Agustusan ke Bromo

Memang niatnya trip ini ala backpacker, jadi gak ada istilah nyaman… yang ada sukacita dan canda tawa.

Berangkat dari terminal Purabaya jam 9 malam. Pelaku travel kali ini adalah Jo, Evi, Mas Beda, Mak Bongky, Lely, Desi, Dian, Ucup, Viki, Widi dan pasangan. Total 11 orang, kami berangkat malam itu naik bus umum menuju Probolinggo. Sampai di terminal Probolinggo sudah jam 12 malam, dan angkutan terakhir yang menuju cemoro lawang adalah jam 7 sore tadi. Tidak ada rasa panik sedikitpun, mungkin karena Bromo bukan tempat asing bagi kami dan mungkin juga kami pergi berbanyak… jadi perasaan yang aneh-aneh itu bisa diredam.

Akhirnya dengan bantuan seorang ‘native’ kami mendapat angkutan ke Cemoro Lawang dengan ongkos Rp. 20.000 per-kepala. Selain kami bersebelas, ada juga sepasang backpakers yang ikut nunut ke atas, dari penampakannya… mereka itu seperti orang-orang pecinta alam yang sudah terbiasa dengan suasana seperti ini. Sampai di Cemoro Lawang kami istirahat sebentar, mungkin karena suhu yang sudah menurun dengan sangat, banyak yg kebelet pipis. Perjalanan kami lanjutkan setelah makan dinihari (karena waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 01.00), kami mulai turun ke lautan pasir. Diterangi oleh cahaya bulan, kami bersebelas mulai menjelajah lautan pasir, merayap menuju ke Pura yang berada di tengah lautan pasir itu.

Sesampai di Pura, kita putuskan untuk istirahat sejenak. Bulan sudah sedikit condong ke barat sehingga bintang-bintang terlihat semakin banyak, jujur saya belum pernah melihat bintang sebanyak dan seindah ini. Alam Bromo yang gelap memang media yang bagus untuk melihat keindahan cakrawala dan benda-benda langit di malam hari. Di pinggir Pura, kami semua sempat tidur sebentar beralaskan pasir yang dingin dan bau kotoran kuda yang menyengat. Satu-satunya matras yang kami bawa, yang hanya berukuran 60x150cm kami pakai bersebelas.

Udara semakin dingin dan membuat kami semuanya ingin bergerak lagi agar tubuh lebih hangat. Kami melanjutkan perjalanan ke kawah Bromo. Kami sempat berhenti sejenak sebelum naik ke bibir kawah, ada penjual bakso terenak yang pernah kami makan… entahlah… mungkin karena itu satu-satunya penjual baksi dan kami sedang kelaparan di tengah dinginnya lautan pasir.

10 dari kami berhasil mencapai bibir kawah, biarpun waktunya tidak bersamaan. Hanya Mak Bongky yang tidak bisa meneruskan perjalanan karena ada masalah dengan kakinya. Setelah puas melihat sunrise dan berfoto, kami kembali ke Cemoro Lawang. Pak Beda sempat membuatkan sarapan bagi kami, Mie Rebus yang dimasak di kompor parafin. meskipun baunya menyengat, tetapi masuk perut kami juga.

Kami tidak sadar kalo ternyata mobil yang kami pakai malam sebelumnya ternyata menunggu kami. Setelah nego harga, disepakati kami diantar ke Madakaripura dan terminal Probolinggo dengan harga Rp. 370.000.

Dalam perjalanan Bromo-Madakaripura kami semua tertidur dan terbangun kembali setelah mencium aroma air dari kejauhan… Biarpun perjalanan masuk ke curug lumayan jauh dan menyeberangi sungai berkali-kali… kami sangat menikmatinya. Ini bukan pertama kalinya saya kesini, tapi tetap saja suasana curug Madakaripura terasa begitu memberi semangat. Biasan air yang menciprat sekujur tubuh membuat tubuh kami segar. Medan yang ditempuh untuk menuju air terjun utama memang agak sulit, kami harus merayap di bebatuan terjal dan licin dalam keadaan basah kuyup, tapi disitulah serunya.

Ada beberapa air terjun disana, namun ada air terjun utama tingginya sekitar 75 m yang jatuh di atas kolam berwarna hijau yang terlihat menggiurkan, menggoda kami untuk masuk ke dalamnya. beberapa dari kami yang bisa berenang segera menceburkan diri dan berenang ke sisi sebelahnya dan bermain air. Disana kami bertemu dengan mas Aan, MP-ers yang juga kebetulan mengunjungi curug Madakaripura.

Konon kabarnya, air terjun ini adalah tempat dimana Patih Gajahmada bersemedi. Itulah mengapa di pintu masuk kawasan ini ada patung Gajahmada.

Advertisements

9 Comments Add yours

  1. chiemayindah says:

    Eh, sebentar… di bromo bagian mana ada air terjunnya? Di mana itu curug Madakaripura? Kok aku gak pernah dengar?? #shock

  2. johanesjonaz says:

    Dii deket Bromo. biasanya sih aku nyarter angkutan umum kesana, kereeeeen

  3. chiemayindah says:

    Ya ampuuuuunnnn… ke mana aja aku. kok bisa gak tau ada air terjun dekat bromo…. hiks….

    makasih ya tulisannya. dapat tujuan baru untuk didatangi. 😀

  4. johanesjonaz says:

    sip! Udah coba Alas Purwo?

  5. chiemayindah says:

    Eeehh.. mana lagi itu ? Kalo dari namanya kayaknya itu hutan ya?

    btw, mau nanya donk. itu gimana sih caranya bisa bikin foto jadi kayak slide gitu… Katrok ini.. 😀

  6. johanesjonaz says:

    Besok ya kalo gw pake laptop gw ajarin heheh pake hp susah 🙂

  7. chiemayindah says:

    assiiikk…. sip sip.. ditunggu yak. makasih… 😀

  8. johanesjonaz says:

    cara bikin slide show.
    Syarat : semua foto sudah diupload.
    Lalu pilih menu edit post.
    Di kiri atas ada menu pilihan : Insert media, create galery, insert from URL, sama playlist editor. => plih yang create gallery abis gitu pilih gambar yg mau dipakai.
    Dipojok kanan bawah ada menu create galery. di klik aja.
    Abis gitu ada plihan type : pilih yg slide show
    selamat mencoba 😛

  9. chiemayindah says:

    hmmm….. terima kasih informasinya… nyoba aaah…. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s