They Need Help


Mereka butuh bantuan teman-teman…
Sharing Merapi

Inisiatif datang dari Leli, saya dan Erning. Lalu saya menawarkan pada teman-teman yang lain apabila ada yang mau turut serta. 4 orang mendaftar tapi mengundurkan diri begitu mendekati hari H dengan berbagai macam alasan. Oke.. that’s your business meskipun membuat saya kecewa.

Kami mulai menggalang dana, mulai dari patungan kami bertiga (jatah kambing qurban dan tabungan pribadi), bantuan teman2 dekat sampai barang2 dari orang yang tidak kami kenal. Dengan waktu yang mepet, sumbangan yang terkumpul lumayan besar. Segera kami berangkat menuju Jogjakarta.

Sampai di Jogja kami harus menunggu teman2 dari Jakarta dan Ngawi yang masih berjibaku dengan mobil tua mereka. Salut dengan semangat mereka yang rela capek nyetir 600 km jauhnya dengan mobil merah yang mereka sebut “odong-odong”.


Base camp kami di daerah Piyungan, 30 Km di selatan Merapi. Jam 9 malam kami mulai meluncur dengan 2 mobil yang penuh sesak dengan barang-barang bantuan. Lokasi pertama yang kami datangi adalah Desa Banyubiru di Muntilan, 17 Km dari puncak Merapi.

Waktu itu sangat gelap, tidak ada penerangan sama sekali karena sejak erupsi Merapi, listrik padam. Kami tertahan di sebuah jembatan, lalu 2 remaja desa setempat mendatangi kami dan menuntun kami melewati jalan sempit desa. Kami sempat takut kalo kami akan dijarah… bagaimana tidak? Malam-malam dituntun ke lokasi yang tidak kami kenal, jalan berbelok dan sangat gelap!

Sampai di suatu rumah kami berhenti, bertemu dengan beberapa warga dan seorang ibu yang bercerita tentang musibah yang dialami. Rupanya merka adalah sebagian warga yang sudah kembali dari pengungsian. Rumah semi permanen yang hanya diterangi cahaya lilin, disitu ada beberapa orang berkerumun mengharapkan bantuan. Segera kami menurunkan sebagian barang yang mereka butuhkan. Sejenak kami mengamati gunung Merapi yang bisa dilihat jelas dibelakang rumah mereka. Masih mengepulkan asap tebal, namun sudah mengarah keatas. Menurut mereka jika asap sudah ke atas berarti Merapi sudah agak tenang.

Kami melanjutkan perjalanan, turun ke daerah Muntilan. Namun karena waktu itu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari dan teman2 dari Jakarta nampaknya sudah kelelahan, akhirnya kami memutuskan untuk menurunkan beberapa barang lagi di posko daerah Mungkid, Magelang. Setelah itu kami kembali untuk beristirahat.

Keesokan hari, kami berbelanja logistik di daerah pasar didaerah Godean Jogjakarta, kami membeli barang2 yang menurut kami perlu, seperi lilin, sembako, makanan tahan lama dan obat-obatan. Waktu sudah menunjukkan jam 11 siang dan kami harus bergegas, mengingat kereta yang kami tumpangi ke Surabaya berangkat jam 4 sore. Cita-cita untuk menyerahkan sendiri bantuan ke masyarakat cuman tinggal mimpi karena jalan menuju lokasi sangat macet, mungkin karena kondisi jalan yang berpasir dan sulit dilalui.


Di sepanjang jalan terlihat rumah-rumah yang atapnya tertutup abu Merapi, sebagian lagi roboh karena tidak kuat menahan abu merapi yang mengeras terkena air hujan. Tanaman tidak lagi hijau, tapi putih. Pucuk-pucuk kelapa dan ratusan tamanan lain berguguran. Butuh banyak waktu dan biaya untuk recovery. Akhirnya kami memilih posko Jalin Merapi 1 untuk meyerahkan barang yang kami bawa.

Ada beberapa catatan yang saya ingin bagi :

Kurangnya koordinasi untuk pendistribusian bantuan. Ini terlihat sewaktu saya tiba di stasiun Tugu. Ada ratusan box dan berkarung-karung bantuan yang tidak bertuan. Kebanyakan saya lihat bantuan datang dari luar pulau. Bantuan memang sampai di Jogja, tapi setelah itu tidak ada yang mengurus. Mungkin ini dikarenakan kurangnya tenaga relawan untuk pendistribusian.

Kalau mau nyumbang, nyumbang aja… gak perlu ada motif dibelakangnya. Sebaiknya tidak perlu ada bendera Agama, Partai Politik, atau Golongan. Terlebih lagi jika megatasnamakan/”mencuri” bantuan yg terkumpul untuk pencitraan pribadi/ golongan… sungguh tindakan yang tidak terpuji.

Teruslah menyisihkan uang lebih kita untuk mereka, tidak hanya korban Merapi, tapi juga korban bencana yang lain. Jangan berhenti sampai disini, karena mereka masih memerlukan bantuan kita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s