blind trip to P. Komodo

This slideshow requires JavaScript.

Kali ini saya menempuh perjalanan buta dan tanpa rencana yang matang, hanya berbekal informasi di milist indobackpacker dan sepotong peta Nusa Tenggara.
Berenam kami berangkat ke Mataram dengan maskapai penerbangan Merpati. Rencana sebelumnya adalah dengan jalan darat, tapi enam kepala punya keinginan berbeda dan diputuskan untuk lewat udara ke Mataram baru kemudian perjalanan darat ke P. Komodo.

Sampai di Mataram, hari masih pagi dan kami putuskan untuk berbelanja souvenir khas Lombok. Perjalanan yang penuh tantangan inipun dimulai. Dari Mataram sebenarnya feeling kami harus berhenti di Bima saja, tapi entah mengapa kami tergoda dengan bujuk rayu si calo sehingga kami membeli tiket sampai ke Sape. Bisa ditebak, kami membeli tiket dengan harga diatas harga normal.

Naik bus “Langsung Prima” yang menurut kami bagus, tapi sekali lagi kami tertipu… ada bus lain yang lebih bagus dengan harga relatif lebih murah. Pagi-pagi buta kami sampai di Bima, rupanya ini aladah terminal terakhir dan kami harus pindah bus yang lebih kecil dan reyot. Salah seorang teman saya protes ke sopirnya, karena perjanjiannya kami tidak oper bus… tapi sekali lagi kami ditipu, kami dipindahkan ke sebuah metromini bersama dengan kambing, tahu, kelapa, dan barang dagangan lain menuju Sape.

Jam 7 pagi sampai di Sape dan langsung melanjutkan perjalanan menuju Labuan Bajo dengan kapal ferry. Kami tidak membayangkan bakal berada di ferry selama 8 jam! Untung banyak kegiatan yang kami lakukan selain tidur dan pijit2 kepala saking pusingnya; makan nasi bungkus, pipis dan poto2. Diatas ferry pun kami sudah jadi objek penipuan, kami dikuntit seseorang lalu ditawari mobil untuk keliling flores, tapi berhubung kami sudah agak pintar. Kami berhasil menghindar. Namun tetap saja, si orang ini mampu menipu kami dengan paket trip pulau Rinca dan Komodonya dengan harga mahal.

Entah Anda setuju atau tidak, tapi informasi yang saya dapat tentang penginapan di Labuan Bajo menurut saya kurang akomodatif. Rekomendasi losmen Diaz dan restoran Padang yang diatasnya ada penginapannya menurut saya tidak manusiawi. Untuk backpacker yang sudah menempuh perjalanan panjang, penginapan2 itu tidak representatif untuk istirahat. Selain kamarnya yang panas dan pengab, harga yang ditawarkan juga tidak jauh beda dengan hotel yang lebih bagus. Jika Anda turun dari kapal ferry cobalah berbelok ke kanan, jangan ke kiri. Disana ada sebuah hotel kecil dengan tarif yang relatif murah dengan fasilitas yang nyaman, memang kebanyakan bule yang menginap disana namun ada harga khusus untuk wisatawan Indonesia.

Keesokan paginya saya memulai wisata ke P. Rinca. Perjalanan ke P. Rinca sangat memuaskan, segala kekuatiran dan ketakutan tentang Komodo terhapus sudah, hewan purba ini tidak segarang yang ditulis. Asal Anda waspada dan dekat dengan ranger mereka tidak akan menyerang, bahkan Anda bisa berfoto dengan jarak yang sangat dekat dengan predator purba itu.

Kami mampir ke P. Kelor dan snorkeling disana… terumbu karangnya cantik… dengan ikan yang beragam. Lebih bagus daripada Gili2 di Lombok ataupun di Samalona, Sulawesi, bahkan Karimunjawa. Dengan air yang sangat jernih Anda bisa menemukan koral hidup dan bintang laut hanya pada kedalaman 0.5 meter. Saya menemukan banyak sekali kuda laut dengan warna yang cerah, serta lion fish yang tidak saya temui di tempat-tempat lain. Disini saya juga menemukan gurita yang bersembunyi di antara koral. Jangan ditanya berapa banyak ikan badut (nemo) dengan jenis yang beragam berenang diantara terumbu koral… nomer satu untuk pemandangan bawah air!

Perahu yang membawa kami merapat kembali ke Labuan Bajo saat matahari sudah tenggelam satu jam yang lalu. Sempat kami ketakutan karena kapal kami tidak dilengkapi dengan penerangan yang memadai. Kami takut jika bertabrakan dengan kapal lain karena mereka tidak melihat keberadaan kami mengingat kami berada di laut dalam dan arusnya kencang.

Hari berikutnya kami melanjutkan perjalanan ke Flores timur, ke daerah Ende untuk melihat the Great Kelimutu. Dari Labuan bajo kami naik travel menuju ke Ruteng, perjalanan yang menyenangkan karena kami sempat berhenti di sebuah desa melihat alam flores yang luar biasa dan berinteraksi dengan masyarakat lokal, walaupun ahanya sebentar.

Sesampai di Ruteng kami harus oper kendaraan menuju Ende, karena saking hati-hatinya menghindari calo dan muka-muka sangar sopir travel kami sampai sembunyi di sebuah masjid supaya calo2 tadi tidak lagi mengikuti kami. Hampir satu jam sembunyi, akhirnya kami ditolong penunggu masjid. Bapak ini memberi kisaran harga travel agar kami tidak tertipu. Ternyata ada satu calo yang setia nunggu kami, setelah disepakati harga kami mau naik travel mereka. Sangat mengejutkan, karena kami dibawa kembali ke tempat semula, dimana calo-calo dan sopir-sopir sangar tadi berkumpul. Tidak berkutik, kami hanya pasrah ketika diminta menunggu penumpang lain sampai mobil APV ini penuh, dalam artian benar-benar penuh. Dua jam menunggu dan akhirnya kami berangkat dengan formasi dua penumpang + satu sopir di jok depan, empat penumpang di jok tengah, dan tiga penumpang di jok belakang. Jarak tempuh 14 jam dengan sopir sangar berambut kuning dengan tatoo dimana-mana ditambah lagi sound system yang melebihi diskotik membuat kami kelekahan fisik dan mental. 30 menit pertama kami masih bertahan, tetapi berikutnya kami coba bicara baik-baik dengan sopirnya untuk mengecilkan volume musiknya, terutama bassnya yang membuat jantung kami berdebar dan panik. Seolah tidak peduli, si sopir malah bercerita tentang harga sound system yang jutaan itu… ada cerita pilu disini… mereka semakin bangga jika sound system di mobil mereka super kencang!, tidak sadar bahaya yang ditimbulkan terhadap kesehatan mereka. Sepanjang perjalanan kami ribut dengan sopir, kami sudah tidak mengindahkan etika. Anehnya begitu kami bentak dan kami berkata2 kotor, dia kecilkan volumenya… begitu kami lengah, dia mengeraskan lagi volumenya… begitu terus sepanjang perjalanan.

Ini membuat kami trauma denga perjalanan darat di Flores… kami nggak habis pikir, kenapa mereka tidak beretika dan susah diajak berkomunikasi. Cenderung semau gue dan apatis. Mengelus dada…. antara kasian dan geregetan… sangat primitif. Kesialan kami terobati ketika kami bertemu mas Yotan yang sudah beradab, mungkin karena mas Yotan orang berpendidikan dan pernah ke luar daerahnya. Dia mengantar kami ke Kelimutu. Pandangan kami tentang orang setempat mulai mengabur, kami curhat ke mas Yotan tentang “orang2 primitif tersebut”

Karena sudah trauma dengan kejadian2 itu, kami memutuskan untuk pulang lewat udara… rasanya tidak sanggup lagi berhadapan dengan sopir2 angkutan darat di Flores..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s