Perjalanan murmer ke celebes seri 1

Persiapan

Dimulai dengan hunting tiket murah via internet, akhirnya kami memilih maskapai Garuda Citilink dengan harga Rp. 575.000 Sub-Mks-Sub. Tanggal 7 Juni kami berkumpul di Bandara Juanda, menunjuk satu orang bendahara dan mengumpulkan uang untuk biaya perjalanan masing-masing orang Rp. 1.000.000.

Sampai di Bandara Udara Sultan Hasanudin Makasar pukul 19.00 WITA. Kami terkagum-kagum dengan bandara baru di kota Angin Mamiri ini. Memang makasar saat ini menuju ke kota yang lebih modern, seiring dengan kepemimpinan Pak Jusuf Kalla. Tujuan kami selanjutnya adalah ke Sudiang, tempat kerabat salah satu teman kami untuk makan malam dan memulai perjalanan ke Toraja dari sana.

Perjalanan ke Tanah Toraja dari Makasar tergolong cukup mendebarkan karena malam yang gelap gulita dengan kondisi jalanan yang terjal, naik turun dan durasi perjalanan yang cukup lama. Mobil yg saya tumpangi sempat masuk selokan dipinggir jurang, entah karena apa karena waktu itu kami semua terlelap.. untung saja kami masih selamat dan tidak masuk jurang dan kami bisa menyelesaikan perjalanan ini dengan baik.

Sampai di pintu Gerbang Tanah Toraja pukul 5 pagi, entah kenapa suasana mistis sudah langsung terasa. Tiba-tiba saja kami didatangi seorang perempuan berbaju kuning yang ngomel-ngomel tidak jelas tapi saya bisa menangkap apa maksudnya. Perempuan itu menyuruh kami agar berhati-hati.

beberapa jam kemudian kami sampai di penginapan. Kami sengaja memilih rumah adat Toraja, Rumah Tongkonan untuk tempak menginap selama kami di Toraja. Rumah Tongkonan berbentuk rumah panggung dengan 3 kamar; kamar depan, kamar tengah dan kamar belakang. Terbuat dari kayu dan bambu (mungin itu menjawab pertanyaan kami, kenapa banyak hutan bambu di belakang rumah). Di depan rumah yang penuh dengan lukisan etnik khas Toraja berderet tanduk kerbau, konon semakin banyak tanduk yang dipajang menandakan semakin tinggi status sosial si empunya rumah. Agak jauh dari rumah utama, ada kandang babi (mostly semua penduduk memelihara babi, jadi ini bukan hal yang aneh di Toraja).

Menyaksikan upacara adat yang mendebarkan

Setelah beristirahat dan unpacking barang bawaan kami, kami meluncur ke Batutumonga, negeri di atas awan. Sebenarnya tempat ini bukan tempat yg wah, hanya tempat makan biasa tetapi dari sini kita bisa lihat kota Rantepao dari atas. Hawa dingin dan sejuk selalu disertai dengan turunnya kabut. Yang menarik adalah selama perjalanan menuju Batutumonga kami disuguhi oleh pemandangan yang elok, masih alami dan beberapa kali berpapasan dengan burung elang yang terbang melintas yang jarang terjadi pada daerah yang sudah terjamah manusia.

Setelah turun dari Batutumonga, perjalanan dilanjutkan ke Kete Kesu, sebuah kompleks pemakaman bangsawan. Ditengah perjalanan kami dihentikan oleh seseorang yang menginformasikan jika di desa dekat kete kesu (kira-kira 300 m dari lokasi) sedang ada pesta adat! Wah informasi yang sangat berharga! Kami semua bersorak kegirangan karena kami akan melihat upacara yang kematian adat Toraja yang termasyhur itu. Pemandu kami membeli satu gross rokok dan berbelok arah menuju ke desa yang sedang mengadakan pesta. Segera kami menyerahkan rokok yang kami beli pada pemangku pesta. Sebagai imbalan kami diperlakukan sebagai tamu, diberikan tempat bagi kami untuk duduk dan dijamu.

Puluhan babi dan kerbau diikat disuatu tempat, sebagian lagi sudah dipotong dan dibagi-bagikan. Aroma bebakaran korban babi dan kerbau memenuhi atmosfir desa itu. Puluhan ekor babi dan kerbau dikorbankan untuk arwah orang yang meninggal, babi yang gemuk dan tak berdaya diikat kakinya pada sebuah bambu yang berfungsi sebagai pikulan. Setelah iring-iringan keluarga pelayat datang lengkap dengan pakaian adat Toraja, acara selanjutnya adalah nyanyian untuk arwah yang dibawakan oleh keluarga dan diiringi seruling.

Cara pemotongan babi tergolong unik; babi gemuk hitam diberi tanda pada jantungnya, si pawang memanaskan tombak lalu menombakkan tombak panas itu ke arah jantung babi. Setelah itu babi-babi siap bihilangkan bulu-bulunya dengan cara dibakar. Hewan-hewan tadi dipotong-potong dan dibagi 50% untuk pelayat dan 50% untuk keluarga yang meninggal. Sayangnya saya tidak sempat melihat pemotongan kerbaunya .

Kete Kesu, pekuburan bagi para bangsawan

Perjalanan ke Kete Kesu kami lanjutkan. Disini ada beberapa rumah tongkonan yang masih asli dengan atap daun rumbia yang ditumbuhi tanaman menjalar dan lumut lengkap dengan berpuluh puluh tanduk kerbau yang disusun rapi di setiap rumah. Menuju bagian belakang, ada kubur batu dimana peti mati (erong) berbentuk babi dan kerbau yang sudah berusia ratusan tahun diletakkan. Di pelataran makam, sudah terlihat kerangka manusia yang berserakan.

Kami berjalan menjuju dalam goa, aroma lembab dan bau formalin yang menyengat menyambut kami di pintu goa. Beberapa dari kami tinggal di luar, mungkin karena suasana yang mencekam membuat ciut nyali mereka. Kami yang masihpunya nyali segera ikut pemandu lokal yang membawa lampu petromaks memasuki goa lebih dalam lagi.

Suasana di dalam semakin mencekam, karena masih ada jenazah baru yang masih dua bulan berada disini. Kami melihat peti berwarna coklat dengan renda dan bunga kering diatasnya.

Next : Kuburan bayi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s