumatera Utara sebagai destinasi saya.

Menuju Ke Surga Tersembunyi

Tiba di Polonia Medan siang hari bolong, bersama seorang teman baik saya, Ellen Panggabean, seorang batak yang sudah murtad (karena nggak kenal tanah kelahirannya sendiri). Dalam perjalanan saya sudah dijejali dengan cerita tentang horrornya Sumatera Utara, betapa masyarakatnya beda dengan di Jawa. Dalam hati saya rada ciut, tapi rasa ciut itu dikalahkan oleh imajinasi saya tentang gambaran surga tersembunyi yang akan saya tuju : Tangkahan.

Seperti layaknya Emak, teman saya sepertinya sangat khawatir… Sebelum berpisah, diantarnya saya cari makan siang lalu naik bentor ke terminal Pinang Baris tempat saya memulai perjalanan ke Tangkahan. Berlebihan dia memang…

Sampai di terminal Pinang Baris saya segera mendapat tumpangan ke Tangkahan, sebuah metromini usang berwarna merah. Layaknya sopir2 metro mini di Jakarta, si abang membawa bus ini dengan ‘tangkas’. Empat jam perjalanan tidak terasa, karena saya benar-benar menikmati pemandangan yang bagus selama di jalan. Beberapa kilometer pertama memang menjemukan, tapi selepas Binjai bus kami memasuki areal perkebunan kelapa sawit yang luar biasa luasnya… sejauh mata memandang hanya deretan tanaman sawit yang berjajar rapi, berderet membentuk lorong-lorong tanpa ujung… wih bagus sekali. Kondisi jalan yang berbatu memang tidak memungkinkan untuk tancap gas, sesekali kawanan lembu yang parkir di tengah jalan memaksa abang sopir membunyikan klakson keras-keras.

Selamat Datang di Tangkahan… halimun menyapa saya

Tiba di Tangkahan sudah petang, waktu menunjukkan sudah pukul 18.30 tapi matahari masih terlihat!!! Amazing, perbedaan yang mencolok dengan hometown saya, dimana matahari sudah terlelap di angka 18.00. Saya segera menelpon Mega Inn, losmen tempat saya menginap, untuk minta petunjuk selanjutnya menuju ke losmen ini. Ternyata saya harus turun ke bawah, menuju sungai besar yang… Oh God… intimidating sekaligus tempting! Sungai Batang dengan latar belakang gunung Leuser seolah memberikan ucapan selamat datang pada saya yang baru pertama kali menginjakkan kaki disana.Di daerah hulu tidak nampak jelas karena tertutup kabut yang sepertinya sedang berjalan turun beriringan denganarus sungai yang sedikit lebih bergejolak karena musim penghujan… saya merasakan suasana mistis… tapi saya suka!


Saya naik perahu untuk menyeberang ke penginapan dan segera setelah saya sampai, Bang Mega, pemilik penginapan, memilihkan sebuah pondok.
Pondok saya berada di ujung, dengan balkon menghadap ke arah sungai… samar-samar saya bisa mendengar suara arus sungai yang melewati bebatuan di bawah sana, berbarengan dengan serangga malam yang mulai bernyanyi merdu… saya duduk di beranda, menikmati heningnya petang… saya duduk berdiam, unbelievable! Saya benar-benar menikmati suasana yang sudah enam bulan ini saya impikan… Benar benar sebuah relaksasi!

Makan malam tiba, saya bergegas untuk memesan sepriring nasi goreng dan segelas teh panas. Tempat makan sederhana yang sekaligus menjadi loby dan reception area, semua furniture terbuat dari kayu dan akar dan diterangi oleh cahaya redup lampu dari generator yang hanya menyuplai listrik dari jam 18.00-22.30. Saya lihat ada tiga perempuan yang juga sedang memelototi menu makanan yang pilihannya sangat terbatas.. Saya bergesar dan bergabung dengan mereka; Chrisminela, Natalia, dan Ronaully… dengan cepat saya membaur dengan mereka dan merencanakan kegiatan selanjutnya sama-sama. Selepas makan malam saya kembali ke pondok.. tidak banyak yang bisa dilakukan malam hari karena listrik padam pada pukul 22.30 dan diganti dengan lampu tempel yang membuat hidung menghitam bila nyalanya terlalu besar.

Rakit Buatan

Pagi-pagi selepas sarapan, kami dijemput oleh beberapa pemuda yang menjadi guide kami. Pagi itu kami akan melakukan tubing, tapi sebelumnya… kami akan memandikan gajah! Kami berempat diantar ke dekat hulu, ke kandang gajah dengan motor. Tanpa helm dan pengaman lain, abang2 yang mengantar kami ngebut di jalan berbatu yang agak licin… beberapa kali saya harus berpegangan dan membetulkan posisi duduk saya. Bener-bener off road! Di sungai sudah berkumpul sekawanan gajah yang siap dimandikan. Bersama mahout (pawang gajah) saya segera turun ke sungai dan bermain-main dengan mamalia raksasa itu
. Sebuah pengalaman yang jarang saya temukan, berinteraksi langsung dengan para gajah itu; mengelus kulit kasar yang ditumbuhi rambut-rambut kaku, seperti mantel tahan peluru! Dengan arahan sang mahout para gajah bisa duduk dengan tenang,
berendam, bahkan berbaring di sungai. Sesekali saya dengar sang mahout berteriak ‘tusk’ dan gajah-gajah itu menyemburkan air dari belali mereka! Wow! Saya seperti mandi di pancuran! Hahahahha

Setelah puas bermain-main dengan gajah, saya bersama ketiga teman baru saya melanjutkan kegiatan selanjutnya; tubing. Beberapa ban besar diikat menjadi satu, kami berempat dan dua guide, duduk diatasnya dan segera hanyut mengikuti aliran sungai. Saya melihat sisi lain dari Sungai Batang, kali ini sang sungai lembut membawa kami berayun-ayun menaiki ban. Tidak lagi suasana mistis seperti yang saya rasakan seperti waktu saya datang melainkan keceriaan yang tiada taranya. Agak gerimis, namun kami tetap terhibur dengan segerombolan burung yang bermain diatas air. Burung berwarna biru cerah berparuh oranye bertengger di sisi kiri dan kanan sungai yang lebarnya mencapai 40 meter itu. Ada sekelompok gagak yang terbang tinggi melintas tepat diatas kami dengan suara seraknya menjadi suguhan tersendiri.

Setelah beberapa waktu, guide kami merapatkan ban tunggangan kami. Kami pikir ini adalah akhir dari tubing, tetapi saya keliru… kami diajak menyusuri anak sungai dangkal yang jalannya licin karena berlumut, beberapa kali teman saya terjatuh.. dan coba tebak apa yang kami temukan diujung anak sungai itu? Ya! Kami menemukan air terjun! Benar-benar sebuah kejutan! Air terjun itu tidak begitu tinggi, namun cukup deras dengan kolam jernih yang menjadi dasarnya. Tanpa menunggu komando, kami segera menceburkan diri dan bermain di bawah air terjun. Sampai lupa waktu, guide kami mengingatkan untuk segera ‘mentas’ mengingat ke tiga orang teman saya harus kembali ke Medan siang itu juga. Kami segera menyantap bekal makan siang yang sudah dipersiapkan (nasi goreng.. lagi dan lagi… tapi kami makan dengan lahap untuk mengusir dingin)

Riding the Titan

Setelah teman –teman saya kembali ke Medan, saya melanjutkan petualangan saya. Para gajah sudah bersiap menjemput saya di tepi sungai… kali ini saya akan trekking ke dalam hutan dengan menaiki mahluk raksasa ini. Bersama 7 orang warga Australia, kami menaiki empat ekor gajah. Pertama kami dibawa menyeberangi sungai, saya pikir gajah ini bisa melayang dalam air! Sesampai di sebrang sungai, gajah-gajah ini menyusuri jalan setapak di dalam hutan. Saya harus berkonsentrasi mengikuti irama ayunan tunggangan baru saya, sempat kaku juga… tapi setelah beberapa saat saya bisa menyelaraskan diri dengan ayunan Agustin, gajah betina berusia 35 tahun yang menghantar saya menyusuri hutan. Beberapa kali saya harus menahan napas, bagaimana tidak? Gajah seberat 3 ton itu harus melewati turunan curam setinggi 2 meter.. saya membayangkan, bagaimana jadinya jika gajah itu tergelincir dan semua penumpang jatuh dan gajah itu menimpa kami? Tapi itu tidak terjadi, karena mahluk ini tahu betul rute yang biasa dia lalui. Instingnya begitu kuat untuk menapakkan kakinya pada tempat yang tepat. Setelah kira-kira satu jam perjalanan kami tiba di tempat awal kami tubing tadi pagi.. dan saya kembali bermain air dengan gajah-gajah itu, kali ini saya mencoba memeluk si raksasa dan benar-benar memandikannya, menyikat kulit dan membersihkan lumpur yang ada di badannya. Hey, lihat… ada anggota baru di kawanan ini.. ada dua ekor bayi gajah yang bergabung untuk mandi!

Senja segera tiba, kami kembali ke penginapan melewati jalur sungai… ya betul! Saya naik ban lagi.. tapi kali ini ban-ban itu tidak diikat, satu orang satu ban dan kami hanyut sendiri-sendiri.

Saya menginap semalam lagi sebelum kembali melanjutkan petualangan di Medan! It was a great adventure in the hidden paradise

Advertisements

One Comment Add yours

  1. kazwini13 says:

    ENVY TO THE MAX…
    Mau maen sama Gajah, mau naik Gajah, mau mandiin Gajah, mau ngobrol sama Gajah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s